
Rasa yang begitu menyakitkan, bagaikan deburan ombak yang begitu besar menghantam kuat.
Ini tidak masuk akal.
Dengan rasa frustasi yang memuncak, Liam kembali duduk dan pandangannya kali ini benar-benar di titik dimana ia merasakan kepedihan begitu besar. Mulutnya membentuk garis suram
Zac sangat memahami apa yang sedang dirasakan sahabatnya tersebut saat ini, dilema yah tentu saja itu kata paling pertama yang tak hentinya terlintas dipikirannya ketika ia menatap Liam diposisinya sekarang "Kau sudah melakukan tindakan yang benar dengan mulai menjauhinya. Awalnya memang tidak akan berjalan mudah, tapi ini demi kebaikan kalian. Sampai semua ingatan mu kembali."
Liam menghabiskan waktu satu menit dengan diam, di dalam hatinya ia terus mencari pembenaran mengenai apa yang sebenarnya ingin ia lakukan selanjutnya. Tapi, tetap saja tidak ada jalan keluar.
Dan, alih-alih mendapat jawaban, pertanyaan-pertanyaan malah berlipat ganda.
Sepintas Liam menggeleng dengan keputusasaannya "Aku tidak bisa menjauhinya lagi"
Liam menggosok-gosok wajah dan mengumpat pelan ketika memaksakan diri untuk menghadapi fakta-faktanya.
Zac membalas tatapan Liam dan beberapa detik berlalu "Sudah berulang kali kuperingatkan, sekali lagi kuperjelas. Harumi adalah KORBAN, dan kau adalah TERSANGKA utamanya. Dan sekarang..." pria itu terhenti. Ada guratan rasa khawatir yang mendalam di wajahnya.
"Dan sekarang Kau JATUH CINTA kepadanya. You Lost Your Mind, Liam. Buka Pikiranmu baik-baik !!!" Itu memang benar, lidah Zac sudah setajam landak.
Seraya mencoba mengekang rasa frustasinya yang memuncak, Liam mencodongkan tubuh ke depan "Yah, I know, aku akan menebus semua kesalahan yang bahkan aku sendiri tidak mengingat keseluruhannya, aku rela menerima hukuman apapun. Tapi, aku tidak bisa kehilangan Harumi"
Tangan Zac membeku, keningnya mengernyit "Waktu aku masih bertugas di Bristol, aku masih mengingat jelas malam itu, ketika kau di bawa ke Rumah Sakit dengan luka yang cukup parah di bagian belakang kepala. Itu adalah hasil pukulan benda yang cukup keras. Aku sempat terkejut, karena pasien yang kuhadapi malam itu adalah sahabat ku sendiri. Dan itulah, yang membuatmu mengalami Amnesia cukup parah. Aku memperingatkanmu karena aku mengkhawatirkanmu. Memang sulit menerima kenyataan tapi tidak bisa semua berjalan berdasarkan atas keinginan."
Liam mendengus sakit hati "dan sampai sekarang aku tidak bisa mengingat siapa yang sudah melakukannya."
__ADS_1
"Waktu kau tiba di Rumah Sakit, aku hanya melihat satu orang yang menemanimu, dan aku sangat yakin dia adalah salah satu pengawal pribadimu. Ia bahkan dengan setia menemanimu sampai kau sadar. Lalu tidak berapa lama, kedua orang tuamu datang. Mereka begitu cemas"
Kilatan rasa marah menyengat Liam "Mereka mengetahui sesuatu, tapi menutupi semuanya dengan kebohongan."
"Kau tidak bisa sepenuhnya menyalahkan mereka, mungkin wajar bagi mereka melindungi Puteranya dari jeratan hukum. Setiap orang tua memiliki caranya masing-masing."
Liam bangkit berdiri, mengumpat pelan "Mereka seharusnya tidak pernah menjadi orang tua"
"Jangan terlalu membenci kedua orang tuamu, mereka sangat menyayangimu. Aku yakin, keluargamu mengetahui semua kebenaran yang terjadi. Tapi, Liam apa kau benar-benar sampai sekarang masih belum mengingat apapun ? Apa ingatan terakhir yang kau ingat mengenai kejadian malam itu ?"
Rasa bersalah, yang tidak nyaman dan asing, menggesek-gesek sarafnya dan Liam melangkah menuju jendela. Ia tidak pernah segusar ini sebelumnya "Hujan sangat deras dan jalanan sunyi malam itu, aku yang mengemudikan mobil. Lalu, pandanganku kabur, kepalaku terasa terombang ambing. Sampai Hantaman sangat keras terjadi. Aku masih ingat suara tidak berdaya memohon pertolongan, ia tergeletak berlumuran darah di tengah jalan. Lalu..."
"Lalu apa ?"
