
Hari ini, setelah sekian lama akhirnya kami bisa sarapan bersama.
Anton bangun kesiangan, aku tau ia memang tampak sangat lelah tadi malam. Ia memutuskan untuk tidak masuk kerja hari ini. Aku sangat bahagia karena suamiku seharian ini akan bersamaku. Sudah cukup lama ia tidak pernah libur, ia habiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja.
"Aku senang akhirnya kita bisa sarapan bersama." ucapku yang begitu bahagia, menatap wajah suamiku yang kini duduk dihadapanku sedang melahap Pancake caramel pagi ini.
"walaupun aku izin kerja hari ini, bukan berarti bisa ber santai. Hari ini aku akan menemui Pak Liam sebelum ia berangkat ke California. Ada beberapa pembicaraan tentang pekerjaan yang harus ku selesaikan."
Mendengar nama itu lagi, membuatku mengingat tentang kedatangan Liam kemarin. Ingin sekali aku memberitahunya, tapi aku khawatir dengan reaksi Anton nantinya. Ia sangat mencintai pekerjaannya, jika mereka saling bersitegang aku akan sangat merasa bersalah.
Setidaknya aku harus lebih bisa menjaga sikapku kepada Liam. Mulai menjauhinya dan komunikasi dengannya hanya untuk urusan pekerjaan saja.
"Sayang, malam ini kita kerumah orang tuaku, Makan malam merayakan ultahnya Ben. Kau bisa kan malam ini ?"
Anton yang masih mengunyah pancake caramel, hanya mendengarkan pertanyaanku. Setelah ia selesai dan meminum habis jus jeruknya barulah ia menjawab.
"Baiklah" jawab singkat Anton yang kini berdiri dari duduknya menuju Ruang Tengah mengambil laptop.
Ekspresi Anton memang datar-datar saja, berbeda dengan saat tadi di tempat tidur. Aku menoleh melihatnya yang tengah asik menatap layar laptopnya.
Anton yang mengenakan setelan santai hari ini, begitu berbeda. T Shirt Abu-abu polos dengan celana panjang berbahan kaos warna hitam dan rambut yang agak berantakan membuatnya lebih tampan.
Aku mulai senyum-senyum sendiri melihat pemandangan itu.
"Sayang hari ini aku ke Toko, apa tidak apa-apa kau sendiri di rumah ?"
Aku mendekati Anton, duduk di sampingnya. Ia masih fokus mengerjakan pekerjaannya, sesekali ia membaca beberapa lembar kertas yang bertebaran di atas meja.
"Hari ini ikutlah denganku menemui Pak Liam, tadi Sekretarisnya menghubungi untuk mengadakan pertemuan di rumah barunya. Kau bisa sekalian berkenalan dan melihat tempatnya."
Perasaanku mulai tidak menentu, tak habis pikir dengan permintaan Anton. Tidak mungkin aku ke sana dan bertemu dengan Liam.
"hah ? tapi aku memiliki banyak pekerjaan di toko, beberapa hari lagi Valentine, banyak pesanan bunga yang harus kukerjakan. Beatrix tidak mungkin mengerjakannya seorang diri." Kucoba mencari alasan yang masuk akal agar bisa menolak pergi ke sana.
__ADS_1
Anton tetap saja teguh dengan permintaannya. "Aku tidak menyuruhmu seharian menemaniku, Pak Liam akan berangkat malam. Jadi sebelum dy pergi, ada beberapa laporan yang harus ku bahas matang dengannya"
Anton menyuruhku segera bersiap-siap. Aku tidak bisa beralasan lagi, hanya berdiri melangkah menuju kamar mempersiapkan diri. Entah apa yang akan dibicarakan mereka nantinya, dan sikap seperti apa yang harus kutunjukkan kepada Liam di hadapan Anton.
Hanya membutuhkan waktu kurang dari sejam, aku sudah siap. Mengenakan atasan berbahan wol berwarna hitam dengan lengan 3/4 dan bawahan vintage check cotton plaid mini skirt corak kotak-kotak berwarna mocca. Rambut hitamku yang panjang bergelombang dibiarkan tergerai dengan bebas.
Bicara soal penampilan, aku lebih memilih setelan santai yang biasa kukenakan sehari-hari saat pergi ke Toko.
Di bawah ternyata Anton pun sudah siap dengan setelan kemeja coklat polos yang digulungnya di bagian lengan. Rambutnya rapi makin kecoklatan terkena sinar matahari yang masuk melewati jendela.
Anton melihat ku mulai dari atas sampai bawah.
