
Harumi hanya diam dan mengalihkan pandangan, "Makanan yang sangat lezat kuharap kapan-kapan kita bisa makan di sini kembali. Lain waktu, aku yang akan mentrakrtirmu"
Bibir wanita itu melengkung seraya menyesap kopi Americano di cangkirnya "Of Course"
Sekilas pandangan mata Harumi beralih pada Liam yang berjalan menuju sebuah ruangan dengan pintu kaca, dia hanya bisa melihat punggung Pria itu dari belakang.
Tidak ada perubahan pada Liam, pria itu tetap dengan sisi pesona yang mampu menyihir wanita manapun. Penampilannya yang rapi, rambut kecoklatannya dan disisir menjauhi wajahnya yang tampan, pundaknya yang lebar serta kuat. Tentu saja, sihir itu juga lah yang sudah membuat Harumi kehilangan akal sehatnya.
Menunggu kabar Liam yang tidak pernah menghubunginya lagi, membuat Harumi khawatir. Tetapi melihatnya sekarang di sini dengan keadaannya yang baik-baik saja.
He is Fine Without Me
Entah apa Harumi harus merasa bahagia atau sedih. Pria itu memang selalu sibuk, terlintas dalam pikirannya apa ia tidak ada sedikit waktu nya untuk memberi kabar. Bukan menghilang begitu saja.
Apa ini cara nya dia ingin meninggalkan Harumi, dan mulai melupakannya. Merasa bosan dan menyerah.
Tapi, apa yang bisa Harumi harapkan dari perasaan ini, ini hanyalah rasa yang bisa membunuhnya kapan pun.
Rasa ini tidak akan abadi, rasa ini akan menghancurkan semuanya. Mencelakai orang-orang yang tidak bersalah.
Harumi bukan wanita yang bisa dikatakan sebagai wanita yang sempurna, wanita yang bisa goyah dengan segala godaan. Harumi adalah Harumi yang selalu membuat kesalahan, jatuh dan bangkit, jatuh lagi dan berusaha bangkit lagi.
Liam Seymour adalah bentuk kesalahan yang sudah Harumi lakukan selama hidupnya, tetapi Liam jugalah yang membuat Harumi bisa bangkit lagi dari penderitaan.
Sosok pria itu seolah memberi Harumi cahaya baru dalam hidupnya, walaupun dia tahu ini bukan selamanya. Setidaknya hanya ini yang bisa membuatnya tetap merasakan menjadi dirinya sendiri tanpa harus berpura-pura menutupi segalanya agar tampak baik-baik saja.
Wanita murahan yah tentu itu kesan pertama yang ada dipikiran Harumi sendiri mengenai dirinya saat ini. Menjalani hubungan terlarang dengan pria lain disaat statusnya masih menikah dengan Anton.
Bahkan hubungan ini sudah harus berakhir, dengan bodohnya Harumi masih mengharapkan lebih dari ini semua.
Apa yang bisa diharapkan ?
Berhentilah dengan semua harapan-harapan bodohmu, Rumi
Its Over, Dia tidak mengharapkan apapun darimu lagi.
Pria tampan sesempurna dirinya akan merasa bosan dan membuangmu dengan mudah. Apalagi yang bisa diharapkan dari seorang wanita bodoh darimu.
__ADS_1
Dia berjanji akan kembali, kembali... Aku masih ingat perkataan terakhirnya padaku
Its Fake...Wake Up Harumi !!!
Tata kembali perasaanmu, jangan terlalu mudah hanyut.
Sekilas Harumi mengerjap lalu mengepal kedua tangannya. Menguatkan dirinya lebih baik. Walaupun jantung itu tidak akan mungkin berbohong, sekuat apapun menghapus dirinya dari ingatan tapi getaran dan debaran itu akan bersikap terbuka karena itu bukan sesuatu yang bisa di bohongi oleh kata-kata.
***
Di sebuah ruangan dengan pintu kaca, Liam berjalan memasuki dengan diiringi para bawahannya dan Sekretaris kepercayaannya.
Pria itu hanya menatap ke depan dengan tatapan dingin bahkan ia tidak menoleh sedikitpun ke sampingnya.
Liam di sambut dan menerima pelayanan langsung dari Manager Restoran tersebut.
Ruangan itu khusus untuk pengunjung VIP, tidak bergabung dengan pengunjung umum.
Setelah Liam duduk barulah semua menyusul untuk duduk di kursi yang sudah disiapkan untuk mereka.
Beberapa pelayan memasuki ruangan dengan membawa masing-masing troly makanan, menyajikan menu-menu yang sudah biasa di pesan oleh Liam.
Pria itu duduk dengan tatapan terus mengamati beberapa laporan kerja semua perusahaan di I pad yang diberikan Sekretaris Will, sesekali ia mengerutkan keningnya jika ia melihat sesuatu yang membuatnya janggal.
Kemudian salah satu bawahannya, Pria paruh baya dengan setelan jas rapi berwarna abu-abu memulai pembicaraan.
Ada lima pria dan dua wanita yang mengiringi Liam dan salah satunya Sekretaris Will yang tengah berdiri di samping Liam.
Mereka langsung membicarakan tentang pekerjaan dan berbagai kinerja perusahaan. Mereka yang bersama Liam adalah para direktur utama dari perusahaan- perusahaan yang dimiliki Liam.
