Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 43 Aku Hancur


__ADS_3

Ketika Pernikahan, sebuah perjalanan yang tak seharusnya berakhir saling menyakitkan, saling menyalahkan, haruskah memberikan bekas luka terdalam sepanjang hidup mereka.


Semakin hari, Anton menghancurkan seluruh kepercayaan, komitmen janji suci yang sudah ia ucapkan dengan lantang dan penuh cinta ketika ia meminta Harumi kepada orang tuanya di hadapan Tuhan.


Sumpah suci pernikahan, berjanji tidak akan menyakiti dan menghancurkan perasaan Istrinya, kini emosi sesaat itu mampu merentangkan jurang di antara keduanya.


Tak ada yang tersisa lagi dari Harumi untuk Anton saat ini, selain bekas luka yang terus menganga merampas kebahagiaan mereka.


Harumi diam tak sedikit pun kata-kata keluar dari bibirnya, nyawanya sudah seakan terangkat melayang ke udara meninggalkan raganya. Jantungnya tak mampu lagi memompa setiap sarafnya yang kini hancur tak berbekas.


Hatinya terlalu sakit, getaran yang dihasilkan tubuhnya membuatnya tak mampu berdiri dari duduk, kakinya lemas, pikirannya tak sanggup lagi menyimpan memory, semua memory yang sudah sangat sesak dengan kenangan menyakitkan hasil ciptaan suaminya.


Bulumata Harumi tertunduk, airmata yang seharusnya ia tahan dengan kuat kini mengalir bebas dari pelupuk matanya. Nafasnya sesak, iramanya sudah tak beraturan, dadanya sakit sangat menyakitkan. Ia berusaha menahan amarah, bahkan tenggorokannya sekat tak mampu mengeluarkan kata-kata makian sekalipun.


“Bisakah kau mengantarku lebih cepat ?” hanya kalimat itu yang mampu keluar dari bibir kelu Harumi, ia tak tahan berada terlalu lama dengan Anton.


Sambil terbata-bata, ia terus mencengkram tepi bajunya dengan sangat kuat. Menahan emosi yang sangat ingin ia luapkan tapi di urungkannya terus.


Begitu pun dengan Anton, ia tetap diam tanpa penyesalan mengenai ucapan dan hinaan yang sudah dilontarkannya kepada Harumi.


Kakinya mulai menginjak pedal gas lebih dalam, kecepatan mobil ditingkatkan olah Anton agar mereka segera tiba di rumah.


Tak ada ekspresi yang tergambar dari wajah suaminya, bahkan kata maaf tak terucap sedikit pun dari bibirnya. Betapa menyakitkannya setiap kata yang diucapkan Anton tadi bagi Harumi, setiap inci dalam tubuhnya melebur hancur karena seseorang yang dicintainya harus menghinanya bertubi-tubi.


Setibanya di rumah, setelah mobil berhenti Harumi langsung keluar, ia sama sekali tak menoleh kepada Anton, tak ingin sedetik pun ia berlama-lama dalam situasi seperti ini. Yang dibutuhkan Harumi sekarang adalah tempat aman untuknya berlindung dari orang paling menakutkan baginya yaitu Anton, suaminya.


Sebenarnya kedua kaki inj sudah tak sanggup menopang tubuhnya, sangat lemah dan lemas apalagi ia sudah seharian menyelesaikan banyak pekerjaan di Toko tanpa istirahat. Memeluk tas di dadanya dengan erat, setidaknya sedikit membantu ia merasa aman untuk sesaat.


Anton masih berada di dalam mobil sambil tetap memegang setir dengan kedua tangannya, ia menatap Harumi berjalan tertunduk menuju rumah. Punggung Harumi turun dengan penuh beban dan rasa sakit.

__ADS_1


Dari balik kaca mobil, ia terus menatap istrinya, pastinya dengan rasa sangat bersalah, karena mulai terlihat dari ekspresi Anton yang berubah.


Setelah Harumi masuk ke dalam, Matanya sendu, kedua tangan berpindah dari kendali mobil menyusuri wajahnya, menyapu rambutnya ke belakang.


Anton sangat menyadari segala yang diucapkannya tadi sudah sangat menyakiti Hati Harumi terlalu dalam, ia menghempaskan tangannya ke setir sangat kuat. Memukul kedua tangannya tak henti-henti sambil berteriak penuh penyesalan.


Matanya membara, penuh kebencian. Bukan kepada Harumi melainkan kebencian kepada dirinya sendiri karena membiarkan dirinya hanyut dalam emosi sesaat.


