Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 86 You'd Like Heaven to Touch


__ADS_3

Daniel mengerti dari diamnya Anton setelah mengucapkan kata sederhana yaitu "New York".


"Sebaiknya anda menghadiri acara tersebut, bukankah istri anda sekarang sedang berada di Manhattan ?" sahut Sekretarisnya seraya mengambil map-map yang dibawanya tadi dari atas meja setelah Anton selesai menandatangani.


Daniel bisa memahami mengenai situasi yang sedang dihadapi atasannya tersebut, karena sudah berhari-hari Anton menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk menyelesaikan pekerjaannya di Kantor.


Anton tak menjawab sepatah katapun, ia hanya tertegun terus menatap layar ponselnya. Sorot matanya kosong, hatinya bimbang, pikirannya dipenuhi oleh sosok Harumi.


Dalam diri Anton sebenarnya ada kekhawatiran yang besar, mengoyak hatinya, sudah berhari-hari Harumi belum juga menghubunginya walaupun hanya sekedar membalas pesan singkatnya.


Pria itu berdiri dari kursi kerjanya, melangkah mengambil secangkir kopi. Di saat ia melangkahkan kakinya, secara bersamaan setiap langkahnya Anton berpikir dengan ketenangan yang ia ciptakan untuk tetap mengendalikan dirinya yang sebenarnya sudah sangat kacau.


Anton berbalik "Daniel, urus penerbanganku ke New York untuk Lusa. Aku akan mengambil cuti."


Reaksi Sekretaris itu pun tersenyum, "Baik, saya akan urus semua persiapannya."


Sebelum melangkah keluar ruangan, Daniel berhenti sejenak beberapa kaki dari pintu "Istri anda pasti akan senang dengan kedatangan Anda ke sana" kemudian Daniel menarik gagang pintu dan melangkah keluar


Anton hanya mendengarkan setiap ucapan dari Daniel, ia berdiri dalam diamnya di tepi jendela kaca sambil mengangkat cangkir kopi Americano yang diambilnya tadi. Pandangannya menyoroti keseluruhan pemandangan kota Bristol di saat malam yang sangat indah.


Anton merasa sangat kesepian, benar-benar kesepian, pria itu merasa jantungya di tarik habis dari tubuhnya ketika Harumi tidak ada disisinya. Sesak tak ada udara yang sanggup menopang hidupnya sekarang ini.


Entahlah, apa kau akan menyambut bahagia kedatanganku Harumi ?


Aku sungguh sangat merindukanmu,


Maafkan aku....


***


Sinar matahari pagi terbias hangat ke wajah Harumi melewati bilah-bilah tirai tipis kamar tidur tersebut.

__ADS_1


Harumi terbangun di saat getaran panjang dari ponsel miliknya mengganggu tidurnya. Perlahan-lahan wanita itu menyipitkan mata walaupun sedikit kesulitan akibat silau cahaya matahari mengganggu penglihatannya, Yeah benar saja tadi malam dia sudah tak ingat lagi untuk memikirkan menutup tirai.


Wanita itu berusaha meringkuk di tempat tidur, lalu berbalik ke sebelahnya, tempat di sisinya kosong, tidak ada Liam.


Liam tidak tidur dengannya malam itu, apa ia tidur di luar ?


Dan sekarang Harumi sudah duduk sendiri di tepi ranjang, sementara ponselnya masih terus bergetar.


Ternyata itu panggilan dari Cathy,


"Hallo" jawab Harumi lemas


"Rumiiii, kenapa baru mengangkat teleponku ?" balas Cathy dengan cemas


Nada bicara Cathy sangat tergesa-gesa, ia di landa kegelisahan yang tak bisa di tahannya lebih lama.


Harumi terkejut sambil mengusap wajahnya yang masih setengah sadar dari tidurnya yang tidak bisa dikatakan sebagai tidur yang nyenyak setelah kejadian tadi malam "Ada apa ?'


"Listen ! Aku berulang kali menghubungimu karena sejam lalu Anton berkali-kali menghubungiku, aku tidak membalas panggilannya. Karena apa yang harus kujawab jika ia menanyakan keberadaanmu. Kumohon Rumi, sebaiknya sudahi hubungan kalian. Aku tidak bisa melindungimu terus menerus seperti ini."


Wanita itu beringsut dan mengingat pesan singkat dari Anton itu kembali yang diterimanya tadi malam. Bahkan sampai saat ini ia belum juga membalas apapun.


