Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 209 The Fighters


__ADS_3

"Aku ikut denganmu" Harumi menggenggam tangan pria itu semakin erat, menatap dalam-dalam kedua matanya yang kecoklatan "Kita pasti bisa melaluinya, aku yakin semua masalah ini akan segera berakhir."


Liam menarik nafas dalam, melepaskan genggaman tangan wanita itu, dan kini ia meletakkan kedua tangannya ke wajah Harumi dengan lembut


"I have to go, alone"


Harumi menggeleng cepat "No, aku ingin menemanimu disaat seperti ini."


"Rumi....please...I have to go. I promise its ok, its fine."


"Liam, biarkan ibu ikut denganmu" Anita menatap Puteranya dengan perasaan sedih. Wanita itu sangat mengerti dengan situasi yang dihadapi puteranya saat ini.


"Aku ingin ibu menemani Harumi, aku harus menyelesaikan tanggung jawabku"


"Ini masalah yang sangat besar !! Kesalahan proyek kerja sebesar ini apalagi sudah menelan banyak korban bukan permasalahan yang bisa dianggap enteng. Ibu tahu proyek Santa Monica adalah impianmu, membangun sebuah Resort Dunia sebesar itu tidak mudah. Kau adalah pemegang tanggung jawab terbesar, terjadi kesalahan sedikit saja. Itu akan berakibat fatal padamu, nak. Ibu dan Ayahmu kita lahir dari keluarga Pebisnis, dan ini akan menjadi senjata kuat yang akan digunakan Rival dan semua musuh untuk menyerangmu. Ibu tidak akan tinggal diam. Melihat Puteraku hancur. TIDAK akan !!!" guratan perasaan cemas, kesedihan dan kekhawatiran. Perih dirasakan wanita paruh baya itu didadanya.


Kedua mata Anita berkaca-kaca, Harumi pun melihatnya. Dan merasakan perasaan yang sama.


Ini bukan masalah yang sepele, apalagi menyangkut keselamatan semua orang yang tidak bersalah terlibat.


"Mr. Seymour, tim pengacara kita sedang menunggu anda di sana. Kita harus segera pergi." Sekretaris Will mengingatkan kembali, dan itu menjadi detik-detik yang sangat menusuk jantung Harumi.


Liam menatap Sekretaris Will dan mengangguk sekali.


"Aku harus pergi sekarang" Liam masih mengutaskan senyuman kecil pada Harumi, akhirnya itu tampak diwajahnya disaat situasi penuh ketegangan. Senyuman untuk menguatkan Harumi, tapi ....


Suasana ini semakin menghimpit perasaan keduanya oleh situasi yang benar-benar mengerikan. Yah tentu saja, apalagi yang lebih menyakitkan ketika melihat orang yang kita cintai sedang menghadapi begitu banyak masalah. Dan diposisi yang tentu saja sangat beresiko.


Harumi menahan airmata sekuat-kuatnya, ia tahu tangisan tidak akan membantu apapun. Harumi tidak ingin terlihat lemah "Kau berjanji tidak akan meninggalkanku kan. Maka kumohon kembalilah. Kembalilah ke sisiku lagi" wanita itu mendekat lalu memeluk tubuh Liam. Ia memejamkan kedua matanya didada pria itu.


Merasakan detakan irama jantung keduanya yang saling bertautan, Harumi tidak ingin mendengar apapun lagi. Ia hanya ingin mendengar detakan jantung dari pria yang dicintainya. Merasakan Aroma tubuhnya yang hangat.


Liam merespon dengan mendekap tubuh Harumi semakin dalam, wajahnya menunduk lalu bibirnya mendekat ke telinga Harumi dan membisikkan sesuatu


"I Love you so much"


Ia mengusap puncak kepala Harumi dan menciumnya dengan lembut "Look at me."


Harumi menggeleng menolak dan tetap menenggelamkan wajahnya di dada pria itu. Ia tidak ingin menatap wajahnya, karena Harumi tahu ini adalah saat-saat yang sulit untuk mengucapkan perpisahan atau apapun itu.


Liam pasti akan melalui waktu-waktu yang panjang, peristiwa ini akan menggiring pria itu pada posisi yang semakin jauh dari Harumi.


"Rumi, sayang."


Wanita itu masih bersikap sama, ia tidak ingin membalas tatapannya dan memilih diam dalam pelukan pria itu. Karena itu pasti akan membuat Harumi melemah.


"Were Fighters, right ?" tukas Liam "Were strong, togather."

__ADS_1


"Berjanjilah satu hal padaku ?" dengan suara parau, Harumi mencoba mengangkat wajahnya.


Mereka saling menatap satu sama lain.


