Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 121 Only Love Can Hurt Like This


__ADS_3

Kenapa ibu bisa mengucapkan hal seperti itu ?


Apa ada sesuatu yang sebenarnya belum kuketahui selama ini ?


Harumi berusaha menyingkirkan pertanyaan itu jauh-jauh sebelum ia menemukan jawabannya.


Dia mencoba menghubungi ibunya, tapi belum ada jawaban.


Saat Harumi menatap jam di ponselnya, ia yakin waktu sekarang di Bristol menjelang petang dan ibunya pasti sudah berada di rumah.


Tidak bisa dipungkiri, pikiran Harumi saat ini bercabang kemana-mana. Bahkan ia tidak bisa berfokus pada satu titik tertentu. Dan ini membuatnya sangat lemah, dan kerapuhan itu mulai menguasainya lagi.


Tidak ada yang mampu mengendalikan sesuatu di dalam diri Harumi selain dirinya sendiri, tapi kini itu semua hanya sebuah omong kosong. Karena sekarang, banyak hal yang sudah mengendalikannya. Termasuk keadaan seperti ini.


Kakinya tiba-tiba gemetar dan rasa mual naik ke perutnya karena dalam hatinya ia tahu bahwa apa yang akan ibunya sampaikan tidak mudah didengar. Tapi, sejak kapan hidup itu mudah ? Kapan ia pernah menghindar dari hal-hal yang sulit dan berat ?


Harumi yakin Ibunya mengetahui sesuatu dibalik hal yang disembunyikan Cathy dan Anton. Karena tak mungkin tanpa alasan, ia meminta Harumi menjauhi Cathy padahal ia tahu betapa dekat hubungan Harumi dengan sahabat baiknya itu.


Sudah ketiga kalinya, Harumi coba menghubungi ibunya tapi belum juga ada respon.


Sempat terbesit dalam pikirannya, kalau Harumi ingin pergi ke New York menghampiri Apartemen Cathy saat ini. Tapi, gejolak itu ditahan-tahan oleh Harumi karena ia tidak ingin, ini menjadi salah paham tanpa bukti yang masuk akal.


Apa sebenarnya yang Anton bicarakan dengan Cathy ?


Apa hubungannya dengan Anak itu ?


Kedua mata Harumi mulai sayu dan lingkaran hitam mulai tampak di bawah matanya, wanita itu kurang istirahat dan tergambar jelas banyak tekanan di wajahnya.


Karena belum ada respon dari ibunya, Harumi mencoba menghubungi Takeru adik laki-lakinya. Dia yakin Takeru pasti berada di rumah.


Dan sialnya ponsel Takeru tidak aktif.


Harumi mondar mandir, ia tampak sudah kebingungan. Dan paling ia sesalkan, ini semakin membuat pikirannya buntu. Oh Tuhan, seandainya Harumi bisa memberanikan diri untuk pergi ke Apartemen Cathy sekarang ini.


Mungkin hanya itu satu-satunya jalan keluar. Bicara langsung dengan Anton dan Cathy.


Tapi, itu sungguh sulit. Datang ke sana tanpa bukti tanpa apapun yang bisa membantu Harumi, itu tindakan besar yang paling tidak rasional.


Berteriak ? Menangis ? Meninju seseorang ? Bersembunyi ke lubang dalam dan tak pernah muncul lagi ? hanya itu yang bisa terlintas di dalam benak Harumi.


Bodoh memang, tapi itulah yang bisa ia pikirkan untuk mengurangi perasaan kesalnya.


Harumi memutuskan untuk masuk kembali ke dalam kamar, tetiba ponselnya berdering.

__ADS_1


Wanita itu sempat menatap layar ponselnya cukup lama, itu adalah panggilan masuk dari ibunya.


Nami menelpon balik Putrinya.


Jemari Harumi gemetar menggenggam ponselnya, ia tidak langsung menjawab panggilan ibunya.


Dia hanya diam mematung, dadanya terasa perih. Debaran itu memuncak.


Harumi takut, ia sangat tertekan sebelum tahu apa yang akan didengarnya nanti.


Ia mencoba menelan gumpalan yang menghalangi tenggorokannya, dan menjawab panggilan ibunya.


"Hallo"


"Harumi, maaf ibu tadi berada di dapur membuat makan malam. Jadi, tidak mendengar kau menghubungi ibu. What happened ?"


Harumi hampir kehilangan kemampuannya untuk bicara, saat ia mendengar suara ibunya. Ia tidak sanggup menanyakan hal ini walaupun ini sudah berada di ujung lidahnya. "Bu, are you okay ?"


"Yah sweetheart, iam good, all good in here. Kau baik-baik aja, Rumi ?"


