
Harumi menyadari Liam pasti akan menanyakannya "Maksudmu ?" wanita itu berpura-pura.
Liam terkekeh "Kau paham maksud dari pertanyaanku ?"
Sejenak waktu terasa berhenti di pikiran Harumi memberinya ruang untuk sekedar bernafas, wanita itu sangat memahami arah pembicaraan mereka. Dia menggeleng singkat "Belum"
Liam tidak memberikan reaksi apapun, arah matanya hanya menyoroti jalan di depannya lalu melirik ke arah Spion, tak ada tanggapan yang berarti bahkan ekspresi pria itu tak bisa di tebak.
Entah apa yang ada dipikirannya, Harumi sebentar mengalihkan pandangannya ke wajah Liam lalu mengedarkan pandangan kepada pemandangan perkotaan yang mereka lalui, setelah Liam mulai menginjak pedal gas.
Suasana berubah hening, Harumi mencoba mencairkan "Sebenarnya kita mau kemana ?"
Sedetik kemudian, Liam menginjak pedal gas lebih dalam. Kecepatan mobil mereka mulai meningkat, itu membuat Harumi merasakan ada yang tidak beres.
"Ada apa, Liam ?'' Kekhawatiran yang dirasakan Harumi cukup wajar jika menyangkut mengenai keselamatan
Mata Pria itu menyipit penuh bahaya "Rumi...You Trust me ?"
Rasa kekhawatiran semakin merambat turun ke tulang punggung Harumi "A-ada apa, Liam ? kau mengemudikan terlalu kencang. Kumohon, hentikan. A-apa ...kau.."
Liam menyela "Ada yang membuntuti kita di belakang."
Rasa cemas yang membesar mewarnai wajah Harumi "M-maksudmu siapa ?"
Dengan tenang Liam melirik Harumi sesaat sambil tetap fokus dengan kendali ditangannya, mobil melaju dengan kecepatan maksimal sambil melewati tiap-tiap mobil di depannya dengan sangat mahir. Liam mengendalikan situasi itu dengan baik, bahkan dalam kecepatan tersebut pria itu masih bisa berkonsentrasi penuh.
"Kau lihat Van putih di belakang kita ?" sorot mata Liam mengarahkan ke Spion, Lalu Harumi melihat ke arah yang sama.
Harumi terkejut dengan jawaban Pria itu, membutuhkan waktu sejenak untuk menjawab "Yah, tapi bagaimana kau mengetahuinya ?"
"Sejak mobil kita meninggalkan Penthouse, Van itu mulai mengikuti, bahkan saat aku merubah arah di perempatan jalan tadi Van itu tetap mengikuti"
Harumi merasakan debaran kuat menjalar ke seluruh pembuluh darahnya dengan sangat cepat melebihi laju mobil tersebut "Siapa mereka ? Apa yang mereka inginkan dari kita ? bagaimana jika mereka..."
Karena tidak ada tanggapan, Harumi mengangkat wajahnya dan menemukan Liam sedang menatapnya dengan tajam "Kau harus tenang, aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu, Rumi. Trust Me "
__ADS_1
Beradu pandang dengan mata yang jernih walau sebentar, sedikit membuat Harumi lega tapi kecemasan itu kembali merasukinya ketika Van putih itu mulai menyusul Mobil mereka dan kini sudah berada tepat di belakang mereka.
Rahang Liam menegang sambil mengarahkan pandangannya ke Spion "ternyata mereka cukup terampil bisa mengejar kecepatanku"
Van Putih tersebut melaju dengan kecepatan yang seimbang dengan Mobil mereka. Berada tepat di belakang diiringi dengan tiga Taksi di kiri kanan yang membuat Liam mengalami kesulitan untuk mencari arah jalan karena kepadatan jalan umum tersebut.
Perasaan tak nyaman bangkit di dasar perut Harumi. DIa tahu bahwa ada seseorang yang sedang berusaha mencelakai mereka. Melihat Van itu terus membuntuti membuatnya merasa terganggu, apalagi mereka tidak diiringi dengan pengawalan apapun.
Sambil memenjamkan mata, Harumi menenangkan dirinya, dia tahu inilah babak baru yang sedang Ia hadapi jika ingin bersama pria itu. Bahaya yang sewaktu-waktu bisa mengancam jiwa Harumi dimana pun.
Liam berbalik, ia terkejut melihat Harumi mampu mengendalikan diri. Harumi menelan ludah sambil mengangkat dagunya "Aku percaya padamu"
Tampak jelas, Liam makin mengagumi Harumi bahkan secara terang-terangan ia sudah memuja wanita itu .
