Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 171 You're My Medicine


__ADS_3

Suasana menjadi hening, guratan cemas semakin menjadi-jadi di wajah Pria itu. Liam merasakan gumpalan menyekat tenggorokannya "Kumohon, selamatkan dia" ia menatap serius


Liam tidak pernah merasakan kecemasan memuncak seperti ini selama hidupnya, ia sangat membenci situasi dimana ia tidak bisa berbuat apapun untuk wanita yang sangat dicintainya.


Ia ingin Harumi sembuh, demi apapun Liam tidak menginginkannya menderita seperti ini.


"Kami akan melakukan semua yang terbaik untuk kesembuhan Mrs. Harumi. Anda harus bisa lebih bersabar, bahkan pasca operasi pun ia tetap harus menjalani beberapa pengobatan yang intensif agar ia bisa sembuh total." dengan tegas Dokter tersebut menguraikan harapan baik


Tapi, itu tidak mengurangi sedikit pun kekhawatiran Liam. Ia bahkan masih bersikap gusar, gelisah. Berulang kali ia bangkit dari duduk lalu berdiri kemudian duduk kembali. Kilatan bayangan buruk seakan terus menghantuinya.


***


"Makanlah, atau kau ingin aku menyuapimu" Goda Liam seraya mengambil sendok


Harumi menggeleng dan bersandar di tempat tidurnya "Aku bisa melakukannya sendiri, kau tidak perlu memperlakukanku seperti anak kecil"


Wanita itu meraih sendok dari tangan Liam dengan wajah yang sedikit malu, Liam yang melihatnya tersenyum lembut. Terutama setelah kedua matanya beralih ke jari manis Harumi yang sudah dihiasi sebuah cincin indah.


Yah, itu benar. Harumi menerima pemberian Liam. Cincin yang kini menghiasi jari manis di tangan kirinya adalah bentuk pembuktian sebuah komitmen Liam pada hubungan mereka. Walaupun sebenarnya secara tidak langsung Harumi sudah menerima lamaran Liam. Tapi, wanita itu menyadari bahwa belum pantas baginya untuk menerima lamaran pria itu saat ini dimana Harumi masih terikat pernikahan dengan Anton.


Tapi, thats her choice. Liam adalah pilihannya dan pria itu pun bertanggung jawab dengan membuktikannya pada komitmen yang sedang mereka jalani.


"Sebentar lagi, dokumen perceraianmu selesai. Kalian hanya tinggal menandatanganinya. Maka, pernikahan kalian secara hukum sudah resmi berpisah." sorot dingin kembali di mata Liam ketika ia memulai pembahasan itu


Harumi mendongak terkejut, senyumannya memudar. Perlahan ia meletakkan kembali sendok itu ke mangkuk "benarkah ?"


Entah apa yang sedang bergejolak di dalam perasaan Harumi saat ini. Apakah ia harus bersedih atau bahagia ?.


Wajahnya membeku, ia bingung. Ada raut aneh di wajahnya yang pucat.


"Sepertinya kau tidak senang mendengar kabar ini." Liam membalas dengan tajam


"B-bukan begitu" jawabnya terbata-bata "a-aku hanya berpikir, bagaimana jika Anton tidak mau menandatanganinya"


"Aku yang akan mengurus semuanya. Tidak perlu memikirkan apapun lagi mengenai pria itu. Aku tidak menyukai jika kau masih menyebut namanya" sahut Liam datar, pria itu menatapnya dengan ketidaksabaran yang nyaris tidak ditutupinya.


Seharusnya Harumi bahagia, bukankah itu yang diinginkannya.

__ADS_1


Tapi, entah mengapa ada perasaan yang masih mengganjal di dalam dadanya. Mendengar kata perceraian bukanlah hal yang mudah baginya.


Pernikahan yang sudah dijalaninya bersama Anton selama 4 tahun, menjalani kebersamaan dengan pria itu. Menjalin hubungan yang dekat dengan keluarga Anton, Elena, Keluarga Ameera.


Mustahil bagi Harumi, untuk mengatakan bahwa dirinya bahagia dengan Perceraian ini. Mereka sangat menyayangi Harumi dengan baik, memperlakukan nya bak seorang anak kandung yang hadir di tengah-tengah keluarga mereka.


Terutama Ibu mertuanya Elena dan Kakak iparnya Ameera. Harumi merasakan kesedihan yang berusaha ditutupinya.


Empat tahun tidak bisa dikatakan sebagai waktu yang singkat, Harumi dan Anton bagaimana pun seringnya terjadi pertengkaran di antara mereka, Harumi tetap menghargai suaminya.


Tidak sedikit pula, diantara banyaknya hal yang menyakitkan di dalam pernikahan mereka. Harumi masih mengingat jelas ada berbagai kenangan akan kebahagiaan yang pernah dirasakannya selama kebersamaan mereka.


Walaupun perasaan Harumi semakin memudar pada suaminya, tapi bukan berarti ia tidak pernah mencintai Anton. Anton adalah cinta pertamanya, pria itu yang sudah memperkenalkan arti kebahagiaan sekaligus penderitaan di dalam hidup Harumi.


Tapi....


Kini Harumi memilih bersama pria yang sedang duduk menemaninya sekarang. Pria yang hadir di dalam hidupnya sebagai penyelamat, menyayanginya dengan sepenuh hati dengan berbagai kekurangan yang ada didiri Harumi saat ini.


