
Harumi bungkam seribu bahasa, tidak ada pertanyaan lagi yang ingin dilontarkannya.
Cukup, Ini sudah cukup membuatnya perih. Semakin ia mencari jawaban semakin rasa sakit itu mendekat.
Harumi tidak akan sanggup lagi menahan, tubuhnya melemah oleh semua hantaman masalah demi masalah yang menimpanya.
Dengan sekuat tenaga, Harumi mengepal kedua tangannya menahan air mata yang hampir jatuh dari pelupuk mata. Perasaannya sakit, pikirannya buntu dengan ombak-ombak besar menyelimuti kehidupannya.
Kepalanya menunduk memandangi kedua kakinya, pikirannya hampa dan melayang. Kakinya seperti membeku tidak merasakan apapun.
"Mrs. Harumi..."panggilnya
Samar-samar ia mendengar panggilan itu, lalu ia mengangkat wajahnya.
Dokter itu menatapnya dengan iba "saya paham, ini tidaklah mudah untuk anda menerima kabar buruk seperti ini. Tapi, saya dan Dr. Lynn akan berjuang untuk kesembuhan anda. Jadi, saya harap anda harus Kuat."
Dengan menahan tangis, Harumi membuka bibirnya "A-apa...apa yang harus kulakukan, Dok ?"
"Satu-satunya cara, adalah dengan menjalani Operasi. Secepatnya, sebelum Kista itu semakin berbahaya. Jika, sudah sampai ke tahap Kanker. Sulit untuk memulihkannya kembali, karena itu perlahan akan menyebar dan merusak bagian dalam tubuh yang lainnya. Sehingga akan membahayakan keselamatan anda."
"Operasi ?" tanyanya pelan yang hampir menyerah
"Benar, alangkah baiknya anda harus memberitahukan perihal ini kepada suami dan anggota keluarga terdekat lainnya. Penting sekali dukungan dari mereka untuk membantu kesembuhan anda. "
Dunia terasa berputar-putar di atas kepala Harumi, sedikit pusing, dan matanya berkabut oleh butiran-butiran air mata yang sulit tertahan.
Harumi bergegas berdiri, ia takut. Takut dengan apa yang akan didengarnya. "Terimakasih, dok. Aku harus pergi"
Dokter itu pun terkejut dengan respon Harumi, ia sontak ikut berdiri "Baiklah, dan saya harap paling lambat satu bulan. Anda harus segera mengambil keputusan, sebelum semuanya terlambat."
Harumi mengangguk pelan dengan wajah tersenyum penuh tekanan. Harumi tidak mengucapkan apapun lagi.
Dan ia memilih langsung berjalan keluar ruangan dengan perasaan yang bergemuruh.
Sepanjang koridor Rumah Sakit, dengan langkah-langkah yang berat. Harumi hampir tumbang tidak sadarkan diri, tubuhnya lemas, pandangannya kabur, tapi ia berusaha menahan diri dengan kekuatan yang tersisa.
Tangannya terus meraba-raba pada dinding koridor, seperti ada ribuan benda tajam di dalam perutnya, sakit. Hingga pada akhirnya airmata itu tumpah. Harumi menangis sejadi-jadinya. Kedua kakinya kaku tak bergerak, lemas dengan gemetaran ia menjatuhkan tubuhnya lalu duduk di lantai.
Menyakitkan, Harumi terus menepuk-nepuk dadanya dengan keras "Tuhan, Kumohon. Kumohon. Bawa pergi semua penderitaan ini. " suaranya parau karena menangis.
Harumi duduk, Menangis. Menangis. Hanya itu yang bisa dilampiaskannya saat ini.
Terdengar seseorang berlari-lari menghampirinya. Seorang Perawat Rumah Sakit terkejut, melihat kondisi Harumi.
__ADS_1
"Nyonya...Nyonya..." panggilnya samar-samar terdengar ditelinga Harumi
Kepala Harumi masih tertunduk ke bawah, tubuhnya mulai sulit digerakkan, ia bersandar pada dinding koridor.
Dua Perawat lainnya yang tidak sengaja lewat di dekat situ juga tampak terkejut dan bergegas menghampiri Harumi.
Mereka segera membantu Harumi berdiri, tubuhnya lemah dan tidak berdaya. Perlahan-lahan dua perawat membopong dan yang satu membawakan kursi roda.
"Nyonya, anda bisa mendengar saya ?!" Perawat wanita itu berusaha berinteraksi dengan Harumi, tapi ia tidak merespon sama sekali.
Harumi pun akhirnya tidak sadarkan diri, pandangan yang awalnya kabur akhirnya berubah gelap. Kedua matanya tertutup perlahan.
Harumi tidak memiliki kekuatan lagi bahkan untuk menggerakkan jarinya dan tubuhnya terasa dingin.
***
"Mr. Seymour, demikian Laporan Perencanaan yang dapat kami laporkan untuk saat ini. Untuk Penyelesaian Proyek Pembangunan Hotel Prime Golden di Santa Monica yang sedang kami jalankan saat ini masih berjalan di tahap 75% dan anggaran yang sedang..."
"Cukup, untuk anggaran bagaimana Mr.Dalbert ?" sela Liam tegas lalu sorotan tajamnya beralih kepada seorang pria paruh baya duduk tepat di sisi kanannya.
