
"Why ? Why my daughter ? Dengan semua masalah dan kekurangannya, kenapa kau memilih Harumi ?" tanya Nami menahan dirinya untuk tenang
Wanita paruh baya itu bersikap tenang, walaupun ia sempat terkejut dengan pernyataan Liam yang sangat tiba-tiba.
"Meminta restu dariku, untuk memuluskan hubungan kalian. Alasan apa yang bisa kau janjikan padaku ?" tegasnya
Untuk beberapa saat, Liam memilih untuk diam. Pria itu bukan merasa bingung ataupun bimbang. Tidak ada keraguan sedikitpun dari sorotan matanya.
Ia hanya ingin membuktikan bahwa semua yang diperjuangkannya bukan sekedar sebuah kata-kata ataupun janji-janji manis.
"I meet thousands of people and none of them really touch me. And then i meet one person and my life is changed forever." Liam menegaskan. Matanya terbuka dan terpaku menatap Nami "Harumi is the best thing that ever happened to me. Then I know what i can't, i don't wanna live without her."
Nami menarik napas dalam "Listen to me, do you love her ?"
"Yes"
"How do you know ?"
"Because nothing makes sense without her."
Nami tidak pernah merasa sebingung ini seumur hidupnya. Mendapati dirinya harus berhadapan dalam situasi ini tentu saja tidaklah mudah, Nami mulai mengubah cara pandangnya terhadap Liam.
Ini diluar dugaan dan bayangannya, Harumi tidak akan mungkin semudah itu menyerahkan dirinya dan terjun ke jurang bersama pria yang tidak benar-benar menurutnya tepat untuk hidupnya.
"What if she never came back, if she is gone. You never see her again. Could you live with that ?"
"No...I Couldn't. Because I'll always, honestly...truly...Completely...
Love her."
...****************...
Anita membuka sebuah berkas didalam map berwarna merah yang diberikan Noah beberapa saat sebelum pria tersebut keluar dari ruang kerjanya.
Kedua mata wanita itu terbuka lebar saat menatap halaman demi halaman tiap lembaran yang terpapar di hadapannya. Sekilas beberapa kali keningnya berkerut saat sesuatu yang begitu menarik perhatiannya merupakan hal yang sangat mengganjal.
"Apa yang sebenarnya kau harapkan, Noah ? Kau pikir aku akan menyerah begitu saja dengan semua berkas-berkas omong kosong ini." gumamnya dengan seringai miring.
Tak berapa lama, asisten pribadinya mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan.
"Apa yang dikerjakan Puteraku sekarang ?"
Dengan berseragam rapi serba hitam dan postur tubuh tinggi berdiri dihadapan majikannya. Asisten kepercayaan Anita itu pun mengambil ponsel dan menyerahkannya pada wanita itu "Mr. Seymour sedang berada di Bristol. Ini adalah kediaman Tuan bersama wanita itu sekarang. Jika anda ingin ke sana, saya akan mengantarkan anda"
Anita mengamati layar ponsel yang berisikan beberapa hasil gambar yang diambil dari suruhan yang diutus untuk mengikuti semua kegiatan bahkan gerak gerik Liam. "Bristol ? Untuk apa dia ke sana ?"
"Belum bisa dipastikan, tapi dari hasil informasi. Setelah tiba di sana, Tuan langsung menuju sebuah Rumah Sakit."
__ADS_1
Anita mengernyit "Rumah Sakit ? Apa yang di lakukannya di sana ?"
"Untuk itu saya belum bisa menginformasikan apapun, tapi akan segera saya beritahukan anda secepatnya."
Sesaat pria itu akan meninggalkan ruangan, Anita kembali mengajukan pertanyaan "Apa yang dilakukan wanita itu ?"
Asisten itu menoleh kembali "Maksud anda wanita yang bersama Mr. Seymour ?"
"Yah"
"Tidak banyak yang saya ketahui, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di dalam rumah. Hanya sesekali keluar bersama sopir pribadinya, ke Supermarket, Toserba lalu kembali pulang. Ada beberapa pengawal pribadi yang berjaga di kediaman mereka."
Sekilas tampak seringai miring mewarnai wajahnya "Jadi mereka sudah memilih untuk hidup bersama, tanpa sepengetahuanku. Bahkan disaat berita skandal mereka sudah tersebar luas. Ini sungguh MEMALUKAN."
"Apa yang ingin anda lakukan, Nyonya ?"
Anita membuang napas panjang "Kupikir rencanaku menghancurkan keluarganya, akan membuatnya menyerah. Tapi...wanita murahan itu benar-benar tidak bisa diremehkan. Bukannya ia sadar diri, disaat Ayahnya di Rumah Sakit...seharusnya..." wanita itu tiba-tiba terdiam, pikirannya teralihkan "Wait...Kau bilang tadi Puteraku pergi ke Rumah Sakit di Bristol"
"Itu benar, Nyonya."
