
New York City
"APA-APAAN INI, LIAM ?!!" Anita melempar sebuah surat kabar tepat dihadapan Puteranya
Liam yang tengah fokus pada laptopnya, tidak memperdulikan ocehan sang ibu. Bahkan ia seperti tidak menganggap kehadiran Anita di ruang kerjanya saat itu.
Anita geram menatap sang putera yang acuh tak acuh terhadap pemberitaan tentang dirinya yang sedang beredar saat ini "LIAM, JAWAB MAMA !!" teriak Anita menghempas permukaan meja kerjanya.
Jemari Liam terhenti dari laptopnya, awalnya ia sibuk menyelesaikan pekerjaannya. Akhirnya teriakan sang ibu mengganggu konsentrasinya, pandangannya pun beralih.
Sekilas ia menatap surat kabar yang tergeletak di atas meja kerjanya dengan tatapan dingin.
"Jawaban apa yang kauharapkan ?!" balasnya santai, ia menyeringai miring menatap wajah Anita yang kalut oleh situasi saat itu
Anita terkejut dengan reaksi Liam, diluar dugaannya. Puteranya sama sekali tidak terpengaruh dengan pemberitaan itu "Mama membiarkan hubunganmu dengan wanita murahan itu bukan berarti merestui kalian, dan bukan berarti kalian bisa dengan bebas menghancurkan Reputasi Keluarga yang sudah dibangun dengan baik secara bertahun-tahun."
Sorotan mata Liam berubah, ketika Anita menyebut Harumi sebagai wanita murahan. Liam geram, kedua matanya marah. Yah, sangat marah. Tentu saja itu membuatnya kesal "Jangan pernah sekalipun menyebutnya sebagai Wanita Murahan !!! Apalagi dari mulut kotormu !!" kata yang menusuk sangat tajam, bahkan hanya dengan menatap mata Liam saat itu saja sudah membakar Anita
Anita sontak terdiam, wajahnya membeku ketika mendengar perkataan dari Puteranya sendiri. Wanita itu memang tidak jarang, sering sekali berselisih paham dengan Liam, tapi untuk pertama kalinya selama ia membesarkan Liam. Sesuatu yang sangat kasar keluar dari mulutnya, Anita benar-benar merasa terhina bahkan Liam lebih membela Harumi dibandingkan dirinya. "B-bagaimana mungkin Kau membela wanita itu daripada Ibumu sendiri, anakku !!!" napas Anita tersengal-sengal, ia merasakan dadanya sakit sekali.
Liam memanglah satu-satunya kelemahan Anita, di mata orang lain Anita adalah sosok wanita berkelas, angkuh, berani dan terkenal sangat kejam kepada orang-orang yang tidak disukainya.
Tapi, berbeda halnya jika ia harus berhadapan dengan Liam. Putera kesayangannya.
Bagi Anita, Liam adalah jantungnya hatinya, napasnya. Sebagian hidupnya ia berikan untuk kebahagiaan Puteranya tersebut. Anita begitu menyayangi Liam.
Walaupun awalnya, sewaktu usia Liam masih sangat kecil Anita masih sulit menerimanya. Karena tidak mudah baginya menerima dan membesarkan seorang anak hasil dari perselingkuhan suaminya dengan wanita lain. Tapi, semakin beranjak dewasa. Rasa sayang seorang Ibu mulai tumbuh seiring waktu, Anita mulai menerima Liam dan sangat menyayanginya.
Liam mengingatkan Anita pada bayinya yang telah meninggal dulu. Tetapi, rasa sayang Anita begitu protektif pada Liam. Sejak remaja, Anita memang selalu mengatur hidup Liam mulai dari hal-hal kecil bahkan sampai dalam hal memilih teman-teman untuknya.
Semua harus sesuai dengan keinginan Anita, Hidup Liam seolah dalam genggaman Anita. Apalagi soal memilih pasangan hidupnya, wanita yang harus mendampingi Puteranya tentu saja harus atas izin dan persetujuannya.
Anita mengharuskan wanita yang akan mendampingi Puteranya adalah dari kalangan atas, memiliki pendidikan tinggi, cantik, pintar dan bisa memberikan timbal balik dalam kemajuan semua Bisnis Perusahaan milik keluarganya.
"Aku tidak ingin membahas apapun sekarang, sebaiknya pergilah sebelum aku semakin kesal" tukas Liam memerintah, ia berdiri dari duduknya dan bola matanya mengarahkan ke pintu.
Anita tidak bergeming, ia memilih tetap berdiri di sana "Apa yang sebenarnya kau cari dari wanita itu ?! Aku tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Mama bisa memberikan wanita-wanita yang lebih sempurna darinya bahkan seribu wanita baik-baik dari seluruh dunia pun bisa kuberikan padamu. Tapi, kenapa...kenapa kau memilihnya di antara jutaan wanita lainnya ?"
Liam bungkam, pria itu sama sekali tidak ingin menjawabi semua pertanyaan ibunya yang menurutnya tidak akan berdampak apapun dengan pendiriannya.
