Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 103 One Last Memory


__ADS_3

"Yah, I Know Mom. Anton yang kukenal selalu menyimpan semua masalahnya, tidak pernah membiarkan orang lain mengetahuinya. Ia sangat tertutup jika menyangkut tentang hal pribadinya."


Elena menarik napas pendek "Dia sangat mirip dengan Ayahnya, semua nya. Bahkan Ambisinya dan Obsesinya." Mata Elena tetiba mengarah pada sebuah rak buku tinggi di ruang istirahatnya yang biasa ia luangkan waktunya dengan duduk sambil membaca buku-buku koleksinya.


"Aku hanya berharap Harumi bisa menghadapi sifat dan sikap Anton yang seperti itu, dan pernikahan mereka baik-baik saja. Harumi sudah cukup kesulitan menghadapi trauma yang menimpanya dulu" Ameera terus melanjutkan


Lalu, Elena berdiri dari duduknya sambil tetap mendengarkan ponselnya. Wanita itu membungkuk pada sebuah rak buku bagian bawahnya dan mengambil sebuah buku album lama yang tampak usang di dalamnya.


Album berwarna Olive yang terlihat sedikit rusak di bagian tepi-tepinya seperti terlalu lama tidak pernah ada yang menemukannya.


Elena menatap cukup lama buku album itu, sorot matanya mengisyaratkan ada sesuatu yang begitu sesak bergemuruh di dadanya. Ekspresinya sangat dingin seolah ia menatap sesuatu yang sudah sangat lama dikurungnya lalu dengan inisiatifnya sendiri ia ingin membuka kurungan itu kembali.


Saat buku album itu dalam genggamannya, tangan Elena sempat bergetar. Ia merasa lemah ketika harus menatap benda kecil itu di genggamannya.


Sudah cukup lama, Wanita itu tidak pernah melihat album tersebut, bisa terlihat ketika ia mengusap bagian depannya, debu-debu halus beterbangan dan warna album tampak sudah mulai memudar.


"Mom ?" panggil Ameera


Elena tidak menjawab.


"Mom ?" panggilnya lagi


Panggilan Ameera membuyarkan lamunan Elena yang sempat menguasainya. Membuatnya lupa akan pembicaraannya dengan Ameera.


"Yah" jawab Elena


Lalu Wanita paruh baya itu mendengar suara tangisan bayi dari ponsel.


"Mom, Jamie Crying. Aku harus menenangkannya dulu, I call you back. We Love You. Take care Mom" Ameera langsung menutup panggilannya


Kedua sudut bibirnya melengkung, Wanita paruh baya itu membayangkan bagaimana menggemaskannya ketiga cucunya dan tidak sabar untuk segera bertemu dengannya.


Elena sudah mempersiapkan semua keperluan untuk keberangkatannya ke New York minggu ini. Wanita itu sudah cukup lama tidak pernah menginjakkan kakinya ke New York setelah kepergian suaminya sepuluh tahun lalu. Setelah kejadian yang menimpa mendiang suaminya, ia tidak pernah lagi berkeinginan untuk pergi ke sana, dan ini untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun lamanya ia akhirnya mau pergi ke New York karena desakan dari Ameera agar Ibunya tersebut tidak hanya selalu di rumah seorang diri.


Biasanya Ameera ataupun Anton yang selalu mengunjunginya di London ketika Natal dan Tahun baru. Merayakan nya bersama setiap tahun.


Elena bergerak menuju meja makan, meletakkan album tersebut di atas meja.


Wanita itu hanya berdiri menatapnya, Ia diam dalam keheningan. Sorot matanya tajam sedingin lautan es yang membeku. Napasnya tersekat di tenggorokan, jantungnya memburu memompa dengan kuat.


Ada ketakutan yang begitu besar dari cara ia menatap album itu. Yah, tentu saja. Entah sudah berapa lama ia menyimpannya di tempat itu.

__ADS_1


Tangannya kaku saat ia memberanikan dengan membuka cover album, lalu dari balik cover tersebut tampak dua foto yang terpampang di halaman pertama.


Seolah foto-foto itu memiliki kekuatan magis hingga mampu membuat Elena langsung merundukkan kepalanya menahan air mata yang tiba-tiba ingin menyeruak membasahi pipinya.



Mata Elena berkaca-kaca menahan buliran-buliran yang ingin keluar dari pelupuk matanya, samar-samar ia menatap kedua foto tersebut dengan hati yang begitu rapuh.


Gambar seorang bayi yang sangat menggemaskan tertidur pulas dengan selimut berwarna biru yang menutupi tubuh mungilnya. Lalu mata Elena beralih menatap foto di sebelahnya. Ada gambar seorang anak laki-laki tampan yang menatap kamera sedang mengenakan baju Baseball lengkap dengan topinya. Matanya sangat indah berwarna kecoklatan.


