Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 78 Aku ingin Kejujuran


__ADS_3

Cathy menyapukan pandang ke tampang pucat Harumi tanpa sedikit pun ironi "Kau harus menerima segala konsekuensi yang ada nantinya" katanya sarkas, "Jika Tidak kuat sebaiknya jangan melanjutkannya, karena Hubungan kalian pasti akan di tentang banyak orang"


"Aku tidak lemah, Cathy. Aku akan membuktikannya padamu" Matanya menatap Cathy dengan berani dan itu membuat Cathy terkejut karena perubahan Sahabatnya tidak hanya dari penampilannya saja melainkan dalam diri Harumi juga.


Cathy kebingungan, karena kejujuran wanita itu mengejutkannya "Harumi yang kukenal dulu sangat berbeda dengan wanita yang dihadapanku sekarang. Aku kagum"


Harumi tersenyum samar "Karena aku tidak ingin menangis lagi"


***


Gedung Gallery Seni Seymour, Manhattan


Suara langkah kaki berjalan melewati lorong panjang yang di penuhi aneka Lukisan indah di tiap dinding-dinding putih penyekatnya.


Seorang Pria berpakaian rapi dengan setelan jas kerja, memiliki rambut yang kecoklatan terang, sorot mata tajam dengan warna senada, Tampan dengan langkah tegas tak ada keraguan, tentunya dengan postur tubuh tinggi bertubuh Atletis Maskulin, dan pundak yang bidang.


Tak lupa seorang Pria peruh baya yang selalu setia mendampinginya mengikuti langkah pria itu dari belakang.


Tentulah pria tampan itu adalah Liam Seymour dan Sekretaris pribadinya Pak Will yang tak mengenal lelah di sampingnya, berjalan tampak tergesa-gesa menuju Ruangan Kerja Anita, sang ibu.


Suara langkah sepatu pantofel hitam tampak terdengar bergema di lorong tersebut yang sunyi dan tenang menggambarkan sang pemilik tak ingin menunggu lama untuk bertemu dengan ibunya, seolah-olah ada sesuatu yang sudah sangat ingin dia luapkan secepatnya.


Sorotan mata Liam membara, penuh amarah yang ditahan-tahannya. Sejak ia melangkahkan kaki memasuki Gallery, pria itu sama sekali tak memperdulikan sapaan Ramah Tamah para Karyawan yang bekerja di sana.


Bahkan terlihat jelas para Karyawan wanita yang terpesona dengan kehadiran Pria itu berusaha mencari-cari perhatian Liam dengan menyapa, mendekati sambil menebarkan senyuman terbaik mereka. Tapi, tak ada satu pun yang mampu menghentikan langkah Liam apalagi membuat pria itu menoleh.


Begitulah sisi lain kepribadian Liam yang dingin, arogant, dan jika dia dalam posisi sedang marah kesal, pria itu takkan memperdulikan apapun di sekelilingnya, apalagi jika ada yang berani mengganggu hingga merebut Miliknya. Pria itu tak segan memberi siksaan sampai terbunuh.

__ADS_1


"Liam !" Raut wajah Anita tampak terkejut melihat kehadiran sosok Puteranya yang kini sudah berdiri di ambang pintu, tanpa mengetuk lebih dulu.


Sekretaris Will yang sedari tadi mengikutinya di belakang, menutup pintu ruangan itu membiarkan Tuannya berbicara empat mata dengan Anita. Dan Ia berdiri di depan pintu menunggu di luar.


Liam tak melepas pandangannya kepada Anita, seraya melangkah menuju sofa tamu. Pria itu duduk dengan santai, meregangkan tubuhnya menyandar sambil samar-samar ia melempar senyuman pada ibunya.


Anita kebingungan "ada apa Liam ? Mama terkejut kau datang hari ini ke Gallery, dan tadi malam saat pesta masih berlangsung kau menghilang, Mama mencarimu, karena banyak tamu penting yang ingin bertemu dengan mu anakku." Wanita itu melangkah dengan hati-hati mengambil posisi duduk berhadapan dengan puteranya.


"Aku datang bukan ingin membahas Pesta tadi malam...Tadi pagi Paman Luciano berkunjung ke Penthouse"


"Luciano ? untuk apa pria itu menemuimu ?" tanya Anita tampak tegang dengan mata membesar. Mendengar nama Luciano, membuat Anita gelisah seketika, sangat tergambar jelas kalau wanita itu tidak menyukainya.