"Jawab sekali saja, nak! Mama akan mendengarkan" suara Anita melemah, ketegangan berangsur-angsur berkurang
Liam menarik napas dalam, ia menatap Anita tegas "I was'nt looking love until i found her, She's My Everything for a Thousand lives. Dan untuk semua pemberitaan ini, aku tidak akan membiarkan semua orang menyudutkannya. But, this is what i want. Aku tidak akan menyembunyikan hubungan ini."
Anita mengatur napas, kakinya sedikit gemetar. Ia membeku dalam keheningan. Kata-kata itu sontak mengingatkannya akan masa lalunya. Kata yang keluar dari mulut Puteranya, mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang pernah dicintainya sekaligus menyakitinya.
__ADS_1
Roberto. Suaminya.
Kata itu juga yang pernah ia dengar dari mulut suaminya, ketika ia menanyakan hal yang sama. Kenapa ia memilih Roseanne dibandingkan dirinya ? Kenapa ia begitu mencintai Roseanne ?
Anita yang tadinya mematung, refleks memutar tubuhnya. Lalu, wanita itu memejamkan kedua matanya agar ia bisa mengontrol perasaan itu yang kembali hadir. Perasaan sakit hati yang pernah dirasakannya dahulu.
Ia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Liam, Anita tidak ingin menjadi Anita yang dulu sewaktu ia pertama kali menginjakkan kakinya di rumah Roberto. Sosok wanita yang lemah, terlalu baik dan mudah di permalukan. Bahkan oleh suaminya sendiri.
"Aku tidak peduli dengan Reputasi atau apapun itu. Siapapun yang sudah menyebarkan berita ini, aku tidak peduli. Karena sudah waktunya semua akan tahu dengan sendirinya. Bagiku yang terpenting saat ini adalah Melindunginya. Melindungi Harumi." timpalnya
Anita kembali berbalik, wajahnya berubah. Ekspresi aneh tampak di wajahnya "Ternyata buah jatuh tidak pernah jauh dari pohonnya. Kau tidak ada bedanya dengan ibu kandungmu. Roseanne merebut suami orang lain, dan sekarang Puteranya sendiri melakukan hal yang sama. Merebut istri orang lain. Yang bahkan kau sendiri tidak tahu siapa yang sedang kau hancurkan saat ini." wanita itu mendekat, tatapannya dingin "Dengar, nak! Aku membesarkanmu seperti sekarang, seharusnya kau bersyukur memiliki kedudukan dan kekuasaan serta kekayaan yang melimpah. Jangan sampai hal ini akan membuatmu menyesal suatu hari nanti. Karena kau tidak bisa memiliki semua sekaligus secara bersamaan."
Liam mengangguk santai, mengiyakan lalu seringai miring tergambar jelas diwajahnya "Sayangnya, Aku tidak sepertimu yang takut kehilangan segalanya, Lihatlah dirimu sekarang ! Itulah kenapa Ayah tidak pernah mencintaimu. Sebaiknya Ingat itu baik-baik !! Aku tidak pernah takut padamu. Mother. "
...****************...
Nami berlari menghampiri dengan tergesa-gesa, lalu melihat sekumpulan orang-orang sedang berkumpul berdiri tepat di depan Kios Bunga milik Harumi.
Mereka terlihat menunggu sejak tadi sambil membawa kamera yang terus menyoroti menunggu-nunggu kepastian. Ada yang berusaha mengetuk-ngetuk pintu kaca kios untuk berusaha masuk. Padahal di depan pintu sudah bertuliskan Closed. Tapi, mereka tetap memaksa ingin masuk karena mereka melihat Beatrix di dalam.
Nami meyakini mereka adalah segerombolan wartawan yang mencari-cari berita.
Bahkan karena adanya pemandangan itu, menarik perhatian beberapa masyarakat umum yang mulai keluar dari pertokoan dan beberapa yang berdiri menatap penuh tanya.
Nami sedikit kebingungan, ia yang masih berdiri beberapa kaki dari gerombolan wartawan itu. Hanya bisa berdiri menatap mereka. Wanita paruh baya itu bingung harus bagaimana menghadapi mereka. Karena Nami tidak sekalipun berada dalam situasi seperti ini.
Dia tidak menjawab, dan pada akhirnya ia memilih berjalan mendekati mereka. Karena ia tahu, Beatrix pasti sedang merasa kebingungan seorang diri di sana.
Nami menarik napas, berjalan dengan tekad. Lalu, akhirnya salah satu orang yang sedang berdiri disekitaran tersebut menunjuk ke arah Nami "Itu ibunya, itu ibu si wanita yang ada di foto." teriaknya
Refleks, para wartawan itu berbalik dan melihat ke arah Nami. Mereka pun dengan tidak sabar bergegas berlarian menghampiri Nami sambil membawa kamera dan mulai menyoroti wajah wanita paruh baya tersebut dengan cahaya lampu flash.
Mereka tanpa mengenal ampun menghujani banyak pertanyaan. Banyaknya Microphone terhadang di depan Nami. Membuatnya shock.
"Apa benar Putri anda memiliki hubungan dengan Putera dari Keluarga Seymour, Liam ?"