Liam mendengarkan dengan seksama walaupun matanya masih tertuju pada layar I padnya, tapi Pria itu tidak pernah melewatkan bahkan angka-angka yang diucapkan orang-orang tersebut ia mengingat semua detailnya.
Mata Liam mengunci tatapan seorang Direktur yang menerangkan sebuah laporan yang menurutnya memiliki performasi yang sangat menurun. Dalam hal pekerjaan, Liam sangat dikenal tidak menyukai basa basi dan sangat menguasai angka-angka, bahkan ia begitu cerdas jika menyangkut dengan kurva laba perusahaan.
Sesekali Liam bersandar di kursi dan menyipitkan matanya melemparkan tatapan menusuk pada bawahannya yang tampak berusaha menutup-nutupi kecurangan.
Liam bukanlah CEO yang mudah di manipulasi oleh bawahannya walaupun ia harus mengontrol dan memimpin banyak perusaahan ditangannya. Pria itu mengetahui semua seluk beluk setiap perusahaan miliknya.
__ADS_1
"Aku hanya tertarik pada fakta dan angka, Dan sekarang waktumu sisa lima menit lagi" Liam Seymour berbicara dengan nada lambat yang berat, aksennya sangat tipis sampai-sampai hampir tidak bisa dideteksi. Dia duduk bersandar dikursinya dan mengangkat alis dengan penuh penantian "Aku memberimu waktu yang cukup, apa hanya itu kemampuanmu "
Direktur itu tampak mulai putus asa, ketika Liam terus mencercanya dengan banyak tekanan dan pertanyaan-pertanyaan yang mencekik.
"Kumohon beri aku kesempatan lagi, Mr. Seymour. Ini akan diperbaiki dengan baik" Pria paruh baya yang berdiri dihadapan Liam membentangkan tangan dalam sikap memohon agar dipahami dan tentu saja sedikit kelonggaran dari Liam. "Dalam situasi seperti ini, wajar bukan ?"
Pada saat itu juga, Liam seperti berada di kursi pengemudi sementara Direktur itu berdiri di tengah jalan menunggu dilindas.
"Aku tidak sedang ingin bercanda" suaranya sekeras tatapannya yang tidak simpatik "Dalam posisimu, aku pasti akan gemetaran dan aku akan menggunakan setiap trik yang ada untuk mencoba menyelmatkan diri. Bahkan termasuk bertekuk lutut menjilati lantai sekalipun dengan lidah kotormu."
Komentar Liam yang tak berperasaan terasa bagaikan tinju keras di perut Pria itu.
Liam bukan tidak ada alasan sampai berkomentar mengerikan seperti itu dihadapan semua bawahannya, karena Direktur itu sudah kedapatan oleh Liam telah melakukan Pencucian uang, menggunakan uang perusahaan untuk usaha pribadinya di bidang penjualan manusia keluar negeri, dan terungkap adanya kasus pelecehan seksual kepada beberapa karyawan wanita.
Ini bukan sesuatu yang mudah dimaafkan oleh Liam, bahkan dia bisa berbuat sesuatu yang lebih mengerikan dalam hukuman penyiksaan bagaikan di neraka kepada mereka-mereka yang sudah berbuat kejam seperti yang telah dilakukan direktur tersebut.
Liam mengamatinya sejenak dan ketegangan memekat di antara mereka dan ruangan itu terasa sangat mencekam oleh awan hitam yang mengelilinginya "Aku akan melanjutkan pembicaraan ini, kita akan bicara empat mata di tempat yang sudah kutentukan, Direktur Jack Norman." suasana ruangan itu berangsur-angsur lesap saat Direktur itu melihat tekanan suram dimulut Liam.
Setelah Liam menganggap pertemuan dengan segala pembicaraan mereka sudah selesai barulah ia mengambil garpu dan pisau untuk memulai makan siangnya dengan sikap yang santai dan dingin secara bersamaan.
Kemudian, para direktur yang lain mengikuti dan makan siang bersama walaupun ketegangan masih terasa kuat di ruangan itu.
Sekretaris Will kini tengah duduk tepat di samping Liam, sebelum ia memulai makan siangnya walaupun sempat ragu-ragu lalu ia mendekatkan diri dan berbicara perlahan pada atasannya tersebut.
"Maaf saya mengganggu makan anda, saya melihat Mrs. Harumi sedang makan siang di Restoran ini juga sepertinya dengan kerabatnya seorang wanita." bisik Sekretaris tersebut.
Mata Liam seolah membeku, seketika ia menghentikan aktivitas makan siangnya, lalu mengangkat wajahnya "hmm" respon singkat dan ekspresinya sangat datar.
Kemudian dengan sikap yang sangat santai ia melanjutkan makan siangnya tanpa ada kata-kata apapun lagi.
Sekretaris Will sempat tersentak dengan reaksi atasannya tersebut, perubahan sikap Liam seolah sangat membuat pria paruh baya yang merupakan orang yang di percaya Liam tersebut hanya bisa terdiam. Karena yang diketahuinya selama ini Liam tidak pernah bersikap sedingin itu apalagi jika semua yang menyangkut dengan Harumi.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1