
Harumi terbangun pada hari Senin pagi, otot-ototnya masih terasa lemas dengan cara yang menyenangkan, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, dia menyambut hari Senin dengan bahagia dan terasa sangat...sangat bebas.
Dia menginginkan waktu berjalan lebih lambat, jangan berakhir cepat bersama Liam dengan jemari pria itu, juga lidah, bibir, dan segalanya tentang Liam.
Seraya tersenyum seperti orang bodoh, dia berguling ke sisi bagiannya, ke tempat yang sebelumnya diisi oleh Liam. Ini pertama kalinya Harumi tidur bersama dengan pria itu, bahkan masih dalam balutan pakaian lengkap. Hampir sebagian malam mereka hanya diisi dengan Mengobrol intens bersama, berbagi cerita indah, dan senda gurau. Selain bersama keluarganya, di sinilah Harumi merasa seperti menjadi dirinya sendiri.
Setelah meregangkan tubuh, dia mengusap seprai sutra tersebut. Ponsel Liam berbunyi, mengejutkan Harumi. Ponsel itu masih tergeletak di nakas, tak tersentuh. Hanya sebentar lalu bunyi ponsel tersebut berhenti.
Semoga itu bukan urusan yang mendesak, sebab Liam sedang tak bersamanya. Harumi seharusnya benar-benar beranjak dari ranjang lalu mandi, tetapi tulang-tulangnya masih terasa seperti agar-agar.
Gumpalan kegelisahan dan kecemasan muncul di debaran dadanya saat dia kembali menjatuhkan diri terlentang. Matanya tiba-tiba membelalak, terpaku ke langit-langit. Di dalam hati, dia merangkum beberapa hari lalu hingga tadi malam, sejak ia baru tiba di New York, Apartement Cathy, Malam Pesta hingga yaaah…tentu saja malam paling indahnya bersama Liam.
Oh My God,,,,Harumi menarik tubuhnya dan langsung terbangun dari tempat tidur itu, setelah terlintas nama sahabatnya Cathy. Tentu saja, karena terlalu sibuk dengan aktivitas mendebarkan penuh kobaran gairah sejak ia bertemu dengan Liam lembaran hidupnya kini berjalan sangat berbeda bak Roller Coaster. Dan ia melupakan Cathy, seharusnya ia mengabarinya tadi malam.
“Aku akan menghubunginya nanti, semoga ia tidak khawatir.” Ucap Harumi pelan sambil menatap ponselnya yang mati akibat baterainya habis.
Dalam benak Harumi tidak satu pun dari apa yang telah Liam dengannya lakukan adalah kegiatan yang sambil lalu. Hanya satu malam mereka lalui sudah membuat wanita itu melupakan sahabatnya, hubungan asmara apakah ini sebenarnya ? kenapa begitu memabukkan ?
Harumi menampar wajahnya sendiri dan sontak mengerang. Dia nyaris tidak meluangkan waktu untuk berpikir jernih tentang tujuannya ke New York. Dan itu pasti sungguh bodoh. Ia masih bersama Anton, suaminya, minggu depan Mertuanya Mama Elena akan menyusulnya, mengunjungi Kaka iparnya Ameera dan sekarang ia malah tengah santai di tempat tidur nyaman bersama pria lain.
Alih-alih menyesal, dia merasa sedikit puas hati, dan itu saja sudah membuatnya sangat ketakutan.
Harumi menarik selimut tipis untuk sedikit memberi rasa aman, walaupun itu terlihat sangat aneh sementara tatapannya bergerak memindai ruangan. Hari kemarin, tentang tadi malam…yah, memang menyenangkan, tetapi harus diakhiri. Jantung Harumi mencelus dengan menyakitkannya dan rasa takut membuat darah di dalam nadinya menjadi sedingin es.
Setelah semua ini selesai, apa yang tersisa pada hubungannya dengan Liam ? Hanya ingin mengatakan bahwa akan ada masa depan untuk mereka berdua, tetapi otaknya menyuruh hatinya untuk tutup mulut, karena otaknya tidak berharap sebesar itu.
Dia bergerak turun dari ranjang, lalu meraih sebuah kemeja milik Liam yang di kenakannya tadi malam tergeletak di sofa dan mengenakannya karena gaun tidur satin ini sudah cukup terbuka untuk mengekspos tubuhnya bahkan sejak semalam. Sekilas Harumi bisa mencium aroma parfum Liam di kemejanya, wangi maskulin khas water notes, Citrus dan nuansa woody.
__ADS_1
Mengenakan kemejanya seolah membuat Harumi di peluk erat pria itu, aroma parfum ini juga yang mendominasi indera penciumannya semalam.
Sudut-sudut bibir Harumi naik, ia tersenyum simpul membayangkan kebersamaan mereka tadi malam. Sambil mendesah, dia memakainya dari kepala.
