Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 134 One Step Closer


__ADS_3

Sementara itu di tengah meeting dengan para bawahannya, Anita terus memikirkan pertemuannya dengan Elena.


Seolah ada banyak sesuatu yang memenuhi otaknya. Hal-hal dari masa lalu yang terus menghantui kini semakin kuat menyeruak dan menariknya kembali.


Anita memerintahkan seorang pengawal pribadinya agar terus mengawasi Elena. Dan melaporkan semua informasi terbaru mengenai wanita itu.


Bagi Anita, ini akan menjadi kesempatannya untuk menyingkirkan Elena. Menyingkirkan wanita itu dari hidupnya. Karena semakin ia melihat lebih dalam, maka duri itu semakin kuat menusuk dirinya.


***


Harumi mengambil segelas air dari dapur lalu bergegas menuju kamar tidur Ibu Mertuanya. Ia merasa prihatin dengan kondisi Elena tadi, setelah ia kembali dari perjalanannya dengan Ameera.


Tubuh Elena sempat drop dan lemah, tapi setelah satu jam ia meminum obat. Perlahan-lahan kondisinya mengalami perubahan.


Setelah Anton menerima telepon dari Ameera, putera Elena tersebut tampak sangat cemas, panik dan langsung bergegas menuju Mall.


Tetapi, untunglah Ameera dengan cepat memberikan obat tersebut, obat-obatan yang selalu rutin dikonsumsi dan tidak pernah lupa di bawa Elena.


Jantung Elena memang sangat lemah apalagi jika ia harus menerima banyak tekanan pikiran yang sangat menyita tenaga dan pikirannya, kondisi wanita paruh baya itu akan mudah melemah bahkan jika ia terlambat sedikit saja Elena akan mengalami kondisi yang lebih parah.


Ameera bersikeras untuk membawa ibunya tersebut ke Rumah Sakit, untuk ditangani langsung oleh Dokter Ahli.


Tapi, Elena langsung menolak dengan tegas. Wanita itu keras kepala, Elena lebih memilih untuk beristirahat di rumah saja.


Setelah dua jam ia berbaring dan tertidur di kamarnya. Kini, kondisinya mulai perlahan-lahan kembali normal walaupun sisa-sisa rasa letih itu masih tampak di wajahnya.


Elena menyandarkan tubuhnya di tempat tidur, mengenakan pakaian tidur berbahan katun sambil pandangannya ke arah TV.


Kemudian, ia melihat Harumi membuka pintu dan memasuki kamar sambil membawa segelas air.


Guratan kecemasan tergambar jelas di wajah menantunya tersebut. "Bagaimana kondisi Mama ?" Harumi meletakkan gelas tersebut di nakas. Lalu, ia duduk di tepi tempat tidur tepat di samping Elena.


Elena menatap lalu mengulaskan senyuman "Good, Berkat Tuhan yang selalu ada melindungiku."


Harumi menatapnya untuk sesaat, tak kuasa menyembunyikan kecemasan dari matanya yang berkabut. Elena memahami itu "Tidak usah cemas, jangan terlalu dipikirkan. Semua akan baik-baik saja"


"Ma, minumlah dulu. Apa ada yang ingin Mama makan ? Nanti aku akan membuatkannya." Harumi mengambil gelas tadi dan memberikannya kepada Elena


Dengan perlahan wanita paruh baya itu meneguk dan menghabiskan air yang di dalam gelas "wah, segar sekali" dengan tersenyum santai Elena menatap gelas yang sudah kosong


"Tidak perlu Rumi. Kondisi Mama baik-baik saja. Mama masih kenyang. Oh ya, dimana Anton ?"


Bulu mata Harumi terangkat dan senyum karena kecemasan itu berangsur-angsur memudar setelah melihat reaksi Elena yang tampak normal "Anton pergi keluar, katanya ia ke Apotek membeli beberapa vitamin untuk mama"


"Rumi, apa boleh aku menanyakan sesuatu yang sangat pribadi padamu ?"


