
Liberty Cafe, New York City
"Dari Tato di leher mereka, sudah bisa dipastikan Mereka adalah anggota dari Kelompok Orion" ucap Sekretaris Will dengan kecurigaan
Respon Liam cukup tenang, ekspresinya tidak menggambarkan keterkejutan yang berarti.
Liam merasa seolah seseorang mengendap-endap ingin menusuknya dari belakang, mengingat kejadian ini apalagi ketika Sekretaris Will mengucapkan nama itu. Nama Kelompok yang sangat dikenal Liam dengan baik.
Kelompok Orion adalah salah satu Kelompok Mafia terbesar di Italia, Ayahnya sangat berhubungan baik dengan Petinggi Orion dan mereka memiliki relasi yang sangat solid dalam dunia bisnis. Bahkan Roberto sering melakukan Kerja sama antar sesama Petinggi Kelompok Mafia.
Liam tersenyum sinis "Yah, I Know"
Sekretarsi Will menatap dengan heran "Tapi...apa tujuan mereka menyerang Tuan ? Hubungan kita dengan mereka sangat baik."
Ketika mengamati wajah bergurat cemas dari Sekretaris kepercayaannya tersebut yang duduk di depannya. Liam tetap bersikap tenang
"My Mother"
"Mrs. Anita Seymour ? Maksud Tuan..."
"Yah, karena mereka bukan mengincarku, tapi Harumi. Dan yang bisa berhubungan langsung dengan Orion adalah....Ibuku"
Sorot tatap Sekretaris Will mengeras "bagaimana mungkin..."
Liam mengangguk bersamaan dengan sudut bibirnya yang melengkung, karena Liam sangat paham dengan sifat Ibunya yang bisa bertindak kejam dan berbahaya. "Bereskan semua kekacauan tadi, jangan ada media mana pun yang mengekspos kejadian ini terutama identitas Harumi."
"Baik, Saya mengerti" Pria paruh baya itu langsung berdiri dan berlalu pergi
Dengan sikap santainya, Liam mengambil cangkir yang berisikan kopi Americano di hadapannya. Setelah meletakkan cangkir, sorot matanya menatap dinding kaca yang menembus pemandangan jalan raya New York tepat di sebelahnya.
Mobil mewahnya terparkir tepat di depan Cafe, dan pria itu tahu Harumi sedang duduk menunggunya di dalam mobil.
Liam bersandar di kursi, mengawasi ke arah luar seolah-olah ia sedang mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi Harumi dengan kondisinya saat ini. Dia tidak akan sanggup membayangkan bagaimana Pria itu melihat Kondisi Harumi yang sangat terpukul.
Pria itu tahu saat ini Harumi sedang Shock, dan itu membuatnya jauh lebih cemas dibandingkan ia memikirkan kejadian dimana Pria itu sudah membunuh seseorang seketika dengan menembakkan peluru tepat sasaran ke arah kepala Pria yang hampir membunuh Harumi.
__ADS_1
Liam sudah tidak asing dengan senjata, kekerasan dan ini bukan pertama kali baginya menembak seseorang. Tapi....bagi Harumi, ini seperti Mimpi Buruk yang bisa melahap Wanita itu dengan sangat kuat.
Semenit kemudian Liam berjalan keluar Cafe, dan memasuki mobilnya.
Kecemasan semakin memuncak ketika Pria itu melihat Harumi yang hanya diam duduk dalam keheningan dan kedua tangannya bergetar. Sorot mata Harumi kosong.
"Harumi..." suara serak Liam terdengar pelan dan Harumi lambat merespon panggilan itu
"Sayang..." Liam memanggil kembali, memastikan Harumi meresponnya
Akhirnya Harumi berbalik dan hanya menatap Pria itu tanpa sepatah kata pun.
"Kumohon katakan sesuatu"
Sejak kejadian di Mini Market tersebut dan meninggalkan tempat itu, Harumi hanya diam. Wajahnya Pucat, bibirnya seolah terkunci rapat. Wanita itu menginginkan Waktu untuk menenangkan dirinya.
Tatapan Harumi menunjukkan kepanikan, kecemasan yang bercampur dengan ketakutan. Kejadian buruk yang tak bisa terbayangkan akan menimpanya saat ini, walaupun ia tak melihat langsung kematian Pria itu tapi Harumi tahu Liam menghilangkan nyawa seseorang.
Entah apa yang harus Harumi katakan, kini di dalam pikirannya penuh dengan segala dugaan-dugaan yang hampir tak masuk akal, dan berusaha melenyapkan akal sehatnya.
