
"aku tidak akan membiarkan itu terjadi" Elena tidak mampu menutupi kecemasannya, membayangkan perkataan Luciano yang sangat mengganggu pikirannya
"William bukan pria yang mudah menyerah, jika kau mengungkap semua dihadapannya. Bagaimana jika dia tidak akan menyerahkan Harumi begitu saja. Aku ragu pertemuan kalian bisa menyelesaikan masalah ini."
"Dia harus tahu posisinya, Liam dan Harumi tidak memiliki ikatan apapun, berbeda Harumi dengan Anton mereka masih terikat Pernikahan. Dan berdasarkan Hukum Resmi, Harumi harus kembali kepada Suaminya, bukan memilih selingkuhannya." nadanya tegas
Dada Elena pedih, berulang kali ia merasakan jantungnya berdebar begitu kencang. Wajahnya memucat, kondisi Elena semenjak bertemu Anita memang semakin menurun. Dokter yang memeriksanya melarang keras, agar Elena tidak diperbolehkan Stress yang berlebihan. Karena akan semakin memperburuk kondisi kesehatannya.
"Bagaimanapun juga Anthony dan William adalah kedua Puteramu, mencintai wanita yang sama tidaklah mudah. Seperti halnya masa lalu aku dan Roberto, entah kenapa kau lebih memilih adikku padahal kau sudah mengetahui ancaman dan resiko apa yang akan kauhadapi dengannya. Tapi, kau tetap memilihnya. Mungkin itu juga yang sedang dirasakan Harumi, wanita itu memilih Liam padahal ia sudah merasakan ada jurang begitu dalam sedang menunggunya. Tapi, Harumi tetap memilih bersama Liam. Kau mengerti situasi sekarang karena kita juga pernah mengalaminya, berpikirlah dengan baik. Aku harap pertemuanmu dengannya, setidaknya memberi jalan keluar."
Kata demi kata dari Luciano yang terdengar di indera pendengarannya, mengusik Elena. Wanita paruh baya itu tidak pernah menyangka akan mengalami peristiwa yang sama dengan masa lalunya dulu.
Ini seolah hukuman yang harus dilaluinya, hukuman yang semakin berat untuk dijalaninya karena perbuatan di masa lalu.
"aku menyayangi kedua anakku, mereka lahir dari rahimku bukan untuk hidup agar saling menghancurkan. Aku pernah melakukan kesalahan tapi bukan berarti mereka yang harus menanggung konsekuensinya. Dan satu hal lagi, TIDAK AKAN KUBIARKAN ANITA MENYAKITI ORANG-ORANG YANG TIDAK BERSALAH hanya untuk kepentingannya."
***
Mother Care Hospital, Atherton, California
Mobil mewah berwarna hitam berhenti tepat di depan pintu masuk.
"Scarlett, kumohon rahasiakan hal ini dari Liam. Jangan memberitahunya jika kita ke sini." Harumi yang duduk di kursi belakang, dengan suara pelan menatap Scarlett sang pengawal Pribadinya
Scarlett adalah seorang wanita Pengawal Pribadi Harumi yang khusus di perintahkan Liam untuk menemaninya kemanapun, sekaligus sebagai Sopir Pribadinya bahkan semenjak Harumi pernah menginap di Penthouse. Dan kini, Scarlett kembali diperintahkan di Atherton di kediaman pribadi Liam dan Harumi.
Sempat diam sejenak, Scarlett akhirnya mengangguk ragu-ragu "Jika Mr. Seymour menanyakan keberadaan anda, apa yang harus saya jawab Nyonya ?"
Harumi menarik napas "Katakan saja, kita mampir ke Swalayan atau apapun itu, asal jangan katakan aku ke sini. Aku hanya tidak ingin dia khawatir."
"Baik, Nyonya." Scarlett segera turun dari mobil dan segera membukakan pintu mobil untuk Harumi.
Tampak guratan cemas mewarnai wajah cantiknya ketika ia mulai melangkahkan kaki memasuki pintu utama Rumah Sakit itu. Harumi merasakan atmosfir tegang didalam tubuhnya, tubuhnya sedikit gemetar tapi ia berusaha untuk tetap bersikap tenang.
