Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 47 Mencemaskanmu


__ADS_3

Malam ini menjadi malam paling menyedihkan sekaligus menyenangkan bagi Harumi.


Tak pernah menduga sebelumnya kalau ia akan menghadapi semua hal-hal yang melelahkan, bahagia, sedih, kejutan-kejutan tak wajar sampai hal menyenangkan Hanya dalam satu hari ini dimana semua orang menyebutnya sebagai Hari Kasih Sayang.


Saat ini tepat pukul 1 malam, Harumi sudah mengenakan pakaian tidur yang dibawanya. Berbahan satin tipis, berwarna rose gold yang memperlihatkan sedikit lekuk tubuhnya. Rambut hitamnya yang bergelombang di biarkan bebas terurai sangat indah terukir di atas bantal.


Ia sudah Merebahkan tubuhnya di tempat tidur yang sangat nyaman, begitu lembut seolah akan membawanya melayang. Harumi mencium Aroma tempat tidur yang sangat menenangkan pikirannya antara Aroma bunga Lilac dan Strawberry.


Setiap sudut kamar, sudah di hiasi dengan bunga Tulip Kuning kesukaan Harumi. Dimanjakan, di layani, semua yang di sukai sekaligus dibutuhkan Harumi sudah di sediakan untuknya. Tak ada kekurangan sedikit pun, tapi itu semua tetap tidak membuat Hatinya tenang, ia tidak akan mengelak kalau saat ini dipikirannya ada Anton dan segala tentangnya.


Harumi masih selalu membayangkan wajah Anton, sekalipun ia menutup mata.


Merebahkan dirinya, mencoba menutup kedua mata tapi itu sia-sia. Harumi memang sangat lelah, tubuhnya sudah sangat lemah menjalani hari ini. Ini yang ditunggu-tunggunya sedari tadi, yaitu bisa menikmati tempat tidur nyaman untuk menghilangkan semua penatnya.


Tapi, pikiran nya selalu menolak, walapun tubuh sudah meronta menuntut untuk beristirahat.


Dari tadi Harumi selalu mengubah posisi berbaringnya, mulai telentang, balik ke kanan, ke kiri, mengatur posisi bantal tapi selalu saja salah.


Tidak ada yang salah dengan tempat tidur itu, semua tampak normal, tapi Harumi sangat gelisah. Tentu saja ia Masih memikirkan suaminya, yang tak ada kabar beritanya, berulang kali menatap ponselnya tak ada satu pun pesan atau panggilan dari Anton.


Anton akankah mengejarnya, mencarinya seperti waktu itu ?, tidakkah ia khawatir pada Harumi ?, apa yang dilakukannya sekarang ?, apa sudah di rumah ? sudahkah ia makan makanan yang di sediakan Harumi ?


Semua pertanyaan itu terlintas terus menerus dalam pikiran Harumi. Sangat mencemaskan Suaminya, bisa dikatakan wajar setelah mereka bertengkar lalu tak ada kabar. Walaupun Anton sudah keterlaluan dengan kata-kata kasarnya, ia tetap masih berstatus Suami Harumi. Tak mudah menghilangkan rasa sayang, bukti Harumi masih menyayanginya adalah kecemasannya saat ini.


Berusaha tak peduli, menganggap santai semuanya tidak akan dengan mudah menghilangkan perasaannya kepada Anton, 4tahun pernikahan bukan sesuatu yang bisa di sia-siakan begitu saja.


Harumi membuka kedua matanya, mengangkat tubuhnya kembali. Duduk di atas tempat tidur, bulumatanya yang naik turun merendah menatap dirinya. Menundukkan kepalanya, melingkarkan kedua tangannya pada kedua kaki yang di tekuk.


Kini ia justru berada di tempat yang tidak seharusnya, semewah apapun, semahal apapun bahkan pelayanan yang sangat elit sekalipun tetap saja ini bukan milik Harumi.


Ia hanya tamu tak terduga, meminta bantuan kepada seseorang yang tak seharusnya Harumi manfaatkan kebaikannya.

__ADS_1


Liam, orang lain yang kebetulan hadir dalam hidupnya di saat kehidupan rumah tangganya sudah diujung Jurang, ia pria baik, terlalu baik untuk Harumi, sangat perhatian padanya.


Sesibuk apapun ia masih menyempatkan menghubungi Harumi sekedar menanyakan kabarnya hingga sering menggodanya membuat mereka saling menghibur satu sama lain. Bagai menemukan jalan terang setelah melewati perjalanan panjang yang sangat gelap, itulah Liam bagi Harumi.