"A-aku...a-aku..." suara Harumi begitu tertahan oleh air mata sampai-sampai Harumi hampir tidak bisa mengucapkannya. "Suara tembakan itu masih terus terngiang di kepalaku, a-aku tidak bisa menghapusnya dari pikiranku"
Yah, Memang benar dan rasa terpukul itu tak mudah hilang begitu saja. Ini Hal paling buruk yang terjadi dalam hidupnya, Harumi bukan Wanita yang biasa melihat kekerasan dan kematian.
Sangat berbeda dengan Liam.
Pria itu menggelengkan kepala sambil meraih tangan Harumi yang tak bisa berhenti bergetar "Everything its gonna be Oke, Please Trust Me"
Liam mengusap lembut kedua tangan Harumi yang terasa sangat dingin, seraya menarik tubuh Harumi lebih dekat dan mencium kening Wanita itu dengan penuh pemujaan.
Masih memulihkan diri dari rasa terpukul, sesaat Harumi tidak menjawab dan Liam mengguncangnya sedikit "betapa khawatirnya aku, tahu tidak ?"
Mulut Harumi kering dan akhirnya menjawab "Yes, I wish"
"Aku harus melakukannya, karena jika terlambat sedikit saja......."
__ADS_1
Wajah Liam yang tampan memucat dan tangannya mencengkeram lengan Harumi lebih erat.
"Yah, I Know....Thank You" gumam Harumi, sorot matanya mulai sedikit bercahaya walaupun ia harus mamaksakan dirinya untuk menerima semua yang sudah terjadi padanya dan yang akan dihadapinya nanti.
Tidak mudah bagi Harumi untuk melupakan, tapi tepat di dalam dirinya Wanita itu berusaha meyakini bahwa tindakan Liam adalah sebuah Pembenaran. Walaupun itu sangat Sulit untuk diterima.
***
PLAK !!!!!!!
Suara tamparan keras terdengar jelas dari balik pintu "DASAR BODOH !!!!! Aku tidak membayar kalian untuk menyerang Puteraku" suara memaki
Anita Seymour menampar dengan sangat keras hanya dengan sekali ia melayangkan tangannya kepada seorang Pria yang pernah ditemuinya beberapa waktu lalu, Wanita itu pernah memerintahkan Pria itu untuk mengawasi Harumi dan Puteranya.
"Aku membayar mahal dan memerintahkan kalian untuk melenyapkan Wanita Sia*** itu dari muka bumi, bukan menyerang Liam. Lihat lah hasil kerja kalian, Kau benar-benar membuatku muak, melenyapkan Wanita Lemah seperti itu saja tidak becus!!!"
Pria berpostur kurus tinggi itu hanya diam, sesaat tidak menjawab apapun, tatapannya tajam dengan pipi kirinya merah padam "Salah satu anak buahku mati, dua lainnya sekarang sedang dalam tahanan. Kami sudah mencari kesempatan untuk mendekatinya, tapi mereka selalu dalam pengawalan. Dan ketika mereka tanpa pengawalan, Putera anda membawa senjata dan Dia yang melawan kami lebih dulu"
Anita terkekeh sinis "Jadi kau ingin menyalahkan Liam ? Kalian benar-benar BODOH target kalian Wanita itu !!!"
"Yah, salah satu anak buahku sudah menargetkan Wanita itu tapi...Putera anda lebih cepat dari kami. Ia lebih dulu menarik pelatuk dan dengan sangat cepat melayangkan peluru itu tepat di sasaran."
Kerutan di wajah Wanita Paruh baya itu semakin dalam sementara ia berdiri menantang "Tidak. Aku tidak percaya dengan semua ucapanmu sampai kau bisa Menghabisi nyawa Wanita itu dan membawa jasadnya dihadapanku"
Pria Misterius tersebut menatap tegas dengan punggung yang menegang "Putera anda selalu bersama Wanita itu, maka kami tidak bisa bergerak dengan leluasa jika..."
"Membunuh adalah Keterampilan Kalian, apa harus Aku juga yang turun tangan !! Hah !!!!" balas cepat Anita dan kali ini Kobaran Amarah semakin memuncak pada level paling tinggi dalam sorotan kedua matanya.
Anita dengan tegas menunjuk-nunjuk ke arah Pria tersebut "Sekali lagi jika tidak berhasil, Aku tidak segan akan bicara dengan Atasan kalian dan
Kalian tahu Akibatnya, karena kalian akan merasakan sesuatu yang lebih BURUK dari Kematian"
Pria itu menatap dengan urat wajah lebih tegang, ia tak berkedip sedikit pun "Kali ini kami Pasti akan berhasil"
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank You