
"ehem" seseorang tengah berdiri menatap keduanya tampak setelah pintu lift terbuka
Keduanya menoleh bersamaan, Harumi yang masih berdiri dalam dekapan Liam. Perlahan ingin melepaskan dirinya, tapi Liam menarik tubuh wanita itu kembali.
"ada keperluan apa paman ke sini ?" Liam menatap sinis dan tampak kesal karena hal privasinya sedang diganggu
Dia Luciano Seymour, pria paruh baya itu tengah menatap kedua sejoli tersebut dengan tatapan santai. Ia tidak menggubris sikap kesal keponakannya itu, dan hanya membalas dengan seringai miring.
Mata Luciano beralih dari Liam ke wajah Harumi. "Apa aku datang di saat yang tidak tepat ?"
Liam menghembuskan napas berat, kemudian dia keluar lift, tidak melepaskan tangan Harumi dari genggamannya.
"Untuk apa Paman ke sini ?" Liam berjalan melewati Luciano, guratan ketegangan menyelimuti dirinya karena saat ini sebenarnya Liam tidak ingin bertemu dengan Pamannya.
Luciano hanya tersenyum sambil melirik sebentar pada Harumi "apa kabar Mrs. Harumi ? mungkin kau masih ingat denganku ?"
Harumi merasa tidak nyaman jika berhadapan dengan pria paruh baya tersebut, karena Liam pernah memperingatinya agar jangan pernah mengobrol sekalipun dengannya.
Tapi, Harumi tidak ingin hanya diam seperti patung. Dia mengangguk pelan dan hanya menatap sebentar lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Melihat reaksi Harumi, Luciano mengernyit "Jangan takut padaku, aku tidak sama seperti Anita, ibu dari anak nakal ini "pria itu menaikkan satu alisnya sambil menunjuk ke arah Liam dengan dagunya
Merasa situasinya mulai canggung, Liam meminta Harumi untuk masuk ke dalam lebih dulu "masuklah, kau bisa beristirahat" Liam melepaskan genggamannya dari tangan Harumi lalu memegang pipi Harumi dan mengelusnya.
Harumi hanya bisa menurut dan mengangguk pelan, ia masuk ke dalam lebih dulu meninggalkan kedua pria tersebut.
Liam tidak melepaskan pandangannya sampai Harumi benar-benar sudah masuk ke dalam Penthouse dan selesai menutup pintu.
Kemudian pandangan Liam berubah tajam ketika ia beralih kepada Pamannya "aku tidak suka basi basi, apa maumu ?"
__ADS_1
"Tenanglah Liam, ada yang harus kubicarakan padamu ?" jawab tegasnya
Punggung Liam mulai makin tegang, hawa dingin terasa begitu intens. Karena Liam mengenal pamannya, setiap Luciano bertemu dengannya selalu ada problem dan kabar buruk.
"Mengenai hal apa ?" tanya Liam dengan cepat. Ia benar-benar ingin segera menyelesaikan urusan mereka.
"Apa tujuanmu mengganti posisi Anton Riandra dengan Zac Morton di perusahaan ?!" tanya Luciano kemudian, to the point karena waktu berbasa basi telah habis
Liam tersenyum miring "Aku berhak mengganti Direktur Perusahaan sesuai yang kuinginkan, untuk apa Paman ikut campur !!"
"Wow ..." gumam Luciano takjub "apa hanya karena persoalan seorang wanita, kau bisa bersikap gegabah seperti ini ?" tebak Luciano tepat sasaran
Liam bergerak menuju jendela kaca cukup besar sambil melonggarkan dasi kupu-kupu dan membuka satu kacing kemejanya "so why ?!!"
Luciano menggeleng, ia menghela napas sebelum melanjutkan "sebelum ayahmu meninggal, ia berpesan agar aku menjagamu, mengawasimu agar kau tidak berbuat hal yang bisa merugikan semua orang termasuk dirimu sendiri. Ada jutaan wanita cantik di dunia ini, bahkan kau bisa memacari mereka sekaligus, tapi bukan dengan satu wanita itu."
