
Pria itu menikmati bahkan selalu lapar akan hasratnya kepada Harumi, Liam tidak pernah seperti ini sebelumnya kepada wanita mana pun.
Dan entah bagaimana Harumi adalah bentuk nyata seutuhan jiwa Liam yang tidak mungkin bisa terlepas dari tubuhnya. Harumi segalanya untuk Pria itu, Liam sudah terperangkap dalam hubungan yang sebelumnya tak pernah ia duga.
Lengan kuat pria itu bergerak menarik wanitanya kembali dalam pelukannya, melingkar dengan posesif di pinggul ramping Harumi. Menciumi pundak wanita itu dengan lembut, membisikkan hal-hal nakal di telinganya yang membuat Harumi tersenyum kecil.
"Aku tidak akan membiarkanmu tertidur nyenyak malam ini, sayang"
"Sudah malam, kau harus berisitirahat" Harumi berbalik dan bergeser memberi sedikit jarak bagi mereka
"Tidak," tegas pria itu
Sorot mata Liam berubah, ia menyadari ada perubahan dari sikap dan pandangan Harumi "Ada apa ?"
"Aku akan tidur di Ruang Tamu, agar kau bisa beristirahat" balas Harumi tak sedikit pun memandang wajah pria itu
Jawaban itu seolah hentakan keras menghantam dada Liam, malam yang berawal menggairahkan tetiba suasana berubah seketika. Dan entah bagaimana, Harumi merasa jauh lebih sadar diri hanya dalam hitungan menit.
Seolah merasakan kebingungannya, Liam mendorongnya menelentang dan meluncurkan tangan di perut Harumi lalu terus ke lekuk pinggulnya dengan gerakan yang jelas-jelas posesif "Aku tidak suka jawabanmu, Kau tidak perlu ke Ruang Tamu"
Harumi merasakan kerlip keresahan "Kau sudah mendapatkan yang kau inginkan, apalagi yang kau harapkan dariku"
"Kenapa kau tiba-tiba berubah, apa yang sebenarnya terjadi !" mata Liam membesar terpaku pada satu arah yaitu Mata Harumi
Jantung Harumi berdetak tak karuan di dadanya "Aku tidak...tidak ingin ini terlalu jauh"
Jantungnya berdebar kencang dan Harumi membuka mata untuk mendapati pria itu menatapnya dengan sorot gelap suram yang selalu membuatnya berpikir tentang bahaya.
"Kau milikku" kata Liam dengan suara berat, bergeser sedikit sehingga mulutnya melayang hanya senapas jauhnya dari mulut Harumi. "Ingat itu"
Dia menyadarkan dahi di pundak Harumi, kemudian berguling menelentang, menarik Harumi bersamanya.
"Bukan saja kau takkan meninggalkan Penthouse ini" gumam Liam, menyibak rambut hitam Harumi menjauh dari wajahnya dengan lembut "tapi kau juga tidak bakal meninggalkan tempat tidurku. Aku menahanmu di sini."
Pengar oleh kebahagiaan, dengan tubuh masih mendengung oleh Keterampilan percintaan dan kegigihan pria itu, Harumi tersenyum lemah. "Aku Wanita yang sudah Menikah, Kau tahu itu"
Entah apa yang masih terngiang-ngiang dalam pikiran wanita itu, sampai tiap ucapan yang keluar dari bibirnya seolah ingin menghancurkan dirinya, tentu saja Harumi sudah hampir dibuat tidak waras dengan kehidupan yang dijalaninya sekarang.
__ADS_1
Harumi sedang berada dipersimpangan dengan berbagai arah jalan yang harus dia pilih, konsekuensi yang harus dihadapinya sebagai Istri yang berselingkuh, di cap sebagai wanita Pengkhianat, merusak Pernikahannya. Semua itu sudah menjadi alunan yang akan terus di terimanya seumur hidup Harumi.
Liam mengernyit samar, seolah-olah dia membenci pengingat akan perbedaan mereka. Liam sangat mengerti akan posisi Harumi yang masih menikah, tapi mendengar perkataan wanita itu seakan mengingatkannya kembali, Dia sangat tidak menyukai hal tersebut.
Liam memandang Harumi sebagai Wanitanya, Miliknya, mendengar kata-kata konyol yang di ucapkan Harumi, itu membuatnya sedikit geram, karena ia menganggap seolah Harumi masih mengakui keberadaan Anton di antara mereka.
Disaat Liam ingin membuka bibirnya, suara getaran terdengar dari ponsel milik Harumi di nakas.