Mungkin bagi orang lain, pergi ke Rumah Sakit adalah hal yang biasa. Tapi, tidak bagi Harumi. Ada Trauma yang sangat kuat masih tersisa di benaknya, semenjak Kecelakaan itu. Harumi tidak kuat jika harus melihat suasana bahkan mencium aroma Rumah Sakit. Seakan kejadian mengerikan itu berusaha kembali menghantuinya.
Dengan sejenak memenjamkan kedua matanya, wanita itu menenangkan perasaan dan pikirannya. Lalu, ia melangkah masuk.
Tekadnya bulat, karena ini adalah waktu yang seharusnya ia melawan trauma menyakitkan itu. Keberanian adalah satu-satunya jalan agar ia keluar dari lubang hitam tiga tahun lalu dan memulai lagi yang baru. Menghapus memory mengerikan itu satu demi satu, agar ia mampu menata kembali kehidupannya.
***
Coffee-in Cafe, Los Angeles
"Well...well...senang akhirnya bisa bertemu dengan anda." seorang pria berpakaian rapi dengan setelan kemeja coklat dengan celana berbahan kain. Menghampiri salah satu meja.
__ADS_1
Seseorang yang tengah duduk, lalu berdiri menyambut pria yang menghampiri tersebut. Seolah-olah ia sedang menunggu kedatangannya. "Apa kabar, Mr. Walls ?"
"Good, very good. Mr. Anton Riandra, right ?" ucapnya dengan menyeringai sambil menatap santai. " Noah, panggil saja aku Noah."
Pria yang sedang duduk menyambut kedatangan pria tersebut adalah Anton. "Baik, Noah." Anton membalas dengan senyuman lalu mempersilakan pria itu duduk.
Tidak lama, secangkir kopi diletakkan dimeja dibawa oleh seorang pelayan. Secangkir kopi panas yang aromanya tercium hangat dan menyegarkan.
Noah mengambil cangkir kopinya, menikmatinya lalu meletakkannya kembali dan beralih menatap Anton "Wow, kopi yang enak."
"Kopi disini memang sangat enak, anda harus lebih sering kemari." ucapnya santai
Noah tetiba tertawa, dan mengerutkan keningnya "Jangan berbicara formal denganku, aku ingin kita lebih santai."
"Ok"
Noah yang duduk santai, sambil menyilangkan kedua kakinya. Sempat diam sejenak, lalu membuka bibirnya kembali "aku tidak perlu membahas panjang lebar, karena kita sudah membahasnya lewat email. Jadi, kuharap pertemuan kita adalah sebuah kesepakatan."
Anton menyeringai miring "Kenapa kau ingin bekerja sama denganku ?"
Sambil menatap cangkir kopi dihadapannya, tangannya memain-mainkan tepi cangkir sambil sekilas tersenyum "Liam terlalu ceroboh karena menyianyiakan orang sepertimu. Kau sangat berpotensi. Dan aku sangat menghargai potensi itu."
Mata Anton menyipit "Aku sudah paham dengan proyek yang kau tawarkan, tapi bukankah kau bilang Liam adalah sahabatmu. Kenapa kau ingin bersaing dengannya ?"
"Apa maksudmu ?"
"Kau paham maksudku, apa aku perlu menjawabnya. Alasan Liam memecatmu ?"
Ekspresi Anton berubah, ia terkejut "Siapa kau sebenarnya ?"
Noah tidak terkejut dengan reaksi Anton, ia menyandarkan bahunya di kursi dengan santai "anggap saja aku adalah senjata untuk mu berperang."
Bola mata Anton melebar, ia tidak menyangka bahwa pertemuannya hari itu adalah sebuah konsekuensi terbesar yang akan dihadapinya "apa tujuanmu dengan Liam sebenarnya ?"
"aku tidak ingin mengulang perkataanku lagi, seharusnya kau sudah paham. Apa yang kau alami tidak jauh berbeda denganku, hanya saja wanita itu masih bisa kau rebut kembali. Sedangkan aku tidak bisa."
Anton dibuat semakin bertanya-tanya dengan teka teki yang sedang di mainkan Noah "Apa semua ini berhubungan dengan Balas Dendam ?"
"Mungkin saja, tapi bukankah permainan ini akan jauh lebih menyenangkan. Jika kita bekerja sama. Bergabunglah !" Noah mengulurkan tangannya
Pikiran Anton ketika itu bercabang, banyak hal yang memenuhi otaknya. Entah, hal mana yang benar dan yang salah semua tampak sama di hadapannya.
