
Dengan perasaan yang masih terguncang, pikiran berkecamuk bercampur antara khawatir dan bingung, Harumi termenung dalam diamnya.
Tubuhnya makin kaku, seluruh ototnya terasa lemas, matanya sayu seolah ada bayangan hitam di bawah mata indahnya, masih terngiang dalam benaknya bagaimana bisa kata-kata menyakitkan itu terlontar begitu hinanya dari bibir-bibir wanita yang menurut Harumi adalah Wanita berpendidikan dan terhormat seperti mereka.
Tak habis pikir, malam ini akan menjadi malam penuh kejutan bagi hidupnya, selain ia bertemu Liam sekaligus bertemu dengan ibunya.
Bulumata lentiknya yang lebat merendah menatap kedua tangannya yang terkepal di atas paha, sedikit berkeringat ditelapaknya walaupun AC terus menyala dalam mobil itu.
Sempat terbesit dalam pikiran Harumi, inikah awal dari Hukumannya karena sudah mengkhianati Anton. Bermain api di belakangnya, bersenang-senang dengan pria lain yang bukan suaminya. Walaupun Anton sudah terlalu sering menggoreskan luka di hati Harumi, bukan Berarti balasannya adalah dengan berselingkuh di belakangnya.
Sebenarnya kesalahan terbesar Harumi karena ia mulai memiliki rasa itu kepada Liam, perasaan yang semakin berakar menguasai hatinya. Rasa yang tak kunjung mau berhenti, semakin dalam dan menimbulkan gairah yang tak bisa ditahannya lagi bagaikan bola salju yang terus bergulung makin membesar.
Apalagi kejadian sebelum kedua wanita itu hadir ditengah mereka, Di Balkon itu dengan hembusan angin malam, Harumi masih mengingat dengan jelas untuk pertama kalinya ia bertemu kembali dengan Liam setelah jarak terhampar luas memisahkan mereka, antara Bristol dan California.
Sebuah Hubungan rahasia berawal dari pertemuan tak terduga, melewati berbagai kejutan, masalah, komunikasi intens hingga ciuman pertama keduanya saat menegangkan waktu itu, penolakan Harumi dan bantuan demi bantuan yang diberikan Liam.
Tak menunggu ribuan purnama, untuk menumbuhkan rasa itu di hati keduanya.
Perasaan yang subur terus meronta-ronta ingin di puaskan sampai bertemunya kedua insan itu menyatu dalam sebuah Ciuman kerinduan penuh hangat hingga mampu mengguncangkan semesta.
Keintiman yang di ciptakan keduanya tadi, berpijar kuat di tubuh mereka dengan menyisakan kenikmatan yang berangsur-angsur berubah menjadi Candu. Hasrat yang terus menerus meminta untuk di Puaskan lebih dan lebih lagi.
Harumi terus memutar otaknya, ia tak ingin hatinya lebih menguasai daripada logikanya. Serangan sensual itu menuntut kepastiannya.
Semakin ia tenggelam dalam hubungan ini, perasaan ini, hasrat ini, dengan sendirinya akan terbentuk menjadi sosok Harumi yang lain. Ini bukan aku!! semua ini hanya pelarian. Sebuah Pelarian karena kejenuhan, dan Liam tidak pantas hanya dijadikan sebagai tempat Pelariannya saja.
"Nona ?" tegur Sekretaris Will yang menariknya kembali dari lamunan ke dunia sebenarnya. Ia duduk di sebelah sopir, memutar sedikit kepalanya melihat ke arah Harumi.
Harumi mengangkat wajahnya, memperlihatkan kedua sorot matanya yang lemas, berusaha menutupi diri.
"Ya Pak Will." sahut pelan Harumi
"Jika Nona merasa jenuh, sambil menunggu Tuan, anda bisa menikmati berbagai minuman di situ" Ia menunjuk sebuah rak kecil berisi berbagai botol minuman mulai dari Vodka, Wine dan lainnya di limosin tersebut.
Harumi membalas dengan mengangguk serta senyuman. Kemudian Sekretaris Will berbalik dan menatap layar ponselnya kembali.
Sedikit berdiri Hendak mengambil botol mineral, ponsel Harumi berdering "Hallo ?"
__ADS_1
"Rumiiiii...Kamu dimana ? aku mencari-cari mu" jawab Cathy gusar
Menarik nafas sejenak, Harumi mencoba memikirkan alasan yang masuk akal tidak ada dirinya di pesta sekarang ini.