Sebuah pesan singkat masuk, Harumi memegang tepi selimut yang menutupinya dan segera bergerak bangun mengambil ponselnya. Tapi...
Liam bergerak lebih dulu dan mengambil ponsel tersebut dengan cepat sebelum Harumi.
Wanita itu terkejut dan terhentak saat tubuh Liam bergeser mendahuluinya. "Liam, berikan padaku !" tegasnya
Ponsel itu sudah dalam genggamannya, ia menyoroti pesan masuk yang ternotifikasi di layar ponsel Harumi. Pria itu seolah tak memperdulikan permintaan Harumi.
Ekspresi pria itu berubah sangat berbahaya, tampak dari pantulan cahaya ponsel tersebut ke wajahnya. Sorot matanya tajam, bergerak terus kemudian salah satu sudut bibirnya terangkat.
"Liam, kumohon berikan ponsel itu" Harumi berusaha meraih dengan pelan
Lalu, Pria itu menoleh perlahan ke arah Harumi memandanginya tajam dan memberikan ponsel tersebut dengan santai. Dia hanya diam, lalu bergerak bangun, berdiri meninggalkan Harumi tak sepatah katapun di tempat tidur.
Ponsel yang kini sudah di genggaman Harumi, membuat wanita itu ikut terdiam, hawa dingin seolah menyusuri tubuh nya sangat menusuk-nusuk ke pori-pori wanita itu.
Ada apa dengan Liam ? Dia tidak mengatakan apapun, berlalu begitu saja.
Helaan napas Harumi menunjukkan dengan jelas bahwa ini bukan pilihannya.
Ketegangan tampak dari punggung Liam saat itu, ia berjalan keluar tak ada keraguan sedikit pun, ekspresinya datar. Ia menutup rapat bibirnya.
Harumi beralih menatap layar ponselnya, ia terkejut inikah yang membuat tiba-tiba Liam berubah.
Itu adalah Sebuah pesan masuk dari Anton,
Aku sangat merindukanmu, Sayang
Pulanglah, Kita akan memperbaiki semuanya lagi bersama.
__ADS_1
Kumohon kembalilah, Istriku
Aku Mencintaimu
***
Seymour Group Arshitecture Company, Bristol
Pukul 7.15 pm
Anton masih menghabiskan waktunya di Ruang kerjanya di kantor walaupun itu sudah diluar jam kerjanya dan sebagian besar para karyawan sudah pulang, ia masih sibuk dengan segala rutinitas pekerjaan yang di hadapinya hampir setiap hari sebagai Pimpinan di perusahaan tersebut.
Sorot matanya tak lelah menatap layar laptopnya, dengan berbagai lembaran berkas menghiasi mejanya. Sesekali ia menerima panggilan masuk di ponselnya dari beberapa rekan kerjanya.
Tampilan Anton tampak santai, ia melepas jas dan dasinya yang sudah dilonggarkan dari tekuk lehernya.
Lengan kemejanya digulung sampai siku akan memudahkannya bekerja lebih rileks, lengan kuat Anton tak kalah seksi dari Liam. Ia memiliki tubuh yang tinggi dan Atletis, walaupun usia Anton lebih dari Liam, tapi ia tampak lebih Mature dan mapan.
Tak lama Sekretaris kepercayaannya mengetuk pintu sebentar lalu masuk ke ruangan Anton sambil membawa tiga map hitam ditangannya.
Ternyata, Daniel belum pulang ia masih setia menemani atasannya di kantor sampai urusan pekerjaan mereka benar-benar selesai.
"Anda sudah membuka email yang baru masuk ?" ucap Daniel seraya menyerahkan map tersebut dari tangannya kepada Anton
Anton menatap bingung "Email ?" lalu meraih map yang diberikan Daniel dan menandatangi beberapa berkas di dalamnya sambil membacanya dengan seksama kemudian menatap Sekretarisnya kembali
Anton segera membuka email tersebut "sebuah undangan Acara Amal ?" alisnya mengernyit samar
"waah, jarang-jarang kita menerima undangan Sebuah Acara Amal" sahut Daniel santai yang masih berdiri dihadapan Anton "dimana ?"
"New York, minggu depan"
Pandangan Anton tetiba beralih ke ponselnya, sorot matanya menerawang, memikirkan sesuatu hal yang ingin direncanakannya.
Pikirannya seolah teralihkan dengan hatinya mulai berirama entah dalam bentuk apapun itu, tapi ini seperti sebuah Rencana baik yang ingin ia segera lakukan.
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you 💗