
Harumi menutup panggilan dengan perasaan yang bersalah, entahlah rasa bersalah apa itu ?apakah ini patut harus ia teruskan atau berhenti di satu titik dimana semua sudah terlanjur tersakiti.
Hubungan yang menurutnya terlalu melelahkan, menyakiti lebih banyak orang bukanlah hubungan yang akan berakhir baik dimasa depan. Perjuangan yang ia lalui terlalu merintih untuk menampung lebih banyak bara api yang terlalu besar ditanggung oleh mereka.
Harumi menghela napas berat "Scarlett bisakah kita menepi sebentar di sebuah minimarket ?"
Scarlett menoleh cepat ke kursi belakang "Apa Nyonya menginginkan sesuatu saya akan membelikan untuk anda ?"
Dengan tersenyum tipis sambil menggeleng pelan "Its Ok, kau tunggu saja di mobil. Aku bisa sendiri, hanya sebentar."
"Baik Nyonya"
Setelah mengitari jalan raya selama beberapa menit, sopir memberhentikan mobil tepat di depan sebuah minimarket.
Harumi langsung turun dari mobil setelah Scarlett membukakan pintu untuknya.
Ia berjalan menuju minimarket sedangkan Scarlett sang Pengawal Pribadi lebih memilih berdiri di samping mobil sambi terus mengawasi Harumi sampai pintu masuk.
Scarlett menunggu dan terus berdiri mengamati kesekeliling lingkungan itu walaupun pemandangan itu begitu mencolok karena pakaiaannya yang serba hitam mengenakan kacamata hitam mencuri perhatian beberapa pejalan kaki di sekitar area minimarket tersebut.
Tapi, Scarlett sama sekali tidak merasa terganggu dengan hal tersebut karena itu hal yang sudah biasa di lakukannya sebagai Pengawal Pribadi yang memang dilatih untuk hal tersebut.
Walaupun Harumi tidak pernah menginginkan diperlakukan seperti ini, tapi ia tidak bisa mengelak karena semua itu atas perintah Liam. Dalam menjaga dan melindungi hal yang benar-benar sangat dicintainya, Liam begitu overprotektif. Dan Harumi menerimanya tanpa paksaan.
Harumi mendatangi bagian obat-obatan dan meminta seorang karyawan mengambilkannya Aspirin, lalu ia berjalan perlahan menuju lorong minuman dan mengambil sebotol mineral dingin.
Berjalan seorang diri di minimarket sedikit membuatnya lebih bisa bernapas dengan segala hal-hal yang sudah menyesakkan dalam hidupnya. Hal kecil yang bagi orang lain ini mungkin hal biasa tapi sangat menenangkan bagi Harumi. Mengitari lorong-lorong minimarket dengan semua barang-barang yang berwarna, hal yang tidak akan dimengerti orang lain tapi baginya ini sedikit mengobati perasaannya.
Padahal Harumi bisa saja meminta Scarlett melakukannya tapi wanita itu tidak ingin dipandang sebagai majikan manja. Dan Ia benci dengan kata-kata "Majikan" karena baginya ia bukan seseorang yang pantas diperlakukan begitu tinggi.
Aspirin dan sebotol air dibawanya menuju kasir, ketika hanya beberapa kaki lagi untuk membayar belanjaannya.
Sesuatu yang mengagetkan terjadi, seseorang menarik tangannya dari belakang.
Barang yang ditangannya terlepas dan jatuh ke lantai, tubuh Harumi sontak berbalik karena genggaman orang itu begitu kuat.
Orang itu menarik tubuh Harumi, wanita itu langsung refleks menatapnya.
__ADS_1
Saat Harumi melihat sosok yang tengah berdiri dihadapannya sekarang, dan sambil menggenggam lengannya, membuat kedua matanya terbuka lebar.
Napasnya terhenti seketika dan Harumi benar-benar dibuat sangat terkejut.
"A-Anton" ucapnya sedikit gemetar
Pria itu hanya membalas tatapannya tanpa ekspresi, tidak sedikitpun ia mengalihkannya.
Ia tidak merespon apapun dengan keterkejutan Harumi, tangan pria itu masih menggenggam Harumi dengan erat.
Seketika entah dorongan apapun itu, yang sontak menarik tubuh Harumi ke dalam pelukannya.
Anton membawa Harumi yang masih menjadi istrinya tersebut ke dalam tubuhnya dan melingkarkan kedua tangannya. Menguncinya dalam pelukan.
Dengan perasaan tidak percaya, tubuhnya ditarik masuk ke dalam dekapan itu. Semua berjalan begitu cepat.
"Aku Merindukanmu" suara seraknya samar-samar terdengar ditelinga Harumi
...****************...
"Why ?! Why Liam?!"
