
Tak berapa lama pintu terbuka, seseorang memasuki ruang kerja Anita.
"Good Morning, Mrs. Anita" orang itu menyapa dan memberi hormat
Pandangan Anita yang masih tertuju pada beberapa dokumen kerja di atas mejanya, merespon tanpa membalas tatapannya "Aku mengerti sebagai Kurator, saat ini kau memiliki banyak pekerjaan apalagi untuk mempersiapkan Acara itu." Wanita paruh baya itu beralih menatapnya dari tepi kacamata bacanya "Miss Jones, aku ingin kau menjadi Asisten Pribadi."
Samar-samar tampak wanita itu mengernyitkan keningnya "Asisten Pribadi ? Untuk anda ?"
"Bukan" tegas Anita "For Her" tatapannya beralih pada Harumi yang tengah berdiri membelakangi mereka tepat di depan jendela kaca yang besar
Wanita suruhan Anita itu pun mengikuti tatapannya, ekspresinya mulai kebingungan bercampur rasa penasaran dengan seseorang yang kini tengah berdiri tak jauh darinya.
Anita berdiri dari tempat duduknya dan berjalan mendekati Harumi "Perkenalkan dia Harumi Nayaka Whiston, Calon Menantuku."
Dengan perlahan Harumi memutar tubuhnya, lalu tatapannya terhenti pada sosok wanita tersebut.
"Harumi, dia Catherine Jones. Kurator di Galleryku. " tambah Anita dengan sedikit senyuman
Cathy ?
Harumi memperhatikan dengan lekat, hal yang sama pun terjadi pada Cathy.
Wanita itu terdiam, kedua bola matanya membesar. Tampak jelas, Cathy shock dengan apa yang sedang ada dihadapannya saat itu.
Ia belum merespon apapun, memang apa yang sudah terjadi di antara mereka belum bisa dikatakan baik-baik saja.
Mereka sudah tidak saling berkomunikasi setelah kejadian malam itu. Harumi memutuskan untuk tidak ingin menjalin hubungan persahabatan mereka setelah ia sudah mengetahui kebenarannya.
Kebenaran yang sudah menghancurkan kepercayaannya selama ini.
Kebenaran yang sangat menyakitkan, menyiksanya.
Kebohongan yang disimpan Cathy dan Anton begitu rapi, dengan akting mereka yang sangat sempurna. Membuat Harumi sadar, bahwa orang yang paling menyakitkan justru datang dari orang yang sangat di percayainya.
Hening. Harumi memejamkan matanya sejenak lalu ia memutuskan melangkah mendekati Cathy dengan tatapan dingin.
"Catherine Jones" sapanya dengan senyuman menusuk
Sekali lagi, Cathy memilih tidak merespon. Ia tetap bungkam. Dan kali ini tatapannya berubah, ketegangan yang mencabik-cabik tubuhnya terasa begitu intens.
Cathy merasakan perubahan sikap Harumi, tidak hanya penampilannya bahkan cara bicaranya.
Harumi benar-benar berubah. Sangat berbeda seperti Harumi yang dikenalnya sejak lama.
Bahkan Cathy merasakan seolah sedang berhadapan dengan Anita dalam versi yang berbeda.
"Miss Jones, aku tidak suka sikapmu yang hanya diam saja. Bersikaplah dengan baik pada atasanmu saat ini. Aku ingin kau melayaninya, memenuhi segala apapun yang dibutuhkan Harumi karena sekarang Harumi akan bekerja sama denganku. Terutama untuk Penyelenggaraan Acara nanti." tegur Anita dengan tegas
Cathy menelan salivanya, ia menyadari kedua tangannya gemetar dan rasa ketidakpercayaan masih menyelimutinya.
__ADS_1
"Baik, Mrs. Anita. Saya akan menjalankan tugas saya dengan baik." suaranya sedikit gemetar, tapi ia berusaha keras menutupinya.
"Baiklah, aku percayakan padamu."
Tidak berselang, Sekretaris Gordon masuk.
"Mrs. Anita, jadwal anda pagi ini Pertemuan dengan beberapa Client Penting di Oak Hills Golf Center. Saya sudah siapkan keberangkatan anda ke New York."
