Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 208 The Storm Has Come


__ADS_3

"Wait" Harumi menghentikan Cathy dan melepaskan tangan wanita itu


"Kenapa, Rumi ?" Cathy menoleh cepat


"aku ingin berada disisinya saat ini."


"M-maksudmu ? Rumi, kondisi saat ini tidak baik untukmu. Sebaiknya kau menenangkan dirimu, dan kau butuh ruang untuk sendiri. Aku akan menemanimu."


Harumi menggeleng cepat "Aku tidak ingin lari dari masalahku, Liam sudah memperjuangkan semuanya. Aku harus berada di sisinya." sorotan mata nya tegas, tidak ada lagi kelemahan yang tampak semenit sebelumnya.


"T-tapi..." saat Cathy ingin meraih lengan Harumi lagi, wanita itu lebih dulu melangkah ke arah yang berbeda.


Cathy yang hanya terdiam, menatap punggung Harumi dari belakang dengan sorotan yang simpati.


Harumi berlari kecil walaupun sembari memegang tepi gaunnya agar memudahkannya bergerak cepat menuju ruang pesta tepat dimana Liam berada.


"kau iri padamu, Harumi. Kau berani memperjuangkan apa yang kau yakini." Cathy mengutas senyuman kecil sambil terus menatap Harumi


...****************...


"Apa Kau tidak memiliki Rasa Malu ?! Hah ?!!! membawa keributan ke sini. Dasar jala** !!!!" Anita sudah sangat Kesal hampir melayangkan tamparan ke wajah Elena. Tapi, segera di tepis oleh Liam.


Tatapan Liam mengeras "I Said ENOUGH !!!"


Anita langsung terdiam, walaupun ia bisa merasakan cambukan emosi masih mengguncang dadanya saat itu. Tapi, ia sontak diam karena ia melihat tatapan Puteranya tersebut.


Elena menyeringai penuh kemenangan "Darah lebih kental daripada air. Ingatlah kata-kata itu, Kau tidak lebih hanya seorang wanita yang patut di kasihani. Anita Seymour."


"Mom, please.." Ameera menarik lengan Elena


Liam berjalan menghampiri Elena "Aku tidak mengetahui perihal undangan itu, dan aku yakin bukan ibuku yang mengundang anda."


Mendengar Liam menyebut Anita dengan panggilan Ibu, Elena terpaku. Tatapannya berubah, ada perasaan pedih mengalir di dadanya. "Ibu ?" suara kecil hampir berbisik terucap begitu saja dibibir wanita paruh baya itu


"Maafkan atas semua tindakan buruk yang sudah dilakukan ibuku kepada Anda, Kumohon jangan ada lagi dendam di masa lalu. Jika rasa sakit dan penderitaan yang sudah menyiksa anda selama ini, biarkan aku saja yang menebus semuanya. Biarkan aku yang menanggung semua dosa itu." Liam menatap Elena dengan penuh rasa bersalah. Ia berdiri hanya beberapa kaki dari Elena.


Pria itu meruntuhkan semua ego, emosi, amarah dan kepedihan menjadi sebuah perasaan yang bercampur dengan kesedihan diantara mereka.


Elena masih terpaku, ia hanya bisa menatap wajah puteranya. Anak yang selama ini tidak pernah sekalipun merasakan kasih sayang dari ibu kandungnya sendiri. Kini berdiri dihadapannya, dengan rendah hati memohon maaf atas segala kesalahan masa lalu yang sama sekali tidak pernah dilakukannya.


"William. Kenapa kau harus menanggung semua dosa-dosa itu ? Itu bukan kesalahan mu, nak." kedua matanya berkaca, Elena menggeleng cepat "Kami lah yang sudah memulai petaka ini lebih dulu, Aku, Anita dan Roberto."


"Yah, kau bisa menyalahkan Roberto, tapi kau lupa dengan satu orang lagi. Apa aku perlu mengungkap kebenaran itu sekarang ?" Anita menyela dengan santai, menatap sinis ke arah Elena.

__ADS_1


Elena menahan emosinya, mengepal tangannya erat "Aku tidak akan membahas apapun lagi denganmu. Aku hanya ingin semua jelas, bahwa Harumi bukanlah calon istri Liam. Dia masih berstatus Istri Anton, saudara laki-lakimu Liam."


