Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 75 Inilah Diriku yang Sebenarnya


__ADS_3

Di kamar pribadi Liam, Harumi duduk seorang diri di tepi ranjang sambil menatap bilah-bilah tipis cahaya matahari pagi menembus tirai. Sambil menyapu rambut dari wajah, dia menyipitkan mata lalu berjalan mendekati jendela kamar tersebut.


Dia masih mengenakan gaun tidurnya dengan lapisan blus kemeja Liam dan rambutnya kini tergerai ke depan dalam gelombang-gelombang lembut berwarna gelap sementara dia berjalan terhuyung-huyung, lalu berhenti di depan jendela dan menyibak tirai.


Jantungnya berdentam saat dia berbalik seraya menyelipkan rambutnya kembali ke balik telinga.


Ini….ini sudah terlalu jauh.


Kembali ke Apartemen Cathy adalah yang seharusnya ia lakukan sekarang, tapi mustahil karena Harumi masih mempercayai dengan semua yang dikatakan Liam, di sana tidaklah aman.


Gagasan melibatkan orang lain ke dalam masalah rumah tangganya ini terasa bagaikan tusukan jarum di kulitnya, tetapi dia harus pergi. Apalagi kini dia mengetahui bagaimana ada masalah baru yang harus dihadapi Liam setelah pria itu mengetahui kebenaran yang menyakitkan dari identitas Ibu Kandungnya.


Harumi nyaris duduk di ranjang lalu memuaskan diri dengan menangis habis-habisan, tetapi dia memaksakan kakinya untuk tetap berdiri.



Harumi tak menyadari kehadiran Liam yang berdiri di belakangnya “Kau baik-baik saja ?”


Dagu Harumi terangkat saat dia berbalik ke arah pintu, rona samar-samar mewarnai pipinya, matanya membelalak “Kau tidak tahu caranya mengetuk pintu ?”


“Ini rumahku”


Sudut bibir Harumi bergerak turun “Seharusnya kau tetap mengetuk pintu!”


Liam berjalan memasuki kamar, kemudian berhenti pada jarak beberapa kaki dari Harumi lalu melipat tangan “Rumi, kau harus tetap di sini”


“Yah, aku tidak punya pilihan lain, bukan ? selain menuruti keinginan mu” wanita itu bergumam lalu berbalik dan memberikan pemandangan indah lekuk boko**nya yang sempurna untuk Liam. Pria itu sempat salah fokus dan tak bisa berkonsentrasi dengan baik melihat pemandangan yang menggairahkan tersebut.


Dia menghela napas panjang “Kumohon mengertilah, aku bukan ingin mengurung dan membatasi ruang gerakmu. Tapi, semua demi kebaikan dirimu”


“Aku merasa baik-baik saja” jawab Harumi sambil sedikit menoleh. Alis wanita itu berkerut, dan dada Liam terasa diremas saat memperhatikan sorot mata wanitanya yang sedih dan sangat sayu.


Harumi mungkin saja merasa lebih baik, tetapi ini konyol. Karena Liam sangat mengenal ibunya, Anita bukan wanita yang lembut dan mudah menerima semua orang dalam kehidupannya tidak semuanya sesuai dengan apa yang diberitakan Media mengenai dirinya.

__ADS_1


Anita adalah orang yang sangat pembenci, jika dia sudah tidak menyukai seseorang yang menurutnya dapat merusak reputasi Keluarga ia bahkan tidak segan berbuat sesuatu hal yang membahayakan diri Harumi. Seperti yang telah dilakukannya kepada Roseanne.


Liam melangkah menghampiri Harumi, tetapi wanita itu melangkah mundur.


Pria itu mendekatinya “Kau butuh berada di sini”


Dia tidak akan membiarkan Harumi melarikan diri. Omong kosong ini berhenti sekarang. “Kau akan tinggal di sini”


Amarah berkilat dalam mata Harumi, membuat warnanya hampir gelap “Tinggal di sini ? itu tidak mungkin, tidak bisa Liam. Apakah kau memberikan perintah padaku ?”


“Benar” Liam menyeringai sekilas “Aku harus melakukannya”


“Tidak perlu” Tangan Harumi diturunkan ke sisi tubuh, mengepal erat.


“Aku sangat mengenal Anita Seymour, Wanita itu sangat berbahaya dan kejam”


Mulut Harumi menganga sementara dia menatap Liam. Kemudian dia menelan ludah “Aku tidak tahu apakah aku harus merasa khawatir atau semakin tersiksa”


Harumi membalikkan tubuh, lalu mengangkat tangan dan menekankan telapaknya di kening. “Aku….aku menghargai apa yang kau ingin coba lakukan, tapi aku merasa tertekan”


Dada wanita itu terangkat dengan cepat.


