
Harumi tidak bisa menahan rasa sakitnya ketika mengetahui fakta yang tengah terjadi saat ini "K-kumohon dengarkan penjelasanku, ini bukan seperti yang diberitakan dan apa..."
"And What ?!" sela suara seseorang yang terdengar tidak asing dari balik punggung Ameera
Elena.
"Apa yang ingin coba kau jelaskan kepada kami ?" Elena mendekat dengan menatap datar ke arah Menantunya tersebut
Harumi terkejut, wajahnya benar-benar tidak mampu menyembunyikan perasaan bersalahnya kepada kedua wanita yang sangat dihormatinya itu.
Sempat diam sejenak, dan mereka hanya saling memandang menunggu penjelasan yang terlontar dari bibir Harumi. Tapi, bodohnya. Entah kenapa bibir wanita itu terasa kelu. Seharusnya ini adalah kesempatan baiknya untuk menjelaskan semua yang sudah dialaminya.
Napasnya tak beraturan dan dadanya semakin perih. Tatapan kedua wanita itu begitu menyudutkan Harumi.
Membuatnya terperojok dengan situasi yang tidak nyaman.
"Baiklah, jika kau memang ingin menjelaskan semuanya. Aku masih berbaik hati untuk mendengarkanmu." timpal Ameera masih dengan nada ketus
Berusaha membuka bibirnya kembali, Harumi merasakan dirinya dipaksa untuk menjadi sosok kuat yang tetap berdiri bukan semakin jatuh. Dalam kondisi saat ini, kekuatan sebenarnya ada di dalam dirinya.
Dia ingin segera meluruskan semuanya. Semua rahasia yang sudah terbuka lebar dan kebohongan-kebohongan yang mengelilingi Pernikahannya dengan Anton.
"Mengenai pemberitaan yang sudah tersebar luas, itu semua tidak sepenuhnya benar. Bukan seperti itu yang terjadi. A-aku dan Liam...k-kami memang memiliki hubungan yang sulit kujelaskan. Tapi, aku benar-benar merasa bersalah karena menyembunyikan ini pada kalian." Harumi menjeda, ia mengepal tangannya menahan pedih dihatinya. Tidak mudah, sedikit saja kesalahan maka semua akan berakhir sia-sia. "Aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu."
Ameera menghela napas "lalu kau langsung jatuh cinta padanya, karena pria itu sangat kaya raya, bukan ? Tidak ada cinta yang bisa tumbuh secepat itu, Rumi. Itu hanya obesesi, hubungan kalian HANYA SEBUAH OBSESI YANG MEMBAWA MALAPETAKA" nadanya keras dan menusuk.
Elena langsung meraih lengan Ameera, wanita paruh baya itu berusaha menenangkannya "Cukup, Meera. Biarkan ibu saja yang bicara dengan Harumi. Masuklah. Tenangkan dirimu." Elena menarik lengan Putrinya tersebut, lalu mengusap bahunya dengan lembut.
__ADS_1
Ia sadar, bagaimana kondisi Ameera saat ini. Wanita itu begitu terperuk dengan nasib Pernikahannya. Raut wajahnya tidak setenang dan sebahagia dulu, Ameera berubah. Hanya amarah yang terus menguasainya. Wanita itu hanya ingin mempertahankan suami dan ketiga anaknya yang kini sedang direnggut darinya.
Tak ada lagi Ameera yang yang ramah dan penuh kelembutan. Kedua matanya tampak bengkak, seolah sudah berhari-hari ia menangis. Kerutan mulai samar-samar tampak di tiap sudut wajahnya. Bayangan hitam di bawah matanya terlihat jelas, bahwa wanita itu hampir tidak pernah tidur. Penampilannya penuh tekanan tidak sesempurna dulu, bahkan Ameera yang dulu selalu merawat penampilannya walaupun ia sudah memiliki tiga orang anak. Kini semua memudar dalam sekejap, tak ada makeup, tidak ada perhiasan sedikit pun yang menghiasi bagian tubuhnya, rambutnya digulung sepenuhnya ke belakang. Beberapa helaian halus rambutnya dibiarkan terjuntai di pipinya.