"tidak ada lagi yang tersisa dari pernikahanku dengan Anton, aku tidak akan kembali padanya." terdengar suara dari balik punggung Liam, Harumi menggenggam tangan Liam dengan erat. "Aku sudah memilihnya. Dan aku akan menghadapi Konsekuensinya. Jadi, kumohon biarkan kami menyelesaikannya."


Elena mengernyit sambil tersenyum sinis menatap menantunya tersebut "kau pikir Pernikahan hanya sebuah permainan yang mudah kau sia-siakan begitu saja. Jangan terlalu cepat mengambil keputusan bodoh, apa kau sadar kalian tidak akan bisa menikah, sebelum surat perceraian itu ada. Dan aku yakin Anton tidak akan dengan mudah melepaskanmu. Satu hal lagi, Apa kau tidak merasa malu, berselingkuh dengan adik iparmu sendiri ?!! Apa kau tidak sadar bagaimana kejamnya penilaian semua orang terhadapmu "


"Aku tidak akan bisa bertahan sampai sekarang kalau bukan keberanian yang selama ini kumiliki setelah memendam cukup lama. Anton dan aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kami lagi. Aku..." Harumi terhenti sesaat Liam menatapnya


"Bertahun-tahun aku berusaha mencari kalian, siapa sebenarnya ibu kandung dan saudara laki-laki ku. Itu tidak mudah, tapi sekarang kenyataannya aku harus berhadapan dengan begitu banyak masalah sampai akhirnya kini aku berada dihadapan kalian berdua. Ibu yang sudah membesarkanku dan yang melahirkanku"


Liam menatap langit-langit sejenak. Matanya mengerjap beberapa kali. Terlihat jika pria itu sedang menetralisir emosinya.


"Harumi adalah wanita yang kucintai, aku mencintainya. Aku tidak peduli dengan statusnya saat ini, bagiku dia tetap disisiku. Itu hanyalah sebuah kertas, aku bisa menyelesaikannya dengan mudah. Tapi, aku memilih menghadapinya dengan rintangan. Karena itu, terimalah keputusannya. Hubungan kami bukanlah petaka, tapi pernikahannya dengan Anton lah yang akan membawa petaka pada kehidupan wanita yang kucintai." kembali, kata-kata yang ditujukan oleh Liam pada Elena seperti tamparan keras.


Harumi menoleh menatap wajah pria itu, ia menatap terkejut dengan perasaan tidak percaya bahwa Liam akan mengatakan hal tersebut. Kemudian ia beralih menatap pada tangannya yang sedang dipegang erat oleh Liam.


Harumi menarik napas berat, untuk menetralisir perasaannya yang begitu sesak "Maafkan aku" ia menatap nanar ke arah Elena.


Sempat diam sesaat, lalu Elena membuka suara "Tidak ada akhir yang bahagia, untuk hubungan yang diawali dengan pengkhianatan. Ingatlah baik-baik, tidak ada satu pun sejarah yang menuliskan sebuah affair akan berakhir dengan happy ending. Semua akan Hancur, Badai yang lebih besar siap menghadap kalian di luar sana. Tidak kah kalian lihat, bagaimana akhir hidupku. Benar apa yang dikatakan Anita, aku hidup menderita dalam kesendirian. Itu Benar. Ini lah buah yang kuterima dari dosa yang kulakukan dimasa lalu. Dan kau akan bernasib yang sama denganku Harumi."


"Cukup basa basimu Roseanne. Sebaiknya kau pergi, atau ada lagi yang ingin kau sampaikan, mungkin mengenai Luciano ?" Anita dengan nada mengejek dan tatapan meruncing


Liam menatap Elena "Paman Luciano ?"


"Itu benar, Liam. Roseanne, bukankah sejak tadi kau tidak pernah sekalipun mengucapkan nama itu padahal kau tahu hubungan apa yang sudah ka..."


"Oke, oke.. baiklah. Tapi, ingatlah tidak lama lagi dia akan segera mengetahui kebenarannya." Anita tertawa lepas dengan puas.