Pria itu pun segera menjelaskan beberapa laporan Anggaran didepan seluruh Anggota Rapat.
Suaranya terdengar sedikit terbata-bata, karena sesuatu yang disampaikannya adalah Hal yang sangat krusial. Jadi, ia begitu hati-hati.
Liam mendengarkan, ekspresinya dingin. Suasana rapat sangat tegang dan tenang. Liam adalah Pemimpin yang sangat teliti, kritis dan cerdas bahkan ia dengan mudah menemukan sedikit saja ada hal mencurigakan dalam Proyek Kerja Perusahaannya. Dia tidak mudah di manipulasi oleh semua orang.
Seolah ada sesuatu yang tidak nyaman di dalam benaknya, tentu saja. Sudah sejam lalu ia menghubungi dan mengirim pesan singkat ke ponsel Harumi. Tapi, tidak ada balasan.
Liam merasakan kecemasan. Sebenarnya ia tidak ingin meninggalkan Harumi sendirian di rumah baru mereka, apalagi Harumi masih belum beradaptasi dengan kediaman tersebut.
Sedetik kemudian, ponsel Liam bergetar.
Sebuah panggilan masuk dari seseorang.
Liam memberi kode dan menghentikan Rapat, dia menutup pertemuan penting saat itu.
Setelah Liam berdiri Semua anggota rapat pun langsung berdiri, menghormati Liam.
Lalu, Liam bergegas keluar.
Sekretaris Will yang selalu setia mendampingi, mengikuti atasannya tersebut dari belakang keluar Ruang Rapat. Diikuti pula tiga orang kepercayaan Liam di Perusahaan.
"Hallo" sambil berjalan, Liam berbicara dengan seseorang di ponselnya
__ADS_1
"Kami menemukan informasi identitas baru Roseanne, Boss."
"And then ?"
Ketika Liam tengah berbicara serius. Sekretaris Will juga menerima panggilan masuk dari ponselnya.
"Menurut informasi yang akurat, Roseanne mengganti namanya menjadi Elena Rian..."
"Tuan, maaf menyela pembicaraan anda" Sekretaris Will bergegas menghampiri Liam, dengan wajah cemas
Liam teralihkan, ia menoleh. Belum sempat ia selesai mendengarkan jawaban dari orang suruhannya itu.
"Ada apa ?" Liam menjauhkan ponsel dari telinganya, dan menatap Sekretaris Will
Dengan suara pelan, Sekretaris kepercayaannya itu mendekat "Nyonya Harumi sedang di rawat di Rumah Sakit, ia mengalami..."
Mendengar itu, Liam sontak terkejut. Ia tidak mendengarkan kelanjutannya.
Langkah kakinya terhenti, sorotan matanya kalut oleh kecemasan yang memuncak.
Wajahnya gusar, ia langsung bergegas meninggalkan tempat itu. Tanpa memperdulikan apapun lagi di sekelilingnya.
Liam berlari secepatnya menuju keluar, Langkah kakinya bergema, punggungnya tampak tegang, Liam tidak pernah terlihat begitu ketakutan seumur hidupnya. Sosoknya begitu tenang, tegas dan dingin. Tapi, mendengar kabar itu. Semua berubah, Liam bukan lagi pria yang dingin seperti dulu. Ada Harumi kini disampingnya, seseorang yang selalu dilindunginya.
Sesegera ia masuk ke mobil yang sedari tadi sudah menunggunya di Pintu Utama.
***
"SUDAH KUKATAKAN, AKU TIDAK INGIN MEMBAHAS APAPUN !!" sahut kasar Robert, suaranya terdengar jelas di Ruang Tengah.
Ameera tampak menangis "Sayang, ada apa ? Kumohon katakan."
Tatapan Robert mengeras, sang suami terbakar amarah yang tidak tertahan "AKU DI PECAT, MEERA. DENGAN ALASAN ADA PENGGELAPAN DANA. Bahkan aku sendiri tidak mengerti bagaimana bisa semua bukti-bukti itu mengarah kepadaku. Aku bekerja belasan tahun di sana. Tapi, Kenapa tidak ada seorang pun yang mempercayaiku. INI TIDAK MASUK AKAL !!!"
Sambil terisak, wanita itu berusaha menghampiri suaminya. Menenangkannya. Tapi, tampak Robert sangat kacau. Ia merasa tidak bersalah. Dan terus berkata kasar pada Ameera. Untuk melampiaskan kekecewaannya.
Pikiran Pria itu benar-benar berantakan, ia bahkan sebelumnya sampai mengamuk di tempat kerjanya hingga pihak berwajib turun tangan. Dan mengeluarkan Pria itu secara paksa dan tidak terhormat dari Perusahaan.
Ameera sedih dan terus menangis melihat kondisi suaminya "Robert, aku akan selalu disampingmu. Semua pasti akan kita lalui."
"DIAAAAM !! KAU TIDAK MENGERTI APAPUN. KAU HANYA SEORANG ISTRI YANG BISANYA MENGURUS ANAK. TIDAK AKAN PAHAM SITUASIKU "
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Komen dan Vote
Thank you ❤