
Harumi menelan salivanya, perasaannya bercampur aduk antara terkejut dan cemas. Tidak mungkin, tidak mungkin jika semua pemberitaan yang dimaksud adalah pemberitaan tentang hubungan pribadinya.
Bagaimana itu bisa terjadi ? Bagaimana rumor ini bisa tersebar luas ? siapa yang sudah menyebarkannya ? Harumi menyadari ia bukanlah selebritas yang kehidupan pribadinya bisa jadi sorotan publik, apalagi hingga menjadi pemberitaan di media cetak.
"aku tidak mengerti maksud perkataan ibu ..." Harumi mencoba untuk bersikap normal, walaupun di dalam dadanya terasa detakan yang mulai tidak seirama
"Ibu sangat mengkhawatirkanmu, nak. Tapi, ibu juga perlu mengetahui penjelasan langsung darimu. Ibu tidak peduli apapun perkataan orang-orang di luar sana. Karena bagiku, jawaban Putriku jauh lebih penting."
"A-aku tidak bisa menjelaskannya sekarang. Tapi..."
"siapa Liam Seymour, Rumi ?! Ada hubungan apa antara kalian berdua ?" ia mengulangi pertanyaan itu tepat sasaran
Harumi membeku, wajahnya memucat, betisnya mulai terasa dingin. Ketegangan terus merambat di tulang punggungnya, ia masih belum siap untuk menjawab semua pertanyaan itu. Apalagi hanya lewat telepon, Harumi merasa takut dengan reaksi ibunya terutama ayahnya.
Tidak mudah menjelaskan secara terbuka mengenai hubungannya dengan Liam saat ini. Apalagi dengan keluarga besarnya, tentu saja mereka akan menentang keras hubungan terlarang ini.
Apapun alasan yang akan diutarakan Harumi, itu tetaplah tidak bisa diterima. Tidak ada alasan yang masuk akal untuk memuluskan sebuah hubungan perselingkuhan. Bagaimanapun pertentangan akan terus gencar menghampiri keduanya. Selama Harumi masih dalam ikatan pernikahan.
"Aku belum bisa menjelaskannya pada ibu, sekarang. Iam Sorry. Kumohon ibu mengertilah."
"Dengarkan ibu. Ibu tidak pernah menentang apapun keinginanmu. Selalu mendukungmu, karena ibu mengerti kau lebih mengetahui mana yang terbaik untuk hidupmu. Tapi, untuk sekarang ibu wajib memperingatkanmu. Jalan yang sudah kauambil ini salah. Salah, Rumi."
Pedih terasa hebat di dadanya, pikiran Harumi seolah terombang ambing oleh ketidakpastian. Ia menyadari bahwa jalan yang diambilnya salah, Harumi tahu itu karena walau bagaimanapun ini adalah sebuah bentuk Pengkhianatan terhadap janji suci Pernikahan. Dan tidak sepantasnya ia menjerumuskan dirinya pada hubungan ini terlalu dalam.
"Aku sadar ini memang salah, aku sadar bu. Tapi, aku hanya ingin lepas dari masalah yang terus membelengguku. Pernikahanku tidak bahagia, kami hanya saling menyakiti."
"Bukan berarti kau harus menciptakan masalah baru lagi, nak. Ibu mengerti, Anton hanya bisa terus menerus menyakiti perasaanmu. But until Now, he still your Husband. Biarpun kau berlari ke berbagai belahan dunia dengan pria itu, selama kau belum bercerai. Pernikahan akan tetap mengikatmu dengan Anton baik secara hukum dan di mata Tuhan."
Harumi bungkam seketika, hingga beberapa detik berlalu "Aku tahu konsekuensi yang akan kuhadapi, kebahagiaan ini pasti akan menuntut bayaran yang mahal. Karena aku harus menyaksikan semua orang yang kucintai akan menjauhiku. Tapi, aku mulai mencintainya, perasaan ini seakan mengendalikanku"
"Oh God, jangan bicara seperti itu. Ibu tidak akan menjauhimu nak. Tidak ada kebahagiaan yang paling ibu dambakan selain melihat anak-anaknya bahagia. Ibu hanya ingin melindungimu, aku tidak ingin pria ini menyakitimu."
