Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 65 Melindungimu Selamanya


__ADS_3

Harumi sedikit terkejut, tapi ia mencoba untuk membalas dengan senyuman kecil "Yah, mungkin keberadaanku di waktu yang tidak tepat" lalu akhirnya mengangkat gelas dan meminum wine di tangannya.


Saat itu Mobil berjalan dengan normal, melintasi Jalan Raya Manhattan yang masih cukup ramai di saat malam hampir larut.


Sudut-sudut bibir pria itu melengkung, ia memang sempat mencemaskan kondisi Harumi. Tak ingin membuat wanita itu bersedih di sisinya. Tapi setelah melihat reaksi santainya, Liam bisa sedikit lega.


"aku hanya ingin kau bahagia denganku" ucap Liam memandangi kedua mata Harumi, berbalik ke arah wanita itu agar ia bisa berhadapan dengannya. Sorot matanya berbeda, Harumi menyadari hal itu.


Wine belum ada masuk ke tenggorokan Liam, ia meletakkan gelasnya di samping kursi tak ingin ada sesuatu yang mengalihkan suasana tenang mereka berdua untuk sementara.


Keadaan di mobil itu begitu hening sangat nyaman dan tenang, bahkan tak ada suara-suara bising yang mengganggu mereka.


Karena terlalu sunyi, sampai Harumi sempat cemas jika debaran jantungnya yang mulai bereaksi bisa sampai ke telinga Liam.


Sekretaris Will dan Sopir mengaktifkan pembatas space antara ruang kursi belakang dengan kursi depan di dalam Limosin tersebut. Agar adanya privasi bagi mereka berdua.


"ehmm, bagaimana pesta tadi ? apa tidak masalah jika kau pergi lebih dulu ?" sebenarnya Harumi sedikit kikuk, matanya bergerak ke lain arah. Tidak fokus dan tak ingin membalas sorot mata Liam, menurutnya mengalihkan pembicaraan jauh lebih baik untuk sekarang.


Tapi, sikap salah tingkah Harumi, sudah bisa dibaca Pria itu. Justru Liam senang, bisa membuat Harumi semakin tidak tenang, terkadang ia menunduk ke bawah, lalu menaikkan wajahnya lagi, tangannya yang satu menyelipkan helaian rambutnya ke telinga dan berbagai gerakan tak jelas lainnya.


"Tak masalah, karena bukan aku yang mengadakan pesta itu" jawabnya dengan santai


Harumi meneguk wine itu kembali, sepertinya dia mulai sulit mengendalikan dirinya. Di awal ia berusaha tidak minum wine, champagne, atau apapun itu yang akan membuat dirinya hilang kendali.


Tapi, semua buyar akibat ulah dirinya sendiri.


"Liam...sebaiknya aku pulang ke apartemen Cathy. Aku tidak bisa..."


Pria itu langsung mengerutkan alisnya, matanya menyipit membalas "Tidak aman di sana "


Hah ? Jawaban apa itu ? ekspresi Harumi tiba-tiba berubah, matanya membesar, banyak pertanyaan seolah berputar-putar dipikirannya mencari kejadian berbahaya sebelumnya yang membuat apartemen Cathy menjadi tempat tidak aman untuknya.


Yeap, tidak ada yang berbahaya kecuali tumpahan wine ke gaun Nona Angkuh itu. Bibir pedas Wanita arogant itu jauh lebih berbisa dari iblis manapun, dan Harumi yakin tempat paling tidak aman adalah di dekatnya.


Dan kembali lagi mengingat-ingat selama acara pesta berlangsung, tentu saja adegan ciuman itu, pipi Harumi mendadak merona, Itu bisa dikatakan berbahaya jika di teruskan, bukan ? ia sedikit terkekeh membayangkannya.


"tapi maksudmu ?" tanya Harumi.


Liam berbalik mengatur posisi duduknya, mengambil gelasnya. Punggungnya menegang, kedua matanya berkilat seolah menyiratkan ada sesuatu yang sulit diutarakannya.


Ia memalingkan pandangannya, beralih kepada tepi gelas yang hanya dimain-mainkannya di tangan. Menatap gelombang kecil cairan wine di dalam gelas, sempat diam beberapa detik lalu bibirnya terbuka.

__ADS_1


"Anita mengetahui semua tentang dirimu"


"Anita ?"


"Ibuku...dia wanita yang berbahaya."


Harumi terperangah mendengar jawabannya, bagaimana mungkin ibunya bisa mengetahui identitas Harumi. Dan, mendengar wanita paruh baya itu akan menyakitinya, pasti bukan hal yang bisa dianggap serius. Tidak Mungkin !


"Kau pasti bercanda, kan ?"


"Apa aku terlihat seperti sedang bercanda "


Tubuh Harumi sempat mematung, wanita dengan sorot mata penuh kebencian itu akan menjadi ancaman untuk Harumi. Benarkah ?


Harumi menggigit bibirnya, berusaha keras berpikir jernih.


Pembicaraan mereka berubah menjadi ketegangan, Liam menyadari kulit Harumi memucat serta bayangan gelap muncul di bawah matanya.


