Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 97 Kesalahan Masa Lalu


__ADS_3

Bibir Anton membuka "Aku mengenalnya sebelum bertemu dengan Harumi"


Nami menatap Anton dengan sesuatu yang mendekati ekspresi tidak percaya.


Wanita itu mengunci tatapannya "Yah, mungkin saja apa yang kau katakan memang benar, tapi menyembunyikan Rahasia yang begitu besar dan beralasan karena tidak ingin menyakiti Harumi, bukan tindakan yang bisa di benarkan. Kau tahu itu ."


Anton membalas tatapannya tanpa keraguan sedikit pun "Suatu hari nanti, aku akan mengatakan yang sebenarnya pada Harumi. Tapi, tidak sekarang. Akan ada waktu yang Tepat untuk mengungkap semuanya"


Ketika tubuhnya berpijar oleh amarah, Nami mencoba menyingkirkan semua emosi di dalam dirinya yang semakin memuncak, karena ia sudah cukup bersabar menghadapi dan menyimpan ini semua selama tiga tahun dari Putrinya. Dan dengan entengnya, Anton memberikan Ketidakpastian.


Sampai kapan pria itu akan terus berbohong ? Menyembunyikannya, memperpanjang waktu untuk terus menyakiti Harumi lebih intens. Jawaban Anton benar-benar menusuk hati Wanita paruh baya itu begitu menyakitkan. Ia tidak sanggup membayangkan Putrinya akan menjalani Pernikahan di atas Kebohongan dan banyak Rahasia.


Wanita paruh baya itu tertawa tanpa humor, menampakkan kerutan-kerutan yang tergambar jelas di wajahnya "aku sungguh ingin sekali Menamparmu, tapi aku menahannya karena masih memandang Elena. Ibumu sangat menyayangi Harumi, menganggap Putriku seperti darah dagingnya sendiri. Kalau bukan karenanya, Mungkin aku sudah menghabisimu."


Rasanya sulit menjaga percakapan ini tetap mengalir dan Netral karena Anton mendapat kesan tertentu bahwa Ibu Mertuanya ini sama sekali tidak ingin memperpanjang perbincangan mereka. Dan Anton menatapnya sedemikian rupa hingga ia benar-benar ingin mengatakan yang sebenarnya mengenai kondisi Harumi.


"Harumi...." Anton tidak menyelesaikan jawabannya


"What ?"


Menarik Napas panjang, menahan nya di dada selama beberapa detik. Pria itu hampir tidak sanggup untuk bernafas dengan benar "Harumi tidak bisa Mengandung lagi, setelah kecelakaan itu"


Anton menyadari kulit Mertuanya itu memucat serta bayangan gelap muncul di bawah matanya. Wanita itu tampak terpukul.


Wanita itu berusaha berdiri tanpa bicara, ia hanya diam dengan wajah pucat pasi dan pandangan yang sangat kosong. Sangat berbeda dengan sebelumnya ia bisa bersikap tegas dan tetap tenang. Mrs. Whiston tak bisa berucap sepatah kata pun, ia berdiri dengan kedua kakinya yang bergetar sambil berpegangan pada tepi kursi.


Pundaknya semakin rendah, seolah beban yang ditanggunganya semakin Berat. Nami Tomoeda yang sedari tadi berusaha bersikap tenang dan tegar akhirnya pertahanan dirinya pun runtuh setelah mendengar satu kalimat dari Menantunya tersebut bagaikan ribuan Tombak tajam menusuk jantungnya tanpa ampun.


Harumi Nayaka Putri satu-satunya yang sangat disayanginya dengan sepenuh hati harus menanggung Penderitaan seberat itu, ia tidak menyangka bahwa Harumi harus melewati cobaan ini seorang diri.

__ADS_1


Kalimat yang dilontarkan Anton, seolah membungkam Nami dengan sangat kuat. Pria itu hanya bisa menatap sedih melihat mertuanya harus mendengar berita menyakitkan ini.


"Mrs. Whiston..." Anton berdiri memberi perhatian dengan membantu nya berjalan. Tapi, Nami menangkis dengan cepat tangan Menantunya tersebut.


"Cukuuup...Hentikan !!! Pergilah..." ekspresi amarah yang memuncak bercampur kesedihan yang menyakitkan tergambar jelas di wajah Nami, matanya berkaca-kaca siap menumpahkan semua rasa sakitnya. Ia sudah sangat Terpukul dan tertampar sangat keras.