Pria itu juga yang sekarang sedang memperjuangkannya walaupun Harumi pernah menolaknya. Tapi, ia tidak menyerah. Sebelumnya Harumi mengira, kalau Liam hanya ingin bermain-main dengannya. Karena sosok sempurna seperti Liam adalah hal mustahil memilih wanita yang sedang bermasalah dan berani mengambil resiko besar itu.


Tapi, Liam memilih bersama wanita seperti Harumi. Wanita yang benar-benar sudah membuatnya jatuh cinta.


Mau tak mau, pancaran kebahagiaan hangat yang tiba-tiba dan tanpa bisa dicegah memenuhi dirinya "Terimakasih sudah membantuku selama ini."


"Yang penting sekarang, kau harus sembuh. Bagiku, kesehatanmu jauh lebih penting." sela Liam, ia menggeser lalu mendekatkan wajahnya dan mencium kening Harumi dengan manis "My world is a better place, Because of you.


I Love you so much"


***


"Bu, apa sudah melihat berita di Tv ?" Takeru berlari tergesa-gesa menghampiri ibunya yang tengah menyiapkan makan siang di dapur


Nami mengernyit "Ada apa, Takeru ?"


Takeru memperlihatkan sesuatu dari layar ponselnya kepada Nami "Beritanya juga ada di semua sosial Media Elektronik, dan semua foto-foto nya...b-bahkan tulisannya..." Takeru terbata-bata sambil menahan rasa terkejutnya


Nami yang tampak kebingungan, menatap layar ponselnya dengan sangat fokus.

__ADS_1


Wanita itu membaca setiap kata-kata dalam tulisan tersebut dengan seksama. "A-apa maksudnya ini semua ?!" suaranya gemetar, wajah Nami tegang. Tubuhnya membeku, ia seperti seseorang yang sedang ketakutan "ini tidak mungkin, tidak mungkin" Nami terus menggeleng-geleng tidak percaya dengan wajah shock


"Tapi, semua sudah disertai dengan bukti foto-fotonya. Aku yakin ini benar."


"Jangan menyimpulkan sembarangan, Takeru !" sahutnya dengan tegas


Napas Nami terasa sesak, ia terduduk pada kursi makan dengan tetap tidak melepaskan pandangannya pada layar ponsel tersebut. "Ya Tuhan, kenapa masalah terus datang secara bersamaan seperti ini kepada keluarga kami" Nami mengusap dadanya yang mulai perih.


"Kuharap, ini bukan Ka Harumi. Tapi, wajahnya sangat jelas difoto ini walaupun identitasnya tidak diberitahukan. Tapi, wartawan akan dengan mudah mencari informasi itu."


Nami meletakkan ponsel itu di atas meja, dengan wajah cemas matanya mengisyaratkan kesedihan yang sulit terbendung "Untuk sementara jangan beritahu Hal ini pada Ayahmu. Dengarkan aku, Takeru. Jangan memberitahunya." tatapan wanita itu menusuk


"Tapi, ayah pasti akan tahu. Beritanya bahkan sudah tersebar di seluruh media cetak. Karena pria yang sedang bersama Ka Harumi adalah seseorang yang sangat penting bahkan dia sangat terkenal. Dia Pengusaha kaya raya yang memiliki kekuasaan tinggi dalam dunia bisnis. Aku tidak menyangka kaka memiliki hubungan dengan pria seperti dia."


"Diaaamm, Takeru. She is your sister, hormati Harumi. Jangan mengatakan apapun jika ada ada orang lain yang menanyakan hal ini padamu." bentak Nami keras


Takeru duduk dihadapan Nami "Apa Kaka tidak tahu bagaimana keadaan kita saat ini ? Bahkan ayah sedang kesulitan keuangan untuk membayar uang ganti rugi itu. Orang-orang itu bahkan tidak segan menagih ke sini dengan kasar. Tapi...."


"Cukup, Ayahmu sedang mengusahakan agar kita tidak menderita. Ia bahkan mencari pinjaman kemana-mana untuk menutupi uang itu agar mereka tidak mengambil rumah ini dan semua milik kita."


"Tapi, bu. Itu jumlah yang sangat besar. Kita tidak akan mampu membayarnya."


"Ibu tidak senang kau mengatakan hal itu. Tugasmu menjaga adikmu, urusan ini biar Ayah dan ibu yang menghadapinya. Kau Mengerti ?!!"


Tiba-tiba suara ponsel milik Nami berdering, wanita itu bergegas melihat layar ponselnya.


"Hallo, Beatrix ?"


"Ada apa sebenarnya, bu ? Sejak tadi, di toko kedatangan begitu banyak orang yang menanyakan Ibu Harumi. Mereka sepertinya sekumpulan wartawan, dan terus memberikan pertanyaan-pertanyaan seputar hubungan Bu Harumi dengan seorang pria. Ini ada apa sebenarnya ? Saya tidak mengerti harus menjawab apa, mereka terus menerus mendesak bahkan memaksa saya untuk memberikan identitas lengkap Bu Harumi."


"Oh Tuhan" Nami menutup kedua matanya dalam tekanan dan menarik napas dalam-dalam "Beatrix, aku akan ke sana. Bagaimanapun caranya usir mereka, lakukan semua cara."


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Komen dan Vote


Thank you ❤

__ADS_1


__ADS_2