Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 38 Desiran Hangat


__ADS_3

Liam makin berani terbuka dengan Harumi mengenai hasratnya, ia bahkan tidak peduli apapun resiko yang akan dihadapinya. Yang diinginkannya hanyalah Harumi seorang.


"Liam..." Harumi terpaku, getaran kembali menyelimuti dirinya. Harumi mulai menegang Kata-kata yang diucapkan Liam terbayang-bayang dalam benaknya.


"Aku berangkat ke Bristol besok, aku akan menemuimu segera." potong Liam


"Liam kumohon jangan."


"Lusa aku akan menjemputmu, aku tidak tahan dengan kondisi seperti ini, aku tidak bisa konsentrasi menyelesaikan pekerjaanku selama di sini."


"Liam kumohon dengarkan aku, aku akan menghubungimu kembali. Aku janji "


Harumi sadar, ia terlalu lama meninggalkan Anton di Meja makannya di luar. Ia khawatir Anton mencurigainya. Padahal ia tidak merencanakan berteleponan diam-diam seperti ini di kamar kecil, tujuan awalnya hanya ingin merapikan penampilannya saja.


"jangan membuatku menunggu" suara serak penuh tekanan dari Liam semakin membuat Harumi gelisah. Perutnya keram seakan terlilit meremas habis seluruh tubuh.


"baiklah" jawab Harumi pelan


"Akan kupastikan jika kita bertemu nanti,


kau akan kubuat lemas sampai sekujur tubuhmu. Karena sudah membuatku menggila."


Entah kegilaan macam apa ini, tapi Harumi merasa ada kesenangan tersendiri mendengar kata-kata nakal yang terlontar dari bibir Liam. Kesenangan kecil dalam hati nya yang tak ingin orang lain tau.


Harumi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat, membuang pikiran nakalnya karena membayangkan Liam dalam otaknya saat ini.


"Iya, aku pasti menghubungimu lagi. Sebaiknya kau istirahat ya" Harumi segera menutup handphonenya meletakkannya kembali ke dalam tas tangan.


Lalu Menatap dirinya di balik cermin berkilat, harumi merasa seperti bermain api di belakang Anton. Ada rasa bersalah yang terus bergelayut dalam dirinya. Pandangan mata Harumi telah berubah sangat berbeda ketika sebelum bertemu Liam.


Ada perasaan asing menegangkan yang tak hentinya membuat desiran dingin itu merayap ditubuh Harumi setiap ia mendengar suara Liam dengan kata-kata nakalnya. Apa yang sudah merasukinya, Harumi sadar kalau ia harus bangun dari jurang ini.


Apalagi mereka memiliki Rahasia dimana kedua bibir itu pernah saling bertemu. Kejadian yang tidak akan pernah dilupakan Harumi bahkan oleh Liam.


"Ini tidak bisa diteruskan, ada apa denganku ? dulu aku tidak begini tapi sekarang dengan mudahnya aku mengikuti keinginannya, bahkan sekarang aku menginginkan sesuatu yang......


Lebih darinya" batin Harumi


Ia pun bergegas mengusap wajahnya, merapikan diri dan terpenting membuang jauh-jauh pikiran kotor nya.


Melangkah keluar sambil membawa tas tangan miliknya, di setiap langkah kaki, Harumi terus mengatur ritme nafasnya. Ia ingin nampak senormal-normalnya seperti sebelumnya.

__ADS_1


Anton masih duduk dengan santai, ia sedang perlahan menyantap makanan penutup dan sesekali meneguk white wine di sebelah piringnya.


Ia menatap heran, alisnya mengernyit melihat istrinya baru selesai dari kamar kecil.


"kenapa lama ?" sahut Anton setelah meneguk winenya. Ia tampak sudah kenyang.


"antri...maaf" Harumi hanya menjawab seadanya, ia duduk dengan ekspresi datar seolah semua tampak normal.


"makanlah, aku sudah selesai. Aku mau keluar sebentar mencari udara segar" Kebiasaannya, ia pasti ingin ke balkon Restaurant untuk menghabiskan sebatang rokoknya.


Anton tidak pernah bisa melepaskan kebiasaan merokoknya 3tahun belakangan ini, bahkan Harumi sudah terbiasa dengan bau Nikotin di baju kerja milik suaminya setiap hari.


Harumi mencoba mengambil beberapa potongan daging yang tersisa di piring, ia tak bernafsu makan sama sekali.


Sudah cukup lelah hari ini baginya, hanya tempat tidur empuk dan nyaman jadi obat ampuh rasa letihnya.


Setiap makanan yang di kunyah Harumi rasa hambar, padahal restaurant ini sangat terkenal dengan cita rasa tinggi.


