
"Adikku Ben besok Ulang Tahunnya ke 10, jadi kami merayakan acara makan malam sederhana"
Liam hanya tersenyum memandangku yang salah tingkah. Dan aku tidak berani membalas pandangan matanya lagi.
Aku mulai menata meja makan, kuambil dua piring dan meletakkan masakanku yang tadi. Aku agak kikuk gara-gara kelakuan nakal Liam sebelumnya.
"Kenapa pipimu merah ?" Liam tertawa puas karena berhasil menggodaku.
"sudahlah Liam, aku tidak mau kau bersikap seperti tadi." jawabku dengan memasang wajah cemberut
Kami sudah duduk berhadapan di meja makan, mulai menikmati makan malam. Liam sangat lahap menghabiskan makanan yang sudah kumasak tadi.
"Pelan-pelan aja makannya, nanti bisa tersedak."
"Makanan ini sangat enak, bagaimana kau bisa memasak seenak ini." Wajah Liam tampak sangat senang menikmati makanannya.
"Syukurlah kau menyukai masakan ku, ini cuma makanan sederhana. Ibuku biasa memasaknya untuk kami di rumah"
Aku cuma bisa memandangi Liam melahap makanan itu. Ia bahkan menghabisi jatah makan malamku juga, aku tidak menyangka ia sangat menyukainya.
Terlintas di pikiranku, bekal makanan yang selalu kubuatkan untuk Anton sering tidak habis, apa karena tidak enak atau Sebegitu sibukknya kah ia sampai menyantap bekalnya saja tidak sempat.
"Setelah selesai, kau harus pulang Liam."
"Kau mulai berani mengusirku ?"
"Bukan begitu, ni sudah malam. Tidak baik menerima tamu pria ke rumah perempuan bersuami yang sedang sendirian" ucapku seolah memberi nasihat kepada si Pria usil ini.
"aku hanya ingin menemuimu sebelum berangkat besok, waaaaahhh walaupun aku sudah kenyang, aku ingin melahapmu juga Harumi!!" Seperti biasa reaksi Liam selalu bercanda dan santai bila denganku, aku serius dia malah menanggapinya dengan tertawa.
"bisakah sekali saja kau serius Liam"
"Apa kau ingin aku serius, sayang ?" Goda Liam menatap mataku
Liam mulai menatap nakal mata ku, tatapannya mulai turun hingga ke leher sampai ke seluruh lekuk tubuhku. Liam tak bicara hanya senyuman nakal yang terlihat di wajahnya.
"Cukup Liam" jawabku dengan pipi memerah dan makin salah tingkah
__ADS_1
Aku berdiri dan langsung membereskan meja makan. Aku tidak ingin memancing pembicaraan apapun lagi dengannya.
"Apa kau marah ? baiklah aku akan pulang."
Liam mendekati Harumi yang tengah sibuk mencuci peralatan makan. Ia memeluk Harumi kembali, membisikkan sesuatu.
"Maafkan aku, jangan marah lagi ya, besok aku akan berangkat, aku ingin tetap menghubungimu, Harumi"
"Liam, kumohon jangan berharap lebih dariku, aku masih sangat mencintai Suamiku, Rumah tanggaku memang bermasalah tapi aku ingin memberikan yang terbaik untuk pernikahan kami."
Aku berbalik melepaskan pelukan Liam, kucoba terus meyakinkannya bahwa kami hanya sebatas sebagai teman tidak lebih dari itu.
Tapi Liam tidak menyerah sedikit pun, aku pun tidak mengerti apa tujuan nya terhadapku.
"Aku tidak peduli, akan kupastikan Kau jadi milikku, Harumi. Kalau hanya Anton saja penghalangnya. Sangat mudah bagiku menyingkirkannya." jawab Liam yang tetap teguh dengan pendiriannya.
"Kenapa kau seperti ini ? bukankah mudah bagimu menemukan wanita lain sebagai pendamping, tapi kenapa kau memilihku yang bahkan akan membawa banyak masalah untukmu ? "
Suasana saat itu menjadi hening, Liam hanya memandangi wajahku. Ia tak berucap satu kata pun, dari sorot matanya seolah menjawab pertanyaanku. Liam membelai rambut panjangku lagi, diusapnya seluruh bagian wajahku.