Mata Anita dingin "Tidak Mungkin, Tidak Mungkin...Liam menemui keluarga wanita itu di Bristol. This is A MISTAKES !!!!" suaranya bergetar oleh emosi "Apa ia sudah mengetahui rencanaku ?!!! Untuk apa Liam menemui mereka ?!!! SHIIIIIITTTT..." wanita itu menghempas permukaan meja dengan kedua tangannya dan suaranya terdengar keras
Wanita itu menoleh dan berbicara kepada Asisten pribadinya tersebut dengan wajah yang diselimuti emosi "SIAPKAN MOBIL, AKU AKAN MENEMUI WANITA ITU."
Pria itu mengangguk sekali dan segera melaksanakan perintah sang majikan "Baik, Nyonya"
"Tidak akan kubiarkan kau bahagia dengan Puteraku. Dasar Wanita Jala**, Aku akan MEMUSNAHKANMU !!!"
...****************...
"Nyonya !! Nyonya Harumi !!" seseorang berlari menghampiri
"S-scarlett..." Harumi yang sedang berjalan seorang diri menoleh ke belakang dan mendapati pengawalnya berlari ke arahnya "Bagaimana kau menemukanku ?"
Scarlett berhenti tepat dihadapan Harumi dengan terengah-engah, menarik napas dalam-dalam "Saya berusaha--mencari-cari--anda, T-tuan.."
"Ada apa dengan Liam ?"
Pengawal itu berusaha mengontrol napasnya yang sedikt demi sedikit mulai kembali normal "Mr. Seymour berulang kali menanyakan keberadaan anda. Saya sudah mencari-cari alasan, tapi Tuan tidak percaya. Karena ponsel anda tidak bisa dihubungi."
Harumi meraih ponsel dari tasnya, dan ia baru mengingat kalau sebelum ia keluar rumah. Ponselnya dimatikan "Maafkan aku. Aku sengaja tidak mengaktifkan ponselku."
"Nyonya sebaiknya segera pulang, Tuan sangat mengkhawatirkan anda." ekspresi kekhawatiran tergambar jelas diwajah sang pengawal "Apa urusan anda sudah selesai ?"
Harumi hanya sedikit melengkungkan kedua sudut bibirnya. Dan beban itu kembali hadir ketika kilatan dalam benaknya mengenai pertemuannya dengan Elena dan Ameera tidak berakhir dengan baik. "Kuharap semua akan baik-baik saja, tapi ... "
"Apa Nyonya baik-baik saja ?"
__ADS_1
Harumi menggangguk pelan sambil menatap Scarlett "Its Ok. Ayo kita pulang"
Ketika sudah berada di dalam mobil, Harumi mulai mengaktifkan kembali ponselnya.
Dan memang benar, ada puluhan panggilan tidak terjawab dari Liam dan beberapa pesan singkat.
*Rumi, Where are you ?
Kenapa ponselmu tidak aktif ?
Kumohon, angkat telponku.
Answer me, iam worry about you.
Jangan bersikap seperti ini*.
Harumi membaca satu per satu pesan yang dikirimkan Liam. Tapi, ia tidak langsung membalasnya.
Ponsel itu diletakkannya kembali di samping, lalu ia menyandarkan tubuhnya.
Harumi berbalik menatap pemandangan dari balik jendela mobil.
Wajahnya tampak begitu lelah.
Tak lama, suara ponselnya berbunyi.
Tanpa melihat siapa yang menghubunginya, Harumi langsung menjawab.
"Hello"
"What's wrong ? Kenapa ponselmu tidak aktif ? Berulangkali menghubungimu, bahkan tidak ada kabar berita darimu membuatku semakin menggila."
"I Know. Aku hanya lupa mengaktifkan ponselku setelah selesai mengisi daya." jawab Harumi dengan tenang,ia berusaha keras menyembunyikan semua permasalahan yang sedang dilewatinya karena ia tidak ingin menambahkan beban itu kepada Liam.
"You forgot ? Kau pikir aku akan menerima alasan itu." tegasnya
"Liam, please. Aku tidak ingin berdebat denganmu sekarang. Aku sangat lelah, aku cuma ingin mencari udara segar di luar. Terlalu bosan hanya berada di dalam rumah saja. Kau tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja."
"Aku hanya memintamu untuk selalu mengaktifkan ponsel, agar aku bisa selalu menghubungimu."
"Ok. I will. Jangan marah lagi ya. Aku berjanji tidak akan mengulanginya. Iam already miss you, I wish you were here."
"Aku akan segera kembali setelah urusanku selesai. I miss you too. Always"
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Komen dan Vote
__ADS_1
Thank you ❤