"Liam bukan pria yang seperti ibu bayangkan, ia baik padaku. Sangat menyayangiku dan aku percaya padanya."
"Apa kau benar-benar sudah mengenal pria itu ? ibu merasa kau terlalu cepat mempercayainya. Sebaiknya, cari tahu dulu tentang masa lalunya. Ibu hanya merasa ada yang sedang disembunyikan pria ini darimu. Dan bagaimana jika ia menyakitimu dan hanya memanfaatkanmu ?"
"Jika memang Liam ingin menyakitiku, mungkin ia sudah meninggalkanku sejak awal. Untuk apa pria sepertinya memilih wanita sepertiku, di saat ribuan wanita sempurna lainnya rela berkorban untuk bisa jadi pendampingnya. Sedangkan aku hanya membawa masalah untuk hidupnya."
Nami bisa merasakan bagaimana gejolak perasaan Harumi saat ini. Putrinya itu hanya butuh seseorang agar ia merasa aman, seseorang yang bisa saling memahami dan memberikan kebahagiaan yang sebenarnya. Dan itu ditemukannya pada sosok Liam, walaupun ia baru mengenalnya dalam waktu yang singkat. Tapi, keyakinan Harumi begitu kuat. Dan itu sulit ditembus oleh ibunya, sebuah perasaan yang saling terkoneksi satu sama lain membuat sang ibu sadar bahwa Harumi sudah semakin dewasa dan ia tidak seharusnya membatasinya lagi. Karena Putrinya itu telah memikirkan dengan baik bagaimana konsekuensi dari keputusan yang sudah diambilnya.
__ADS_1
"Harumi, Putri Kecilku. Buah hatiku, walau sudah puluhan tahun lalu ibu masih mengingat dengan jelas bagaimana nyaringnya suara tangisan pertamamu saat kau dilahirkan dulu. Kau terbaring dalam pelukanku dengan tubuh mungilmu. Ibu dekap dengan semua cinta yang ibu miliki dan doa-doa baik yang selalu ibu bisikkan di telinga kecilmu. Dan kini kau sudah tumbuh menjadi wanita dewasa yang sangat ibu sayangi. Ibu selalu bangga bisa membesarkan seorang Wanita kuat sepertimu, nak. Dan Ibu yakin Tuhan akan Melindungimu dan memberikan kebahagiaan untukmu."
Harumi meneteskan air matanya ketika ia mendengar perkataan sang ibu. Balkon yang di selimuti malam sunyi itu berubah menjadi rasa haru yang merombak ketegangan yang awalnya merayapi tubuh wanita itu.
Harumi menangis sambil menutup sebagian wajahnya dengan tangan, ia meluapkan rasa pedihnya entah apakah ini akan membuat ibunya semakin khawatir. Tapi, Harumi hanya ingin melepaskan semua bebannya sementara. Tekanan hidup yang menariknya dalam lubang hitam seakan tidak penting lagi jika ia mengingat bagaimana sayangnya ia pada Nami.
"Aku selalu menyayangimu, ibu."
"Ibu tahu itu." dengan mata berkaca wanita paruh baya itu tersenyum
Setelah semenit berlalu, Harumi berusaha bangkit dan perlahan mengusap air mata yang berbekas di pipinya. "Bu ?...A-apa ayah juga sudah tahu tentang berita itu ?"
"Yah, dia sempat shock saat pertama kali membaca majalah yang di berikan Mrs. Charlote tetangga kita. Ibu berharap ayahmu tidak mengetahuinya dari orang lain, tapi terlambat. Dan kau tahu sifatnya, Ayahmu Marah Besar. Dia terus menerus menghubungi ponselmu tapi tidak aktif. Ayahmu ingin kau pulang kembali ke Bristol secepatnya. Sampai sekarang, ia hanya diam bahkan tidak mau makan. Dia selalu memikirkan dan mencemaskanmu. Bahkan ia hanya diam saja ketika ibu ajak bicara."