"Melemparkan dirimu sendiri pada sebuah jurang dalam dan kau pasti akan mati di sana. Ini sama saja dengan bunuh diri"
"Zac, kau tidak pernah tahu bahwa pengorbanan adalah satu-satunya jalan."
"Oh God, she is your brother's wife. Hubungan kalian terlalu beresiko jika terus dipaksakan. Kesalahan orang tua kalian dimasa lalu, akan terus menghantui perjalanan hubunganmu dengan Harumi." Zac menatap sahabatnya dengan iba
"I trust her, i trust my self" jawab Liam singkat
"Lalu bagaimana dengan keluarganya, apa ibunya sudah memberikan restu pada kalian setelah kau mengutarakan semuanya ?!"Zac berubah antusias menunggu jawaban Liam
Ekspresi Liam berubah diam, tatapannya seolah memberikan jawaban tanpa harus ia utarakan panjang lebar.
Sahabatnya tersebut mengangguk perlahan "I Know, melihat ekspresimu seakan semua sudah tergambar jelas. Tidak ada seorang ibu yang akan menyetujui apa yang kalian jalani sekarang dengan begitu mudah."
Liam menyandarkan bahunya di sofa, menarik napas panjang lalu sesaat memejamkan kedua matanya "Ibunya mengajukan satu persyaratan ?"
__ADS_1
Kening Zac langsung mengernyit "Syarat ?"
"Dia ingin aku menjauhi Harumi selama Ayahnya masih dalam perawatan, dan setelah itu ia akan mulai memikirkan keputusan apa yang akan diberikannya"
Liam beberapa kali mengusap keningnya sendiri seakan kepalanya sangat berat untuk ditegakkan.
Tubuhnya menegang, dan wajahnya tampak guratan kecemasan yang memuncak.
"Kau pasti bisa Liam, itu persyaratan yang sangat bijaksana untuk Putrinya dan juga hubungan kalian. Biarkan masalah mereka perlahan-lahan meredam dulu satu per satu. Karena konflik yang mengelilingi kalian terlalu banyak. Ini akan menyiksa semua orang yang ada disekeliling kalian."
Pria itu berdiri dan sedikit menjauh dari Zac, kegusaran tampak jelas dari hembusan napasnya yang berat "Aku tidak bisa menjauhinya." Liam menolak dengan tegas
"Lalu, jika kau menolak dengan keras. Apa itu akan menyelesaikan masalah ? Dengarkan aku, kau bilang pengorbanan adalah satu-satunya jalan. Satu lagi pengorbanan yang harus kau lakukan, yah dengan menyanggupi permintaan ibunya"
Liam bergeming, tidak menyahut. Ia hanya mendengarkan perkataan Zac menyelesaikan ucapannya.
"Kau sudah menyelesaikan satu masalah di Perusahaan dengan Rapat tertutup yang kau pimpin dengan sangat sempurna tadi. Semua Para Dewan Direksi dan Pemegang Saham yang melakukan pertemuan walaupun secara mendadak mulai menaruh kepercayaan kembali padamu. Keluargamu adalah Pendiri dari berbagai Perusahaan Besar di Dunia, dan mereka menaruh kepercayaan besar padamu tentunya bukan tanpa alasan. Ayahmu memilihmu untuk melanjutkan Kinerjanya karena ia percaya padamu. Bukankah ia bisa saja memilih Putera Pertamanya Anton untuk menggantikannya, tapi justru sebaliknya Ia lebih mempercayaimu."
Sorotan mata Liam datar, ia masih tidak merespon dan hanya memilih diam. Tapi ia masih mendengarkan semua ucapan Zac.
Liam dan Zac sedang berada di Ruang Kerja Zac di Seymour Group Architects setelah mereka melakukan Rapat Pertemuan secara tertutup walaupun tidak bertatap muka secara langsung dan hanya dilaksanakan secara Online dengan Para Dewan Direksi dan Pemegang Saham.
Tapi, semua berjalan sangat baik. Liam memimpin pertemuan dengan gaya kepemimpinannya yang sangat Tegas dan berintelektual tinggi dengan semua pengalaman yang dimilikinya dalam berbisnis.
Semua sudah mengakui dengan kecakapan yang dimiliki Liam dalam memimpin semua Perusahaannya. Ia sangat teliti, cerdas sekaligus menarik terutama dalam hal kecerdasannya dalam mengatasi permasalahan rumit di Perusahaan.
Zac banyak belajar tentang hal tersebut terutama dunia baru yang kini dijalananinya.
"Aku harus menemui seseorang." Liam berjalan menuju pintu mengabaikan sahabatnya tersebut
"Who ?" Zac kebingungan dan langsung berdiri
Liam menoleh sebentar dan menyeringai miring "Sudah lama aku tidak bermain-main dengan kematian."
"Whaat ?!!!"
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