Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 111 The Ice Prince


__ADS_3

Harumi mulai geram "Apa sekarang kau mulai mengancamku ?" Mata Harumi berkilat oleh amarah yang nyaris tak terkendali "Permainanmu sudah tamat, Mr. Anton Riandra"


Ada keheningan panjang, kemudian Anton mulai berbicara dan suaranya begitu berapi-api "Permainan baru saja dimulai, Rumi"


Jika Harumi berharap akan membuat Anton melunak, maka ia akan langsung kecewa karena jawaban Pria itu singkat dan mengecilkan hati.


"Aku bukan Harumi yang dulu lagi, kita lihat siapa yang akan menyerah lebih dulu nantinya." Ia menatap Anton "Ancamanmu tidak berarti apa-apa untukku, kalau memang pertumpahan darah akan terjadi aku siap menghadapimu"


Anton mengunci tatapannya. "Waah, keberanianmu sungguh luar biasa. Aku senang dengan semua kejutan darimu. Tapi, yang perlu digaris bawahi, jika kau berani bermain api dibelakangku maka INGATLAH, AKU tidak segan membawamu dalam hal paling menyakitkan lebih menderita dari sebuah Kematian"


Harumi terdiam sesaat ketika mencerna kata-katanya. Sorot tatap wanita itu mengeras "Aku tidak takut dengan semua ancamanmu. Will See !"


Anton menyeringai sinis, lalu dengan atmosfir ketegangan yang masih terasa kuat di antara keduanya, Pria itu berbalik dengan langkah tergesa mengambil kunci mobil di atas nakas.


Ia berjalan cepat, bahkan sudah tidak memperdulikan Harumi lagi yang masih berdiri kaku. Pria itu keluar kamar tanpa memandang sedikit pun ke arah istrinya, membanting pintu dengan suara keras meninggalkan Harumi seorang diri.


Harumi duduk di tepi tempat tidur, membeku dalam keheningan.


Wanita itu hampir tidak mengeluarkan setetes airmatapun dari pelupuk matanya, walaupun banyaknya hantaman keras setiap kata-kata dari bibir Anton kepada nya.


Tapi, itu semua justru membuatnya semakin Kuat. Hatinya tidak lagi selemah dulu. Harumi tidak akan mudah Hancur, tidak akan terpuruk untuk kedua kalinya.


Ia akan bangkit kembali setiap ia terjatuh, Dia akan berdiri lagi di saat semua sudah mulai menyudutkannya.


Hidupnya jauh lebih berharga daripada mementingkan seseorang yang bahkan akan menghabisi nyawanya dibandingkan melindunginya.


Harumi mengepalkan kedua tangannya dengan erat memberi keteguhan dalam dirinya.


Aku harus melewati ini semua. Semua akan berjalan dengan baik.


Keheningan pecah ketika ponsel Harumi berdering. Dia menatap layar ponselnya, ternyata itu adalah panggilan masuk dari Ibunya.


Entah apa ini sebuah kebetulan, tapi Ibu menghubungi di saat yang benar-benar tepat dimana Harumi membutuhkan seseorang yang bisa di ajaknya bicara dengan damai.


Sudah lama ia tidak pernah berbicara dengan Nami, mereka berkomunikasi hanya lewat pesan singkat. Karena Harumi masih belum siap untuk berbicara dengan ibunya yang kini pasti sangat mengkhawatirkannya.


"Hallo" jawab Harumi pelan


"Hallo, Rumi. Akhirnya ibu bisa mendengar suaramu sayang"


"Bagaimana kabar ibu ? Ayah, Takeru dan Ben ? terakhir kali kita saling memberi kabar sekitar dua hari lalu"


"Ibu menunggu semua sudah tidur, baru bisa menghubungi mu dengan tenang. Semua baik-baik saja, setiap hari Ayah selalu menanyakan kabarmu, apa yang kau lakukan, Takeru dan Ben sudah tidur, kau tahu kan perbedaan waktu di Bristol. Kau tahu tidak, Ben sekarang sibuk bermain dengan semua gadget yang diberikan sebagai Hadiah Ulang tahunnya kemarin. Hadiah dari atasan Anton. Kau masih ingat kan, Bos nya Anton yang memberikan banyak hadiah waktu itu. Ben sampai lupa makan, jika sudah bermain."


Liam ? Harumi diam. Ketika nama itu kembali terlintas dalam pikirannya. Jantungnya berdebar bersamaan dengan nama itu terucap di benaknya.

__ADS_1


Moment itu masih berbekas dengan sangat jelas ketika Liam memberikan banyak hadiah kejutan di Hari Ulang Tahun Ben. Senyuman tipis mendarat di wajah cantik Harumi.


Waktu terasa berhenti, semua kembali hening. Suara ibunya terdengar samar-samar di indera pendengarannya, dunia seakan berputar dan debaran itu semakin kencang seolah memberikan reaksi kimiawi yang tak bisa dipahami Harumi bahkan sosoknya tidak ada. Tapi, kenapa Harumi seperti terbawa arus bila mendengar tentangnya.


"Siapa namanya, Rumi ? Ibu lupa. Bahkan ibu belum mengucapkan Terimakasih padanya. Semoga suatu saat ibu bisa bertemu dengannya dan mengucapkannya langsung karena orang sesibuk dia, masih sempat meluangkan waktu memperhatikan hal kecil seperti ini. Jadi, ibu merasa perlu berterimakasih padanya"


"Liam...Liam Seymour" Dengan jantung membentur-bentur dada, Harumi mengucapkan nama itu.


