Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 63 New Journey


__ADS_3

Dengan perlahan Liam melepaskan tangannya dari Harumi "aku akan menyusulmu"


Sekretaris Will mengantar Harumi masuk ke dalam, "Mari Nona"


Untuk saat ini, tidak ada yang bisa dilakukannya selain menuruti keinginan Liam. Sekilas Harumi menoleh kembali menatap kedua wanita itu sebelum ia masuk, tatapan mereka penuh kebencian kepadanya. Terutama Anita, sorotnya seperti belati yang siap menusuk Harumi kapan pun.


"Kenapa kau melindungi wanita itu ? ada hubungan apa dengannya, Liam ?" Anita terus mencerca banyak pertanyaan, kecurigaannya mulai memuncak ketika sikap Puteranya berbeda dengan Harumi.


"Jangan katakan, wanita itu..." lanjutnya dengan pandangan mengunci Puteranya.


Liam sangat lelah menghadapi komentar sang ibu yang terus menerus memojokkan Harumi.


Apalagi Olivia si wanita manja yang semakin memanaskan suasana, "Liam, dia sama sekali tidak sebanding denganku, Perempuan tidak bermoral sepertinya bahkan berani menginjakkan kaki di pesta ini"


Dalam pikiran Liam untuk saat ini, sungguh tidak ingin meladeni mereka. Ia hanya menatap tajam dan mendengarkan semua komentar yang tak lebihnya penghinaan dan cacian. Membuat Telinganya semakin panas.


Langkah Anita mendekat, "Katakan yang sebenarnya, apakah wanita itu yang kau sembunyikan selama ini ? wanita murahan yang masih berstatus istri orang lain."


Mata Olivia langsung terbelalak, ia tak menyangka sama sekali kalau ternyata ia akan bertemu sosok wanita yang selalu di lindungi Liam dan akan mendengar kenyataan pahit itu di hadapannya.


"Maksud tante ? wanita itu sudah bersuami dan berani-beraninya menggoda pria lain." tambah Olivia dengan mata tak berkedip membalas tatapan Anita.


Punggung Liam semakin tegang, pembuluh darahnya seakan ingin meledak, sudah cukup ia bersabar mendengarkan ocehan mereka. Tapi kali ini, tidak bisa dimaafkan nya. Sudah cukup, ia mendengar berbagai penghinaan bertubi-tubi kepada wanita yang sangat dilindunginya.


Mereka tidak sepenuhnya mengetahui keadaan sebenarnya. Kobaran api seakan membakar kedua matanya, memanas seolah ia ingin membunuh seseorang.


"JANGAN SEKALI-SEKALI MENGHINANYA, SUDAH CUKUP KUDENGARKAN OCEHAN KALIAN MALAM INI. SEKALI LAGI KALIAN LAKUKAN, AKU TIDAK SEGAN MEMBAKAR HABIS TEMPAT INI !!! ."


Anita terdiam, kata balasan yang sudah siap dilontarkannya seakan tertelan kembali ke tenggorokannya. Ia melihat pria asing bahkan sekilas mengingatkannya pada sosok Roberto mendiang suaminya di mata Putera satu-satunya itu, dalam benaknya ia sungguh tidak percaya akan melihat kobaran Amarah sangat besar dari Liam.


Demi membela wanita itu, Liam bahkan tidak segan mengancam ibunya. Jantung Anita terasa terhenti sejenak membayangkan betapa tinggi kedudukan wanita itu di hadapan Puteranya.

__ADS_1


"Liam...kenapa kau berani mengancam Mama. Apa wanita itu sudah mempengaruhimu, apa yang sudah dilakukannya pada puteraku" Anita semakin geram bukan kepada anaknya, melainkan kepada Harumi.


Ia langsung dengan cepat melangkahkan kakinya ingin mengejar Harumi, tapi langsung di tangkap Liam "Mama akan MENCABIK WANITA ITU !!"


Liam berusaha menahan sang ibu dalam dekapannya "CUKUP,,,cukup....!!!" geram terdengar di dadanya. Sebenarnya ia tak ingin menyakiti Anita tapi penghinaanya yang tidak mendasar sudah membuat Liam kesal.


"Lepaskan Liam, Mama akan membuat perhitungan dengannya !" Anita terus memberontak dan ingin melepaskan diri dari Puteranya. Memukul-mukul dada Liam dengan amarah memuncak.


Liam membuat dekapan itu semakin erat, mengikat tubuh sang ibu dalam pelukannya "dengarkan aku" ia membisikkan perlahan di telinga sang ibu.


