Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 104 Ketika ada Perubahan Baru


__ADS_3

"Kenapa kau tiba-tiba berubah pikiran ?"


Liam memiliki banyak kekurangan, tetapi dia tidak bodoh. Dan dia serius dengan apa yang dikatakannya. Dia akan membiarkan Harumi terlihat melarikan diri dari sisinya, karena Pria itu yakin Harumi akan kembali lagi padanya.


Liam tahu bahwa Harumi memiliki perasaan yang sama dengan dirinya. Meskipun tidak bisa mengutarakannya, tetapi itu terlihat dalam segala hal yang Harumi lakukan.


"Aku tidak ingin membatasi gerakmu, kau mungkin sudah merasa bosan di sini." Sayang sekali dia tidak memiliki alasan lain untuk menahan Wanita itu tetap di sini.


Harumi berusaha meresapi dengan apa yang dijadikan Liam sebagai alasannya. "Itu bukan alasan yang tepat membuatmu berubah pikiran, kemarin kau selalu melarangku dan..."


"Scarlett akan selalu bersamamu dan melindungimu. Jadi...kau tidak perlu khawatir" Senyum muncul di bibir Liam meskipun dia tahu bahwa Harumi masih terus menatapnya tanpa ekspresi bahagia sedikitpun.


Rasa penasaran memenuhi isi pikiran Harumi, membuatnya sulit untuk memahami dengan perubahan Liam "Kau tidak menjawab pertanyaanku ?"


Liam Seymour tidak pernah menyerah dan bukan pria yang bisa bersikap putus asa, apalagi membiarkan Harumi pergi dari sisinya membiarkan Wanita itu terlepas dari penglihatannya. Menurutnya ini adalah Tindakan yang benar, untuk sementara. Yeah, tentu saja hanya sementara waktu sampai nanti Liam akan merebut Harumi kembali dan tidak akan membiarkannya terlepas, bahkan sampai ia merangkak keluar sekali pun "Beberapa hari ke depan aku tidak akan pulang, jadi kau pasti akan bosan di sini. Aku yakin Miss Jones bisa menemanimu."


Alis Harumi terangkat "Tidak pulang ? Kenapa ?"


"Ada pekerjaan yang harus kubereskan, jadi aku tidak bisa bersamamu untuk sementara"


Wanita itu berusaha menahan diri untuk tidak tampak kecewa, tapi tentu saja Harumi sangat bodoh dalam hal berakting karena Liam bukan Pria biasa yang mudah dibohongi, apalagi oleh Wanitanya.


"Oh begitu, baiklah. Aku akan mengemasi barang-barangku. Hmm...wait. Untuk apa aku berkemas. Semua Barang-barangku masih di Apartemen Cathy. Tidak ada satupun barang milikku yang kubawa sejak aku di sini" Harumi memang sangat kentara bahwa ia bersikap kikuk, dan tidak bisa menahan dirinya yang tampak resah.


Liam terdiam menyaksikan tingkah Harumi, matanya tak bergerak sedikitpun. Lalu bibir Liam tersenyum manis , menangkup kedua pipi Harumi. Mengangkat wajah wanitanya hingga kedua pasang mata itu saling bertemu.


Wajah wanita mungil itu kini dalam genggamannya, Pria itu menatap sangat lama kedua mata Harumi "Ini juga tidak mudah untukku, kau tidak mengerti betapa aku ingin selalu bersamamu."


Sambil memejamkan mata, dia memaksa diri untuk bernapas perlahan "Ada yang harus segera kubereskan, dan jika semua sudah berjalan dengan baik. Aku berjanji akan kembali dan di saat itu tiba aku tidak akan pernah melepaskanmu lagi, tidak akan pernah."


Harumi tak mengucapkan sepatah katapun lagi, bibirnya terasa sangat kelu. Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya.


Liam menyaksikannya hanya bisa menahan diri agar tidak membuat Harumi semakin memikirkan sesuatu yang lebih jauh. Ia hanya ingin Harumi mengerti situasi yang sedang mereka hadapi sekarang. Liam bukan melepaskan Harumi, ia ingin menyelesaikan segala kekacauan yang menurutnya sangat mengganggu mereka.


Pria itu menarik tubuh Harumi dalam pelukannya.


Liam seperti menjadi orang yang berbeda saat ia memeluk Harumi saat ini. Ia mengusap punggungnya dan jemari-jemarinya merasuk dalam tiap helaian rambut bergelombang panjang itu.


Bibir Liam menyapu pipinya dan Pria itu berbisik "Aku akan merindukanmu"


***

__ADS_1


Harumi terbangun tepat di saat waktu menunjukkan pukul 8 pagi. Dia membuka mata dengan senyum terulas di bibirnya.


Ia berbaring menyamping, mengenakan gaun tidur tipis berbahan satin, rambut panjangnya tergerai di atas bantal dengan gelombang-gelombang halus membuat Harumi tampak natural dan polos.


Perlahan ia mengusap wajahnya, lalu berbalik untuk membangunkan Liam yang ia yakin Pria itu pasti belum bangun dari tidurnya.


Saat tubuh Harumi berbalik, yang awalnya ia ingin mengejutkan Liam tetapi ekspresinya berubah seketika. Kedua matanya melebar, ia heran karena Liam tidak ada di sebelahnya. Semalam Harumi masih tidur bersamanya, pagi ini tempat itu kosong.


Jantung Harumi berdebar bagaikan kepak sayap burung saat ia hanya menemukan secarik kertas di atas bantal. Dengan kaku, Harumi bangun dan meraih kertas itu.