Atmosfernya berdenyut-denyut oleh emosi tertekan. Kemarahan dan kesedihan Harumi dan sesuatu yang amat sangat kuat daripada keduanya.


Sakit Hati.


"Rumi, whats Wrong ?"


"Apa ada masalah ? karena mustahil kau menghubungi ibu sekarang jika tidak hal yang mendesak. Ibu yakin waktu di California saat ini sedang dini hari. Dan perasaan ibu tidak nyaman mendengar suaramu, anakku."


Dalam keadaan bingung dan resah, Harumi menenangkan deru napasnya dan mulai mengendalikan dirinya "hmmm, maaf sudah mengganggu ibu ta-pi..."


"Its Ok..Tell Me what happened ?"


Dengan ragu-ragu sambil menahan diri "waktu itu ibu pernah mengatakan agar melarangku mempercayai Cathy. Padahal ibu tahu, Cathy sangat baik bahkan kami bersahabat cukup lama. But Why ?"


Harumi sempat mendengar hembusan napas ibunya dari balik ponsel.


"Listen, Rumi. Ibu sangat ingin mengungkapkan satu kebenaran yang perlu kau ketahui. Tapi, sulit bagi ibu menjelaskannya lewat telepon tanpa bertatap muka dengan mu. Ibu tidak ingin terjadi sesuatu hal pada mu jika kau mengetahuinya sekarang. "


"Ibu, Kumohon jangan menyembunyikan apapun dariku. Apa yang sebenarnya terjadi ?"


"Please Rumi, Not now. Ibu..."


Dalam cengkeraman ketegangan yang terus meningkat, Harumi sudah tidak ingin menunggu lagi, ia akan tampak semakin Bodoh jika terus menyiksa dirinya dengan segala prasangka-prasangka tanpa jawaban yang jelas. "Apa Cathy memiliki hubungan dengan Anton ?"

__ADS_1


Akhirnya duri itu menyeruak juga dari bibir Harumi.


Sesaat ibunya tidak berbicara.


"Rumi, anakku. Ibu tidak mengharapkan apapun selain kebahagiaanmu. Ibu hanya ingin kau bahagia. Mengenai kebenaran apapun yang akan kau hadapi nanti, jangan pernah membuatmu menyiksa diri terus menerus"


Sambil mengertakkan gigi menahan perih di dadanya, Harumi mencoba bersikap normal. Tapi, itu sungguh mustahil dilakukan.


Bersikap Normal ? yah tentu saja itu kebohongan besar. Karena tidak pernah ada yang normal dalam kehidupan Harumi.


"Thats True, right ?"


"Yah, tapi kau harus mengetahui keseluruhan nya Rumi. Jangan hanya sepotong."


"Who is Freddie ? Cathy memiliki anak, dan Anton mengetahui hal itu. Bahkan aku yang sahabat baiknya sama sekali tidak mengetahuinya. Kenapa harus Anton yang mengetahuinya ? Apa yang sebenarnya mereka rencanakan ? Aku benar-benar sangat Bodoh diantara mereka !!" Api amarah mulai menyulut di dadanya


"Ibu akan menjelaskannya jika kau sudah di Bristol, kau harus kendalikan emosimu. Ibu tidak bisa membicarakan hal ini sekarang di saat kau semakin tertekan dan dikuasai amarah"


Harumi tersenyum pedih "Freddie is His Son, right. Freddie adalah Putera mereka. That is True. Iam Sure." wanita itu tertawa dalam kepedihan yang begitu menyakitkan.


"Rumi, dengar kan ibu. Kau harus tenang..."


Harumi tersenyum samar dan tatapan matanya kosong dengan tubuh yang sangat ringan seakan bongkahan es itu tak lagi sedingin sebelumnya.


Buliran itu pun mengalir dengan sendirinya di mata Harumi bahkan tanpa disadari olehnya.


Ekspresinya sangat pucat, tapi ia tetap mengulaskan senyuman lambat. Harumi mendapati dirinya begitu kosong.


Ia tertawa lepas, bahkan kepedihan itu terasa begitu kuat di dadanya.


Pikiran yang tadi penuh sesak, seolah hilang seketika.


Harumi berpegangan erat pada tepi pagar balkon yang membuat dunia terasa terombang ambing.


Bahkan ia tidak lagi mendengar panggilan ibunya, ia tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini lagi.


Ini sama menyakitkannya ketika Harumi harus kehilangan calon bayi di dalam kandungannya saat ia terkujur kaku di meja operasi.


Sangat menyakitkan.


Inikah Hukuman yang harus diterimanya karena menjadi Wanita Bodoh yang sudah melakukan pengkhianatan ?


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Komen dan Vote


Thank You ❤


__ADS_2