"Bagaimana jika ia akan membeberkannya kepada Anton dan keluargaku ?"


Liam mendekatkan tubuhnya, menyentuh wajah lembut Harumi. Memandangi setiap jengkal bagian wajahnya.


Hangat, itu yang pertama dirasakannya ketika tangan itu mengusap perlahan pipinya.


"Dia tidak akan berani mengusik kehidupanmu, Percayalah. Reputasi keluarga sangat penting baginya, tapi ia tidak segan melenyapkan seseorang yang tidak disukainya"


Tangan Harumi bergetar, perlahan ia menggosokkan di pahanya, semakin berkeringat ditelapaknya.


Dia tidak sedang baik-baik saja, bibirnya merapat membentuk garis keras dan tegang. Kengerian merambat di tulang punggungnya saat dia mendengar kata "melenyapkan" pertama kalinya.


"Ya, Tuhan" Harumi berbisik sambil menggelengkan kepala.


"Hey...Hey...Lihat aku.." Liam menenangkan Harumi, melemparkan tatapan mengunci kepadanya. "Tidak akan ada yang bisa menyakitimu, Tidak akan...selama kau bersamaku"


Bibir Harumi akhirnya memaksakan untuk bicara "Liam...sebaiknya kita akhiri saja sekarang. Ini tidak benar"


Liam mendengus "Akhiri ? No..No..itu tidak akan pernah terjadi."


Perasaan tak nyaman bangkit di dasar perut Harumi. Dia tahu sifat Liam yang keras kepala.


Dia tak mengalihkan tatapannya dari sosok Harumi yang tak bergerak.

__ADS_1


Tanpa berpikir lama, Liam menarik Harumi dalam pelukannya. Dan saat dia memeluk tubuhnya, ia merasakan sengatan dingin rasa takut untuk pertama kalinya.


"Liam..." lirihnya


"Jangan bicara lagi. Tidak pernah ada kata berakhir"


Pelukannya semakin erat, tubuh Harumi seolah mengecil dalam dekapan Liam. Kehangatan, debaran jantung yang saling terkoneksi, aroma mereka yang menyatu, membuatnya mengerti bahwa Pria ini berbeda, dia sangat menyayangi Harumi.


Sekilas terbesit dalam benaknya, Harumi tidak ingin melarikan diri lagi. Ia ingin terus bersamanya, melawan keadaan, melawan orang-orang yang akan menghujat mereka, kejamnya dunia yang akan mereka terima akibat Hubungan Terlarang ini.


Harumi ingin menghadapinya semua bersama. Tapi....


Tapi.... Harumi masih belum kuasa menyakiti Anton, Ibu, Ayah, Mama Elena, dan orang-orang yang sudah menyayanginya.


Dia pun tak sanggup melihat reaksi Liam nantinya jika pria itu mengetahui kondisi Harumi yang sebenarnya. Kondisi yang selalu menjadi tombak tajam selalu menusuk dalam pernikahannya, bahkan Anton suaminya pun tidak mau menerima kondisi Harumi dengan lapang. Itu bagaikan Aib baginya.


Sebulir airmata jatuh dari pelupuk matanya, memejamkan mencoba menenangkan hatinya yang bergejolak.


Harumi tak ingin menyakiti Liam.


Perlahan Liam melepaskan pelukannya, menatap Harumi tertunduk menyembunyikan wajahnya, adanya kecemasan mendalam. Helaian rambut hitamnya yang panjang tejuntai menutupi sebagian wajahnya.


Liam menyentuh dagu dan mengangkat wajah wanitanya. Dia terkejut, Harumi menangis. Ini kedua kalinya, sejak pertama bertemu Harumi. Dia menyaksikan lagi, wanita yang selalu di lindunginya meneteskan airmata membasahi pipinya.


Pertama kali melihatnya menangis adalah ketika di Mansion, kamar pribadinya ketika ia mendaratkan ciuman pertamanya kepada Harumi.


Mengusap mencoba menghapus airmata itu, karena melihatnya seperti itu sangat menyiksa Liam.


Bulumata hitam lentik Harumi basah, matanya berkaca. Dia tak mampu berucap sepatah kata pun, bibirnya kelu tubuhnya mulai tidak terkoneksi dengan pikirannya.


Harumi mengerti, mereka sudah terperangkap dalam hubungan terlarang ini. Melepaskannya pun takkan bisa, entah apakah ini bisa disebut dengan Cinta atau hanya hasrat Sesaat. Untuk sekarang itu terus berputar di dalam pikirannya. Tapi, dia ingin memastikannya, dorongan itu sangat kuat.


Pandangan Harumi samar-samar, kedua tangannya di atas paha mencengkeram erat gaun hitamnya.


Kemudian, Harumi semakin mendekati wajah Liam menutup perlahan kedua matanya.


Kali ini, untuk pertama kalinya Harumi mendaratkan ciuman pada Liam.


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengab Like, koment dan Vote

__ADS_1


Thank you 💞


__ADS_2