Liam tidak ingin melanjutkannya, sulit baginya untuk membahas masa lalu yang menyakitkan. Semua tidak akan terasa mudah.
Liam menggeleng pelan, kemudian dia tertawa miris tanpa suara saat kebenaran menghantamnya telak "Setelah benda keras itu menghantam dari belakang, aku terjatuh dan tergeletak tak jauh dari Harumi, aku masih bisa melihatnya terkujur kaku tapi aku tidak bisa berbuat apapun untuk menolongnya.
Dia berusaha berteriak meminta pertolongan, tapi karena suara hujan deras dan malam itu sangat sunyi hingga tidak ada seorang pun lewat. Dengan sisa kesadaran yang kumiliki, aku berusaha kuat untuk bergerak merangkak di tengah jalan itu, mendekatinya walaupun darah mengalir terus di kepala. Padahal hanya tinggal sedikit lagi aku bisa meraih tangannya, sampai akhirnya hantaman itu kembali melayang lebih keras dari belakang. Dan ...."
"Dan akhirnya kau sudah tidak sadarkan diri"
Kepedihan karena rasa bersalah sangat menyiksa Liam selama ini. Melihat wajah Harumi, mendengar semua penderitaan yang dialaminya, itu semua membuat diri Liam tidak berdaya "Aku ingin menyelamatkannya malam itu, hatiku hancur jika mengingat bagaimana kecelakaan itu terjadi menimpanya karena kesalahanku."
Liam begitu tersesat dalam kegelapan pikirannya sendiri, wajahnya pucat pasi. Zac tidak bisa berbuat apapun untuk menenangkan sahabatnya tersebut "Bagaimana jika Harumi mengetahui kebenarannya, apa kau sudah siap ? bahkan jika kehilangan dirinya ?"
__ADS_1
Pria itu hanya diam tidak merespon, tapi tergambar jelas ketegangan dipundak bidangnya.
"Kau harus bersiap dengan segala kemungkinan terburuk nantinya, hmmm...tapi bukankah dia sudah menikah. Seharusnya, kau lebih mudah menjauhinya. Benarkan ?"
Liam berbalik dan menggeram rendah "Bukan itu yang kupermasalahkan !"
Zac mengernyit heran "Wait...kau akan merebut wanita itu dari suaminya. Membuat pernikahan mereka hancur. Ini semakin tidak masuk akal"
Liam menyeringai sinis menatapnya.
Zac langsung berdiri dan menunjuk ke arah Liam "Jauhkan pikiran bodohmu itu !! Kau GILA. Jangan lakukan itu !"
"Kau tidak perlu mengingatkan ku tentang hal yang benar, aku bosan mendengar ceramahmu" dengan nada mengejek, Liam menatap tajam Zac
Mata Zac terbuka lebar "Kau sudah terlalu terobsesi dengan wanita itu, bahkan kau lupa tujuan awalmu. Semenjak setahun lalu kau mengetahui kebenaran itu, kau berusaha mencari identitas korban kecelakaan hingga akhirnya kau menemukannya. Aku mengingat perkataanmu, bahwa kau ingin menebus kesalahanmu dengannya. Bahkan diam-diam kau selalu membantu usaha yang dijalankan Harumi, walaupun kau hanya melihatnya dari kejauhan. Kau juga melancarkan karir suaminya, kau membantu kesejahteraan hidupnya. Semua kau jalankan dengan baik agar mengembalikan kehidupannya dengan normal"
Zac mendekati Liam dan berdiri tepat di sebelahnya "Sudah banyak yang kau lakukan untuk mereka, kau habiskan sebagian besar waktumu untuk membantu kehidupannya. Tanpa sepengetahuan mereka. Sampai akhirnya, tiga bulan lalu kau memberanikan diri menemui Harumi langsung dan mulai mendekatinya."
Zac membuka mulut kembali, kemudian matanya menyipit. Beberapa detik berlalu "Kemudian, tujuanmu berubah total menjadi sebuah Obsesi. Dan Nyatanya sekarang kau justru menjalin hubungan dengannya. Bahkan kalian sudah saling Jatuh Cinta. Aku tidak habis pikir, apa yang sedang ada dipikiranmu Liam ? Sudah cukup kau merenggut harapan wanita itu, membuatnya kehilangan calon bayinya. Dan kini kau ingin menghancurkan pernikahan mereka !! "
Amarah bergejolak di dalam diri Liam dengan duri-durinya yang berlapis asam "Kau tidak tahu yang sebenarnya, Anton BUKAN Pria yang PANTAS untuknya ! Dia selalu menyakiti dan hanya membuatnya menderita bahkan dia sudah memiliki Anak tanpa sepengetahuan Harumi"
Zac menatapnya dengan seksama "What...?"
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