"Kita harus segera menghubungi Sekretaris Will, Liam"
" I have a Plan, Aku akan menghubungi jika waktunya sudah tepat" Liam memutar kendali menuju ke sebuah Mini Market di pinggiran kota
Mata Harumi menyipit membentuk garis, Liam menatap balik, kenakalan tampak dalam senyum pria itu "Apa yang kau rencanakan Liam ? Lalu kenapa kita ke menuju Mini Market ?"
Dan ternyata memang benar, Van itu juga mengikuti mereka dan berhenti beberapa meter di belakang. Terparkir hanya terpisah lima mobil di depannya.
Tatapan Liam bergerak dari spion kepada Harumi yang sedari tadi menunggu jawabannya "Jangan lepaskan tanganmu dari genggamanku, ini akan menjadi Pengalaman yang tidak akan kau lupakan, sayang" Pria itu melengkungkan kedua sudut bibirnya
"Jangan bercanda !! Sebaiknya kau menghubungi Sekretaris Will, jika tidak .. aku saja yang menghubunginya" kedua mata Harumi melotot ingin mengintimidasi Liam tapi itu tak berhasil
Napas Harumi tersekat dan dadanya terasa sesak. Tidak peduli berapa kali dia harus mencerca banyak pertanyaan kepada Liam. Setiap kali matanya menyusuri kaca spion melihat keberadaan Van putih tersebut, dia merasa tenggorokannya terbakar, ada yang bangkit dari dasar mulutnya. Dia ingin berteriak, padahal dia tidak pernah berteriak.
Liam meletakkan tangannya ke pipi Harumi, pria itu tahu kalau Harumi sedang ketakutan saat ini. Benar-benar ketakutan dan panik.
Tak ada yang mampu mengoyak jantungnya dan membunuhnya dalam sekejap selain Harumi, yaitu melihat wanitanya tersiksa.
Hanya dalam waktu singkat, ketakutan itu mampu berubah bak asap hitam yang terbang berbaur dengan udara.
"Tenanglah, aku akan melindungimu. Aku berjanji, Semua akan baik-baik saja" melepaskan tangannya dari wajah Harumi, Liam membalikkan tubuhnya mengambil sebuah kotak berwarna hitam di belakang kursinya.
__ADS_1
Dan meletakkan di pangkuannya.
"Apa itu ?" tanya Harumi heran
Setelah dibuka oleh Liam, pria itu mengambil sesuatu dari dalam kotak tersebut. Dan ternyata...
Itu adalah sebuah Pistol.
Ya Tuhan, ketakutan Harumi semakin menjadi-jadi. Matanya membesar menatap Pistol itu berada di tangan Liam.
Jadi ternyata selama ini, selama dalam perjalanan mereka tadi Liam membawa benda berbahaya itu di dalam mobil mewahnya.
"A-apa yang akan kau lakukan, Liam ?" Harumi menepuk kening dengan telapak tangannya, lalu menyingkarkan pikiran buruk yang mulai menelanjanginya saat itu.
Harumi membayangkan benda itu mampu menciptakan sebuah kejadian yang akan berakhir dengan pertumpahan darah. Ini mulai tidak terkendali, wanita itu ingin mencoba lebih berani dengan keadaan sekarang. Tapi semua hanya omong kosong, bukan lah keberanian yang dirasakan wanita itu, melainkan ketakutan itu menghampirinya lebih besar dibandingkan sebelumnya.
Tidak
Harumi menghentikan dirinya untuk tidak panik, ia tidak akan menyerah pada rasa takut. Dia tidak akan membiarkan siapapun menyakiti dirinya dan Liam.
"Fokus" Ucap Liam menarik Harumi dari pikiran-pikirannya.
Harumi harus berhasil melewatinya, meraih kendali atas situasi ini. Hanya itu satu-satunya pilihan.
Harumi mengangguk sambil terus menatap salah satu Kemampuan Liam dalam menggunakan Pistol itu dengan sangat terampil di hadapannya, pria itu memasukkan satu per satu peluru ke dalamnya dan mengaktifkannya.
Harumi meyakini, ini bukanlah yang pertama kali bagi Liam menggunakan senjata, mengingat statusnya sebagai Seseorang yang berkedudukan penting walaupun ia dalam pengawalan ketat.
Melihat Pria itu dengan kemahirannya menggunakan pistol di genggamannya, sedetik kemudian sesuatu yang mengganggunya terlintas di pikiran Harumi.
Apa Liam pernah membunuh seseorang ?
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank you ❤