"Sejak kapan hubungan mereka ?"
"Bagaimana mereka bisa bertemu ? Apakah anda sudah mengetahui hubungan mereka ?"
"Menurut informasi nama wanita yang ada difoto ini adalah Harumi Nayaka Whiston, dan Putri anda masih memiliki ikatan Pernikahan. Tapi, menjalin Affair dengan Liam Seymour yang merupakan Boss dari suaminya. Bisa jelaskan bagaimana itu bisa terjadi ?"
"Kami dengar Harumi terlilit utang sehingga mendekati Liam yang seorang Miliarder untuk mengeruk kekayaannya. Ia hanya ingin uangnya saja, bukan karena cinta. Harumi rela meninggalkan suaminya demi uang. Karena Liam memiliki kekayaan makanya ia lebih memilihnya, benarkah seperti itu ?"
"Benarkah Harumi menjual dirinya demi uang, menjadi simpanan pria-pria kaya bahkan tidak hanya Liam. Masih banyak Pria kaya lainnya yang sudah menjadi korban oleh Putri anda ?"
__ADS_1
"Bagaimana tanggapan anda bahwa Harumi saat ini sedang menjadi sorotan bahwa Wanita itu ternyata Seorang Pelacur Kelas Atas ?!!! Wanita simpanan yang digilir pria kaya untuk dijadikan taruhan. Dan sekarang Suaminya sudah tidak lagi bekerja di sana. Pengangguran, benarkah ini didasarkan atas rasa Cemburu ?!"
Napas wanita itu hampir tidak mampu ia rasakan lagi di dadanya, mendengar semua pertanyaan yang di lemparkan mereka kepadanya begitu menyakiti hati Nami.
Dadanya sangat sesak, tiap bagian inchi tubuhnya gemetar. Wanita paruh baya itu hampir menjatuhkan airmatanya, ia tidak sanggup mendengarnya lagi.
Hatinya sakit, dadanya perih "cukuuupp, cukuup. Putriku wanita yang baik. Dia tidak seperti itu, Harumi wanita yang baik. Kumohon hentikan semua. Kumohon jangan berbicara seperti itu tentang Putriku" Dalam tangisnya Nami membantah. Ia membela dengan tegas, walaupun tubuhnya mulai melemah.
Salah satu wartawan kembali mengajukan pertanyaan "Wanita baik tidak akan memiliki affair dengan pria lain jika ia sudah menikah. Dan hubungannya dengan Liam Seymour akan menjadi sorotan, bukankah Putri anda seharusnya mempertimbangkan hal itu. Dan meninggalkan suaminya demi uang bukankah itu sudah bisa tergambar jelas "
Nami tidak sanggup menahan tubuhnya, ia memohon-mohon agar menghentikan pemberitaan mengenai putrinya " hentikan, jangan berkata seperti itu. Kumohon..." ia membantangkan tangannya memohon-mohon agar berhenti menyudutkan Harumi
Ketika, Nami hampir tumbang. Seseorang menghalau para kumpulan wartawan tersebut menangkap tubuhnya dengan sigap.
Seorang pria bertubuh besar dengan setelan jas hitam, membawa Nami keluar menjauh dari jangkauan mereka.
Tidak hanya pria itu saja, ternyata banyak lagi pria dengan setelan jas hitam serupa datang dari arah yang sama sedang menghalau para wartawan tersebut.
Para pria bertubuh kekar tersebut mengusir mereka dengan kasar dan berusaha menjauhkan mereka dari lingkungan sekitar.
Pria yang membantu Nami, segera membawa wanita itu masuk ke kios. Setelah Beatrix membuka kan pintu.
"Taylor" sapa Beatrix yang sudah bisa mengenali pria itu
Nami terkejut, ia tidak sadar sudah berada di dalam kios.
"B-bagaimana kau mengenal pria ini ?" tanya Nami heran dengan mata yang sayu
Lalu Taylor mendudukkan Nami ke kursi.
Beatrix menghampiri Nami dengan wajah cemas "Mrs. Whiston anda baik-baik saja ? Dia adalah seorang yang bekerja sebagai pengawal pribadi, aku masih ingat kau yang membantu kami tempo hari kan"
Nami mengernyit "Pengawal pribadi ? Bukankah kau juga yang mengantarkan kado-kado nya Ben ?" balasnya
Taylor mengangguk pelan, ia kini berdiri dihadapan kedua wanita itu. Memperkenalkan dirinya "Saya pengawal pribadi Mr. Seymour. Tuan menugaskan saya dan beberapa pengawal lain untuk menjaga dan melindungi anda, dan semua keluarga Mrs. Harumi."
Nami terkejut, ia mengangkat kedua alisnya "Tuanmu yang memerintahkan ?"
"Benar, Nyonya. Mr. Seymour sendiri yang sudah menghubungi kami. Dan pesan dari Tuan, anda tidak perlu cemas. Mrs. Harumi baik-baik saja, ia selalu menjaganya."
Nami semakin heran "M-maksudmu Harumi bersama Tuanmu ?"
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank you ❤