Harumi menghela napas panjang, ia mengosok-gosok tangan pada kain bajunya di paha. Merasakan ketegangan itu kembali hadir, Harumi mengenal sifat Ayahnya yang keras kepala dan sangat menjaga Harga Diri Martabat keluarganya. Walaupun mereka bukanlah dari kalangan keluarga kaya raya, tapi Ayahnya tidak pernah ingin meminta pertolongan orang lain disaat mengalami kesusahan. Ia selalu bekerja keras untuk mensejahterakan keluarganya.
Dan tentu saja mendengar pemberitaan dan hujatan-hujatan yang mengarah pada Harumi. Itu cukup membuat Ayahnya sakit hati dan kecewa.
"Aku akan pulang, tapi tidak sekarang karena ada yang harus kuselesaikan di sini terlebih dulu. Aku berjanji akan secepatnya kembali ke sana."
...****************...
Bibir Liam melengkung samar-samar "Of Course, aku ingin segera menemuinya. Seharian ini, membuatku sangat merindukannya"
Pria paruh baya itu ikut tersenyum, saat ia menyaksikan Tuannya tersebut tampak bahagia walaupun Liam berusaha menutupinya tapi itu sia-sia saja "Kalian benar-benar seperti Pengantin Baru, saling merindukan dan selalu tidak sabar untuk segera pulang. Anda benar-benar beruntung Tuan. Memiliki wanita yang sangat menyayangi anda."
"Benar, aku masih tidak percaya. Kalau kami sekarang hidup bersama. Mengingat ada seseorang yang sekarang sedang menungguku di rumah. Dan ini terasa ... "
"Bahagia" sela Sekretaris kepercayaannya tersebut
Liam menatapnya dan mengangguk pelan "Yah, Happiness"
Tidak lama saat keduanya sudah bersiap untuk pulang, Liam dikejutkan oleh kehadiran seseorang di Kantornya.
Pintu perlahan terbuka, lalu seseorang memasuki ruangan.
"Sudah mau pergi ?" ucap orang itu
"Untuk apa Apa Paman kemari ?" Liam melemparkan tatapan tajam ketika sosok itu mulai melangkah masuk.
__ADS_1
Luciano.
"Aku hanya meminta waktumu sebentar, Liam" Pria itu langsung duduk di sofa, dan itu semakin membuat Liam merasa terganggu.
Liam mengernyit "aku harus pulang, jadi tidak ada waktu untuk membicarakan apapun yang Paman inginkan"
"Hei, dengarkan aku. Bukan aku yang ingin bertemu denganmu. Sebenarnya ada seseorang yang ingin bertemu denganmu."
Matanya menyipit "Apa lagi yang sedang Paman rencanakan ?"
Luciano tertawa aneh seraya menyandarkan tubuhnya di kursi sambil terus menatap keponakannya tersebut "Sudah kubilang, ada seseorang yang ingin bertemu denganmu. Dan mungkin, ini akan mengubah pikiranmu."
Tampak guratan kesal mulai mewarnai wajah Liam "Apa maksudmu ?"
"Aku yakin tidak masalah, jika wanita itu menunggumu di rumah karena kau mungkin akan pulang terlambat." ejek Luciano sambil memberi kode pada Sekretaris Will agar membuka pintu.
"Aku tidak ingin membahas apapun sekarang. Sebaiknya Kau Segera Pergi" Liam berbalik saat pintu terdengar dibuka
Dan...
Liam menatap heran ketika seorang wanita paruh baya sedang berdiri diambang pintu.
Wanita itu hanya berdiri mematung dengan tatapan ragu-ragu seraya melemparkan pandangan pada Liam.
Ia berdiri dengan kedua kaki yang rapat, memegang tali tas kecil dengan erat. Rambutnya diikat rapi ke belakang tampak warna rambutnya yang memutih mewarnai tiap helaian rambutnya.
Wanita itu menahan diri untuk tidak melangkah masuk ketika Sekretaris Will sudah membukakan pintu untuknya.
Dia hanya diam. Tangannya sedikit gemetar ketika ia ingin melihat ke arah Liam.
"Siapa dia ?" tanya Liam memecah keheningan di Ruangan itu dalam sekejap
Luciano berdiri dari duduknya dan seraya membenarkan jasnya ia tersenyum menatap wanita itu "Elena, masuklah"
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1