Hanya beberapa detik pria itu duduk, Lalu Liam berdiri kembali, ia berjalan menuju jendela kaca yang cukup besar di ruangan itu dimana dari baliknya tampak pemandangan indah Kota Manhattan dari Lantai tiga Gedung tersebut.


Pria itu mengepal erat kedua tangannya dalam saku celana, menahan emosi untuk tidak berusaha mengintimidasi Anita.


"Apa sebenarnya yang dia bicarakan padamu, Liam ? Pria itu menghilang lalu muncul secara tiba-tiba, bahkan dengan santainya bertemu Puteraku tanpa izinku "


Liam menyeringai sinis "Aku bukan menemui Narapidana yang harus melalui izinmu."


Wajah Anita tiba-tiba terlihat sangat keras, nafasnya menggebu, kilatan di matanya, ketegangan di pundaknya "Ya, dia memang bukan Narapidana, tapi Pria itu berani-beraninya menemui Puteraku. Pasti dia sudah mempengaruhimu dengan semua yang ia ketahui bahkan semua yang dikatakannya belum tentu kebenarannya"


"Kau menyebutku sebagai Puteramu ? Aku mendengar adanya keraguan dari nada bicaramu." Liam berbalik melemparkan tatapan mengunci kepada Anita.


Dagu wanita itu terangkat, ia membalas dengan berani "Kau adalah Puteraku, tak ada keraguan sedikit pun. Kau adalah Puteraku satu-satunya"


"Bagaimana dengan Roseanne ? ceritakan sejujurnya mengenai wanita itu. Aku tidak menyukai ada kebohongan dan rahasia apapun lagi"

__ADS_1


Nama Roseanne, yah tentu saja nama wanita itu terhembuskan kembali di pikiran Anita setelah Liam menyebutkan namanya. Rasa perih kembali menghujam hati Anita mengingatkan akan masa lalu rumah tangganya, bagaimana menyakitkannya saat Roberto lebih memilih Wanita itu dibandingkan kesedihan Anita.


Walaupun berusaha mengubur dalam-dalam nama Roseanne dari kehidupan Anita, tapi nama itu tak hentinya terus menghantuinya menuntut pembalasan atas apa yang sudah diperbuat nya kepada Roseanne dulu.


"JANGAN menyebut nama wanita itu lagi. JANGAN pernah mencarinya!!!" nada bicara Anita meninggi


Liam mengamatinya "Nama wanita itu akan terus hadir sampai kau bicara yang sebenarnya"


"Apa yang ingin kau ketahui Liam ? Tidak ada sisi baik yang perlu kau ketahui dari sosok wanita Pela**r itu."


Liam melangkah mendekati Anita dengan jarak beberapa kaki, lalu seakan-akan bersiap melemparkan Bom Besar kepada sang ibu dan pria itu hanya menyunggingkan salah satu sudut bibirnya " Benarkah Roseanne adalah Ibu ku yang sebenarnya ?"


Garis pundak wanita itu semakin tegang, dia langsung berdiri melemparkan tatapan tercengang, bola matanya membesar, Jantungnya berpicu dengan atmosfir penuh ketegangan di ruangan yang hanya ada mereka berdua.


Ruangan kerja yang tampak sangat luas tersebut, berubah menjadi sempit serasa ingin menghimpit tubuh Anita. Langit-langit runtuh merobohkan harga diri wanita itu sekejap di saat Putera kesayangannya itu meragukan identitas dirinya.


"Jangan pernah mempercayai semua yang dikatakan Luciano, Dia tidak mengetahui apapun. Pria itu hanya parasit, dia selalu menempel kepada kesuksesan dan kebahagiaan Ayahmu. Pria itu Kejam dan ingin menghancurkan keluarga kita. Mama mohon kepadamu Liam, jangan percaya padanya. Kau adalah Puteraku, Puteraku "


Sorot mata Anita memohon, wanita itu berusaha mendekati Liam ingin menyentuh dan memeluk Puteranya, berusaha meyakinkan kebenaran yang diucapkannya.


Tapi, tak semudah itu Liam mempercayai ibunya. Dia melangkah mundur, tak ingin Perasaan menjadi dominan dalam pembicaraan serius mereka.


Dalam benak Liam, sosok Anita masih menjadi Ibu baginya. Bahkan ia sempat tak mempercayai semua perkataan sang Paman yang sudah tak pernah di temuinya selama Setahun, tiba-tiba hadir kembali menemuinya dengan membawa berita dan mengungkap Rahasia Kelam masa lalu kedua orang tuanya.


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote

__ADS_1


Thank You ❤


__ADS_2