Alisnya terangkat "Yah ? Ada apa, Ma ?"

__ADS_1


Elena diam beberapa detik, lalu sedetik kemudian ia menarik napas dan menatap menantunya itu "Apa hubungan mu dengan Anton baik-baik saja ?"


Wajah Harumi tampak mulai terkejut dan kedua matanya terbuka lebar "Yah, kami baik-baik saja" jawaban yang terdengar ragu-ragu


Elena mengernyit "Benarkah ? Maafkan jika Mama terlalu ikut campur dengan urusan rumah tangga kalian, cuma aku hanya merasa kalian begitu jauh bahkan jarang sekali aku melihat kalian mengobrol satu sama lain. Kalian benar-benar seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal."


Harumi berusaha memutar otak untuk mencari-cari alasan agar Elena tidak mengulik terlalu dalam tentang hubungan dirinya dan Anton yang sudah semakin tidak Akur.


Mengingat kondisi ibu mertuanya tersebut yang sangat rapuh, Harumi tidak ingin menyakiti Elena. "Percayalah, Ma. Kami baik-baik saja. Hanya saja. Anton sibuk dengan pekerjaannya, ia harus tetap mengontrol semua proyek di kantornya walaupun ia sedang cuti."


Harumi sadar, bahwa semakin ia berbohong itu akan lebih menyiksa dirinya. Karena Wanita itu menyadari kalau Harumi tidak pandai dalam hal menyembunyikan kebohongan.


Mertuanya menghembuskan napas dengan berat "Ok, Aku percaya pada kalian. Kuharap kalian tetap bisa bersama sampai maut memisahkan, Karena Mama hanya ingin kalian bisa hidup bahagia saling berdampingan." Tetiba Elena meraih tangan Menantunya tersebut dan menggenggamnya dengan penuh kelembutan "Anton sangat mencintaimu, Rumi. Aku mengenal baik Puteraku, walaupun ia sangat keras kepala, ambisinya tinggi. Tapi, jauh dilubuk hatinya Anton Pria yang baik. Hanya saja banyak yang sudah dilaluinya dalam hidup. Itu yang membuatnya bodoh dalam bersikap manis pada wanita. Jadi, kumohon bersabarlah dengannya. "


Harumi tertegun, gejolak hebat berdentam di dalam hatinya. Antara rasa bersalah dan kesedihan bercampur aduk.


Ini hal yang paling sulit untuk di hadapi Harumi selama hidupnya, menjalani Pernikahan yang tidak bahagia, menerima semua kenyataan pahit, perasaan yang mulai berubah.


Semua menghimpitnya secara bersamaan, memenuhi ruang udara di aliran pernapasannya. Bahkan untuk menghirup udara sekalipun sulit baginya.


Menerima kenyataan bahwa tidak mungkin Harumi mengecewakan permintaan Ibu mertuanya tersebut, apalagi mengingat kondisinya saat ini.


Harumi seperti berada di ujung jalan, melayang-layang di udara entah kemana arah angin akan membawanya nanti. Semua tampak kabur berkabut, pandangannya kosong dengan berbagai kecemasan yang meluap-luap.


Harumi tidak banyak memberikan respon, ia hanya menganggukkan kepala perlahan dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.


"Yang terpenting sekarang adalah kondisi kesehatan Mama. Mama juga harus banyak istirahat dan jangan lupa makan ya. Aku akan memasakkan makanan kesukaan mama."


Harumi menahan diri, lalu ia berdiri memberikan waktu untuk sang ibu mertua istirahat.


Tak lama berselang, Julie masuk ke kamar. Si gadis kecil yang selalu menggemaskan tersebut berlari, naik keatas ranjang dan langsung memeluk Neneknya.


"Granny !" teriaknya


Harumi membiarkan mereka berdua bersama, saat ia akan meninggalkan kamar tersebut.