Ia tidak ingin memanfaatkan Liam dalam situasi ini, Karena itu pasti tak akan nyaman baginya ataupun Harumi di kemudian hari.


Harumi bangun dan berdiri menjauh dari tempat tidurnya. Duduk di sofa sambil menggenggam ponsel yang diambilnya dari Nakas.


Membuka pesan singkat tadi, beberapa percakapan yang Harumi dan Liam bicarakan sebelumnya. Ia membaca ulang history chat mereka, mulai saling menggoda dengan kata-kata nakal sampai akhirnya mengirimkan candaan, kata-kata humor konyol mengenai Sekretaris Will, Taylor bahkan Beatrix membuat Harumi tersenyum kembali.


Ada pesan terakhir yang dikirimkan Liam, berulang Harumi membacanya.


ikut lah bersamaku, sayang. Aku akan menjemputmu.


Harumi belum membalasnya, ia masih bingung dengan ajakan Liam tiba-tiba seperti ini.


Lalu bolamatanya bergerak menatap pemandangan indah dari balik jendela kamar, suasana malam yang indah walaupun mansion ini tidak di tengah kota, tapi pemandangan danau pepohonan masih sedikit tampak menawan di mata Harumi. Dihujani dengan cahaya bulan memantulkan sinarnya di sebuah Danau, sangat indah.


Mulai menata hatinya sedikit demi sedikit, mungkin awal yang baik untuk mengawali perasaan bimbang ini.


Ia sudah mengabari Beatrix untuk meliburkannya sejenak.


***


Santa Monica


Liam berulang kali menatap layar ponselnya, ada kecemasan dari sorot matanya. Menunggu tiap balasan dari Harumi, sangat ingin sekali ia menghubungi lagi, lagi dan lagi.


Tak ingin sedetik pun membiarkan dirinya tenang, kegelisahan terus mehantui Liam karena ia tau kalau Harumi sedang bersedih, tersakiti.


Menyakitkan bagi Liam melihat wanita yang paling dicintainya harus terus menerus menerima penderitaan dan beban seorang diri.

__ADS_1


"Tuan, apa anda baik-baik saja ?" tegur Sekretaris Will melihat Liam tak banyak bicara sejak tiba di Santa Monica


Ia mengangkat dagunya menatap ke arah Sekretaris Will "Setelah ini, apa jadwal kita ?"


Pandangan Liam berubah, bola matanya yang coklat semakin gelap. Tatapannya kosong, pikirannya kini dipenuhi Harumi, Harumi dan hanya wanita ini.


"Setelah ini kita ada Meeting dengan Para Pemegang Saham Perkapalan, kemudian Makan Siang bersama Para Direksi membicarakan...."


"Ok" potong Liam dengan cepat.


"Ia pasti akan baik-baik saja, anda tidak perlu cemas" sahut Sekretaris paruh baya itu seolah mengetahui apa yang dipikirkan Liam saat ini.


Liam langsung berdiri dari duduknya, setelah mengadakan pertemuan dan memantau Progress pembangunan Resort sangat mewah di Santa Monica yang tinggal 20% lagi.


Ia berjalan menuju Mobil Hitam miliknya, diiringi beberapa para Petinggi Perusahaan Kontraktor yang mengerjakan Proyeknya.


"Terimakasih Tuan, Selamat Jalan" Sapa salah satu Pimpinan Kontraktor memberi hormat.


Liam memasuki mobilnya setelah Sopir membukakan pintu untuknya.


Duduk menyandarkan tubuhnya, menatap layar ponsel lagi. Liam tak hentinya menatap Gambar Selfie Harumi yang telah dikirimkannya.


Sesekali senyuman kecil mendarat di wajahnya, lengkungan di kedua pipi Liam sangat tampak terlihat, sangat menawan ketika ia tersenyum. Ia sangat merindukan sosok Wanita cantik menggemaskan di foto ini, rindu berat tak tertahankan.


Kegiatan Liam yang terlalu padat dengan jadwal pekerjaannya, mengurungkan niatnya ke Bristol untuk sementara waktu. Beberapa pekerjaan penting sudah menunggunya.


"Tuan Liam, mungkin dengan video call bisa sedikit mengobati. Berbicara bertatap muka walaupun tidak langsung, melihat senyumannya mungkin akan membuat anda lebih semangat " Sekretaris Will mencoba menasehati Atasannya, usia Sekretarisnya yang lebih berpengalaman dalam hidup bisa sedikit membantu kegelisahan Liam.


"Aku akan coba membujuknya, walaupun ia tak menyukai hal seperti itu" jawab Liam singkat.


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Komen dan Vote


Thank You ❤


__ADS_2