
Harumi menenangkan napas dan memelankan debaran jantungnya sampai ke ritme yang mendekati normal.
Wanita itu terus memperhatikan kemahiran Liam dalam menggunakan senjata di genggamannya "Apa harus menyelesaikan ini dengan senjata ?" Harumi mengamatinya lama
Harumi berani bertaruh pria itu mampu membuat takut semua orang yang dia temui.
"Mereka bukanlah orang yang mudah diajak kompromi, Yah, mungkin ini bisa dijadikan alat untuk mempermudah urusan mereka" suara serak Liam dengan tegas "Kau ingin aku bersikap ramah ?" suaranya agak mengejek
Harumi memaksakan diri untuk mengunci tatapan pria itu "T-tapi ... kita masih belum bisa memastikan apa mereka akan berbuat jahat kepada kita atau tidak ?"
Liam bergerak ke arahnya dan, secara naluriah , Harumi mendorong dirinya mundur "Kita akan membuktikannya"
Harumi duduk terpaku, ia merasakan debaran jantungnya hanya bisa bertahan sebentar untuk tenang, kini pemicu itu kembali menyeruak menghantam debaran semakin maksimal, dan wanita itu mengedarkan pandangan bahwa sekitar parkiran tersebut ada beberapa warga kota yang singgah di Mini Market itu.
"Selain kita masih ada beberapa orang yang juga ada di dalam Mini Market, Apa kau ingin menimbulkan keributan di sini ?"
Pria itu mengamatinya dengan seksama "I asking You again, You Trust Me ?"
Liam tak membutuhkan waktu lama untuk mengetahui Harumi saat ini sedang panik dan takut.
Sambil berusaha tetap tenang, Harumi mengangguk pelan "Yah"
"Kita akan masuk ke sana, kumohon bersikaplah normal. Setelah kita keluar dari mobil, jangan menoleh ke arah Van itu. Ok ?" titah Liam seraya menyembunyikan Pistol yang sudah berisi peluru tersebut di balik kemejanya.
Harumi bisa melihat bahwa Liam Seymour tidak akan menyerah atau berkompromi. Tidak ada Pelunakan, tidak kelembutan, dan tidak ada jejak Kehangatan atau kemanusiaan di balik sorot matanya sekarang.
Selama sesaat yang menakutkan, gelombang kepanikan yang sangat akrab mulai menelannya dan ia menghunjamkan kuku keras-keras ke telapak tangannya lalu memalingkan wajah, memandangi Mini Market tersebut selama beberapa saat sementara berusaha menenangkan diri.
Kau bisa melakukan ini, Rumi. Katanya dalam hati dengan putus asa.
Harumi menghabiskan sepuluh detik yang berharga untuk menenangkan diri, dan baru setelahnya ia berbicara "Ok, We can do this !!" katanya tenang, berjuang mengatasi suasana yang tegang. "Dan Aku juga akan melindungimu, Liam"
Pria itu menyunggingkan senyum menawan "Yeah That's My Girl !"
Liam mulai membuka pintu, Harumi mengikuti pria itu, dengan hati-hati membuka dan menutup kembali.
__ADS_1
Harumi berusaha menahan dirinya untuk tidak celingukan, mengikuti arahan yang dikatakan Liam sebelumnya. Sampai-sampai butuh waktu sejenak untuk menyadari sekelilingnya.
Terik matahari mulai berada pada puncaknya, Harumi menyipitkan kedua sorot matanya berjalan beriringan, sedetik kemudian Liam meraih tangan Harumi membawanya lebih dekat. Menggandeng Wanita itu dalam setiap langkahnya.
Entah kenapa, Itu menjadi usaha terbaik yang dilakukan pria itu untuk membuat wanitanya merasa tenang dan tentunya Harumi merasa lebih Aman. Dan itu berhasil.
Pada saat lain, Harumi terpesona, tampak jelas dari bahasa tubuhnya yang mulai nyaman walaupun dia tahu bahaya dapat menyerang mereka kapan pun dari belakang.
Genggaman hangat Liam di tangan Harumi, mampu dengan mudah mencairkan ketegangan yang menguasi wanita itu saat ini.
Bahkan dari balik kemeja pria tampan ini ada senjata yang kapan pun bisa membahayakan orang lain dan menciptakan pertumpahan darah bagi mereka. Tapi...Harumi sudah tidak peduli, dia ingin melewati semua bahaya ini, semua ancaman dan kekacauan apapun bersama Liam, pria yang sedang menggenggam tangan Harumi sekarang ini.
Karena aku mempercayaimu, Liam.
Liam mendorong pintu kaca memasuki Mini market, mereka berhasil melewati area parkiran dengan bersikap sangat normal layaknya seperti pengunjung lainnya walaupun bahaya sedang mengawasi mereka saat itu.