“Kenapa…kenapa kau mau melakukan ini ?”


Saat Harumi menatapnya dengan masam, bibir bawah wanita itu bergetar. Hanya itulah satu-satunya emosi nyata yang ditunjukkan Harumi dan untuk sesaat, Liam mengira Harumi akan menyerah, bahwa wanita itu akhirnya akan mendengarkannya, tetapi kemudian Harumi menggelengkan kepalanya.


Liam meraih jauh ke dalam dirinya untuk mencari kesabaran yang tidak benar-benar dia miliki tetapi tampaknya harus dia pegang teguh kapan pun dia berada di dekat Harumi, lalu menutup jarak di antara mereka, dan langsung berhenti begitu melihat tetesan kecil yang berkilat-kilat di wajah wanita itu.


Seakan-akan seseorang telah mengulurkan tangan dan meremas jantungnya, Liam mengepalkan tangannya “Harumi, Sayang…”


Harumi mengerjap dengan cepat sambil melangkah mundur hingga menabrak tepi ranjang. “Tidak. Aku baik-baik saja”


Tenggorokan Harumi bergerak dan ketika dia kembali mengerjap, bulumatanya tampak basah.

__ADS_1


“aku tidak ingin membawa hubungan ini semakin jauh, akan banyak yang akan tersakiti, Liam. Kita bahagia di atas penderitaan dan kesedihan orang-orang yang menyayangi kita”


Harumi menghentikan ucapannya, air mata mengembang dan tumpah ke pipinya. Rasa frustasi tampak di bibirnya saat dia memejamkan matanya. “Aku tidak tahu harus berkata apa lagi, dan aku tidak ingin memikirkan ini. Aku tidak mau memikirkan apapun”


Liam melakukan satu-satunya hal yang terpikirkan olehnya pada saat itu, sebab yang dia inginkan hanyalah agar Harumi berhenti menangis. Dia menangkup pipi Harumi, lalu menyeka air mata itu. Mata mereka bertemu, dan kilat gairah dalam mata Harumi tampak lebih besar daripada keraguan yang juga dilihat Liam.


“Kau memiliki Aku”, cetusnya dengan sungguh-sungguh. Begitu dia mengatakannya, dia tahu betapa besarnya ucapan itu.


Bibir Harumi membuka, tetapi Liam melingkarkan tangan di sekeliling pinggang wanita itu lalu dengan hati-hati merengkuh dan mencium Harumi.


Liam mencium Harumi dengan cara yang tidak pernah dia lakukan saat mencium wanita sebelumnya.


Ciuman itu adalah sapuan bibir yang manis dan tekanan yang lembut, sebuah ciuman yang penuh pemujaan, dan itu sangat mengguncang Liam. Tangannya bergetar saat dia menyapukan telapak tangannya di pipi Harumi, dengan perlahan memperdalam ciuman mereka.


Dia mengira Harumi akan melawan, tetapi bibir Harumi membuka dan lidah wanita itu lebih dulu menyapu lidahnya. Gairah Liam bangkit dengan cepat dan keras, tetapi ia menahannya, karena Liam berharap Harumi tidak menolaknya lagi.


Harumi melingkarkan tangannya ke sekeliling leher Liam, jemarinya terbenam dalam rambut pria itu, menahan dirinya dalam pelukan Liam. Ciuman itu menjadi lebih panas, lebih keras, dan semua itu dilakukan oleh Harumi.


“Tetaplah di sini” bujuk Liam sambil menggerakkan tangannya ke bawah, ke lekuk payuda** dan pinggul Harumi “Tetaplah di sini dan akan kupastikan kau tidak akan memikirkan apa pun”


Tubuh Harumi bergetar dalam pelukannya dan bulumata wanita itu yang basah bergerak turun.


Dia mencium sudut bibir Harumi “Biarkan aku melindungimu, Sayang”


Jemari Harumi mencengkeram rambut Liam, membangkitkan percik tajam rasa sakit yang nikmat di kulit kepalanya. Yeah, itu membuatnya bergairah. “Kenapa ?” Harumi berbisik di bibirnya “ Kenapa ?”


“Karena kau adalah milikku” Liam menekankan bibirnya ke kening Harumi. “Sesederhana itu. Dan jika kau mengizinkanku, kau tidak akan menyesalinya. Kau tidak akan memikirkan apapun. Aku berjanji”


Harumi diam bergeming, lalu mengangkat tangannya dari rambut Liam. Perut pria itu menegang dan dia bersiap untuk kembali berdebat.


Namun, wanita itu meletakkan pipinya ke dada Liam lalu mendesah panjang penuh kekhawatiran “Baiklah” bisik Harumi “Baiklah”


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank You 💌


__ADS_2