
"Hidup adalah Pilihan yang Kaubuat" ucap Nami menatap serius wajah Menantu nya tersebut
Merasa tercengang, Anton memejamkan mata sejenak, Ketenangan dalam dirinya secara brutal ditusuk oleh sikap Sinis Mertuanya.
Anton bergeming "Ini bukan seperti yang Anda pikirkan"
Wanita itu menatapnya, mulutnya ternganga saat ia mencerna kata-kata Pria itu "Ini bukan tentang apa yang kupikirkan, Anton. Kau sudah menyembunyikan Rahasia Besar dari Harumi, dan kau tahu bagaimana dampak dari ini semua jika Putriku mengetahuinya. "
Setelah sekarang benar-benar gusar, Anton berusaha tetap pada pendiriannya. Pria itu masih bisa bersikap tenang walaupun dalam dirinya ia merasakan adanya Puing-puing Penyesalan itu.
"Yah, aku tahu" Tatapan Anton, sedingin embun beku pada pagi bulan Januari, menyapu Wanita paruh baya itu.
Mata Wanita itu menyipit "Jadi ?"
Menarik napas dengan tegas, Anton mengumpulkan semua ketegangan dalam atmosfir Ruangan itu menjadi satu dalam bahu bidangnya "Aku tetap tidak akan memberitahu ini kepada Harumi"
Rasa kesal dan Jengkel memuncak di wajah Nami "Sampai kapan ? Sampai Harumi mengetahuinya dari Orang Lain ? Kenapa Kau masih Keras Kepala, Aku bisa saja memberitahu Harumi, tapi aku menahannya bukan Karena ingin membohongi Putriku, Tapi aku masih memberi kesempatan pada Pernikahan Kalian. Dan berharap Kalian bisa menyelesaikannya bersama."
"Itu akan menyakiti Harumi lebih dalam" ucap Pria itu dengan tatapan Kosong "Menyakitinya secara bertubi-tubi, tidak akan berakhir dengan baik"
"Because His Mother ? karena Identitas Ibu dari Anak itu, kau masih tetap bersikeras memilih menyembunyikannya dari Harumi"
Mata Anton terbelalak, seolah Ibu mertuanya itu menusuk Belati tajam ke Jantungnya dengan keras.
Suasana yang tegang membuat Anton kewalahan dan ia pun berdiri dari Kursinya yang hampir memakannya hidup-hidup, lalu berjalan perlahan menuju etalase di dalam Toko tersebut. Menatap sendu satu per satu bunga-bunga indah yang tertata rapi dan mengeluarkan aroma yang menenangkan tertangkap oleh Indera Penciumannya.
Toko ini sangat indah, bersih, begitu tenang, dan nyaman. Walaupun tempat ini tidak terlalu besar untuk ukuran sebuah Toko Bunga di Pinggiran Kota, tapi Pria itu sadar ini adalah tempat yang dipilih Harumi untuk menghabiskan sebagian besar waktunya tiap hari. Bahkan awalnya Anton sempat meremehkan dan menentang Usaha yang dibangun istrinya tersebut. Tapi...
__ADS_1
Ia mulai merasa bersalah, benar-benar Bersalah. Bahkan Anton tidak pernah ada waktu untuk benar-benar mengenal semua tentang Harumi.
Anton sudah menyianyiakan semua waktunya hanya untuk Kesibukan yang tak kunjung usai, bahkan ia sendiri pun tidak pernah tahu Warna Kesukaan Harumi, Makanan Favorit istrinya, bahkan Ukuran Sepatunya. Ia sangat menyadari saat ini banyak yang sudah ia lewatkan. Hal-hal kecil yang sudah seharusnya seorang suami mengetahui tentang Istrinya, Anton sama sekali lupa akan hal itu semua.
Anton menyadari, tiap lemparan pertanyaan yang terus bertubi dari mertuanya tidak akan berhenti sampai Pria itu jatuh dan mengakui semuanya.
Anton berusaha menghindar bukan untuk semakin mempersulit keadaan tapi karena tidak ingin membahas masa lalunya, ia tahu ini akan terungkap cepat atau lambat. Tapi, tidak menyangka akan secepat ini.
"Kumohon, biar ini menjadi kesalahan di masa laluku. Aku tidak ingin menyakiti Harumi, sampai detik ini aku masih Mencintainya, aku ingin melindunginya." Anton berbalik menatap Wanita itu yang menahan emosi menggenggam kedua tangannya.