Bagi Anton, penampilanku terlalu minimalis. Mendengar penilaiannya seperti itu bukannya aku kesal justru membuatku tersenyum, karena tidak biasanya ia mengomentariku.
"Kenapa penampilanmu tidak berubah sejak dulu ?" Komentar Anton yang menatapku, ia melirik sambil menaikkan salah satu alisnya. Lalu mengernyitkan dahinya, seolah ia seperti seorang Fashion Desainer yang handal.
"hmmm sudahlah, kita pergi sekarang" Anton malas berdebat denganku, ia sangat mengerti sifatku yang tidak pernah mau mengubah penampilanku sejak dulu.
Anton selalu beranggapan sejak dulu penampilan Harumi tidak sesuai dengan usianya. Ia selalu ingin istrinya bisa mengenakan gaun dress modern yang berwarna monokrom memperlihatkan sedikit lekuk tubuhnya seperti wanita lain seusianya, karena menurut Anton usia Harumi sudah 30tahun setidaknya bisa menyesuaikan dengan usianya sekarang.
Bagi Anton penampilan Harumi seperti Remaja 17 tahun. Apalagi ditambah tubuh Harumi yang mungil, berkulit putih pucat dengan rambut hitam panjang. Anton sering menyindir Harumi mirip Boneka Jepang yang sering dipajang di Toko Mainan.
***
Mansion Liam
Pukul 11.13 am
Tanpa sepengetahuan Anton, ini sudah kedua kalinya aku ke sini. Seperti sebelumnya, Mansion ini tampak sangat megah bahkan di siang hari saat matahari mulai meninggi, pesona tempat ini semakin menakjubkan.
Mobil kami pun masuk menuju Mansion tersebut melewati Gerbang yang sangat besar, bisa kubayangkan bahkan pencuri pun akan mengurungkan niatnya melihat keamanan di sini yang sangat ketat dengan gerbang raksasa seperti ini.
__ADS_1
Aku masih terperangah melihat Taman indah di halaman depannya, walaupun aku sudah pernah melihatnya tapi ini tetap membuatku hampir tak mengedipkan mata sekali pun.
Ada kolam besar yang indah, berbagai bunga dan rumput hijau yang mengelilinginya. Beberapa Bodyguard dengan setelan jas hitam rapi dan tak lupa kacamata ala Man In Black berdiri di spot nya masing-masing.
Di Pintu masuk kami di sambut Sekretaris Will yang tersenyum sangat ramah.
"Selamat datang Tuan Anton dan Nyonya Harumi. Silahkan masuk, Tuan Liam sudah menunggu di ruangannya" Sambut sekretaris Will mempersilakan kami masuk. Pria paruh baya itu tampak terkejut ketika melihat ku datang bersama Anton.
Aku yakin ia tak menduga jika aku ikut bersama suamiku hari ini.
Kami berjalan mengikuti langkah Sekretaris tersebut, yang menggiring kami ke sebuah Ruangan yang sangat luas.
Aku tidak pernah melihat Ruangan ini sebelumnya, Mansion ini memang bergaya klasik dan sangat luas, tapi didalamnya ornamen tampak tak hanya klasik tapi perpaduan dengan modern Monokrom.
Ruangan itu cukup minimalis, tak banyak furniture, ada Sofa berbahan Oscar Sintetis warna grey muda dengan corak perak di sisinya. Meja kerja bahan wood premium yang ber kualitas sangat tinggi bisa terlihat sekilas dari warna kilau kayu nya.
Dan beberapa Rak buku besar yang menghiasi setiap sudut Ruangan.
Tampak seorang pria yang duduk di sofa membelakangi kami, hanya punggung bidangnya yang terlihat. Potongan Rambutnya pun sangat rapi, kemudian Sekretaris Will menghampiri dan membisikkan sesuatu dengan pelan.
Aku dan Anton masih berdiri di belakang, lalu Sekretaris itu pun pergi meninggalkan kami.
Pria itu pun langsung berdiri, ia berbalik. Pria itu tak lain adalah Pemilik Mansion megah ini, Liam Seymour.
Ia mengenakan setelan cukup formal, setelan jas hitam dengan kemeja hitam di dalamnya, di bukanya satu kancing kemejanya agar tampak santai, tanpa dasi yang melengkapinya.
"Senang berjumpa dengan Kalian" sapa angkuh Liam yang tampak tersenyum terpaksa kepada Anton, ia terus melirik ke arahku. Hanya sesekali ia melihat ke arah Anton, sebagian besar pandangan matanya ke arahku, membuatku tampak sangat tidak nyaman.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1