Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 162 Hard For Me


__ADS_3

Entah bagaimana Harumi harus menanggapi semua hal yang baru diterimanya sekarang ini, mungkin akan banyak kepingan-kepingan masa lalu lainnya yang akan diterima Harumi dari Liam nantinya.


Tapi, inilah pilihannya. Liam dengan segala Misteri Masa Lalunya tidak akan mengubah pendirian Harumi, mungkin untuk sekarang. Bagaimana dengan nanti apakah akan ada yang lebih parah, Harumi hanya bisa menjalani dan berdamai dengan keadaan saat ini.


Harumi menatap cemas "Aku melihat kau sangat tidak menyukai temanmu, apa kalian pernah..."


"Noah bukan orang yang bisa dipercaya" sela Liam dengan cepat "Dia sangat licik, bahkan dia bisa melakukan apapun untuk melancarkan ambisinya."


Tatapan Liam sangat dingin ketika ia memulai membicarakan Noah, apapun yang pernah mereka lalui mungkin itu bukanlah sesuatu yang baik.


"Aku harap dia tidak pernah bertemu denganmu, apapun dan dimanapun jika kau tidak sengaja bertemu dengannya. Jangan sekali-kali meladeninya." titahnya dan itu membuat Harumi merasa seperti peringatan keras seolah Noah adalah buronan yang sedang diincar.


Melihat Liam yang menatap tajam padanya, Harumi diam sambil mengangguk pelan.


Harumi sangat mempercayai apapun yang diperingatkan Liam padanya, karena ia yakin itu demi kebaikan mereka bersama.


***


Mengusap darah dengan saputangan yang masih keluar di hidung, tepi bibir dan pelipis matanya, Noah tampak tidak merasa kesakitan. Dia bertingkah santai, duduk menyandarkan tubuhnya di kursi sambil memandangi Sekretaris Will yang berdiri dengan dua pengawal pribadi Liam dihadapannya.


Mereka membawa pria itu ke sebuah ruangan tertutup yang hanya mereka berempat saja.


Dia tidak merasa gemetar atau takut sedikitpun, "Bertahun-tahun kau selalu setia disamping Liam, Sekretaris Will. Aku sangat kagum padamu, bahkan diusiamu yang sudah setua ini kau tidak mengeluh. Apa Liam memberimu gaji dan bonus-bonus yang fantastis hingga bisa membuatmu selalu tunduk seperti Anj*** ?" pria itu tertawa mengejek


Dengan ekspresi datar, Sekretaris Will hanya mendengarkan ocehan tersebut seperti angin lalu "Sebaiknya Anda segera menjauh dari area ini, saya tidak akan menyakiti jika anda bisa bersikap koperatif. Tapi, jika anda masih melawan maka..."


"Maka kalian akan menghabisiku, well...well...Begitulah kebiasaan Liam, tangannya selalu bersih. Disaat orang-orang kepercayaannya yang bertindak kotor. Dan kau masih setia dengan itu semua, Kau benar-benar SANGAT BODOH." ucap Noah dengan suara nyaring


Pria itu berdiri lalu menunjuk-nunjuk ke wajah Sekretaris Will dengan amarah yang memanas "Dengarkan Baik-baik, Atasan yang sangat kalian hormati itu, adalah ORANG YANG PALING BAJING**. Liam sudah membunuh Laura, kalian perlu ingat DIA PEMBUNUH. Dan Kalian perlu tahu, wanita yang sedang bersamanya adalah Korban kecelakaan tabrak lari dan pelakunya adalah Liam." teriaknya


Sekretaris Will tidak menggubris, ia memberi kode kepada kedua pengawal tersebut, lalu mereka langsung menyergap Noah.


Sekretaris kepercayaan Liam tersebut tidak ingin lebih lama mendengar semua ocehan-ocehan omong kosong Noah.


Menarik kedua tanganya ke belakang, refleks Noah memberontak dengan kuat "LEPASKAN !!!! BRENGS** !!!"


Semua perlawanannya sia-sia karena kedua pengawal bertubuh kekar tersebut begitu kuat, Noah dipaksa untuk diam. Tapi, ia tidak berhenti menggerak-gerakkan tubuhnya untuk melepaskan diri dari cengkeraman mereka.


Bahkan ia sempat berusaha menendang-nendangkan kedua kakinya ke arah kedua pengawal itu tapi kekuatannya tidak sebesar mereka.


Tangannya berhasil diikat dengan seutas tali, mulutnya dibungkam dengan kain. Lalu, kepalanya ditutup dengan kain berwarna hitam agar pria tersebut tidak dapat melihat apapun lagi, Walau dengan kondisi yang sudah tidak berdaya, Noah masih saja bisa memutar-mutar tubuh dan kepalanya serta berteriak dengan suara sumbang didalam balutan kain hitam dikepalanya. Tapi, suaranya tidak terdengar jelas hanya raungan kecil yang terdengar karena mulut besarnya sudah di bekap dengan kain.


Mereka membawa Noah melewati pintu belakang gedung tersebut. Dan masuk ke dalam sebuah mobil van hitam yang sudah terparkir menunggu mereka.