"Jangan seperti ini ! Bersikaplah sewajarnya. Dan Jangan pernah mencampuri kehidupan pribadiku." demi menenangkan hati Anita, Liam berusaha meruntuhkan semua emosinya walaupun tetap tak terpengaruh sedikit pun dengan aturan sang ibu.


"Percayalah, ia bukan wanita seperti itu." tambahnya tetap berusaha mencairkan suasana yang tadi memanas.


Anita tak bergeming, ia mengenal baik sifat Puteranya. Liam sangat keras kepala, sudah menjadi sifat alamiah Pria jika menginginkan sesuatu yang membuatnya Candu, tidak akan berhenti sampai ada dalam genggamannya.


Roberto Seymour, Ayah Liam memiliki kepribadian tak berbeda jauh dari Puteranya, bisa terbayang jelas dalam ingatan Anita bagaimana keras kepalanya, mendiang suaminya dulu mengejar wanita yang dianggap Anita sebagai Duri dalam rumah tangganya.


Tapi Anita tetap menghormati dan menganggap Roberto sebagai sosok suami yang pernah dicintainya sebagaimana bentuk pembuktiannya Anita tak pernah berhenti mengunjungi Pemakaman mendiang suaminya.


"Mama menyayangimu Liam, tidak ada lagi yang kumiliki selain Puteraku satu-satunya. Aku ingin Puteraku mendapatkan yang Terbaik"


Tangisan ibunya pun pecah dalam pelukan Puteranya, dengan ragu-ragu Liam mengangkat tangannya dan mengusap bahu Anita. Sesuatu hal langka yang sudah sangat jarang bahkan hampir tidak pernah dilakukannya kepada Anita.


Tidak pernah terbesit dalam pikiran Liam untuk menyakiti ibunya, tapi ia berani melakukannya untuk berusaha memberikan pembenaran terhadap apa yang diperbuatnya.


"Sebaiknya kita temui tamu di dalam" ucap Liam melepaskan pelukannya memberikan sedikit jarak, Liam melihat jelas mata sang ibu yang mulai tenang. Walaupun Anita masih tidak mau menatap Puteranya.


Tapi kali ini, tak ada lagi ocehan memekakkan telinga Liam. Keadaan sedikit mendingin, Anita mengusap wajahnya dan merapikan kembali makeup dan tatanan rambutnya.


Mengatur kembali gaun mahalnya yang sangat mencuri perhatian semua tamu. Anita berbalik menoleh ke Olivia.

__ADS_1


"Ayo Olivia"


Olvia berjalan melewati Liam, mencuri pandang pada Pria itu dengan lemparan ekspresi menyeringai.


"Aku mulai menyukaimu, Takkan kubiarkan wanita rendahan itu memilikimu...Liam" bisik Olivia, menyentuh hangat bahu bidang Pria itu, dengan jemari rampingnya.


Serasa ada gencatan senjata berakhir perdamaian setelah peperangan sengit, mereka mengakhirinya yang tak bisa dikatakan sebagai akhir yang bahagia.


Karena Anita masih belum menerima keputusan Puteranya, "Bukan berarti aku sudah menyetujui hubungan kalian, wanita itu tidak akan pernah memperoleh kebahagiaannya dengan siapapun, Tidak akan pernah" ancamnya sedikit menoleh ke belakang tanpa sedikitpun menatap anaknya.


Kedua wanita itu akhirnya meninggalkan Liam di balkon tersebut. Melangkah masuk untuk berbaur kembali dengan para tamu yang sudah menunggu kehadiran Anita.


Berdiri seakan tenggelam dalam lantai marmer Balkon itu, Liam tak bergerak sedikit pun. Ekspresinya datar, sorot matanya fokus memandang keramaian di bawah dan cahaya lampu pesta dari atas Balkon Lantai tiga tersebut.


Jauh di dasar terdalam kedua mata coklatnya yang berkilat, Liam menyimpan Rahasia terbesar hidupnya dengan sangat rapat. Menyibak rahasia kelam bagaikan Bom waktu yang siap meledak kapan pun.


Berpegangan pada tepi pagar, merentangkan kedua tangannya, Liam menundukkan pandangannya. Seolah pundaknya tersembunyi beban berat yang bertahun tahun ia pendam seorang diri.


Pundak yang kuat, mata yang tajam, tubuh yang sekuat baja sekalipun tak akan mampu menutupi berbagai rahasia kelam yang terus mengikutinya.


Dengan Berat ia mengangkat kembali wajahnya, meraih ponsel di saku.


"Bagaimana ?"


"Nona sudah di dalam mobil, menunggu anda"


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank You 🥰

__ADS_1


__ADS_2