Anton memang sudah bertekad ingin membalas semua yang sudah diterimanya dari Liam, membalas semua perbuatan pria itu kepadanya. Dan, Noah hadir disaat semua mulai kacau sebagai jembatan untuknya kembali merebut Harumi dan membalaskan dendamnya.
Tapi, disisi lain. Anton merasa belum mempercayai penuh pada pria ini. Noah Walls yang seketika hadir seakan memiliki rencana lain tersembunyi yang sama sekali tidak diketahui Anton.
__ADS_1
Dan itu cukup, membuatnya harus lebih berhati-hati kepadanya.
Anton sempat ragu, lalu pada akhirnya ia menyambut jabatan tangan Noah "Ok, We're Deal"
Tidak ada paksaan apapun, tapi baginya ini mungkin jalan yang bisa diandalkannya untuk saat ini. Yah, untuk saat ini setidaknya untuk memberi pelajaran pada Liam.
***
Setelah hampir sejam menjalani pemeriksaan di Laboratorium, Harumi yang sedang merapikan pakaiannya berjalan menuju tempat duduk.
"Aku sudah menunggu-nunggu kedatangan anda Mrs. Harumi, Dr.Lynn menghubungiku agar memantau anda." Seorang dokter wanita berjalan menuju kursinya sambil meletakkan beberapa berkas di mejanya.
Harumi tersenyum dan membalas tatapannya "seharusnya setelah tiba di New York, aku sudah menemui Dokter. Tapi, tidak mudah bagiku."
"Yah, saya mengerti. Dr. Lynn sudah menceritakan panjang lebar mengenai kejadian yang anda alami. Dan saya sangat prihatin dengan apa yang anda alami. Memang tidak mudah melaluinya, karena itu akan berdampak pada psikis anda."
Harumi berusaha tidak mengingat kembali kejadian malam itu, tapi tidak mungkin. Semua akan terus mengikutinya "Saya sedang berjuang keras untuk bisa melawan trauma itu. Walaupun sangat tersiksa jika harus mengingatnya"
"Saya berharap anda akan menjalani kehidupan yang lebih baik lagi, lebih bahagia."
Harumi mengangguk pelan "Terimakasih, Dok"
"Dan satu hal penting lagi, yang harus saya sampaikan." Dokter itu menarik napas dalam "Dari hasil pemeriksaan, Kista Endometriosis yang bersarang di indung telur anda sudah semakin membesar."
Harumi mengernyit "K-kista ?"
Sambil membaca beberapa berkas ditangannya "Saya sudah menerima salinan dokumen medis dari Dr. Lynn mengenai perkembangan kesehatan anda semenjak Kecelakaan itu. Mungkin anda sudah dijelaskan sebelumnya, bahwa salah satu indung telur anda terpaksa diangkat karena mengalami kerusakan yang sangat parah setelah anda mengalami pendarahan yang sangat berbahaya. Dan menyisakan satu indung telur di dalam rahim anda yang berukuran tidak normal dan kista sudah mulai ada walaupun tidak sebesar sekarang. Itulah sebabnya kenapa Dr.Lynn mengatakan kesempatan anda untuk bisa hamil sangat kecil. Tapi, sekali lagi bukan berarti kesempatan itu tidak ada."
Dengan suara yang mulai gemetar, Harumi bersikeras meminta penjelasan lebih rinci dengan dokter tersebut "Kumohon, dok. Jelaskan padaku."
Dokter yang sudah puluhan tahun berkerja dalam dunia medis tersebut berusaha bersikap tenang walaupun ia sadar apa yang akan disampaikannya nanti akan sangat berat "Kista Endometriosis mengalami pertumbuhan yang cepat di rahim anda, obat-obatan yang sudah anda konsumsi hanya untuk menghilangkan rasa sakit dan memperlambat pertumbuhannya. Jika, ini dibiarkan dan tidak segera ditindaklanjuti maka Kista ini akan berubah ke tahap selanjutnya"
Pernyataan Dokter itu mengejutkannya "T-tahap apa ,dok ?"
"Kanker Ovarium"
Harumi duduk, membeku dalam keheningan.
Kanker ?
#Jangan lupa vote ya
Dukung author dengan Like, koment dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1