"Oh ya, Siapa yang mengirimkan bingkisan itu tadi malam ? Kau sudah menemukan nama pengirimnya ? "


Tangan Harumi hampir meraih gagang pintu lalu terhenti, ia sempat membeku. Bulumatanya terangkat dan bola matanya melebar.


Harumi tahu bahwa mertuanya tersebut ada sewaktu bingkisan itu datang.


Harumi berbalik dan dengan ekspresi datar "Hanya kiriman dari seorang teman lama, aku hampir lupa pernah memesan barang padanya."


Elena terdiam untuk beberapa saat, lalu akhirnya memberikan seringai kecil "ooh"


***

__ADS_1


Waktu hampir menunjukkan pukul dini hari, malam sudah semakin pekat.


Anton terbangun dari tidurnya, Pria itu yang sempat tertidur pulas di sofa merasakan tenggorokannya kering.


Ia berusaha mengangkat tubuhnya walaupun sangat berat baginya membuka kedua matanya.


Pria itu merasa haus, ia beranjak dari sofa. Ia berniat keluar kamar menuju dapur untuk meminum segelas air dari dalam lemari es.


Anton melangkah menuju pintu, pria itu tidak melihat Harumi di tempat tidurnya. Yah, tempat tidur itu tampak kosong.


Sontak itu membuatnya heran, lalu dengan sedikit kabur karena matanya yang masih mengantuk. Anton melihat ke arah jam dinding, berulang kali ia mengusap kedua matanya.


Dahinya berkerut, saat ia mengetahui bahwa pada saat itu waktu menunjukkan jam 2 dini hari.


Ia merasakan ada kejanggalan, karena Harumi tidak ada di tempat tidurnya di jam segini.


Tapi, Anton berusaha membuka pikirannya kalau istrinya itu mungkin sedang merasakan hal yang sama sepertinya. Mungkin Harumi sedang berada di dapur.


Pria itu menarik napas lalu melanjutkan langkahnya keluar kamar.


Sesampainya di dapur, kedua sorot mata Anton memindai ke seluruh sudut tapi ia tidak menemukan Harumi di sana.


Itu membuatnya sedikit khawatir, tapi Anton tidak ingin pikiran negatif mengganggunya lalu ia mengibas-ngibaskan kepalanya membuang jauh segala hal-hal buruk.


Mungkin saja Harumi sedang di kamar mandi, pikirnya.


Saat ia membuka pintu kulkas, Anton mendengar suara seseorang yang sedang berbicara dengan pelan. Samar-samar ia mendengar dari dapur, sepertinya suara itu tidak jauh dari sana.


Karena rasa penasaran yang begitu kuat, ia mengikuti arah suara tersebut. Karena kondisi yang sangat sunyi pada malam itu, setiap ada sesuatu yang bersuara akan terdengar jelas bahkan jika suara itu pelan sekalipun.


Perlahan Anton melangkah dengan hati-hati, ia tidak lupa mengambil sebilah pisau yang ditemukannya di dapur untuk berjaga-jaga.


Kemungkinan terburuk suara itu bisa saja berasal dari seseorang yang ingin melakukan kejahatan dan bisa menyerangnya kapanpun.


Dan Anton cukup siap untuk menghadapi penyerangan apapun.


Arah suara itu semakin terdengar, walaupun Anton tidak bisa memastikan apa yang dibicarakan orang tersebut.


Suara itu ternyata berasal dari teras di halaman belakang tidak jauh dari dapur.


Dengan menggenggam pisau tersebut sangat kuat, ketegangan menguat di punggungnya. Apalagi suasana yang sangat sunyi menyelimuti saat itu begitu intens menguasai dirinya. Anton menarik napas dalam-dalam, di saat ia akan membuka pintu kaca.


Anton sontak keheranan dengan apa yang dilihatnya dari balik pintu kaca transparan tersebut, kedua matanya terbelalak dan ternyata suara itu...


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koemnt dan Vote

__ADS_1


Thank you ❤


__ADS_2