
Rumah Harumi dan Anton
Pukul 11.15 pm
Sudah hampir larut malam, akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah di antar Takeru.
Aku sudah cukup lelah hari ini dengan berbagai kejadian yang harus kuhadapi. Mataku sayu karena mengantuk, aku bosan menunggu Anton yang tak kunjung datang ke rumah orang tuaku, Berkali-kali ku hubungi ia tak juga menjawab panggilanku.
Selama acara Ben, aku menahan emosi, kesal dan amarah yang semakin memuncak dengan kebiasaan Anton yang tak juga berubah.
Aku terlalu lelah dan bosan harus menutupi kebiasaan buruk suamiku dan mencari-cari alasan dihadapan seluruh keluarga besarku.
Terlalu sering ia bersikap seperti ini, setiap acara yang diadakan keluarga ku ia hampir tidak pernah hadir mendampingiku, selalu selalu dan selalu dengan alasan yang sama. Aku sudah sangat Muak dengan perilakunya, tadi siang kukira ia akan berubah lebih perhatian dan peduli dengan keluarga, aku bahkan sudah sangat bahagia merasakan sikap manisnya. Tapi itu semua hanya omong kosong.
Ketika aku akan membuka pintu, kudengar suara mobil mendekat. Aku berbalik ternyata itu Mobil Anton sedang menuju garasi. Ia akhirnya pulang juga ke rumah.
Aku menunggunya, berdiri di teras rumah. Aku putuskan tidak jadi membuka pintu. Raut wajahku sangat kecewa dan kesal kepadanya. Kedua mataku membesar, kedua tanganku menyilang di dada, aku tak tahan ingin segera menumpahkan emosiku di hadapannya.
Anton mulai keluar dari mobil, ia seperti Anton biasanya. Ia tak menunjukkan ekspresi bersalah sedikit pun, penampilannya masih rapi begitu juga dengan rambutnya. Aroma tubuhnya bahkan masih sangat wangi, aroma parfumnya masih melekat ditubuhnya walaupun seharian ia beraktifitas.
Suamiku berjalan perlahan menuju rumah setelah menutup pintu garasi, ia terkejut melihatku yang berdiri bagaikan Bodyguard penjaga rumah bisa dikatakan aku seperti jelmaan si Taylor.
"kenapa kau masih di luar ?" tanya Anton memasang wajah tak bersalahnya.
__ADS_1
"apa sebenarnya yang kau kerjakan di kantor sampai selarut ini sampai kau tidak bisa meluangkan waktumu sedikit aja untuk keluarga, sudah cukup aku menghadapi kebiasaan burukmu !!" ketus ku dengan nada meninggi mengawali pertengkaran kami
Anton hanya diam saja, kedua matanya tajam menatapku. Ia mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulutku.
Karena sudah sangat emosi, aku bahkan tidak memberikan kesempatan Anton untuk menjawab, aku luapkan semua yang ada di bebanku selama ini.
"Aku tidak pernah meminta lebih darimu aku hanya meminta sedikit waktumu yang super sibuk itu untukku dan keluarga. Aku selalu berusaha menahan rasa kekesalanku tiap saat, tidak pernah ada keinginanku untuk menekanmu. Aku sangat faham kondisi pekerjaanmu dengan posisi jabatan mu sekarang ini, tapi aku istri mu Anton, bahkan para karyawanmu memiliki nasib lebih baik dariku. Setidaknya mereka bisa memiliki semua waktumu!!" ucapku yang semakin meluapkan emosi dan kesalku yang selama ini kupendam.
Anton menarik nafas dan menjawabku "sudah selesai ?" ucap Anton dengan sangat santai.
Kukepal tanganku, sekuat tenaga aku menahan airmataku agar tidak terlihat lemah dihadapannya. Sudah cukup, sudah waktunya Anton harus mengubah kebiasaannya.
Mendengar reaksi Anton yang sangat santai seperti itu, aku sudah tak sanggup lagi jika harus bertahan berada di sisinya.
"sebaiknya kita masuk dan bicarakan di dalam, jangan mencari perhatian tetangga seperti ini" sambung Anton.