Liam sudah cukup menggila dengan kedua ibunya, ia mengalihkannya "Youre Ameera ?" panggil Liam beralih menatap Ameera yang berdiri disamping Elena sejak tadi.


Ameera mengangguk.


"Ibu pulanglah, aku akan menemuimu lagi. Dan membicarakan ini dengan baik. Sopir pribadiku akan mengantar kalian pulang."


Elena memandangi Liam ketika pria itu dengan lembut memanggilnya dengan sebutan ibu.


Seutas senyuman menghiasi wajah Elena, tanpa ia sadari. Hatinya yang awalnya memanas oleh perkataan Anita, berangsur angsur tenang. "Sekali lagi aku mendengar kau memanggilku dengan sebutan ibu. Aku merasakan bagaimana bahagianya."


"Seharusnya kau tidak menyia-nyiakannya sejak dulu, anak yang yang kau sia-siakan. Lihatlah dia masih tetap menerimamu. Sadarlah Roseanne. Bukankah kau tidak malu dengan..."


Liam menoleh melemparkan tatapan tajam kepada Anita. Sontak Anita menutup kembali bibirnya.


"Aku tidak akan membedakan kalian. Youre both My Mother. Jadi bersikaplah lebih dewasa."

__ADS_1


Seorang pengawal mendekat setelah Liam memberi kode, pengawal itu mengantarkan Elena dan Ameera menuju mobil yang sudah disediakan Liam beserta sopir pribadinya.


"Ameera" panggil Liam


"Yahh"


"Aku akan menyelesaikan masalah yang sudah dilakukan Anita. Aku akan bertanggung jawab. Aku sudah mengetahui masalah yang kau alami. Aku berjanji akan membawa mereka kembali padamu."


Ameera terdiam. Tatapannya berubah sayu. "Kau sudah menanggung banyak masalah"


"Were a Family, right ?" Liam tersenyum miring


"Hmm...Tahukah kau ? memiliki satu saudara laki-laki sudah sangat merepotkan, kini aku memiliki dua." Ameera tersenyum "Thank you, My Lil Bro" Ameera juga menatap Harumi, sekilas ia memberi senyuman singkat lalu pergi menyusul Elena yang sudah berjalan lebih dulu menuju mobil.


...****************...


"Mr. Seymour"


Liam dan Harumi menoleh cepat ketika seseorang tampak berlari memanggil. Harumi melihat Sekretaris Will dan dua orang pria berjas rapi menghampiri Liam.


Pesta memang sudah berakhir lebih cepat dan semua tamu serta wartawan sudah beranjak pergi semenjak Liam memerintahkan untuk mengosongkan galeri.


Penjagaan semakin diperketat agar tidak ada pemberitaan yang simpang siur mengenai kejadian malam ini.


"Ada hal penting yang terjadi" Tatapan Sekretaris Will tampak gusar, Harumi tidak pernah melihatnya segusar sekarang karena ia mengenal kepribadian Sekretaris Will begitu tenang.


"Ada apa ?" mata Liam menyorot tajam


"Proyek Santa Monica...mengalami ledakan besar sehingga meruntuhkan sebagian bangunan."


"Ledakan ? Apa maksudmu ?!!!" suara Liam menusuk.


"Untuk saat ini sudah 21 tenaga kerja mengalami luka parah, dan....13 tenaga kerja dinyatakan tewas di lokasi kejadian. Dan sisanya belum diketahui keberadaannya."


Itu adalah pertama kalinya, aku melihat Liam begitu rapuh. Yah Dia yang biasa tegas, cepat dan lugas mengambil keputusan. Berbeda halnya yang kulihat Liam saat ini. Wajahnya tampak sangat gelisah. Bahkan ia hanya diam cukup lama tanpa mengucapkan seuntai katapun setelah mendengar berita itu.


Malam itu, satu lagi badai besar menghampiri kami.


Aku berdiri menatapnya dengan dalam, menenangkannya. Tapi, Liam tetap diam.


"Mr. Seymour anda harus lihat ini." Sekretaris Will menyerahkan ipad yang isinya pemberitaan Ledakan tersebut.


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you ❤


__ADS_2