
"Pak Will, bagaimana dengan laporan mu yang lain ?" ucap Liam seraya menoleh kepada Sekretarisnya, kali ini sorot matanya lebih serius dari sebelumnya.
Ia menyandarkan tubuhnya di kursi kerjanya, punggungnya mulai menegang. Laporan ini sangat ditunggu-tunggu olehnya. Sekretaris Will sangat mengerti maksud dari Atasannya.
"Seharian Nona Harumi bekerja dan melayani para pelanggannya di Toko, di bantu Taylor dan Beatrix. Karena hari Valentine jadi banyak pelanggan yang berdatangan ke Nami Florist." Sekretaris Will diam sejenak, ia merasa tak nyaman melanjutkan laporan nya kembali.
Tatapan Liam seolah terus mendesak dan mengintimidasinya agar Sekretarisnya itu lebih detail menjelaskan.
"Lalu ?"
"Nona keluar dari Toko tepat jam 8 malam, di jemput Tuan Riandra."
Sekretaris Will yakin Liam tidak akan senang mendengarnya, Apalgi jika ia meneruskan nya lebih detail lagi.
Sekretaris paruh baya itu, berusaha bersikap lebih tenang dan menyusun kata-kata yang akan diucapkannya agar Liam tidak naik pitam.
"kenapa diam Pak Will ? teruskan ..." Sorot mata Liam setajam belati semakin menusuk ke arah Sekretarisnya. Tak ada ekspresi sama sekali tergambar dari wajah Tuannya tersebut.
Kata-kata yang sudah dipersiapkan Pak Will seakan tak mampu keluar dari bibirnya, tenggorokannya terasa mengering. Ia tidak ingin membayangkan reaksi Liam jika ia marah besar. Bibir nya mulai terbuka lalu menutup kembali.
"Pak Wil ?" Liam berdiri dari duduknya, perlahan melangkah mendekati Pak Will. Kedua tangan Liam kini di saku celananya, ia berdiri sambil bersender di tepi Meja Kerjanya.
"Nona pergi ke sebuah Restaurant dengan Tuan Riandra, Makan Malam bersama. Cukup lama mereka di sana, saling berbincang lalu pergi bersama." jawab Pak Will meneguk ludah ke tenggorokannya perlahan.
Suasana ruang kerja itu tak bedanya seperti Ruang persidangan bagi keduanya.
Liam terdiam dan tersentak mendengar penjelasan terakhir Pak Will. Matanya berubah seketika sorotnya seolah di selimuti kemarahan, Liam bagai di kelilingi awan gelap yang siap menghancurkan apapun dihadapannya.
Kedua tangannya kini menekan erat tepi meja, ia berusaha menahan amarahnya yang memuncak ketika dalam pikirannya mulai terbayang kemesraan Anton dan Harumi.
Bagaimana dengan bebasnya tangan Anton menyentuh kulit mulus Harumi, menikmati setiap lekuk indah tubuh putih polos wanita yang sudah membuat Liam semakin menggila. Sedangkan Liam tidak bisa berbuat apapun karena jarak pemisah antara dirinya dengan Harumi.
Punggung Liam semakin tegang, semua saraf dalam tubuhnya seakan larva panas yang siap meledak, Marah, Cemburu dan kecewa karena Harumi membohonginya.
"Tuan ?"
__ADS_1
Suara Pak Will tak terdengar sama sekali di indera pendengaran Liam saat ini. Pikirannya kacau, ia hanya ingin segera meninggalkan California dan menuju Bristol. Saat ini Kepalan tangan Liam ingin sekali di daratkannya ke wajah Anton, ia tidak peduli jika harus bertengkar hebat dan menghancurkan reputasinya.
Jika hanya itu yang bisa ia lakukan untuk merebut Harumi.
"Segera siapkan penerbangan ke Bristol !" titah Liam
Pak Will sangat jelas mendengarkan perintah Tuannya, tapi ia tak mengiyakan sama sekali.
"Tuan, banyak pekerjaan anda yang belum terselesaikan. Apakah anda tidak menyelesaikannya lebih dulu ?"
"Apa kau sudah berani mengaturku ?" ucap Liam geram, alis kanannya terangkat menatap Pak Will.
"Maafkan saya, saya sudah lancang mencampuri urusan pribadi anda. Tapi... jika bolehkah saya memberikan saran bukan sebagai sekretaris pribadi anda tapi sebagai seorang teman ?"