Aku masuk ke dalam mengikuti keinginannya. Bagiku mau dibicarakan dimana pun tidak masalah, aku sudah sangat lelah aku tidak peduli lagi jika tetangga akan mencemoohkan kehidupan rumah tangga kami. Bagiku sekarang yang paling penting adalah ketenangan untuk diriku sendiri, sudah cukup aku berusaha mengubahnya.
"Sekarang kau bisa melanjutkan apa pun yg ingin kau bicarakan " ucap Anton, ia sekarang melemparkan tubuhnya dan duduk di sofa Ruang tamu, ia memandang serius ke arah diriku yang berdiri di depannya.
"kenapa kau tidak datang kermh orang tuaku ? aku lelah menjawab semua pertanyaan keluargaku tentangmu. Aku sudah sangat bosan mencari-cari alasan menutupi kebiasaanmu." balasku
"bukannya tadi siang sudah kukatakan aku tidak bisa janji untuk hadir malam ini. Kenapa kau masih mempermasalahkan, untuk apa peduli dengan omongan orang lain"
__ADS_1
"Orang lain ? maksudmu... kau anggap keluargaku orang lain ? dengarkan baik-baik Anton, hanya mereka yang kumiliki sekarang, di saat kau sibuk dengan segala urusanmu. Cuma mereka alasan aku tetap bertahan bersamamu. Sekarang kau malah menganggap mereka orang lain, JAGA MULUTMU !!!" jawabku semakin memanas, aku berdiri dengan kemarahan tak terkendali lagi. Kedua mataku membesar bahkan aku menunjuk nunjuk ke arah suamiku.
Ini seperti bukan Aku yang biasanya, aku sudah di selimuti emosi yang membara. Pikiranku tidak terkontrol, tubuhku memanas, aku ingin melampiaskan seluruh kekesalanku malam ini juga.
Raut wajah Anton langsung berubah, awalnya ia terlihat santai kini mulai terbawa suasana panas saat itu. Ia marah dengan semua ucapanku kepadanya, awalnya ia duduk kini berdiri tegak di hadapanku. Memandangku seakan penuh kebencian, tubuhku yang kecil tidak sebanding dengan tinggi tubuh Anton, tapi tidak akan membuatku lemah dihadapannya.
Anton menarik daguku, mengangkat wajahku berhadapan dengannya. Mata kami saling bertemu, kulihat sorot mata Anton berubah tidak biasanya. Pandangannya penuh api amarah. Aku tetap membalas pandangannya tak gentar sedikitpun.
"Dengarkan baik-baik, aku tidak suka kau mencari-cari alasan untuk bertengkar denganku. Jika ini yang kau inginkan agar aku meladenimu, sehingga kau memiliki alasan bercerai denganku. Itu tidak akan berhasil, kau dengar Harumi...Ini tidak akan pernah berhasil, kau akan tetap bertahan denganku seumur hidupmu" ancam Anton. Ia melepaskan cengkramannya di wajahku, kemudian melangkah meninggalkanku.
"Tunggu Anton!! Kau kira ini sudah selesai, kita lihat saja nanti, aku akan membalasmu..."
Anton langsung menghentikan langkahnya setelah mendengarku. Ia berdiri membelakangiku, diam tanpa mengatakan apapun. Kulihat punggungnya yang bidang berada tepat di depan mataku sekarang.
Aku seakan sudah tidak peduli lagi dengan apapun pikiran Anton terhadapku. Sebenarnya aku ingin membahas tentang berkas-berkas penting yang kutemukan di laci meja kerjanya tadi. Tapi ku urungkan niatku, aku tidak mau membahasnya sebelum aku menemukan bukti-buktinya.
Kukira Anton akan membalas pernyataanku tadi, ternyata ia justru melanjutkan langkahnya yang terhenti dan mulai menaiki anak tangga.
Anton seolah tidak ingin memperpanjang pertengkaran malam ini. Justru aku berharap kami bisa beradu argumen satu sama lain dan menemukan titik temu agar permasalahan ini tidak akan terjadi kembali. Tapi tidak sesuai dengan harapanku, ia mungkin lelah mendengarku.
Aku menuju dapur, mengambil segelas air mineral, tenggorokanku sangat kering setelah berteriak dan mengomel tadi. Setidaknya air ini bisa memberikanku sedikit tenaga.
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