__ADS_1


Noah dimasukkan ke bagian belakang mobil dengan kedua pengawal tadi yang membawanya, Sekretaris Will tidak ikut bersama mereka, ia hanya memberi kode kepada sopir. Lalu segera mobil tersebut jalan.


Kemudian, Sekretaris Will berjalan masuk kembali ke dalam dan segera menghubungi seseorang. Dan tentu saja, ia menghubungi atasannya. Liam.


***


Tok


Tok


Tok


Tok


"Anton..?" Ameera berdiri tepat didepan pintu kamar tidur sambil mendekatkan wajahnya "Anton, keluarlah. Ibu menyuruhmu makan"


Wajah Ameera begitu cemas, karena sudah berjam-jam pria itu hanya di kamar semenjak ia pulang. Kondisinya yang begitu memprihatinkan, membuat Elena dan Ameera tidak bisa diam begitu saja.


Berulang kali wanita itu mengetuk, tapi Anton tidak merespon sama sekali.


"Sebaiknya kau harus keluar, ibu sedang tidak enak badan karena mengkhawatirkanmu." Ameera menarik napas. Semoga Anton baik-baik saja. Ia sangat khawatir mengingat kondisi Elena juga masih tampak lemah terbaring di kasurnya, walaupun ia sudah memberikannya obat.


Karena belum ada respon, Ameera terpaksa berjalan kembali ke lantai bawah dengan wajah kecewa.


Sedangkan di dalam kamar tidur tersebut, terdengar suara air mengalir. Tampak Anton sedang berada di kamar mandi dibawah pancuran air yang mengguyurnya dengan deras.


Semua pakaian di tubuhnya basah, rambutnya tergerai menutupi sebagian wajahnya.


Kepalanya tertunduk kebawah, pandangannya kosong menatap kedua kakinya yang dialiri air di lantai keramik kamar mandi tersebut.


Bahkan ia tidak tampak kedinginan, ditangannya ia menggenggam sesuatu.


Sebuah kotak kecil berwarna merah yang ikut basah.


Benar sekali, itu seperti sebuah kotak cincin.


Memang benar, sebelum keberangkatannya ke New York. Anton membelikan sebuah cincin berlian untuk istrinya. Harumi.


Cincin indah yang dipersiapkan Anton untuk melamar istrinya kembali ditempat kenangan mereka dulu.


Anton bermaksud untuk meminta maaf dan memulai hubungan mereka kembali dari awal.


Tapi, itu semua tidak sempat terjadi. Setelah semua yang sudah mereka alami, Anton belum sempat memberikannya.

__ADS_1


Kini semua sudah berantakan dan hancur disaat mereka tiba di New York, karena berbagai masalah terus menghampiri.


Sudah terlambat baginya, pikir Anton. Tidak ada lagi yang tersisa di hati Harumi sekarang ini untuknya.


Kesalahan, masalah, keegoisan dan keras kepala jauh lebih merajai dirinya. Dan itulah yang membuat hubungan mereka begitu goyah.


Hingga, orang lain dengan mudah memasuki hubungan mereka.


Tangan Anton erat menggenggam kotak kecil yang begitu berharga baginya, ia ingin Harumi kembali.


Memperjuangkannya, merebut istrinya kembali ke dalam sisinya.


Ia sadar, karirnya hancur, pekerjaannya, semua hal yang dibanggakannya sirna seketika.


Dan kini, semua orang disekitar mereka pun menerima akibatnya.


***


Noah dibuat pingsan, lalu ia terbangun di apartemen pribadinya. Dia sama sekali tidak mengingat apa yang terjadi di dalam mobil van tersebut.


Tetiba ia membuka mata, ia sudah terbaring berada di sofa ruang tengah apartemennya.


Pandangannya masih kabur karena cukup lama kepalanya ditutup kain hitam, yang diingatnya terakhir seseorang memukul kepalanya dan memberinya obat bius dengan dosis yang cukup kuat.


Setelah itu, ia tidak ingat apa-apa lagi. Dengan tampilan yang berantakan dan wajah babak belur. Noah berusaha bangun dan meraih ponsel di saku celananya.


Dengan kepala yang masih berat dan pusing, ia berusaha mengatur napasnya dan memaksa mengangkat tubuhnya.


Noah duduk lalu menghubungi seseorang, tidak berapa lama suara seseorang terdengar dari ponselnya.


"Apa kau sudah mengambil gambar tadi ?" ucap Noah to the point


"Sudah, Mr. Wals. Semua File sudah siap."


Salah satu bibirnya terangkat "Good job, Amankan semua. Tunggu perintah dariku. Lalu siapkan semua media."


"Baik"


Noah memutus panggilannya, dengan perasaan puas ia menyandarkan bahunya di sandara sofa.


Wajahnya menyeringai mengerikan, "Tadi kau tidak sadar sudah masuk ke dalam JEBAKANKU, Liam. Media jauh lebih kejam. Reputasimu sedikit demi sedikit akan HANCUR, dan kau akan kehilangan semuanya. Tidak lama lagi." Pria itu tertawa lebar.


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you ❤


__ADS_2