Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 54 Hii...Manhattan


__ADS_3

Keberangkatan Harumi ke New York, tidak diketahui Liam sama sekali, ia menutupi kepergiannya dan hanya mengatakan akan pulang ke rumah kepada orang disana. Begitu halnya semua penghuni Mansion, tak ada yang mengetahui kecuali Neva.


Itupun karena waktu itu tak sengaja Neva menjatuhkan tas Harumi dari meja rias saat membersihkan kamarnya, seisi tas berhamburan di lantai dan ia melihat Tiket Pesawat Penerbangan menuju New York tergeletak.


Tapi, Neva menuruti keinginan Harumi agar ia menutup rapat-rapat tentang kepergiannya ke semua orang. Hanya Anton, Beatrix, dan keluarga yang mengetahui keberangkatan Harumi.


Harumi memang tidak ingin Liam mengetahui niat nya ini, karena ia sedikit banyak mengetahui sifat Liam. Jika Liam mengetahui kepergiannya, maka sudah pasti ia akan menyusulnya ke sana.


California ke New york tidak jauh, sangat mudah baginya menyusul Harumi.


Sejak beberapa hari lalu, Liam selalu saja menghubungi dan mencerca dengan pertanyaan yang sama tapi Harumi tetap menutup rapat bibirnya.


Bukan karena Harumi ingin menghindari Liam selama di sana, justru sebaliknya Harumi sangat ingin bertemu dengannya.


Tapi, niat itu selalu diurungkannya dan dikuburnya dalam-dalam. Karena bagi Harumi, pertemuannya kembali dengan Liam akan menghasilkan Hubungan yang lebih berbahaya, perasaan asing membara yang sering mengganggunya itu akan jauh lebih membahayakan dan menjerumuskan mereka berdua makin dalam. Itulah yang ditakutkan Harumi jika ia terus menerus berhubungan dengan Liam, ia tidak ingin membuat masalah dalam kehidupan rumah tangganya lagi.


Baginya cukup dengan hanya saling komunikasi jarak jauh lewat ponsel, setidaknya akan mengurangi intensitas perasaan mereka masing-masing. Dan Harumi yakin, semakin lama Liam akan bosan dengan sendirinya. Karena tidak akan ada pria yang tahan berhubungan jarak jauh dengan wanita yang bahkan tidak memiliki masa depan dengannya.


"Nona, kita sudah sampai." tegur Sopir taksi tersebut membangunkan Harumi dari lamunannya.


Harumi memandang dari balik jendela mobil, ternyata ia sudah tiba di pintu masuk Bristol Airport, Britania Raya.


"Ok" Harumi keluar dari mobil, Sopir langsung mengangkat koper dan tas Harumi dari bagasi.


"Terimakasih" jawab Sopir tersebut setelah selesai bertransaksi dan menyelesaikan tugasnya. Lalu masuk ke taksi dan berlalu meninggalkan Harumi.


Dengan menarik Kopernya di belakang, Harumi memasuki Bandara. Sebentar lagi ia akan segera Check in.


Harumi akan menuju Manhattan, perjalanan pesawat dari Bristol ke New York memang cukup jauh.


Selama perjalanan Harumi akan beristirahat dengan tenang di pesawat. Tak lupa ia, mengambil ponselnya di dalam tas.


Niatnya ingin mengabari ibunya dan Anton karena ia sudah berjanji untuk selalu mengabari mereka.


Saat menatap layar ponselnya, Harumi melihat 15 panggilan tak terjawab dari Liam. Itu sungguh membuat Harumi terkejut, ia lupa untuk mengaktifkan nada dering di ponsel.


"Ia pasti marah besar, tapi tidak bisa menghubungi nya sekarang. Liam pasti akan menanyakan keberadaanku saat ini." gumamnya seraya secepatnya mengirimkan pesan kepada ibu dan Anton lalu menonaktifkan ponselnya.

__ADS_1


***


Liam tengah konsentrasi penuh Latihan Boxing di Private Gym Room miliknya.


Tubuh kekarnya makin sekeras dinding bata tiap harinya, Otot-otot di lengan dan bagian tubuhnya kini tegang seiring makin kuatnya ia melayangkan tinju an demi tinju an ke samsak.


Urat-urat yang mengelilingi lengannya, seolah membuktikan kekuatan Liam dalam hal kejantanannya.


Hanya mengenakan Boxer pants hitam, tanpa atasan, itu bagaikan pemandangan paling seksi dan sensual dari seorang Pria Lajang Termahal seperti dirinya.