Memang masih terasa beban di pundaknya, banyak sesuatu hal yang harus di selesaikan dalam hidup Harumi, baik dalam hal pernikahannya, hubungannya dengan Anton maupun kondisi di dalam tubuhnya saat ini yang tidak diketahui orang lain selain suaminya.
Perasaan bersalah terkadang masih berkecamuk di dadanya. Tapi perasaan sayang itu, perasaan memabukkan menghanyutkan itu terus menggerogoti dirinya bila Harumi selalu bersama Liam.
“Hentikan” cetus Harumi keras-keras sambil menggosok wajahnya. Rasa panik terasa seperti obat pahit di dasar tenggorokannya “Kau tidak sedang jatuh….”
Dia menolak untuk bahkan menyelesaikan pernyataan itu, dan beberapa kali menghela napas panjang lalu berjalan ke kamar mandi.
Setelah buru-buru menggosok gigi, Harumi memercikkan air ke wajah lalu menenangkan diri. Ia mengangkat sisir, lalu dengan cepat menyisir rambut seraya berkata pada diri sendiri untuk menutup mulut, lalu meletakkannya kembali ke wastafel.
Dia turun ke lantai bawah dan hampir menuju ke dapur sebelum dia mendengar suara.
Harumi sempat membeku di dalam ruang makan, sekat kedua ruangan tersebut sangat dekat dan sedetik kemudian, dia melihat Liam berdiri di sudut ruang tamu tersebut, bertelanjang dada dengan celana piama berwarna gelap menggantung rendah.
Demi Tuhan, Liam tampak seksi bahkan saat ia hanya berdiri saja.
Oke. Fokus. Ambil Prioritas. Keseksian Liam bukanlah sesuatu yang penting saat ini. Yang penting adalah bagaimana caranya kembali ke lantai atas tanpa terlihat.
“Aku sibuk” Liam menjawab dengan masam
“Paman hanya khawatir padamu, sejak ayahmu tiada kau banyak berubah.”
Liam tak menggambarkan ekspresi apapun di wajahnya saat pria paruh baya itu berbicara soal ayahnya.
__ADS_1
Kedua pria tersebut, berbincang serius di ruangan itu entah sejak kapan.
Harumi sempat mengerutkan keningnya saat ia mendengar bahwa pria paruh baya yang berpakaian sangat rapi itu adalah Pamannya Liam.
Wajah mereka hampir serupa, tulang pipi yang lebar, rahang yang kuat. Perawakan pria itu tinggi kurus, tidak melebihi tinggi Liam, rambutnya hitam perpaduan putih akibat usia, wajahnya seperti bukan wajah Amerika, lebih ke Eropa. Pakaian dengan setelan jas hitam, ia seperti seseorang yang sangat dihormati.
“Setahun aku tidak pernah bertemu lagi denganmu maupun Anita, bagaimana kabar ibumu ?”
Liam sempat terkekeh “sebaiknya kau temui saja langsung”
“Dengarkan aku Liam, paman sangat memahami situasi mu sekarang, dan aku pun tahu kau masih mencari-cari wanita itu bukan ? tidak kusangka kau segigih itu, walaupun jarang bertemu denganmu tapi aku masih bisa mengetahui kegiatan mu dari orang-orang dalam mu, ngomong-ngomong apa kau berhasil menemukannya ?” pertanyaan yang paling dibenci oleh Liam akhirnya terlontar juga dari bibir Pamannya yang kini duduk menyilangkan kakinya di sofa tamu sedangkan Liam berdiri dihadapannya sambil melipat tangannya yang berotot.
Mereka tidak mirip seperti keluarga selain wajah mereka, orang asing pun akan sependapat kalau mereka lebih cocok sebagai rival.
“Maksudmu Roseanne” balas Liam dengan tatapan menusuk
“Hahaha…Luar biasa, kau bergerak cepat. Bahkan kau sudah mengetahui nama asli wanita itu. aku dan Anita sangat menutup rapat identitas wanita simpanan ayahmu. Kau juga harus tahu aku menyimpan banyak rahasia tergila dalam sejarah hidup Roberto. Adikku itu memang sangat bodoh. Terlalu larut dalam hubungan percintaan hingga anaknya pun harus menanggung akibatnya”
Pria itu begitu percaya diri membeberkan setiap percakapan kata demi kata yang diucapkannya. Ia terkadang tersenyum santai sedangkan Liam mulai bermuka separuh membenci kepada Pamannya sendiri.
“Aku akan menemukannya”
“Lalu…apa yang akan kau lakukan bila bertemu dengan Roseanne, kau pikir ibumu akan menerimanya dengan tangan terbuka dan hidup bersama. Seperti itu kehendakmu ?”
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
__ADS_1
Thank you 💞