Entah kenapa indera perasanya tidak sinkron dengan penciumannya padahal aroma makanan-makanan ini sangat lezat.


Handphonenya bergetar kembali, kali ini getarannya singkat. Pasti hanya sebuah pesan singkat, Harumi buru-buru meraih handphone di dalam tasnya.


Itu Hubungan yang tak bisa di gambarkan sebagai hubungan biasa, karena tak ada persahabatan pria dan wanita dewasa yang diam-diam berkomunikasi seperti ini.


Andrea hanya mengirim pesan tentang ucapan Hari Valentine, ia sangat merindukan Harumi karena sudah lama tak bertemu.


Bibir Harumi melengkung, ia bahagia karena memiliki sahabat baik seperti Andrea. Ia membalas lalu meletakkan kembali handphonenya di samping piringnya.


Akhirnya Harumi memutuskan untuk langsung ke makanan penutup, ia sudah tak sanggup menghabiskan makanan utamanya, karena selera makannya terkalahkan dengan rasa letihnya.


Semangkuk puding Mocca sedikit menghibur lidah Harumi, ia menyukai makanan penutup ini. Bulumata harumi yang panjang naik turun menatap puding lezat yang bisa memanjakan lidahnya.


Akhirnya Anton selesai dengan aktivitas mengepulnya di Balkon Restaurant. Bau Nikotin sudah bisa tercium sejarak ia bahkan belum duduk di hadapan Harumi.


"Kau menyukai Puding itu ?" tanya Anton mengangkat alisnya, tersenyum puas melihat istrinya mau makan.


Anton menggeser kursinya untuk duduk, ia meletakkan handphonenya. Membuka tepi jasnya yang sudah terbuka agar ia bisa duduk lebih santai.


Anton terus menatap istrinya dengan senang, sedangkan Harumi masih menikmati sendokan terakhir puding tersebut.


"Enak untuk sebuah Makanan penutup" balas Harumi, ia mengambil serbet yang entah kapan sudah ada di pangkuannya dan menyapu bibir mungilnya.

__ADS_1


"Kau memang suka makanan manis, bahkan waktu di New York dulu kau sering membeli banyak cemilan manis di swalayan tidak peduli larut malam, sampai kau lebih memilih coklat dibandingkan aku, haha" Anton mendaratkan senyuman lagi.


Harumi menatap mata suaminya, ia bisa merasakan bahwa Anton seperti dulu saat ia pertama bertemu.


Komunikasi rileks dan santai seperti ini yang dibutuhkan Harumi dari Anton.


"Ameera sudah melahirkan, kau sudah dengar kabar"


"Yah, Mama yang menghubungiku tadi siang"


"Sepertinya Mama menghubungimu lebih dulu, karena aku baru dapat kabar sejam sebelum menjemputmu"


Harumi mengambil gelas winenya lagi, meneguk sedikit. Agar bisa membasahi tenggorokannya yang sudah sangat nyaman merasakan Puding Mocca sebelumnya.


"Mama memintaku menemaninya bulan depan ke New York menjenguk Ka Ameera. Kau sudah tau ?"


"Yah, Mama bicara padaku tadi."


"Lalu ?"


Anton diam sejenak, ia mengatur nafasnya. Dasi yang menekan lehernya sedari tadi, mulai dilonggarkannya. Sebentar ia menatap ke arah lain, lalu beralih ke Harumi.


"Sebenarnya aku tidak mengizinkanmu pergi sejauh itu, tapi mama memaksa. Aku tidak mungkin ikut ke sana, Mama terus memohon setidaknya Kau bisa ikut dengannya."


"Kalau kau tidak mengizinkan, aku tidak akan pergi" Harumi serius dengan ucapannya, karena baginya yang terpenting Anton sudah mengetahui kabar itu.


"Kau kubolehkan pergi tapi hanya 5hari, Mama bisa menyusul pulang karena 10 hari terlalu lama."


"Lebih baik aku tidak usah pergi jika cuma 5hari, kau tau perjalanan yang ditempuh sangat jauh, tubuhku akan mengurai perlahan lahan jika waktu sesingkat tu"


Anton tampak tidak senang dengan posisinya sekarang, sangat terlihat dari sorot matanya ia gelisah.


Ini pertama kalinya kami berpisah, karena selama pacaran sampai menikah tidak pernah sekalipun kami berhubungan jarak jauh.


Anton sangat menyayangi ibunya, sudah lama ibunya tidak bertemu dengan Kaka perempuannya yang telah lama bermukim di New York. Tapi tak mungkin pula baginya membiarkan dirinya berjauhan dengan Harumi.


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you 💋

__ADS_1


__ADS_2