Anita hanya menatap Sekretarisnya lalu berjalan mengambil tas tangan miliknya di atas meja "Aku pergi lebih dulu, Miss Jones akan membantumu menuju Ruang kerjamu. Ok" ia tersenyum samar menatap Harumi lalu ekspresinya berubah ketika ia beralih menatap Catherine. Senyuman itu hilang, tampak jelas Anita memiliki sikap yang berbeda dengan Cathy.
"Baik, Mrs Anita. Hati-hati di jalan." ucap Cathy dengan perasaan yang masih berkecamuk.
Setelah Anita sudah benar-benar meninggalkan ruangannya diikuti Sekretaris kepercayaannya.
Cathy berbalik dan menatap Harumi dengan banyak pertanyaan "Rumi, apa yang barusan kudengar, apakah benar ? Calon Menantu ? A-apa maksudnya ?"
Harumi membalas tatapan Cathy dengan santai "Antarkan ke Ruangan Kerjaku."
Cathy mendekati Harumi, wajahnya cemas sekali lagi ia mengajukan banyak pertanyaan "Rumi, kumohon maafkan aku. Kenapa sikapmu tiba-tiba berubah ? Ada apa ? Apa yang terjadi ?"
Harumi menghela napas, dan mengacuhkan pertanyaan Cathy seolah-olah itu hanya angin lalu "Lakukan pekerjaanmu dengan benar...Miss Jones" nada bicaranya sedikit menyindir
Tampak jelas Cathy berusaha menahan dirinya, karena kini ia sadar bahwa mereka sedang berada di tempat kerja yang tidak seharusnya membicarakan masalah pribadi.
Kemudian dengan sikap yang profesional, walaupun lebih mirip seperti kerpura-puraan. Cathy mempersilakan Harumi untuk menuju Ruang Kerjanya yang baru.
Sesampainya di Ruang Kerja, Harumi hanya diam, bahkan sepanjang jalan menuju Lantai 25 mereka memilih untuk saling tidak berbicara.
Sudah bisa dipastikan, Ruang Kerja yang dipilih Anita untuk Harumi bukanlah hal yang biasa-biasa saja.
Tentu saja semua tampak luar biasa, Ruang Kerja yang begitu luas dan nyaman. Semua ornamen dan hal-hal yang menghiasi ruangan itu seolah sudah dipersiapkan Anita dengan baik. Berbagai bunga indah menghiasi setiap sudut dan warna-warna yang dipilih sesuai dengan kesukaan Harumi.
Harumi cukup terkejut dengan apa yang sudah dilakukan Anita untuknya.
Ini tampak berlebihan, memang benar. Tapi, Harumi tidak berdaya untuk menolak keinginan calon Mertuanya tersebut.
Harumi mulai melihat beberapa berkas yang sudah berada di atas meja kerjanya sejak ia tiba.
Cathy yang kini adalah Asisten Pribadinya, hanya berdiri sambil sesekali ia menatap ke layar ponselnya.
"Harumi..."
"Mrs. Nayaka" potong Harumi cepat, ia menatap sebentar lalu melihat kembali ke arah kertas yang kini ditangannya "Call me Mrs. Nayaka." tegasnya
Walau sempat terkejut, tapi Cathy mulai membiasakan diri dengan sikap Harumi yang baru "B-baik, Mrs. Nayaka. Maaf" Cathy melenguh, ia mulai menyesuaikan setiap perkataan yang keluar dari bibirnya teramat hati-hati. "Apa ada yang anda perlukan ?"
Harumi menarik napas "Aku perlu beberapa daftar Toko-toko Bunga dan pemasok Bunga yang cukup terkenal di sini. Dan aku butuh beberapa ... "
__ADS_1
Belum selesai Harumi bicara, ia terhenti ketika ponsel Cathy berbunyi.
Cathy sempat terkejut. Lalu mencoba meraih ponsel di saku blazernya, sesaat ia ingin mematikannya. Ia melihat panggilan itu dan terdiam seketika.