Sudah berhari-hari Harumi tidak berkomunikasi dengan Anton, ia tahu suaminya itu akan mengkhawatirkannya. Bahkan mungkin sudah mencurigainya.


Cathy kembali meyakinkan sahabatnya "Rumii, ini terlalu berbahaya. Jika seorang Pria sudah dikhianati seperti ini, dia tidak akan segan melakukan hal-hal buruk."


Mata Harumi dipenuhi bayang-bayang gelap "Aku terlalu egois untuk semua ini, Aku berusaha untuk menyudahi tapi di dalam diriku selalu berkata sebaliknya. Aku menginginkannya, ingin bersama disisinya. Cathy...aku sudah gila dengan hubungan ini"


Cathy terdiam sesaat lalu meyakinkan kembali "Jangan sampai...."


"Aku mencintainya,,," Harumi mengucapkan kata-kata itu dengan bimbang, tanpa kepercayaan dirinya yang biasa. Dan Harumi merasakan jantungnya melakukan serangkaian akrobat rumit di dadanya setelah mengucapkan kalimat sederhana itu.

__ADS_1


Cathy tidak merasa mampu berbicara sehingga ia hanya bisa memberi waktu untuk dirinya diam sejenak menjernihkan pikirannya demi mencari jalan keluar agar sahabatnya tersebut setidaknya tidak menderita terlalu dalam akibat hubungan terlarang ini.


Cathy terperangkap dalam gelembung kecemasan saat mendengarkan "apa kau yakin ini Cinta ? Bukan Emosi sesaat. Pikirkan baik-baik, Rumi. Tidak ada perselingkuhan yang akan berakhir kebahagiaan. Kau harus tahu itu"


"Yah, aku tahu akibat dari semua ini" tegas Harumi


"Apapun itu, apapun yang terjadi, aku minta kau selalu menghubungiku. Dan satu hal lagi, sebaiknya kau mulailah menghubungi Anton. Aku yakin dia sangat mencemaskanmu. "


"Baiklah, Thank you Cathy. Take Care"


Jantung Harumi mencelus dengan menyakitkannya dan rasa takut membuat darah di dalam nadinya menjadi sedingin es. Setelah semua ini selesai, apa yang tersisa pada hubungannya dengan Liam ? Hatinya ingin mengatakan bahwa akan ada masa depan untuk mereka berdua, tetapi otaknya menyuruh hatinya untuk tutup mulut, karena otaknya tidak berharap sebesar itu.


Beberapa kali menghela napas panjang lalu Harumi berjalan menuju kamar mandi. Perasaan tertekan muncul di dalam perutnya saat dia meraih sikat gigi miliknya di antara barang-barang milik Liam. Ini....ini semua begitu serius, tetapi bagaimana dengan Liam ? bagaimana dengan Anton ? dan tentu saja bagaimana dengan dirinya sendiri ?


Setelah buru-buru menggosok gigi, Harumi memercikkan air ke wajah lalu menenangkan diri.


Kegelisahan dan kecenderungannya untuk bersikap sangat bodoh tidak akan menyelinap masuk dan membuat semuanya semakin rumit.


Harumi mengangkat sisir miliknya, lalu dengan cepat menyisir rambut seraya berkata pada diri sendiri untuk menutup mulut, lalu meletakkannya kembali ke wastafel. Mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian santai.


Dia turun ke lantai bawah dan memindai tiap sudut-sudut ruangan, ia tidak melihat Liam. Di ruang tamu, bahkan di ruang kerjanya.


Kemana dia ? Apa pergi ke kantornya ?


Hampir memasuki ruang dapur, Harumi mendengar suara seseorang sedang memotong sesuatu dan menggunakan alat-alat dapur.


Memasuki dapur, betapa terkejutnya Harumi. Ternyata sumber suara itu dari Liam, pria itu berdiri membelakangi Harumi sedang memotong sesuatu. Tangannya begitu lihai, sesekali pandangannya berpindah pada layar ponsel yang diletakkannya di samping, seolah ia sedang mengikuti sebuah instruksi.


Masih mengenakan pakaian santai dengan kemeja katun hitam. Liam sangat berbeda, tentu saja ini seperti bukan dirinya. Rambut coklatnya tampak sedikit berantakan dari belakang, tapi tak disadari hal itu membuat Harumi tersenyum simpul.


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you 💟


__ADS_2