Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 79 Perlahan Aku Mengerti


__ADS_3

Suasana saat itu semakin memanas, Liam tak berhenti di situ saja. Dia menggelindingkan bola panas itu kembali ke arah Anita yang hampir tak kuasa berdiri dengan sempurna.


"Tidak ada salahnya jika kita melakukan Tes DNA, bukan ?" seringai kecil tergambar di wajah Liam tanpa belas kasihan seraya melangkah semakin mendekati Anita.


Raut wajah wanita itu tak ubahnya seperti seseorang yang sudah di lemparkan koto**n ke wajahnya, tentu saja merasa Terhina, sebagai seorang ibu dia tak memiliki harga diri dihadapan Putera yang sangat di banggakannya selama ini, karena sudah tidak menganggapnya lagi sebagai ibu.


"Kenapa kau jadi seperti ini, Liam ? aku adalah ibumu, bukan Wanita itu !!! " balas keras Anita, dengan sisa kekuatan yang dimilikinya untuk tetap bertahan berusaha terus meyakinkan Liam.


Masih dengan pendiriannya, Liam tidak Gentar sedikit pun walau sudah mendengar jawaban Anita "Kita buktikan nanti, apapun hasilnya aku berharap tidak ada lagi Rahasia."


Liam berjalan santai dengan wajah datar tanpa ekspresi apapun, melangkah kan kakinya meninggalkan Anita yang berdiri membeku. Saat pria itu akan meraih gagang pintu, Anita buka suara "Suatu hari nanti kau akan mengerti perasaan Mama, anakku! Jika kau sudah merasakan bagaimana sakitnya kehilangan seseorang yang Sangat kau cintai." bulir kilatan mengalir dari pelupuk mata wanita itu, hanya melihat punggung Puteranya dari belakang Dia merasakan bagaimana dalamnya rasa sayangnya pada Liam sebagai satu-satunya anak lelaki yang di besarkannya dengan penuh kasih sayang walau banyak kekurangan pada dirinya.


Liam sempat menghentikan sejenak kakinya tapi tak menoleh sedikit pun, kata-kata yang dilemparkan sang Ibu, bukan sesuatu yang berpengaruh besar bisa mengubah pendiriannya untuk tetap terus mencari Kebenaran itu.


Pria itu melanjutkan membuka pintu, tanpa pembalasan apapun yang terlontar dari bibirnya.


***


Penthouse, Manhattan


23.17 pm


Hujan turun gerimis malam itu sejak 1jam lalu, suara pintu terbuka pelan memecah keheningan dan dinginnya malam di Penthouse tersebut. Lampu-lampu hias berpijar dengan remang saat malam menghiasi tiap sudut ruangan, dan suara langkah kaki dengan sedikit hentakan sepatu memasuki bagian Ruang tamu dengan hati-hati menyusuri ruangan demi ruangan.


Tentu saja, suara itu bersumber dari seorang pria yang tak asing yaitu Liam baru tiba setelah menyelesaikan tugas-tugas pekerjaannya hari ini, wajahnya tidak tampak lelah sedikit pun seolah-olah dia sudah terbiasa dengan rutinitas padat seperti ini.

__ADS_1


Pakaiannya pun masih rapi, masih sama seperti saat ia berangkat tadi. Pria itu menatap menyusuri ruangan yang dilewatinya, kedua matanya terjaga menduga-duga dengan apa yang akan dilihatnya. Sorot matanya mencari-cari sosok yang sangat ingin ditemuinya setelah seharian ia berada di luar. Sosok yang selalu di rindukannya bahkan belum genap sehari ia tak bertemu, tapi debaran kerinduan itu tak hentinya mengoyak diri Liam.


Di Dapur, Ruang Makan, Ruang TV, Liam tidak menemukan Harumi. Pria itu menyimpulkan bahwa dengan keadaan yang begitu hening, Harumi pasti sudah tertidur di kamar.


Ternyata memang benar, wanita itu sudah tidur sangat damai di ranjang kamar tidur mereka sesaat Liam membuka pintu dan sangat hati-hati menggeser daun pintu agar Harumi tidak terbangun.


Dengan tersenyum kecil Liam mengamati Harumi dari seberang ranjang itu, Ya Tuhan, ingin sekali Liam melemparkan dirinya ke sisi wanita itu dan memeluknya dengan erat, membangunkannya membawanya dalam interaksi yang lebih hangat dalam dinginnya malam itu.