Liam menatap Harumi memberi isyarat kepadanya, wanita itu berjalan menuju area minuman ringan sambil pandangannya terus melihat kondisi sekelilingnya.
Di dalam tidak terlalu banyak pengunjung, Suasana Mini Market itu cukup tenang hanya beberapa orang di area makanan dan minuman, dan beberapa antrian di kasir.
Saat pandangannya fokus pada sekeliling, Harumi berhenti pada satu area, ia teralihkan pada area Rak pajangan bunga di Mini Market tersebut, konsentrasinya sejenak buyar. Harumi merasakan secercah kerinduan akan dirinya yang dulu, Ya Tuhan begitu cepatnya roda kehidupan Harumi berputar hanya dalam waktu yang sangat singkat.
Suaminya
Seakan itu membuka lebih banyak sesuatu yang begitu jelas dalam pikiran Harumi.
Harumi mengingatkan diri sendiri, Ini adalah buah dari semua keputusannya, situasi yang dihadapinya sekarang adalah pilihannya, pilihan Harumi tanpa paksaan dari siapapun. Dan tentu saja, kehidupannya sekarang tidak akan pernah sama seperti dulu lagi, tidak akan pernah ketika Liam ada di sisinya.
Ketika Harumi akan memutar tubuhnya, Liam sudah berada di samping wanita itu "Are you Ok ?"lirih Liam mengambil sekotak sereal di tangannya.
Harumi memandangi sambil mengangkat kedua sudut bibirnya "Sereal ?" wanita itu terkekeh
"Kau mengejekku ?" mata pria itu disipitkan. "Kau puas ?"
Tentu saja, ini kesenangan kecil dari semua ketegangan yang dirasakan Harumi jika harus di hadapkan kepada pria itu, selain ketampanan, kekayaan, memasak, senjata dan satu lagi meihatnya menggenggam sereal untuk anak-anak.
__ADS_1
"Liam Seymour seorang Miliuner menyukai Sereal untuk anak-anak ?" Harumi mengangkat alis dengan gaya mengejek.
Suara pintu bergeser mengalihkan pandangan Liam, sorotan mata pria itu seketika berubah.
Dua orang pria bertubuh tinggi dan kekar memasuki area Mini Market, penampilan mereka cukup santai, sorot matanya sangat tajam, salah satu dari kedua pria tersebut langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling area Mini Market dengan mencurigakan. Ia memandangi seolah berusaha mengenali satu per satu para pengunjung yang ada disitu.
Keduanya lalu berjalan ke arah yang terpisah, seorang pria yang satunya lagi memiliki rambut setekuk leher memindai tiap area sambil mengambil sekaleng bir dari lemari pendingin.
Harumi bisa merasakan ada yang tidak beres dari kedua pria yang baru memasuki Mini Market tersebut, sesekali ia menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya yang sudah berkeringat, tentu saja, ini membuat Harumi sangat gugup.
"Don't Panic" bisik Liam yang masih bisa bersikap tenang. Bahkan tidak ada ketakutan dalam dirinya.
Pandangan Liam sesekali melirik kedua pria Asing tersebut dari tepi rak makanan ringan dan tetap menyembunyikan sebagian wajahnya, sambil berjalan menyusuri area Rak satu per satu.
"Apa mereka pemilik Van itu ?" bisik Harumi dengan sangat hati-hati
Liam mengangguk.
"bagaimana kau tahu ?" Harumi menelan ludah
"Karena itu, aku menghampirimu, karena sebelumnya aku melihat mereka turun dari Van Putih itu."
Ya Tuhan
Liam menarik lengan Harumi, tak sedikit pun wanita itu berani melihat ke sekeliling kecuali punggung Liam yang berjalan di depannya.
Harumi tidak memiliki pilihan apapun selain menuruti Liam.
Rasa takut yang membekukan menggumpal di dalam dada Harumi, jenis teror yang tidak pernah dia rasakan sebelumnya. Perasaan itu menyelinap ke dalam nadinya, membuat darahnya membeku dan tubuhnya terpaku.
Sepintas Harumi melihat ke salah satu pria mencurigakan itu masih berdiri di depan lemari pendingin sedang meminum sekaleng Bir dengan tak henti matanya terus menyorot dari tepi kaleng bir yang diteguknya.
Kedua sorot matanya sangat tajam, Harumi bisa merasakan Pria Asing itu mulai mengawasi mereka, sepintas Harumi berusaha sangat hati-hati melirik pada sosok Pria itu dan mata wanita itu cukup tajam untuk menemukan ada bekas luka cukup jelas di wajah bagian kanannya, dan sebuah tato di leher kirinya.
# Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