"Seorang Anak tidak bisa memilih akan lahir dari Orang Tua yang mana, tapi Orang tua memiliki Pilihan akan menjadikan Anak itu seperti apa ke depannya." Sambil mengusapkan tangannya yang tiba-tiba terasa lembab ke rok berbahan satin miliknya, Wanita itu memaksa diri untuk tersenyum kaku "Awalnya itu akan menyakiti Harumi, tapi aku mengenal Putriku, dia adalah wanita yang Kuat. Dia pasti akan menerima kenyataan itu dengan hati yang lapang, bagaimanapun Freddie adalah darah daging dari suaminya. Walalupun semua perlu waktu yang lama dan harus bersabar. Anak itu tidak berdosa, ia yang sangat membutuhkan perhatianmu, bukan Uang"
Anton sempat terdiam lama, matanya merunduk ke bawah. Pikirannya penuh akan banyak penyesalan-penyesalan yang sudah terlambat.
"Dimana anak itu sekarang ? bersama ibunya ?" tanya Nami dengan sedikit meredamkan kekesalan dan emosinya
"Berapa usianya ? Apa kau pernah bertemu dengannya ?"
"usianya 4 tahun, hanya sekali saat kami melakukan tes DNA"
Tiba-tiba Wanita itu tersentak "tes DNA ?"
Saat pertama kali menemukan Dokumen itu, sebenarnya Nami membaca dengan detail tanpa melewatkan satu lembar pun. Tapi, ia tak menduga sebelumnya kalau ada lembaran Hasil Tes DNA dalam Map itu.
Anton menggeleng "Ini bukan seperti yang Anda kira, aku mengenal nya sebelum aku bertemu Harumi, malam itu aku sedang mabuk berat di sebuah Bar, bertemu dengan wanita itu yang kukenal seminggu sebelum kami bertemu lagi di Bar tersebut. "
"Maksudmu kau sempat tidak mengakui anak itu ?" potong Nami melemparkan tatapan menusuk
__ADS_1
Pria itu menghela napas "Aku tidak mengingat kejadian malam itu karena Mabuk, tiba-tiba dua bulan kemudian Wanita itu mengatakan bahwa ia sedang Hamil. Tentu saja awalnya aku tidak percaya, karena tidak bisa mengingat apapun. "
Tercengang mendengar pernyataan itu, yang dilontarkan tiba-tiba, Wanita itu menatap dengan kaget "itulah alasan mu melakukan Tes DNA, menunggu sampai anak itu lahir. "
"Yah"
"aku cukup menhargai keputusanmu untuk tidak lari dari tanggung jawabmu, tapi kenapa kau tidak menikahi Wanita itu ?"
Pria itu mengangguk sambil memasukkan tangan ke dalam saku celana yang kaku "Itu benar, aku tidak menikahinya, dan lebih memilih Harumi karena aku mencintai Harumi. Wanita itu hanya sebuah kesalahan, kesalahan yang sudah kupertanggung jawabkan dengan terus membiayai anak itu dan kami sudah melakukan Perjanjian. Wanita itu paham dengan Surat Perjanjian yang sudah kami buat bersama bahkan melalui Pengacaraku"
"Kau menganggap semua nya dengan enteng, aku tahu kau berusaha tanggung jawab dengan memudahkan semuanya dengan Uang. Tapi, bukan seperti itu tanggung jawab seorang Ayah yang sebenarnya." cetus Wanita paruh baya itu melengkung memberikan respons senyuman sinis
"Aku bukan Ayah yang bertanggung jawab secara benar, tapi aku tidak bisa berbuat lebih dari itu. Karena aku memilih untuk hidup bersama Harumi"
Mata Nami melebar "Kau selalu menyebut Nama Putriku sebagai alasan untuk menutupi Masa lalumu. Harumi tidak bahagia bersama mu, Anton. Dia menderita dan dalam dirinya ia menjerit ingin meminta pertolongan. Apa kau tidak menyadarinya ?"
Bayangan tentang apa yang selama ini sudah Anton lakukan kepada istrinya menyerang isi kepala Pria itu. Dia merasa harus keluar dari situasi ini, tetapi ia terpaku di tempat.
Dingin yang menusuk menyeruak menghujani tubuh Pria itu saat Nami mengajukan pertanyaan yang membuatnya terbelah menjadi kepingan-kepingan tak berujung.
"Bagaimana jika Harumi mengetahui mengenai Wanita itu, Apa yang akan terjadi jika Putriku tahu bahwa Ibu dari Anak itu adalah Sahabat baiknya ?"
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank You ❤
__ADS_1