"Maksudmu ?" suara serak Liam awalnya geram sedikit merendah.
"Anda harus sedikit menahan emosi sementara waktu. Demi kebaikan anda dan banyak orang, karena Saham perusahaan sedang melonjak naik sekarang ini. Jika ada pemberitaan buruk dari Media tentang anda, itu sangat berdampak tidak baik dengan reputasi Tuan."
"Kau pikir aku tidak mempertimbangkan itu semua ?" balas Liam menyunggingkan bibirnya.
Begitu halnya mendapatkan Harumi, sudah di atur semua sesuai yang diinginkan Liam.
"Gadis bunga itu akan segera menerima hukuman dariku karena sudah berbohong. Hukuman yang tidak akan dilupakannya" lirihnya menyeringai dengan mata berkilat
Liam kembali melangkah melewati Sekretaris pribadinya, yang masih berdiri mendengarkan perintah tuannya.
"Baiklah...tidak salahnya mengikutimu kali ini, tidak ada penerbangan ke Bristol untuk sementara. Tapi ada yang harus kau kerjakan secepatnya" titah Liam.
"Baik Tuan" Pak Will menurunkan pandangannya dan mendengarkan perintah atasannya.
***
"Kau ingin membawaku kemana ? ini sudah malam, aku mengantuk. Kau tau pekerjaanku semingguan ini" celoteh Harumi tak hentinya di dalam mobil setelah mereka meninggalkan Restaurant.
"hmm"
__ADS_1
Anton menjawab seperlunya, karena tak ingin membuat istrinya itu semakin mengoceh.
Roda mobil melaju kencang, melintas membelah jalan pusat kota. Semakin malam keadaan jalan bukan tampak sepi bahkan mulai ramai dengan pengendara mobil yang lalu lalang.
Pertokoan di pinggiran kota masih buka dengan sorot lampu bersinar terang.
Harumi semakin gelisah, berkali-kali ia melontarkan pertanyaan tapi Anton hanya berdehem. Ia kesal dan tak ingin melanjutkan permainan tebak2an ini terus-terusan.
Sesekali Harumi melirik angka yang menunjukkan waktu malam ini di dashboard. Memang belum terlalu malam bagi mereka berjalan-jalan. Masih pukul 9 malam. Tapi tubuh dan semua saraf Harumi seakan memberontak ingin meminta jatah tidur nyenyak sesegera mungkin.
Bulumata Harumi turun naik perlahan, menatap kosong pemandangan malam berhias sinar lampu dari balik jendela mobil. Menempelkan kepalanya di tepi jendela karena lehernya sudah tak ingin menopangnya lebih lama.
Rambut hitam bergelombang Harumi menyapu indah tergerai menutupi sebagian pipinya.
Tak di sadarinya, kelopak mata Harumi yang seakan di letakkan bandul akhirnya memenjamkan kedua matanya. Setelah ia semakin di buat mengantuk setelah menghitung satu per satu lampu-lampu pertokoan yang terlewati sedari tadi. Kini ia sudah hanyut dalam dunia indah dalam tidurnya.
Tidak ada celoteh lagi dari istrinya, Anton berbalik sesaat melihat Harumi sudah tertidur pulas di kursi penumpang. Ia mendaratkan senyuman menatap si "kucing" manis pemalas yang terkadang menggeliat mengatur posisi tidurnya.
Anton masih mengendarai mobilnya melaju menuju tempat yang ingin di tujunya. Perjalanan mereka semakin menjauh dari pusat kota yang penuh dengan gemerlap lampu kini perlahan-lahan semakin menjauh.
Mulai ada lampu-lampu jalan yang jarang-jarang melintasi mobil mereka. Mobil-mobil lain yang melintas pun semakin berkurang.
Mobil mereka kembali memutar berbelok ke sebuah jalanan kecil agak berbatu, seukuran sebuah mobil. Penerangan yang seadanya dan padang rumput sangat luas mengitari jalanan tak mulus itu.
Mobil pun sedikit mendapat tekanan hingga harus terhentak karena bebatuan di jalan.
Kondisi itu membuat Harumi terbangun, ia menyapu kedua matanya. Menyadarkan dirinya yang sempat pulas, matanya terbelalak melihat pemandangan sebelum ia tidur sangat silau lampu kini berubah remang dengan penerangan sangat tidak pantas di tempat mirip perkebunan Anggur terpencil.
"Ini dimana ?"
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you ❤
__ADS_1