"Kau bisa mengangkatnya jika itu benar-benar penting." sahut Harumi tanpa ekspresi
Cathy masih terdiam dan terus menatap layar ponselnya.
Ia langsung mematikannya dengan cepat.
"Bukan hal yang penting, lagipula ini masih jam kerja. Aku minta maaf." wanita itu menggenggam erat ponselnya lalu ada perasaan yang mengganggunya ketika panggilan itu menunjukkan nama seseorang.
Anton Riandra. Itu adalah panggilan masuk dari Anton.
"Apa ada yang salah dengan panggilan itu ? Kenapa wajahmu---begitu gugup ?" Senyum sinis tercetak di bibir merona Harumi "Apa panggilan itu dari seseorang yang mungkin sangat membutuhkan mu--Miss Jones ?"
Cathy mengubah ekspresi cemasnya dengan senyum yang mengembang lebar " Tidak, hanya panggilan dari .... "
"Anton" jawab Harumi tepat sasaran
...****************...
"Aku tidak menyangka, kau memiliki keberanian itu. Bukankah aku sudah memintamu untuk menjauhi Putriku. Tapi, kau malah mengambil langkah yang tidak terduga." Nami menatap dengan tenang
Tidak ada kelemahan apalagi keraguan dari semua tindakan yang sudah di pilih Liam "Aku terus memperjuangkannya untuk melindunginya."
"Bagaimana dengan perceraiannya, bagaimana dengan pandangan orang lain terhadapnya. Seumur hidupnya, Harumi akan dicap buruk. Apakah kau tidak memikirkan itu dengan matang ?!!" Harry yang kini sudah mulai kembali sadar dan sedang dalam masa pemulihan, untuk pertama kalinya pria paruh baya itu bertemu dengan Liam. "Aku mengerti bahwa cinta buta yang sedang kau rasakan tidak akan mengenal kata menyerah. Tapi, bukankah kau juga harus memikirkan bagaimana kondisi kami nantinya. Putriku adalah wanita yang baik, kami sangat menyayanginya. Apakah hanya dengan cinta dan rasa saling menyayangi itu cukup untuk membungkam semua mulut orang-orang yang menghujatnya ?!!!"
"Kumohon, restui hubungan kami. Aku tidak bisa membungkam semua orang, tapi aku berjanji akan membahagiakan Harumi dan melindungi keluarganya." Liam bukan pria yang lemah dan pantang menyerah. Setiap keputusan yang diambil olehnya adalah janji yang dipegangnya seumur hidup.
Dia jatuh cinta.
Nami bisa melihat ketulusan itu dari kedua mata Liam yang tegas "Walaupun kami belum bisa menerimamu sepenuhnya. Tapi, kumohon jagalah Putriku. "
"NAMI !!" sela Harry dengan suara serak yang tinggi, Harry bersikap sebaliknya. Ayah Harumi itu masih teguh dengan pendiriannya.
"Harry, kita sudah tidak bisa menghalangi mereka lagi. Harumi pun memiliki perasaan yang sama dengannya, kita tidak bisa memaksakan kehendak kita. Mereka saling menyayangi."
Ekspresi geram Harry tergambar jelas "Apa Kau tidak sadar apa yang sudah menimpaku. Ini pasti ada hubungannya. Aku tidak akan memaafkan atas apa yang sudah kualami."
Nami mengusap bahu sang suami dengan lembut "Cukup Harry, ini tidak ada hubungannya dengan mereka. Liam mencintai Putri kita, ia akan bertanggung jawab. Jika kita menghalanginya a-aku takut itu justru akan menjauhkan kita dari Harumi."
"Apa yang dialami Mr. Whiston memang benar ada hubungannya dengan ini semua" Liam mengakui dengan lantang
Harry menatap dingin lalu menyeringai sinis
"I knew it, dan kau masih ingin memperjuangkan Putriku. Di saat semua keluarganya terancam. AKU TIDAK AKAN MERESTUI KALIAN. Jika aku memberimu restu, ancaman yang lebih mengerikan akan siap menyerang kami. Dan aku tidak akan membiarkan keluargaku menderita."
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like Koment dan Vote
Thank you ❤