Tentu saja, Liam sudah sangat tergila-gila dengan Harumi, wanita mungil berkulit putih, dengan tubuh sangat polos di balut gaun tidur tipis berbahan sutera berwarna merah.


Sangat seksi, menggoda dan tentu saja sesuatu yang begitu panas terus menjalar kini sudah bangkit sangat kuat di diri Liam bahkan ketika wanita itu masih memenjamkan matanya, rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai di atas bantal tidurnya, sebagian helaian poni lembut menyapu pelipis mata dan pipinya. Yang membuat Liam makin memanas adalah ketika Harumi sesekali menggeliat dan sedikit mendesah dalam tidurnya.


Pria itu harus menyediakan kekuatan ekstra untuk bisa menahan diri, karena tidak mudah baginya jika membiarkan kondisi seperti ini terus menerus.


Karena Liam ingin menguasi Harumi sepenuhnya, dan memiliki wanita itu keseluruhan.


Liam berjalan menuju Kamar Mandi, Pintu kamar mandi tidak berderit saat di buka seraya melepas dasi yang sudah seharian hampir menyiksanya. Dan melepaskan seluruh pakaian yang dikenakannya.


Ia menggeser pintu kaca pancuran. Liam mulai membersihkan dirinya, air hangat pancuran dari atas jatuh mengalir ke tubuh maskulin pria itu, lekukan otot-otot keras dari lengan, dada, tangannya sampai kepada perut ramping berkotak-kotak tampak membuat Liam sangat rileks.


Suara aliran air pancuran di kamar mandi, ternyata tak sengaja membangunkan Harumi. Kelopak matanya terbuka pelan, bulumata hitamnya yang pankanh terangkat dan berusaha mengumpulkan serpihan pikiran-pikiran yang sempat melayang-layang dalam tidurnya mencari-cari sumber suara itu.


Tapi, wanita itu yakin bahwa adanya kehadiran Liam yang sudah pulang.


Harumi mulai bangkit dari ranjang, melangkah menuju Kamar mandi sambil sesekali mengusap satu per satu matanya, tampak bahwa wanita itu sudah lebih awal tertidur.

__ADS_1


Dia mendekati sedikit bias cahaya lampu keluar dari pintu kamar mandi yang sebagian terbuka.


Entah apa yang meracuni dalam pikiran Harumi hingga wanita itu berani menuju kamar mandi yang diketahuinya ada Liam di dalam itu.


Lalu, hanya beberapa kaki lagi dari ambang pintu. Langkah kakinya terhenti, dia mengusap-usap wajahnya, seolah tak percaya dengan apa yang akan dilakukannya sekarang.


Ya Tuhan akan tampak bodoh jika sampai Liam memergokinya ingin masuk ke dalam.


"Apa aku sudah gila ?" lirihnya,


Baru beberapa detik Harumi berbalik ingin kembali, ia tak menyadari suara pancuran itu sudah berhenti. Dan selang sebentar Liam keluar hanya mengenakan handuk putih digulung rendah menutupi bagian bawah tubuhnya.


Tubuh maskulinnya terlihat jelas hampir semua lekukan otot-otot bidangnya, dada yang keras terekspos bebas bahkan masih berkilat akibat sebagian yang masih belum dikeringkannya.


Rambutnya yang nampak sedikit basah di aturnya ke belakang, hingga wajah tampan pria itu tak tertutupi oleh apapun yang menghalanginya.


Dia pun terkejut melihat Harumi yang berdiri membeku membelakanginya "apa aku membangunkanmu ?"


Harumi tampak sangat kaku, tubuhnya menolak untuk di ajak kerja sama tentu saja dia seperti maling yang tertangkap basah. Entah harus bersikap bagaimana untuk berhadapan dengan pria itu saat ini.


Lalu ia melipat tangannya menutupi dada. Dia tidak tahu harus berkata apa. Tidak lah mudah untuk memulai sebuah percakapan saat berada di situasi saat ini.


"apa kau ingin ke kamar mandi ?" goda Liam sedikit menyeringai seketika membuat es yang awalnya membeku itu sekarang meleleh.


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank You 💟


__ADS_2