Harumi sangat merindukannya, tampak dari raut wajahnya yang merona bahkan hanya mengucapkan namanya saja.


Memang sudah tiga hari ini semenjak ia meninggalkan Penthouse, Harumi belum ada mendengar kabar apapun darinya. Liam seolah menghilang begitu saja dari kehidupan Harumi.


Bahkan sekedar pesan singkat pun tidak pernah diterima Harumi dari Liam. Hanya secarik kertas di atas bantal waktu itu saja kabar terakhir dirinya. Setelah itu, tidak ada lagi.


Pria itu seolah ingin menjauhi Harumi, itu hal pertama yang terlintas dipikirannya.


Setiap hari, setiap waktu, ia selalu menunggu kabar darinya. Berharap ponsel nya menerima setidaknya pesan singkat dari Liam. Tapi, itu hanya penantian yang sia-sia.


Tidak ada satu pesan apapun yang masuk dan tidak ada panggilan masuk dari Liam. Itu membuat Harumi sangat khawatir, apa yang terjadi dengan Liam ?.


Awalnya, Harumi berinisiatif ingin menghubungi Liam lebih dulu. Tapi, tentu saja Harumi mengurungkan niatnya tersebut karena mengingat sekarang ia bersama Anton.


"How are you, My Princess ? Semua baik-baik saja ?"


"Yah, Semua baik-baik saja. Ameera dan keluarganya menerimaku dengan baik. Mereka memperlakukanku sangat dekat. Semua baik" jawaban Harumi terdengar kaku dan samar-samar. Dan itu tidak bisa membohongi Nami.


"Yah, He is Good"


"Good ? tapi, ibu merasa ada yang janggal dengan kata-kata itu. Just Good ? " suara Nami berubah


Harumi tersenyum lemah "Yah, Dia baik-baik saja."


"Kau mengerti dengan maksud pertanyaan Ibu, dan bukan itu jawaban yang ibu inginkan"


"We're Okay"


"Where is he ? He is with you Now ?"


"No. Dia barusan keluar. Bu, bisakah kita tidak membahasnya sekarang"


"Ibu hanya mengkhawatirkanmu, Rumi. Wajar kan. Kumohon, apapun yang terjadi terbukalah dengan ku. Jangan menutupi semuanya seorang diri, Iam your Mother. Kau bisa mengandalkan ibu, nak!"


Harumi menggenggam ponsel dengan tangan gemetar "Semua pernikahan pasti menghadapi masalah, dan kami sedang menghadapinya bersama. Ibu tidak perlu mengkhawatirkan kami. We're Happy, still together"


Nami diam, tak ada respon. Wanita itu terkejut. Dalam beberapa waktu, wanita paruh baya itu hanya menutup bibirnya seperti garis. Batinnya seolah bergejolak ketika mendengar kata-kata yang dilontarkan Putrinya.

__ADS_1


"Bu, kumohon jangan mengkhawatirkan ku. Iam Fine, Really Fine. Don't Worry ok"


Nami tahu bahwa Harumi sama putus asanya dengan dirinya.


"Sebenarnya ibu bertemu dengan Anton sebelum keberangkatannya ke New York di Toko tempo hari"


"Yes, I Know. He told me. "


"Really ? so, what he said ? apa yang dikatakannya padamu ?"


"Hanya membicarakan soal keputusannya untuk menyusulku di sini, tidak ada hal penting lagi. Katanya itu tidak sengaja kalian bertemu"


"Thats it ? Apa dia sedang bercanda ? Dengar Harumi..."


Harumi langsung memotong "Bu...sudahlah kita tidak perlu membahas nya untuk sekarang. Aku sedang tidak ingin."


"Tapi, Rumi sayang...Ibu ingin memberitahukanmu sesuatu. Ini mengenai..."


Saat Nami ingin melanjutkan, terdengar suara langkah kaki dari belakang. Ternyata itu adalah Ben. Karena kini Nami berada di dapur, Ben tetiba bangun lalu memanggil ibunya dengan mata yang masih mengantuk.


"Mom, kenapa belum tidur ?"


"Oh God Ben, What are you doing ?" Nami terkejut melihat Puteranya bangun di jam segini


"Iam thristy, mom." Lalu Ben dengan terhuyung-huyung membuka kulkas lalu mengambil kotak susu Vanilla miliknya, Anak sepuluh tahun yang mengenakan piyama biru bermotif pesawat luar angkasa itu menuangkan susunya sendiri ke gelas lalu meminumnya.


"Bu, apa itu Ben ?"


"Yah, dia bangun karena haus."


"Mom, siapa itu ? Kak Harumi ?" dengan mata sayu dan bekas susu yang masih menempel dibibirnya, ia tampak ingin tahu


"Ben, kembali ke kamar oke. Ibu ingin bicara dengan kakakmu oke."


Ben menggeleng.


"Rumi, ibu akan menghubungimu lagi. Ok. Ben tidak akan kembali ke kamar jika ibu tidak menyusulnya untuk tidur. "


"Ok ... Take care. I Love you all"


Sebelum mengakhiri pembicaraan mereka, Nami berpesan sesuatu yang membuat Harumi tidak mengerti dengan maksud dari kata-kata ibunya


"Rumi, jangan pernah mempercayai orang lain. Terutama orang terdekatmu, salah satunya sahabatmu. Cathy"


#Jangan lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you ❤


__ADS_2