
"Rumi..."panggil Ameera pelan. Sejak beberapa menit berlalu Ameera memperhatikan Harumi yang duduk di hadapannya hanya diam dengan tatapan kosong.
Bahkan Orange jus di gelas tadi masih lebih dari separo, Harumi hanya sedikit meminumnya.
"Rumi..." panggil Ameera lagi
Pikiran Harumi saat itu penuh dengan segala dugaan-dugaan yang menyita perhatiannya, bahkan suara-suara bising di Restoran hanya samar-samar di indera pendengarannya.
Setelah tiga kali memanggilnya, barulah Harumi menyadari suara Ameera. Wanita itu mengangkat wajahnya dengan ekspresi kebingungan "Yah ?" Harumi mengalami perubahan sikap setelah pikirannya terasa ada sesuatu yang membuatnya melayang entah kemana. Yah, tentu saja semenjak kehadiran Liam di Restoran tersebut.
Sosok Pria itu seolah mengambil alih semua pikiran, semua hentakan jantung, semua gerak gerik, semua akal sehat Harumi hanya dalam sekali hembusan napasnya. Bahkan Harumi tidak mampu mengontrol dirinya sendiri, seluruh tubuh dan hatinya seakan bergerak atas kendali Pria itu.
Ini seperti...seperti tidak terkendali. Harumi bukan menjadi milik dirinya sendiri lagi, sebagian dirinya berada bersama Liam. Di tangan Pria itu.
Ameera yang merasa heran sekaligus sedikit cemas dengan sikap Harumi yang secara tiba-tiba karena sebelumnya ia lebih santai dibandingkan dengan sekarang, wanita itu menatap Harumi "ada apa, Rumi ? Are you sick ?"
Harumi menggeleng pelan, tidak tahu harus mengatakan apa pada titik ini "No, Its Ok. I just thinking."
"What ?"
"No Problem. Can we go home Now ?" ucap Harumi sementara merasakan bibirnya kembali kering.
Ameera menarik napas pelan "Oke."
Kedua wanita itu pun, akhirnya berdiri dari kursi mereka dan meninggalkan meja.
Ameera yang berjalan di depan menuju meja kasir diikuti Harumi dari belakang.
Ketika selesai melakukan pembayaran, tiba-tiba Ameera berbalik menatap Harumi dengan sudut bibir yang melengkung "Rumi...sorry..sorry..bisakah menungguku sebentar ? aku mau ke kamar kecil."
Harumi mengangguk pelan dengan alis terangkat "Ok"
"Aku janji tidak akan lama. Wait Ok" Ameera dengan langkah-langkah tergesa meninggalkan Harumi
Harumi berdiri seorang diri tidak jauh dari pintu utama Restoran. Dengan menggunakan waktu sambil menunggu Ameera, wanita itu hanya merendahkan pandangannya menundukkan wajahnya sambil menatap kedua kakinya yang sedang mengenakan flat shoes cantik berwarna brown vintage yang sudah lama dimilikinya sejak ia membuka Nami Florist.
Beberapa helaian rambut hitamnya jatuh menutupi sebagian pipi putihnya, kedua tangannya menggenggam erat tali tas tangan yang dibawanya.
Sesekali ia menggigiti bibir bawahnya, lalu perlahan mengangkat wajahnya. Pandangannya mengitari ke sekeliling sudut Restoran itu yang indah bernuansa klasik dengan berbagai ukiran unik khas Eropa. Ada beberapa lukisan yang tergantung di beberapa bagian dinding-dindingnya, Harumi sangat menyukai Lukisan. Ia bahkan fokus menatap salah satu lukisan. Dan lukisan itu menggambarkan seorang wanita pedesaan yang sedang menggandeng anak perempuannya di sebuah hamparan padang rumput yang hijau.
Harumi merasakan kedamaian saat melihat lukisan tersebut. Sekilas ia tersenyum tipis membayangkan betapa bahagianya wanita yang ada di lukisan itu.
__ADS_1
Harumi bisa merasakan beberapa pengunjung yang berjalan melewatinya sembari ia menunggu Ameera.
Lima menit berlalu, tapi Ameera belum juga kembali. Harumi masih tetap menunggu berdiri di posisinya yang sama, terkadang ia mengangkat wajahnya mengedarkan pandangan ke arah Ameera tadi saat berjalan masuk, pandangannya seolah ingin memastikan keberadaan Ameera.
Tapi, ia masih belum menemukan sosok wanita itu kembali.
Harumi menghembuskan napas sejenak, lalu beralih menatap ke pintu utama yang berbahan kaca, ia bisa melihat dengan jelas pemandangan lalu lalang mobil di jalan utama.
Tapi sesaat kemudian, Samar-samar Harumi mendengar suara seorang pria di belakangnya, tak jauh dari posisinya.
"Thank you, Mr. Seymour. Aku harap anda menikmati sajian menu spesial dari kami." ucap ramah Manager Restoran menemani Liam dan diikuti Sekretaris Will berjalan menuju pintu utama.
Liam berjalan di depan kedua pria itu, Sekretaris Will dan si Manager Restoran. Liam tidak merespon apapun, hanya Sekretaris Will yang berbicara langsung dengan Manager tersebut.
Tatapan Liam sangat dingin dan kaku, bahkan ia tidak peduli dengan banyaknya pandangan dari sebagian besar pengunjung wanita kepadanya. Pria itu hanya terus melangkah dan menatap ke depan.