Ia mulai membaca isi kertas itu, ternyata sesuai dengan yang dipikirannya. Ini adalah pesan yang ditulis Liam untuknya.


I'am sorry, aku harus pergi lebih awal.


Aku tidak ingin membangunkanmu


Enjoy your Time.


I Love you


Perut Harumi mencelus seakan-akan sedang naik roller coaster yang mengerikan, ia tahu hatinya tidak bisa berbohong kalau saat ini ia merasakan perih di dalam dirinya.


Harumi membutuhkan waktu untuk menenangkan diri dan tentu saja menenangkan pikirannya. Harumi mengingat semua yang dialaminya bersama Liam, semua perkataannnya hingga tadi malam.


Sejak semalam Dia sudah tahu Liam berencana akan pergi, tapi entah kenapa setelah membaca pesannya. Membuat hatinya terasa rapuh, setidaknya ia bisa membangunkan Harumi dan mengucapkan sesuatu sebelum ia pergi.


Harumi memejamkan mata erat-erat, lalu menghela napas.


Kenapa kau selalu berbuat sesuka hatimu ? Apa sulitnya membangunkanku, apa sulitnya mengucapkannya secara langsung, kenapa hanya menuliskannya di secarik kertas ?


Setelah beberapa menit, Harumi hanya duduk di atas ranjang sambil memasang wajah kekecewaan dengan hati yang masih bergemuruh. Ia memaksakan dirinya untuk bangun dan melangkah ke kamar mandi.


Tapi...langkahnya berhenti saat ia menatap bilah-bilah cahaya matahari dari balik tirai. Menembus kaca berusaha menerobos masuk.


Harumi bergerak membuka tirai dan cahaya hangat matahari langsung membasuh wajah Harumi dengan sinarnya yang begitu mempesona.


Rasa marah dan kecewa membanjiri benak Harumi, tetapi juga sesuatu yang jauh lebih kuat. Ia marah dengan perubahan Liam yang begitu tiba-tiba. Tetapi....


Ada sesuatu yang lebih kuat menjalar dalam dirinya, perasaan tak terkendali yang sama dengan yang telah menguasainya kemarin malam, saat Liam menciumnya.


Ingatan tentang pertanyaan Liam semalam, membuat Harumi membeku. Ia belum memberikan jawaban apapun.

__ADS_1


"Do you love me, Rumi ?"


Tak ada jawaban apapun yang keluar dari bibir Harumi saat itu. Tapi, Liam tidak memaksanya untuk memberikan jawaban.


Harumi sadar, ia tidak pernah sekalipun mengutarakan apa yang ada di dalam hatinya, perasaan apa yang sedang berkecamuk di dalam dadanya saat ini.


Jemarinya mencengkeram lebih erat simpul baju tidurnya. Dia tidak dapat bernapas. Harumi sudah yakin dengan apa yang dirasakan pada Liam. Tapi, ia masih ragu untuk melangkah, ia belum yakin dengan apa yang akan dihadapinya nanti.


Memilih untuk bersama Liam, adalah pilihan yang beresiko tinggi dalam hidupnya. Tapi, memilih berpisah darinya membuatnya lebih menderita. Harumi akan semakin terpuruk dalam puing-puing penyesalan.


I Love you. I love you..Liam


Kalimat sesingkat itu memang mudah untuk diucapkan, tapi Tidak bagi Harumi. Ia tahu perasaannya kepada Liam, akan menyakiti lebih banyak orang dan perasaan ini akan membahayakan orang-orang yang di cintainya.


Harumi memutuskan untuk mengubur perasaan ini dalam-dalam. Karena itu jauh lebih baik untuk sekarang.


Wanita itu bergerak melangkah ke pintu kamar mandi, kemudian ia mendengar suara getaran dari ponselnya.


Harumi baru menyadari, sudah berhari-hari ia jarang menyentuh ponselnya. Ponsel itu hanya tersimpan di tasnya. Karena ia ingin menghindari Anton. Walaupun Harumi merasa bersalah karena jarang memberi kabar kepada ibunya. Yang pasti sangat mengkhawatirkan Harumi.


Ternyata saat ia melihat layar ponselnya, banyak sekali notifikasi pesan singkat dan panggilan masuk. Panggilan dari Cathy, Ibunya, Andrea sahabatnya dan tentu saja puluhan panggilan masuk dari Anton suaminya.


Melihat panggilan masuk yang bertuliskan nama Suaminya, ekspresi Harumi berubah dingin. Ia tahu Anton pasti akan menghubunginya setiap waktu tapi untuk saat ini suara yang sama sekali tidak ingin di dengar Harumi adalah Anton.


Setelah semua perkataan pahit yang selalu di lontarkan Anton kepadanya selalu membekas di hati Harumi hingga sekarang. Ia terus mengingat setiap kata-kata menyakitkan itu, tak kurang sedikit pun dalam ingatannya, bagaimana suaminya memperlakukan Harumi begitu angkuh.


Kemudian, Harumi membaca beberapa pesan singkat yang masuk. Dan salah satunya pesan masuk yang terbaru adalah Pesan dari Anton.


Mata Harumi semakin melebar dan terlonjak ketika ia membaca isi pesan tersebut.


Rumi, aku sudah tiba di New York.


Dan sekarang masih berada di Airport


Aku tidak sabar bertemu denganmu


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you 🙏

__ADS_1


__ADS_2