"seandainya aku tidak melakukan kesalahan waktu itu, takdir tidak akan mempertemukan kita sekarang. Dan mungkin perasaan yang berkecamuk ini takkan pernah ada" Liam menjawab dengan menimbulkan banyak pertanyaan lagi di pikiranku.
"Terimakasih makan malamnya Rumi, aku berharap segera kembali ke sini dan menyantap masakanmu lagi. "
Liam mencium lembut keningku lalu melangkah keluar. Ia tak menoleh sedikit pun ke belakang, membuka pintu langsung masuk ke mobil.
Ia sama sekali tak melihat ke arahku lagi.
Aku mulai memikirkan ucapan Liam tadi, apa maksudnya dengan kesalahan, kesalahan apa sebenarnya yang di maksud Liam.
Dini Hari
Pukul 04.15 am
Anton pulang pagi-pagi sekali, ia melangkah menuju kamar mandi, mengganti pakaiannya dan langsung merebahkan dirinya.
Aku yang saat itu masih terbaring di tempat tidur, terbangun gara-gara mendengar suara pintu kamar terbuka. Anton sudah terbaring memejamkan matanya di sebelahku, wajahnya tampak lelah.
__ADS_1
Aku memeluk suamiku yang kini di sampingku, kuusap rambutnya yang coklat, bisa kucium aroma parfum ditubuh nya bagaikan campuran kayumanis dan vanila. Ini adalah aroma khas tubuhnya yang tidak berubah.
Anton membuka kedua matanya, ia melihat kearah Harumi yang sedang memeluk erat tubuhnya. Sorot mata Anton mulai berubah lembut melihat istri yang selama ini sudah sabar menghadapinya.
Anton pun mengusap kepala Harumi.
"Sayang, kau belum tidur ?" tanyaku yang reflek melihat ke arahnya saat ia menyentuh rambutku.
Ia hanya diam, lalu mengucapkan sesuatu yang membuatku sangat terkejut.
"Maafkan aku"
Jawaban Anton membuatku tak berkomentar apapun aku sangat terkejut ia mengucapkan kata maaf kepadaku, aku ingin menangis. Aku menatap kedua mata suamiku dengan berkaca-kaca.
Anton merebahkanku di sampingnya dengan pelan, ia usap airmataku. Mencium seluruh bagian wajahku hingga mendaratkan ciuman hangat ke bibirku. Tak ada paksaan sama sekali, tak ada amarah, tak ada perkelahian.
Dan Tak ada yang tersakiti, kami saling memadu kasih dan mentautkan kerinduan yang sudah tidak terbendung.
Aku yang sangat merindukan saat seperti ini. Begitu merasakan debaran jantung kami saling berirama, desiran dingin di tubuhku membuatku semakin mendekatkan tubuh kami.
Anton memelukku penuh kehangatan, aku merasa aman berada di dekapannya. Pelukan yang menghapus semua kesunyian yang kurasakan selama ini.
Bahagia yang tak bisa kuungkapkan, kini berharap ini tidak akan pernah berakhir.
Tak berapa lama, suamiku pun tertidur. Anton yang sangat lelah setelah lembur, dapat kudengar hembusan nafasnya yang berat.
Pemandangan yang sudah sangat lama kurindukan ialah melihat wajah suamiku yang tertidur pulas di hadapanku tanpa membelakangiku. Selama ini hanya pemandangan dari punggungnya yang kulihat setiap malamnya.
Tapi saat ini semua berubah lebih baik, moment sederhana yang akan membekas terus dalam kenangan hidupku. Adalah ketika suamiku sedikit demi sedikit mau menerimaku dengan segala kekuranganku.
Kupandangi wajahnya yang tertidur pulas, kusentuh bulumatanya yang menutup ke bawah dengan sentuhan lembut dari jariku. Kuusap rambut Anton yang agak sedikit basah setelah ia mandi.
"Aku Selalu mencintaimu" bisikan mesra yang membuat Anton bergerak menggelayut memelukku tubuhku lebih erat bagaikan anak kecil yang tidak lepas dengan guling kesayangannya.
Aku tidak menceritakan mengenai kedatangan Liam tadi. Sebenarnya tidak ingin ada rahasia diantara kami, tapi aku tidak mau menghancurkan moment bahagiaku dengan Anton.
#Jangan Lupa Vote ya
__ADS_1
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote ya
Thank you ❤