Wajahnya pucat, tapi Ameera masih bisa tampak begitu kuat "Listen to me. Anton mungkin bukan suami yang sempurna, banyak kesalahan yang sudah dilakukannya padamu. Begitu halnya Robert, suamiku bukan pria yang sempurna. Ia keras kepala, cuek dan terkadang menyakitiku. Tapi, Aku sangat mencintai Robert dan tidak pernah sekalipun untuk membalasnya apalagi mengkhianatinya. Sesakit-sakitnya perasaanku, tapi tidak pernah terlintas dalam pikiranku untuk menduakannya, That's My Commitment. That's A MARRIAGE. Mungkin berlimpah Pria sempurna di luaran sana. Tapi, selama kau masih dalam lingkaran Pernikahan tidak pernah dibenarkan sekalipun adanya PERSELINGKUHAN. Kita sebagai wanita memiliki HARGA DIRI YANG TINGGI, KOMITMEN salah bentuk harga diri yang sedang kupertahankan." tatapan wanita itu berkali-kali menusuk Harumi.
Ameera memilih meninggalkan Elena berdua saja dengan Harumi sebelum ia sekain termakan emosi. Setelah itu, Ameera menarik dirinya dengan perasaan berkecamuk hebat untuk bisa bertahan. Ketegangan terus intens menggelantung dalam tatapan Elena yang dingin.
"Masuklah" Elena mempersilakan Harumi masuk dan duduk di Ruang tengah
Harumi masih merasakan tubuhnya gemetar, melangkah memasuki rumah yang dikenalnya begitu nyaman dan tenang. Kini berubah dalam sekejap bagaikan wahana Roller Coaster yang mengguncangnya.
Saat ini, Harumi duduk berhadapan dengan ibu mertuanya. Suasana ketegangan terus mengikuti langkahnya, keheningan begitu senyap ketika Harumi tidak mampu harus memulai lagi pembicaraan ini.
Wanita itu kalut, shock dan gelisah.
Saat Harumi ingin membuka bibirnya, Elena lebih dulu mengawali pembicaraan "Apa kau mencintai pria itu ?" tanya Elena, suaranya rendah dan mulai menyudutkan
Samar-samar, Elena menyeringai miring "Masih jelas dalam ingatanku. Bukankah beberapa tahun lalu aku pernah menanyakan hal yang sama padamu, ketika Anton pertama kali mengenalkanmu padaku. Dan kau menjawabnya dengan tegas, dengan jawaban yang sama seperti sekarang. Tentu kau masih ingat, bukan ? Sekarang yang ingin kuketahui. Apakah kau memang tipe wanita yang sangat mudah terhanyut dengan semua bujuk rayu para Pria ? Sehingga membuatmu mudah jatuh cinta" kini bibir wanita itu melengkung dan sirat adanya provokasi yang dilemparkannya ada Harumi
Harumi terdiam tidak memberikan responsnya, namun matanya tidak terlepas dari Elena.
"Kenapa Rumi ? Kau diam. Berarti kau membenarkannya. Apakah kau menyadari bahwa hubungan yang sedang kau jalani bersama pria itu akan berdampak buruk bagi orang-orang disekitarmu ? Atau kau hanya berusaha menutup mata."
"Itu tidak benar, Aku tidak pernah menutup mata dari semua ini. Jika aku hanya ingin mengutamakan kebahagiaanku saja, langkah kakiku tidak akan membawaku kemari. Hubungan kami memang berawal di waktu yang salah, dengan kondisi yang tidak dibenarkan semua orang. Tapi, keputusanku bukan hal yang bisa disepelekan. Aku memtuskan untuk memilih bersamanya, karena tidak ada lagi yang bisa dipertahankan dalam Pernikahanku dengan Anton." Harumi menatap Elena yang dingin, walaupun Harumi menyadari tatapannya yang nanar terlihat mulai buram oleh air mata "Aku dan Anton tidak bahagia, Kami hanya saling menyakiti. Anton menginginkan sesuatu yang tidak mampu kuberikan untuknya dan ada hal lain yang sulit kuterima."