"Apa yang salah dengannya ?" tanya Liam kemudian,
Salah satu alis Liam terangkat "Pengecut ? kau pikir aku merebutnya ?. She is MINE" jelas Liam dengan tegas
Pria paruh baya itu melirik Liam sebentar "akan banyak resiko yang kau hadapi jika memilih bersama wanita itu. Mungkin benar bahwa kinerja semua perusahaan tidak akan berperngaruh apa-apa jika Rumor ini sudah tersebar luas, tapi kinerja kepemimpinanmu akan dipertanyakan. Kau memiliki banyak perusahaan besar di tanganmu, dan semua akan terancam jika para direksi dan pemegang saham mulai bergunjing tentang hal ini. Kau pasti mengerti maksud ucapanku. "
Kali ini Liam tidak memberikan responnya, matanya fokus ke pemandangan malam dari balik jendela. Tapi, Liam bukan pria bodoh, ia mengerti dan sudah memikirkannya lebih dulu.
"Rumor ini juga akan berpengaruh pada kehidupan wanita itu, kau seharusnya sadar akan hal itu. Semua media elektronik akan menyorotinya, hidupnya akan penuh dengan gunjingan negatif, pikirkanlah baik-baik"
Liam Seymour terkenal sebagai seorang pemimpin yang bebal. Sulit untuk menggoyahkan hatinya, meskipun mengemis, kalau Liam sendiri sudah mengatakan tidak.
"Sebaiknya Paman pulanglah, aku tidak ingin berurusan apapun. Ini kehidupan yang kujalani, jadi uruslah hidupmu sendiri" pria itu berbalik untuk melangkah masuk menuju pintu dan mengusir Luciano secara halus
__ADS_1
Luciano tampak kecewa, tapi pria itu tak bisa berbuat banyak.
Sampai sedetik kemudian, Pria paruh baya itu angkat bicara "Cinta dan rasa ingin menebus kesalahan adalah dua hal yang berbeda."
Tangan Liam terhenti ketika sedikit lagi ia meraih gagang pintu, dahinya sedikit mengernyit. Perkataan Luciano menarik perhatiannya.
"Aku yakin kau sudah mengetahui identitas dari korban kecelakaan itu, bukan ?"
Liam memilih diam dengan ekspresi datar, tapi ia mendengarkan Luciano.
Luciano terus maju mendekat "jika wanita itu mengetahui kebenarannya apa dia akan tetap memilih berada disisimu ? atau .... dia akan kembali kepada suaminya"
Dengan dagu terangkat, satu tangan masuk ke dalam saku celananya, Liam santai berjalan menghampiri Luciano.
Pria itu hanya tersenyum tipis "Itu tidak akan berpengaruh apapun dengan pendirianku. Jadi, pulanglah"
Sikap angkuh yang ditampakkannya mulai membuat Luciano makin yakin, bahwa keponakannya tersebut sudah merencanakan ini jauh sebelumnya.
"Baiklah, jika kau tidak mau mendengarkan perkataanku. Aku hanya mengkhawatirkanmu, tapi aku berharap kau bisa bersikap lebih dewasa dan bisa membedakan dua hal antara urusan pribadi dan Perusahaan. Jangan mencampuradukkan keduanya, Anton Riandra adalah orang yang cukup kompeten dalam perusahaan. Sebaiknya kau pikirkan baik-baik" peringatan Luciano hanya angin lalu bagi Liam, karena Liam sudah tidak peduli dengan semua hal baik dari Anton. Dia justru ingin menghancurkan hidup Anton tanpa sisa mulai pekerjaannya, karier dan tentu saja Harumi. Apalagi perbuatan yabg sudah dilakukan Anton pada Harumi, itu cukup membuat Liam geram.
Kembali, Liam tidak menghiraukan seruan Pamannya dan masuk ke dalam Penthouse mewahnya. Luciano menatap punggung keponakannya tersebut dengan rasa iba, ia tidak marah pada Liam.
Tapi, pikiran Luciano terlintas membayangkan hal yang sebenarnya bagaimana jika Liam mengetahui bahwa seseorang yang sedang dihancurkannya sekarang adalah Kakak Laki-lakinya sendiri.
Saudara laki-laki yang sedang dicari-cari oleh Liam selama ini, bagaimana jika ia mengetahui hal itu.
Elena sudah memperingatkan Luciano agar ia tidak membongkar rahasia itu kepada Liam. Karena itulah pria paruh baya tersebut, mengunci rapat-rapat dan memilih bungkam. Walupun ia sudah berulang kali memberikan peringatan pada Liam.
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you