Tak mungkin jawaban masuk akal itu adalah karena ia sedang berada di dalam mobil Limosin mewah milik Liam untuk menunggunya, setelah beradegan ciuman romantis di balkon, menyaksikan sekaligus terlibat pertengkaran dengan Ibu Liam dan Wanita Sinis super Arogan. Itu sama sekali bukan Alasan yang masuk akal.
"Aku pulang lebih dulu" akhirnya kalimat itu terlontar begitu saja.
Harumi mengusap wajahnya, apa yang sedang kulakukan ?
"Pulang ? wait,, wait,,,kenapa ? kunci apartemen ada denganku, bagaimana kau bisa masuk nanti ?" tanya Cathy kebingungan.
Gelisah mulai merambat di tubuh Harumi, ia tak ingin Cathy mencurigainya. Memborbardir dengan pertanyaan kritis mengenai hal yang tak seharusnya ia ketahui.
"aku jalan sebentar mencari udara segar"
"dengan gaun pesta ? malam-malam ?" desakan Cathy dengan pertanyaan penuh curiga.
Demi Tuhan, jawaban apa lagi yang harus dilontarkan Harumi.
Harumi merasa bersalah, karena meninggalkan sahabatnya dan terbawa suasana menuruti keinginan Liam.
Harumi terpaku memandangi sosok pria itu duduk di sebelahnya sangat dekat.
Suara nafasnya tegas, ia mengusap tengkuk lehernya, menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi, lalu melepaskan dasi kupu-kupu dan melonggarkan kerah kemejanya.
Meletakkan sejenak kepalanya ke belakang, tampak begitu jelas garis tajam rahang sampai ke dagunya.
Kancing Tuxedo sudah terbuka entah kapan, Nampak kemeja putih sekilas membayang bentuk kotakan otot perutnya yang keras.
Mata Harumi mengarungi setiap jengkal pemandangan maskulin yang ditampilkan Liam di hadapannya. Tak ingin sedekit pun Harumi berkedip membiarkan lukisan sensualitas ragawi itu pudar sedikit pun.
Bola matanya berjalan perlahan menjajaki hingga ia sampai pada satu titik, bibir itu. Bibir yang sudah membungkam Harumi dengan sangat primitif dan Kuat di Balkon tadi.
Bibir Harumi sedikit terbuka tanpa ia sadari, Matanya yang tadi sayu kini terang menderang, jantungnya mulai bereaksi kembali. Debaran itu kembali menyerang, padahal Liam belum beraktivitas apapun terhadap dirinya. Ia hanya duduk santai di sampingnya.
Belum ada sentuhan darinya sudah mampu menyihir Harumi. Membuatnya mabuk walaupun tak meneguk segelas wine, champagne atau apapun itu yang melewati tenggorokannya.
__ADS_1
Liam mengangkat kepalanya, dan menoleh.
"sedang menelpon siapa ?" tegurnya
Terdengar samar-samar suara Cathy memanggil dari balik ponsel yang teralihkan oleh Harumi akibat pemandangan memanjakan di depan matanya.
Kedua kelopak Harumi berkedip cepat, ia seolah baru tersadar dari khayalannya. Lalu menggelengkan kepalanya dengan cepat pula, menjernihkan otaknya dari pikiran sensual yang tiba-tiba menyerang.
"Kau tidak perlu khawatir, aku akan menghubungimu lagi" jawab cepat Harumi, langsung mematikan ponselnya.
Memasukkan ponsel itu kembali ke tasnya.
"Cathy menghubungiku. Khawatir karena aku tidak ada di dalam."
Liam memberi kode kepada Sekretarisnya, lalu roda mobil berputar dan mereka mulai meninggalkan tempat tersebut.
Liam mencodongkan tubuhnya, bergerak mengambil sebotol red wine menuangkan pada dua gelas kaca.
"apa yang kau katakan padanya ?" ia fokus menatap cairan wine yang dituangkannya ke gelas.
"hmm..aku cuma bilang, aku pulang lebih dulu"
"Hanya itu ?" Liam melirik sebentar setelah meletakkan botol itu.
Memberikan dua gelas berisikan wine, untuknya dan Harumi.
"Yah" Harumi menyambut gelasnya, meletakkan di pangkuannya.
Sebenarnya ia tak ingin minum, ada rasa kekhawatiran yang menghantuinya jika ia meminum dan berakhir dalam kondisi setengah sadar, Entah apa yang akan terjadi kepada mereka nantinya.
Yang ditakutkan Harumi adalah mereka akan larut dalam suasana panas yang semakin diujung tombak.
"Maaf tentang kejadian tadi " ucap Liam sambil memandangi tepi gelas itu yang belum di teguknya sama sekali lalu beralih menatap wajah Harumi
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, koment dan Vote
__ADS_1
Thank you 💋