Wanita paruh baya itu terus menatap kedua foto sangat lama, dan akhirnya ia sudah tak mampu menahannya lagi. Air mata itu pun tumpah menyeruak membasahi kedua pipinya . Kerutan-kerutan halus tergambar jelas di wajahnya, Elena menangis. Tangisan yang begitu perih ia rasakan di dadanya. Tangisan yang menggambarkan Penyesalan terlalu menyakitkan untuknya.


Rasa penyesalan terasa seperti obat pahit di dasar tenggorokannya.


Maafkan Aku, Maafkan Ibu, Anakku


I Love you, always love you, My Son


Aku berharap kau tidak pernah bertemu denganku.


Jangan pernah memaafkan Ibu seperti ku.


Elena langsung menutup album itu, ia tidak ingin melanjutkannya lagi. Wanita itu memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Memaksa dirinya untuk tenang, tapi itu sama sekali tidak berhasil.


Akhirnya dapat diketahui, Elena memiliki seorang anak laki-laki selain Anton. Di foto itu, terungkap jelas jika sebenarnya Anton memiliki saudara laki-laki yang entah dimana keberadaannya saat ini. Hanya Elena yang mengetahuinya.


***


The Penthouse, Manhattan


Waktu masih menunjukkan waktu dini hari, Liam berdiri di depan cermin kamar mandi sambil menatap dirinya yang hanya mengenakan celana santainya tergantung rendah.


Pria itu hanya diam, ia terus menatap dirinya dengan ekspresi dingin.


Suasana sunyi malam itu terasa begitu meresap di tiap sudut-sudut ruang. Begitu hening dan pekat.


Kedua tangannya mencengkeram erat tepi wastafel, ada kegelisahan yang masih menghantui di dalam diri Liam saat itu. Otot-otot tubuhnya keras menegang, aliran darahnya terasa memacu kencang mengalir panas.


Kilatan tentang mimpi buruknya tadi tetiba menghujami pikirannya, mulai menguasai jalan pikirannya.


Kegelisahan tampak jelas dari wajahnya saat ia masih mengingat suara itu. Suara jeritan seorang wanita di dalam mimpinya bergema kencang di benaknya.

__ADS_1


Jeritan Wanita yang meminta pertolongan, suara wanita itu tampak kesakitan dan menderita.


Liam menundukkan kepalanya, garis punggungnya tampak tegang. Sangat tegang hingga tergambar jelas pembuluh-pembluh darahnya timbul di permukaan.


Liam sangat serius menanggapi Mimpi itu, walaupun Harumi sudah berusaha menenangkannya tapi itu hanya berlangsung sebentar.


Gelisah dan ketakutan itu timbul kembali, dan kali ini sangat kuat.


Liam perlahan merangkum dan mengingat setiap detail yang dalam ingatannya tentang mimpi itu.


Pria itu masih mengingat ada suara gelas yang pecah, hujan deras di malam hari, jeritan wanita, dan suara benturan keras membuat seseorang terjatuh.


"Liam ?" panggil Harumi heran yang sedetik lalu sudah berdiri menatapnya, dengan wajah yang baru terbangun dari tidur. Rambut hitamnya tergerai dengan gelombang-gelombang halus berhamburan di pundaknya.


Harumi berjalan mendekat. Menatap Liam dengan cemas "Ada apa ?"


Liam sempat sedikit tersentak, butuh waktu beberapa detik untuknya menyadari kehadiran Harumi.


Sorotan matanya seakan masih mencerna apa tepatnya yang sudah membuatnya masih terbangun sekarang.


"Maaf sudah membuatmu terbangun"


"Ada apa Liam ?" Tubuh mungil Harumi yang berdiri di hadapan Liam hanya mengenakan kemeja Pria itu yang tampak kebesaran ditubuhnya, membuat Liam akhirnya melengkungkan kedua sudut bibirnya.


"Why You so Beautiful, Rumi ?"


Sambil menyapu rambut dari wajahnya, Wanita itu menyipitkan mata "Hentikan gombalanmu" pipi Harumi tampak merona.


Pria itu tersenyum.


Sesaat Liam diam hanya menatap Harumi, lalu ia membuka bibirnya kembali "Setelah kita sarapan, aku akan mengantarkanmu ke Apartemen Cathy"


Harumi terkejut dengan jawaban Liam, matanya melebar dan seolah tak percaya. Karena sebelumnya Liam bersikeras melarangnya untuk kembali ke Apartemen Cathy, karena masalah keamanan yang menurutnya sangat berbahaya.


Tapi....


Kenapa dia tiba-tiba berubah pikiran ?


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote

__ADS_1


Thank you 🙏


__ADS_2