Wanita itu mengusap dadanya berusaha menghilangkan rasa perih di hatinya yang tak kunjung berhenti "Oh Tuhan, Putriku....Harumi...Kenapa ia harus menderita seperti ini ? Kenapa bukan aku saja yang menanggung penderitaannya"


Anton mengepalkan jemarinya, ada rasa penyesalan teramat besar membara di dalam dirinya, Pria itu menatap mertuanya dengan tatapan yang memohon "Maafkan aku, Mrs. Whiston. Iam so Sorry, aku tidak bisa menjaga Harumi dengan baik, Hingga..."


"CUKUUUUUPPP!!!!" balas Nami menatap dengan Kobaran Api Kebencian "Enyahlah dari Hadapanku, Aku tidak ingin melanjutkannya lagi. Ini sudah Cukup Menyakitkanku. Aku MENYESAL sudah mepercayakan Putriku padamu. Aku benar-benar Menyesal"


"Aku benar-benar Minta Maaf, aku pun sangat Menderita dengan Kenyataan Pahit ini"


"Kau tidak menderita, Anton. Aku tidak melihat rasa penyesalan di wajahmu, jika benar Mencintai Harumi, Dia tidak akan berada New York saat ini"


Anton terdiam sejenak, dalam cengkeraman rasa Terkejut yang mendadak menghantamnya akibat dari ujaran kebencian yang dilontarkan Wanita paruh baya tersebut. Pria itu Shock, kali ini ia tak sanggup mengeluarkan kata-kata apapun dari bibirnya.


Udara memanas serta berderak-derak, seolah sesuatu tercetus menyala, mendesis di udara bagaikan Kabel tegangan tinggi.


Nami mencengkeram tepi kursi lebih erat menahan Bom Waktu yang siap ia tumpahkan setiap saat, tapi tentu saja ia tak ingin lagi bersabar. Karena Harumi harus bahagia, Wanita itu ingin Putrinya bisa menemukan Jalan Kebahagiaanya, bukan Penderitaan yang menyakitkan.


"Kau harus Secepatnya......mengurus Perceraian Kalian"


***


Suara keras itu masih berdengung kencang di telinga, memuncak sesaat Kematian itu menghampiri.


Dunia terasa hampa seketika waktu berhenti, dan atmosfir seakan berputar sangat kencang.

__ADS_1


Menusuk semua menjadi serpihan-serpihan yang turun bagai Hujan.


Pandangan itu berubah menakutkan dan kegelapan singgah tanpa sepatah kata.


Apa yang terjadi padaku ? Semua terjadi dengan sangat Cepat ?


Harumi melangkah ke samping, lalu tersandung sesaat ia akan menoleh ke belakang. Liam bergegas menghampirinya, menangkap pinggang Harumi lalu berbalik sehingga Wanita itu tidak perlu melihat Pria yang terkujur kaku di tanah "Don't Look Back "


"What Happened ?" cetus Harumi dengan suara bergetar, dan terus mengulanginya "Apa yang terjadi di belakangku, Liam ?...Siapa yang sudah kau tembak ? ...S-Siapa.... Siapa ...Katakan padaku"


"Sst. It's Ok" Liam memeluk kepala Harumi di bawah dagunya, menekan dadanya. Hatinya mencelus ketika merasakan getaran pundak Harumi meskipun wanita itu sama sekali tidak bersuara. Dia menyusurkan tangannya di sepanjang punggung Harumi, membenamkan jemarinya di rambut wanita itu "Segalanya akan baik-baik saja sekarang"


Hanya selisih sepersekian detik dari Pria yang hampir menarik pelatuk Pistolnya tepat di belakang kepala Harumi, tapi Liam lebih cepat bergerak mengambil tindakan dengan menembakkan pelurunya tepat sasaran di kepala Pria itu.


Dan Pria Misterius itu pun Mati seketika di tempat.


Jika Liam terlambat menarik pelatuk sedikit saja, maka Harumi akan berakhir dengan kenyataan yang sangat mengerikan yaitu Kematian. Dan itu akan membuat Liam menyesal di sepanjang hidupnya.


Berselang semenit kemudian , seseorang berlari menghampiri mereka berdua. Orang itu adalah Sekretaris Will.


Dengan wajah terengah-engah tampak ia habis berlari tergesa-gesa "Tuan, apa anda baik-baik saja ? Maaf, saya datang terlambat"


Liam melemparkan senyuman sekilas "Kami baik-baik saja."


Suara tembakan itu sudah mencuri perhatian warga sekitar Lingkungan tersebut sehingga mereka berusaha ingin mendekati, tetapi dengan penjagaan yang ketat dari para pengawal pribadi Liam yang sudah berada di tempat kejadian, mampu menghalau mereka agar tidak menjadi Pusat perhatian apalagi sampai diketahui Pihak Media.


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote

__ADS_1


"HAPPY NEW YEAR" 🎉🎉


Thank You ❤


__ADS_2