Harumi yang mendengar nama Liam terucap jelas di pendengarannya hanya bisa berdiri membeku. Wanita itu tidak ingin menoleh sedikit pun ke belakang, ia menggenggam erat tas miliknya.
Ia menarik napas dalam-dalam, mengingatkan diri bahwa ia sedang berada di tempat umum. Dan ia harus bisa bersikap normal.
Jantung Harumi berdentam sangat keras menghantam dadanya, rasa panas mulai merambat di tengkuknya.
Kenapa ia cepat sekali keluar ? Jika Ameera tidak ke kamar kecil, aku pasti tidak akan bertemu dengannya di sini.
Tapi, Harumi tidak akan bisa bersikap normal jika ia hanya berdiri diam dan memalingkan wajahnya saja. Jika ia ingin bersikap bahwa ini tampak baik-baik saja, maka Harumi harus memberanikan diri untuk membalikkan wajahnya dan menatap Liam seperti halnya yang dilakukan separo wanita di Restoran ini.
Itu jauh lebih baik daripada ia harus menghindari Liam.
Liam mengenal Harumi, dan pria itu lebih cerdas dalam mengambil sikap di depan umum dibandingkan dirinya.
Harumi berbalik dan melihat ke arah Pria itu yang berjarak hanya beberapa kaki darinya.
Liam berjalan santai dengan langkah yang tidak ragu-ragu. Punggungnya yang begitu bidang tampak begitu jelas setiap ia melangkahkan kakinya.
Pria itu mengenakan setelan kerja seperti biasanya, setelan jas hitam dengan kemeja putih dan dasi yang berwarna senada. Liam memang tampak sangat maskulin, kulit putih sedikit kecoklatan khas Pria Itali sangat tergambar jelas dari penampilan wajah dan warna kulitnya.
Liam memang sangat cocok mengenakan pakaian apapun, bahkan pakaian santainya sekalipun. Dia memancarkan daya tarik sensual dan supremasi maskulin. Sekalipun jika Liam bukan Milioner, kaum wanita masih akan berkerumunan di sekelilingnya. Dan berbagi ruang yang sama dengan Pria itu membuat Harumi segera menyadari perbedaan mereka.
Harumi sempat terpesona olehnya sampai-sampai ia lupa untuk bersikap normal, tapi yah ini lah sikap normal yang sebenarnya bagi para wanita yang berada di dekat Liam.
Sambil memaksakan diri agar berkonsentrasi pada sesuatu selain diri pria itu, Harumi mengerjapkan dirinya.
__ADS_1
Sadarlah, Wanita Bodoh ! Wake Up, Rumi !!
Liam berjalan semakin dekat ke arah Harumi yang tengah berdiri tak jauh dari akses pintu utama, lalu kini jarak keduanya sudah semakin mengecil.
Hentakan jantung wanita itu semakin kencang, ia merasakan getaran bertegangan tinggi menyeruak begitu kuat di seluruh tubuhnya. Reaksi naluriah ini, bukan atas keinginan Harumi. Ini diluar kendalinya, dorongan ini seakan membuat ribuan kupu-kupu beterbangan di perut Harumi.
Ketika Liam sudah mendekat, sesuatu yang menyesakkan tiba-tiba menghampiri Harumi. Kedua matanya terbuka lebar dan hatinya terhentak begitu keras.
Liam tidak memberikan reaksi apapun. Pria itu sama sekali tidak menoleh sedikit pun ke arah Harumi, pandangannya hanya fokus menatap di depannya.
Liam hanya berjalan santai melewati Harumi begitu saja, seolah wanita itu tidak pernah berada di sana.
Padahal sangat tidak mungkin Liam tidak menyadari kehadiran Harumi yang berdiri tepat di depan matanya, karena tidak ada orang lain disitu selain dirinya.
Tapi, perubahan sikap Liam benar-benar diluar dugaan Harumi. Ini bukanlah seperti Liam yang Harumi kenal. Pria itu bagaikan sebuah bongkahan es yang keras dan dingin.
Pria itu melewati nya seperti orang asing, berjalan di hadapan Harumi hanya beberapa inchi seakan ia sama halnya seperti separuh wanita di Restoran ini, padahal wanita itu sangat yakin tidak mungkin Liam tidak melihatnya karena Harumi bisa melihat Sekretaris Will yang berjalan di belakang Liam pun bahkan menyadari kehadirannya dan sepintas melihat ke arah Harumi, menatap dengan rasa iba ke arah nya.
Dari abu kekecewaan, Harumi merasakan adanya sesuatu yang tidak beres dari perubahan Liam seperti ini.
Tidak ada kabar, sikapnya yang dingin, bahkan pria itu bisa bersikap santai menganggap Harumi seperti orang yang sangat asing padahal mengingat banyaknya hal yang sudah mereka lalui bersama.
Apa haknya untuk merasa KESAL ?
Apa haknya ?
Apakah Liam membuat janji kepadanya ? Tidak, tidak ada janji-janji pasti yang mengikat Harumi.
Jadi mengapa ia merasa begitu merana, amat sangat kecewa.
Karena Ia mengira telah melihat sesuatu dalam diri Liam.
Dia tidak pernah merasa sebingung ini seumur hidupnya.
Jawabannya terletak pada fakta bahwa ada satu perbedaan mendasar di antara mereka.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1