***


Seymour Group Company Center, California


“Semua sudah di laksanakan sesuai perintah Tuan” Lapor Sekretaris Will berdiri di hadapan Liam yang fokus menatap layar Laptop di Ruang kerjanya.


Liam hanya menyeringai puas, ia tak menoleh ke arah Sekretarisnya sedikit pun. Tapi ia mendengarkan dengan sangat jelas hasil laporan itu.


“Awasi terus dan selalu laporkan padaku” Liam melirik sebentar lalu melanjutkan mengetiknya.


Liam tak hentinya menyeringai lagi dan lagi, ia sangat puas karena Rencananya berjalan sempurna saat ini. Beranjak dari duduknya, berjalan menuju Jendela Kaca sangat besar di Ruang Kerjanya, ia bisa menatap seluruh pemandangan bangunan-bangunan indah di California.


“Kini kau sudah berada di genggamanku, Gadis Bunga” Liam mengangkat wajahnya penuh keangkuhan, bagaikan permainan boneka tali kini semua sedang dalam kendalinya sekarang, sedikit demi sedikit Liam akan memegang kendali penuh kepada Harumi.


Tak ada jalan yang lebih layak di lalui Harumi sekarang melainkan menuju perangkap yang sudah di sediakan Liam untuknya.


***


Harumi berjalan menuju dapur dengan langkah sangat berat, tangannya bergetar ketika menuangkan air ke gelas di atas meja makan.


Suara berkali-kali keluar dari ujung teko yang menyentuh tepi gelas sangat jelas terdengar. Lalu seketika ia terduduk di lantai dapur sudah tak menyanggupi lagi menahan tekanan begitu kuat seolah gaya gravitasi tak berfungsi lagi untuknya, memecahkan gelas kaca berisi air mineral dari genggamannya. Gelas tersebut terlepas begitu saja dari tangannya.

__ADS_1


Air mata yang sudah sangat ingin ditumpahkannya sejak tadi kini tak sanggup lagi menahannya dan menangis sejadi-jadinya. Ia memukul-mukul dadanya dengan keras, berteriak sekuatnya tak peduli apapun tersungkur di lantai yang dingin. Harumi sangat hancur, tak ada sisa dirinya lagi yang utuh. Fisiknya bukan lah sesuatu yang terpenting untuk di selamatkannya, apa gunanya raga jika nyawanya sudah tak berarti lagi.


Pandangan Harumi sangat kabur, air matanya masih terus membanjiri wajah mungilnya, baginya ini jauh lebih menyakitkan daripada saat ia berjuang melawan Maut ketika kecelakaan malam itu.


“Kumohon … Tuhan, aku sudah tidak kuat lagi” lirihnya


Pikirannya kacau, bagaikan kabut tebal hingga membuat Harumi tidak bisa berpikir jernih sedikit pun, matanya melihat ke arah pecahan gelas yang terhempas dari tangannya beberapa saat lalu.


Berserakan di sekelilingnya, terpintas iblis itu mulai mempengaruhi pikirannya. Harumi ingin mengakhiri hidupnya. Menyayat nadi di tangannya dengan sepotong pecahan kaca tersebut.


“Mungkin dengan begini, aku bisa tidur dengan nyenyak” Harumi menyeringai kesetanan sambil merangkak hendak mengambil pecahan kaca tersebut.


Tapi kedua mata Harumi tetiba beralih ke tas miliknya yang di lemparkannya tergeletak di lantai saat ia datang tadi, ponselnya sudah di luar tas.


Terlintas begitu saja, dalam pikirannya ingin menghubungi seseorang. Matanya menyorot dengan tajam ke ponselnya, membuang niat buruknya untuk bunuh diri.


Dalam pikirannya, ia harus hidup, harus hidup lebih lama lagi, ia tidak boleh mati begitu saja dengan sia-sia.


Menghapus airmata dengan kedua tangannya, bangun dari lantai yang sudah melahapnya dalam kesedihan dan meraih ponsel tersebut.


Ia menatap layar ponsel, memanggil no kontak seseorang. Seseorang yang akan membantunya saat ini.


“Hallo” Harumi berusaha mengatur nafasnya, memperbaiki suara seraknya setelah menangis seolah tak terjadi apa-apa.


“Hallo ?” jawab orang tersebut


“Bisakah…. aku bermalam di tempat mu selama beberapa hari ?”


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you❤


__ADS_2