Elena menutup mata, ia menelan salivanya "Aku juga pernah diposisi yang sama sepertimu, dimana aku harus memilih jalan yang sama sekali tidak menguntungkan untuk siapapun. Sekali aku melakukan kesalahan sebesar apapun, maka jalan yang kupilih itu akan terus menyulitkanku. Tidak ada yang bisa menyalahkan CINTA, bahkan sesuatu yang mudah diucapkan itu bisa datang kapanpun bahkan dalam kondisi yang berlainan." Dengan perlahan membuka matanya kembali, kilatan itu kembali muncul. Sebuah memory dimana Elena yang dulunya adalah Roseanne dimana ia harus memilih antara dua jalan yang berbeda. Tapi, pilihannya tidak semudah seperti yang dibayangkannya.
__ADS_1
"Aku pernah mencintai pria yang seharusnya tidak pernah kubiarkan masuk ke dalam kehidupanku. Pria yang sudah mengubah kehidupanku, pria yang sudah mengenalkanku kebahagiaan sekaligus kesedihan dan beribu kesalahan. Pria yang sudah membuatku buta akan cinta, hingga aku tidak lagi memperdulikan statusnya. Merebutnya dari sisi wanita lain, menjadi duri dalam rumah tangganya." Elena merasakan rasa sakit itu kembali pada dadanya. Rasa sakit yang pernah ia rasakan dulu, yaitu perasaan bersalah yang masih terus ia rasakan sampai sekarang.
Harumi menatap dengan banyak pertanyaan yang menggelayut dalam pikirannya, mengerutkan keningnya "W-what you mean ?"
Elena membalas tatapannya, ia sempat diam sejenak. "Kau pasti mengerti dengan penjelasanku, dulunya sebelum aku bertemu dengan Teddy Riandra. Aku pernah memiliki hubungan dengan seorang pria yang beristri. Pria yang sangat kaya raya. Tapi, bukan itu yang membuatku tertarik padanya. Pria itu membuatku merasakan kenyamanan, ketenangan dan rasa aman yang sama sekali tidak pernah kurasakan selama hidupku. Dari hubungan kami, aku melahirkan dua orang Putera."
Sejenak Harumi mematung di tempat "Dua orang Putera ?" sebuah hal aneh terasa intens mengaduk-aduk pikirannya. Ini pertama kalinya ia mendengarkan cerita masa lalu mertuanya. Sebuah potongan demi potongan rahasia besar yang baru diketahuinya "Maksud ibu,...Anton memiliki saudara laki-laki ?"
Elena mengangguk "Ya, Anton memiliki seorang adik laki-laki. Yang sebenarnya, Anton sendiri pun tidak mengetahui identitas adiknya sama sekali."
"Bagaimana mungkin, ibu tidak pernah mengatakan apapun..."
"Bahkan aku baru memberitahukan hal ini pada Ameera beberapa hari yang lalu."
Harumi menarik napas dalam karena tiba-tiba udara disekitarnya seperti menipis. Semua semakin membingungkan untuknya "Aku bingung...ini masih sulit untuk aku...."
"Aku menceritakan hal ini sekarang, karena sudah waktunya kau mengetahui kebenaran ini. Sudah saatnya, kau harus mengetahui siapa Puteraku yang lain. Kau pasti sangat ingin mengetahuinya, bukan ?!" Elena menatap Harumi dengan seonggok pembenaran yang sudah pasti ini akan menyakitkan untuknya.
Harumi tidak bereaksi, artinya iya.
"Pertama kau akan mengetahui siapa ayah kandung dari Anton" Elena sempat menahan diri untuk beberapa saat sampai akhirnya ia kembali membuka bibirnya "He is....Roberto Alessio Seymour."
Sebuah awan hitam terasa begitu besar menghampiri Harumi ketika itu, rasa dingin membekukan seluruh tubuhnya. "S-Seymour ?" menyebutkan nama besar itu, bibir Harumi makin terasa kaku. Hatinya berkecamuk begitu hebat. Ia menatap Elena dengan bola mata melebar sambil menggelengkan kepalanya "T-tidak mungkin, tidak mungkin. jadi...maksudmu ? Li..."
"Yah, William Xaverio Seymour." Elena menyela dengan lugas "Liam adalah PUTERAKU. Dan kau tentu saja sudah bisa mengaitkannya dengan Anton. Hubungan sedarah di antara keduanya."
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