Wanita mana yang tidak rela, memberikan tubuhnya hanya bisa berada di dekapan Pria kaya raya terseksi dan paling menggoda abad ini.



"Liam..." panggil seseorang dari balik punggungnya


Tentu saja suara itu sangat dikenal oleh Liam. Seolah tidak peduli dengan panggilan sang ibu, ia masih terus melakukan aktivitas boxingnya, suara gema tiap pukulan yang dilakukannya sangat keras terdengar di telinga Anita ibunya.


"Liam..." teriak sang ibu bergerak semakin dekat dengan puteranya.


Anita tampak sedikit kesal karena Liam berpura-pura tidak mendengar panggilannya.


"Liam, dengarkan Mama !!!!"


Akhirnya, Liam menghentikan pukulannya seketika setelah suara melengking Anita mengganggu konsentrasinya. Ia langsung menangkap samsak yang terus begerak mengikuti irama pukulan.


"hmmm" hanya jawaban super singkat dari Liam


"Liam, lusa kau harus menemani Mama ke New York"


Liam melayangkan tatapan malas kepada ibunya, berjalan mengambil botol minumnya.


"Lusa malam, Mama mengadakan Pesta Peresmian Untuk Pembukaan Sunset Seymour Galery Seni di Manhattan. Kau masih ingatkan, Mama memiliki Galery Seni dan akhirnya akan go public secepatnya. Mama ingin kau ikut hadir, besok kita akan berangkat." Anita sangat antusias, apalagi jika Putera satu-satunya itu bersedia ikut bersamanya dalam Pesta tersebut.


Ini kesempatan bagi Anita, untuk memperkenalkan Liam dengan seorang Wanita pilihannya. Kebetulan ia akan mengundang banyak Pengusaha dan Pejabat tersohor beserta Putri Cantik mereka di Acara tersebut.


Anita memang sudah mengincar salah satu Putri Cantik nan Anggun dan sudah membicarakan serius dengan kedua orang tuanya.

__ADS_1


Anak bungsu dari ayahnya yang menjabat sebagai Menteri di era sekarang ini. Ayahnya seorang Pejabat paling terpandang di New York.


Mereka sudah saling membicarakan serius mengenai perjodohan Liam dengan Sang Wanita tersebut.


Dan keluarganya sudah sangat menyetujuinya, apalagi mereka sama-sama dari Kalangan terpandang.


Anita berusaha membuat Liam melupakan dan mengurungkan niatnya untuk mempertahankan Harumi, baginya Harumi adalah Wanita penggoda dan tidak punya etika hingga berani mendekati Pria lain di saat dirinya masih berstatus masih Menikah.


Buruk, pendosa dan Murahan itulah penilaian Anita terhadap Harumi, ia tidak habis pikir anaknya Pria sekelas Liam sampai tergila-gila dengan Harumi.


"Kau mau kan mendampingi Mama" ajak Anita sedikit memohon.


Liam tak ingin sama sekali mengikuti kemauan sang ibu, karena selain ia tidak paham dengan dunia seni, pesta seperti itu sangat membosankan baginya.


"Anakku, kali ini saja. Mama mohon..."


"Ok" jawab Liam terpaksa.


Ia langsung mengambil handuk putih kecil, menyapu rambutnya yang basah akibat keringat. Mengusap wajahnya, dan melingkarkan handuk ke leher. Berjalan melangkah keluar Ruang Latihan. Meninggalkan Anita yang tampak sangat puas dan bahagia.


Sudut-sudut bibir Anita terangkat "awal yang bagus, rencanaku akan berhasil" batinnya


Saat keluar dari sana, Liam meraih ponsel di saku celananya. Menatap dengan sangat serius, tak ada satupun panggilan balik dari Harumi ataupun pesan singkat darinya.


Padahal ia sudah mencoba menghubungi berkali-kali ke ponsel Harumi, ada Sekretaris Will berdiri di Lorong daritadi menunggu Liam selesai latihan.


"Kenapa kau belum istirahat Pak Will ?" suara serak Liam, menegur sekretarisnya tersebut yang masih setia menunggu atasannya. Padahal hari sudah malam.


"Maaf Tuan, saya hanya ingin menyampaikan sesuatu sebelum saya pulang"


"Ada apa ?"


"Nona Harumi sudah pulang dari Mansion, menurut para pelayan di sana ia pulang ke rumah sejak siang waktu Bristol"


"Pulang ?" Liam tampak terkejut, dadanya nampak bernafas keras, punggungnya mulai tegang. Matanya tajam, Yeap tentu saja ia langsung marah karena Harumi tak mengabarinya sama sekali.


#jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you 💋


__ADS_2