
Rumah Harumi & Anton
Pukul 7.15 pm
Rutinitas yang biasa kulakukan setelah pulang dari Toko mulai memasak untuk makan malam. Aku berharap suamiku pulang lebih awal hari ini.
Banyak yang ingin aku bicarakan dengannya, mengenai Liam dan rencanaku untuk menghabiskan hari Valentine bersama Anton. Waktu kami masih pacaran dulu, Anton bukanlah tipe Pria Romantis. Ia sangat kaku untuk masalah hal-hal seperti itu, bahkan untuk memberikanku bunga saja harus kuminta dulu.
Tapi dulunya Anton memang pria yang sopan dan lembut terhadapku. Memang sangat berbeda dengan dirinya sekarang yang tampak sangat dingin dan semakin cuek.
Aku memasak Bubble and Squeak malam ini, ini menu yang sangat mudah di buat. Ibu sering memasakkan menu itu untuk keluarga.
Makanan ini membuatku rindu dengan Ibu, ayah, Takeru dan Ben. Kami memang jarang bertemu akhir-akhir ini karena kesibukan kami masing-masing. Ayah lebih fokus dengan usahanya sendiri, sebuah Bengkel mobil kecil-kecilan yang dijalankannya sudah 10 tahun ini, setelah ayah pensiun sebagai pelaut.
Walaupun jarang bertemu, aku tidak pernah lupa menghubungi mereka lewat telepon. Terkadang ibu mampir ke rumahku membawakan bahan makanan atau sekedar menanyakan kabar kami. Aku hanya berharap keluargaku bisa hidup bahagia dan sehat selalu.
Meja makan pun akhirnya sudah tertata rapi, masakanku selesai juga. Semoga Anton cepat pulang.
Aku menunggunya dengan sabar di meja makan.
Tak lupa kukirim pesan singkat ke Anton, menanyakan jam berapa ia akan pulang.
Ia langsung membalas pesanku, ternyata bukan jawaban yang kuharapkan dari suamiku.
"aku tidak bisa pulang malam ini, masih banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan segera. Aku akan tidur di kantor, ada Daniel dan beberapa staff juga. Kau tidur saja duluan"
Aku tidak membalas kembali pesan Anton, sudah cukup hanya dengan mengetahui kabarnya saja malam ini sedikit membuatku tenang walapun aku sangat sedih.
Dengan hati yang sangat kecewa, aku menitikkan air mata. Ku paksa tubuhku untuk bergerak membereskan meja makan yang sudah kutata rapi sebelumnya, kumasukkan makanan yang kumasak tadi ke dalam kulkas.
Dengan langkah yang sangat berat aku berusaha begerak. Bahkan untuk menuju lemari es pun terasa jauh.
Setelah selesai urusan di dapur, aku melangkah menuju sofa. Kusandarkan tubuhku, berbaring dengan kedua lenganku sebagai bantalnya. Tatapan ku kosong melihat ke arah TV yang tak menyala.
Aku sangat kesepian dan sunyi, hanya tu yang kurasakan sekarang.
*Kring
Kring
Kring*
Tak lama ada panggilan masuk, bergegas aku berlari mengambil handphoneku yang kuletakkan di atas meja makan. Yang ada di pikiranku semoga itu dari Anton, aku berharap ia berubah pikiran dan bisa pulang.
Tapi ternyata bukan, aku agak kecewa.
"Hallo" jawabku
__ADS_1
"Apa kau sudah makan, Gadis Bunga ?"
Liam yang tengah menelponku saat ini.
"Sudah, ada apa Liam ?"
"Aku lapar, temani aku malam ini"
"Lapar ? tapi Liam ini sudah malam, aku tidak bisa menemanimu keluar."
"Kau tidak perlu keluar menemaniku, aku sudah ada di depan rumahmu"
Aku sangat terkejut mendengar jawaban Liam, apa maksudnya ia berada di depan rumahku. Kuakhiri panggilannya.
Bergegas aku menuju jendela depan, ternyata memang benar. Kulihat Liam sudah berdiri di samping mobilnya yang terparkir di depan rumahku.
Kuhampiri ia di luar yang seorang diri tanpa sekretaris dan para Bodyguardnya.
"Liam apa maksudnya ini ?" tanyaku yang benar-benar terkejut di buatnya.
"aku sangat lelah dan lapar, apakah kau tidak kasian padaku ?" Liam memasang wajah manjanya.