"Jika kau sudah cukup lelah, kumohon kembalilah. Berjanjilah jangan memaksakan diri, kumohon kembalilah padaku. Aku hanya ingin kau baik-baik saja"


Harumi bisa melihat beban tanggung jawab yang begitu besar dari sorotan mata Liam


"Aku pasti kembali, aku akan kembali dengan membawa kabar baik. I promise."


Malam itu, aku menatap wajahnya begitu lama.


Wajah seseorang yang sudah mengisi keindahan di kehidupanku yang menyakitkan.


Pria yang sudah menarikku dari kehidupan yang penuh luka.


Mengorbankan apapun untukku. Bahkan dirinya sendiri.


Aku mengerti tidak sepantasnya, aku mengatakan bahwa Cinta kami lahir dari perasaan yang suci. Justru Perasaan cinta ini lahir dari sebuah pengkhianatan.


Kini, aku menyadari Liam hadir bukan tanpa alasan dalam kehidupanku.


Dia hadir untuk berjuang bersamaku.


Kami berjuang untuk apa yang kami yakini, untuk...


...****************...


"Mrs. Anita, ada panggilan masuk untuk anda"


Setelah Liam pergi meninggalkan galeri bersama Sekretaris Will dan beberapa Asisten Pribadinya langsung menuju Santa Monica.


Harumi duduk di Ruang Kerja Anita, diam dengan perasaan yang masih berkecamuk ia bahkan merasakan kedua lututnya kesemutan. Dan kecemasan yang tidak kunjung reda.


Sesekali ia membuka ponselnya, melihat beberapa media sosial tentang pemberitaan peristiwa ledakan itu yang mulai ramai jadi perbincangan hangat.


Harumi tidak ada keberanian untuk membaca berita-berita tersebut lebih intens, ia hanya membaca judul-judul wacananya saja. Karena wanita itu tidak sanggup harus mendapati komentar dan kelanjutan pemberitaan yang semakin tidak mengenakkan.


Harumi juga memperhatikan Anita yang tengah sibuk menerima panggilan masuk dari orang-orang penting menyangkut peristiwa ini.


Wanita paruh baya itu bahkan tidak hentinya berbicara dari satu ponsel ke ponsel lainnya. Karena sejak peristiwa ledakan ini disiarkan. Ponsel Anita tidak berhenti berdering, bahkan semua Asisten kepercayaannya pun ikut membantu memberikan konfirmasi.


Dan karena Pesta malam inj yang berakhir diluar rencana ini pun, ikut berdampak kurang baik bagi para Inverstor dan orang-orang penting yang sudah mensupport menginginkan Acara malam ini berjalan lancar. Tapi, justru sebaliknya semua menjadi kacau.


Tampak guratan ketegangan di wajah Anita ketika ia harus menenangkan para orang-orang penting yang berpengaruh mulai menyudutkan wanita paruh baya tersebut.


Keadaan malam itu benar-benar kacau.

__ADS_1


Kemudian, disela-sela itu Anita memanggil


"Harumi..."


"Hmmm" ia sedikit terkejut


"Harumi, maafkan aku. Karena situasi ini, kau pulanglah lebih dulu dan beristirahat. Aku sudah meminta Miss Jones menemanimu. Masih banyak yang harus kuselesaikan malam ini."


"Oh Its ok. Aku bisa pulang sendiri."


Sesaat Harumi berdiri, Cathy masuk ke ruangan.


"Mrs. Anita" ucap Cathy yang memberi hormat pada Anita lalu beralih menatap Harumi


Harumi menatap dingin ke arah Cathy, lalu ia berpamitan kepada Anita.


Harumi keluar dari ruangan menyusul Cathy dari belakang.


"Rumi..." panggilnya sambil berjalan menyusul


"Aku akan pulang dengan Scarlett. Kau pulanglah." ia mengambil ponselnya


Sesaat mereka berjalan di Koridor menuju Lift, tetiba pintu Lift pun terbuka.


"Rumi, ada yang ingin kukatakan...." Cathy belum sempat menyelesaikan ucapannya.


Harumi tampak menghentikan langkahnya, dan mematung ketika ia melihat seseorang yang sedang berdiri dihadapannya saat itu.


Seseorang yang tanpa sempat membiarkan ia mengucapkan satu katapun langsung menarik lengannya hingga memasuki lift tersebut.


Cathy yang melihat kejadian itu hanya terdiam dan seolah tampak ketakutan.


Membiarkan orang itu membawa Harumi dengan paksa.


Kini Harumi berada di dalam lift bersama pria itu, hanya berdua.


"Lepaskan !!!" paksanya menarik kuat genggaman pria itu


Tatapannya menusuk, ia memperhatikan Harumi dari ujung kaki sampai ke atas "Kau sangat berubah. Membuatku sangat...sangat...


Bergairah!!!! My beautiful Wife "


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you 🥰

__ADS_1


__ADS_2