"Liam cukup, jangan bercanda seperti ini. Bagaimana kalau Anton sampai tau kau ke sini ? Aku tidak nyaman bagaimana tetangga melihatmu malam-malam ke rumahku."
Aku mulai gelisah, karena tetangga-tetangga daerah sini senang bergosip. Tak ingin jadi bahan pembicaraan mereka, aku berusaha memaksa Liam untuk pulang.
Dengan cepat Ku tarik tangan Liam, membawanya masuk ke dalam rumah. Jika kubiarkan ia akan semakin bersuara, dan pasti akan ada tetangga yang mendengarnya.
"Liam, aku tidak bisa seperti ini."
Kami sekarang sudah berada di dalam rumah, Liam berdiri sangat dekat di hadapanku. Ia menatapku tanpa bicara, mata kami saling bertemu.
Ia membelai puncak kepalaku lagi, Liam sering melakukan seperti ini padaku.
"Liam, aku akan menyiapkan makan malam untukmu, tapi aku mohon setelah ini kau harus pulang."
Berusaha mengalihkan, aku tidak ingin terlalu lama berdua saja dengannya malam ini. Aku merasa tidak pantas jika kami seperti ini.
"Rumi, ikutlah denganku Ke California besok ! aku tidak tahan meninggalkanmu seperti ini, aku tidak tahan merindukanmu"
Tiba-tiba Liam menarik tanganku dan memelukku dengan erat. Mencium keningku dengan lembut.
Jantungku mulai berdebar sangat kencang, dalam pelukannya aku bisa merasakan detak jantung Liam. Ia pun sama berdebarnya sepertiku. Tubuh kami saling memberikan reaksi yang sama.
"Liam lepaskan aku, aku akan mengambilkan minuman untukmu " Berusaha melepaskan pelukannya dari ku.
Aku menuju dapur, mengambil gelas dan sebotol wine untuknya.
__ADS_1
"Kau mau wine, Liam ?" teriakku dari dapur.
Liam duduk menungguku di ruang tamu.
"Oke" jawabnya
Sambil menyiapkan makanan untuknya, aku mengajak Liam ngobrol dari dapur agar tidak terasa sunyi dan canggung.
"Kenapa Sekretaris Will tidak ikut ?"
"Untuk apa ia ikut, aku tidak mau ia menontoni kita berpelukan" Liam selalu dengan santainya menjawab pertanyaanku.
Liam berdiri dari duduknya, melangkah memandang ke sekeliling rumahku. Ia tetiba berhenti menatap foto pernikahanku di atas Rak Buku. Ia menatap penuh iri dan cemburu.
Lalu ia melangkah menuju dapur, melihatku yang tengah sibuk menyiapkan makanan.
Ia kemudian memelukku lagi dari belakang, aku yang terkejut terlihat panik dan menjatuhkan sendok ke lantai.
"Liam hentikan, jangan seperti ini. Bukankah aku sudah bilang kita hanya sebagai teman dan tidak mungkin menjalin hubungan lebih."
"Biarkan sebentar saja. Besok aku tidak bisa bertemu denganmu sementara waktu" bisik Liam
Perlahan ia menyingkirkan rambut panjangku ke samping, bisa kurasakan hembusan nafasnya menyentuh tubuhku. Ia mendaratkan ciuman di leherku, mengukirkan tanda-tanda cintanya.
Tubuhku seolah tersihir olehnya, terikat tak ada perlawanan. Aku takut ini semakin membuatku terhanyut.
Tangannya yang melingkar di pinggangku seakan tak ingin ada penghalang lagi untuk kami untuk saling menikmati malam itu.
Liam semakin berani, ia mulai tidak perduli dengan segala resiko yang akan dihadapinya nanti. Ia sudah sangat menginginkan Harumi menjadi miliknya.
Tak lama, aku tersadar gara-gara mendengar suara dering panggilan masuk dari Handphoneku. Aku langsung melepaskan diri dari Liam dan berlari menjawab panggilan itu, yang kukira dari Anton.
"Hallo Kak ?" panggilan masuk dari Takeru Adikku
"Ada apa takeru ?"
"Ibu berpesan Besok Kaka dan Kak Anton makan malam di rumah, besok Ulang tahun Ben, apa kaka lupa ?"
"Tentu saja kaka ingat ulang tahun Ben, kaka pasti ke sana, salam untuk ibu, ayah dan Ben ya"
"Okee, daah" Takeru langsung menutup teleponnya.
#Jangan lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank You ❤