Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 189 Let it BURN


__ADS_3

at Minimarket


6.30 pm


"LEPASKAN !!" Harumi tersadar dari shock dan refleks mendorong tubuh Anton dengan cepat


"Why ?!" Anton bertanya dengan raut wajah kesal "Why, Rumi ?! You still My Wife" pria itu kembali menarik lengan istrinya tapi Harumi lebih dulu menangkis tangannya


Mata Harumi membesar "Don't TOUCH ME Anymore" ia bisa merasakan otot perutnya menegang ketika ia harus mengeluarkan kalimat yang begitu menyakitkan untuk pernikahan mereka


Sejenak Anton terdiam dengan melemparkan tatapan tajam yang sarat akan kepedihan "Why ?! Why ?!" pria itu menggeleng dengan miris "Kenapa kau begitu cepat berubah ? Melihatmu keluar dari rumah Ameera, aku diam-diam mengikutimu, berharap hal yang kebetulan ini bisa mempertemukan kita dan membuatmu kembali."


"Hubungan kita sudah berakhir, tidak ada yang perlu kita perbaiki lagi." suara Harumi terdengar mulai gemetar "Semua sudah terlambat, Kumohon jangan..."


Anton langsung menyela dengan tawa yang pecah hingga membuat beberapa orang yang berjalan disekitaran lorong makanan itu mulai memperhatikan "Apa sehebat itukah Liam memuaskanmu di ranjang, Rumi ?! JAWAB AKU !!!" volume suaranya tinggi mengoyak ketegangan diantara keduanya.


Harumi melotot tidak percaya, bahwa kata-kata itu keluar dari bibirnya ditempat seperti ini "Jaga Bicaramu !!! Aku tidak akan membahas apapun lagi denganmu. Its Enough. " Harumi marah, saat ia ingin memutuskan untu pergi meninggalkan Anton.


Pria itu tidak tinggal diam begitu saja, ia kembali menarik lengan Harumi dengan cepat. Dan itu membuatnya semakin kesal ketika Anton secara paksa menariknya menuju ke sebuah pintu dibelakang Minimarket yang bertuliskan Exit.


Harumi berusaha menarik-narik tangannya, tapi tidak berhasil karena genggaman tangan pria itu sangat kuat hingga membuat lengan Harumi hampir mati rasa "Lepaskan Tanganmu !!!!"


"DIAM !" Anton melotot dan menahan suaranya agar tidak menarik perhatian pengunjung lain.


Sampai akhirnya, seorang staff Minimarket melihat dan menghampiri keduanya "Permisi, apa yang sedang terjadi ?!" Staff itu menatap sambil mengernyit ketika ia beralih melihat tangan Anton yang memegang keras lengan Harumi yang tampak tidak nyaman "Anda tidak apa-apa Nyonya ?"


Ketika Harumi hampir membuka bibirnya.


"She is My wife, not your business" Anton langsung menyela "Kami hanya ingin berbicara"


Staff itu tidak langsung mempercayainya "Nyonya, apa benar pria ini suami anda ? Apa perlu saya panggilkan pihak keamanan ?"


Harumi diam dengan perasaan tidak karuan, Anton menoleh menatapnya. Tatapan pria itu sangat menyudutkan Harumi, seolah tanpa sepatah katapun Anton mampu mengekang istrinya hanya dengan tatapan aneh itu.


Dada Harumi bergemuruh, perasaannya sakit tapi ia sudah terhimpit dalam situasi yang sama sekali tidak nyaman untuknya.


"Nyonya ?" staff pria itu kembali menegur Harumi


Napasnya sesak, Harumi ingin berteriak tapi kenapa semua suaranya yang tadi tiba-tiba menghilang oleh tatapan Anton yang mengerikan baginya.


Akhirnya Harumi mengangguk dengan pelan "yah....its Ok" ucapnya dengan terbata.

__ADS_1


Anton menyeringai tanpa melepaskan tatapannya dari Harumi "Kau dengar, sebaiknya kembalilah pada pekerjaanmu" ia beralih menatap dingin ke arah staff tersebut


"Iam sorry, tapi jika Nyonya meminta bantuan kami..."


"Go !!" bentak Anton menaikkan sebelah alisnya, seolah mengkonfrontasinya.


Setelah staff itu mulai menjauh, Harumi hanya bisa menatapnya. Kakinya tiba-tiba sangat lemas.


Anton membawanya keluar melewati pintu Exit karena ia sudah mengetahui bahwa Harumi tidak seorang diri, karena Pengawal pribadi yang diperintahkan Liam sedang berjaga di luar.


"Lepas !" Harumi langsung menarik tangannya ketika ada celah. Harumi menatap ke sekeliling tempat itu yang seperti sebuah gang kecil dipinggiran kota dan hanya ada tiga tong sampah besar yang menghiasi lorong gang sempit yang mengarah ke jalan utama. Harumi tidak melihat ada seorang pun di sana selain mereka.


"Aku suka dengan sikapmu tadi. Kau masih menurutiku."


"Sekarang apa mau mu ?" tegasnya


"Easy, aku ingin kau kembali padaku thats it."


"Hmmm" sudut bibir wanita itu terangkat "kembali kepadamu ? For what ?"


Keninganya berkerut "Kita masih terikat pernikahan, Rumi. Aku akan memaafkan semua kesalahanmu dan menganggapnya tidak pernah terjadi"


"Kau jawab dulu pertanyaanku, Why ? Kenapa semua yang pernah kita lalui bersama tidak berarti apapun untukmu sedangkan kamu dengan mudahnya berlabuh pada pelukan Pria lain ?!!! JAWAB AKU RUMI !!"


"Kenapa sekarang aku harus menjawab pertanyaanmu ? Padahal waktu aku mengalami kecelakaan itu, KAU DIMANA ?!" Harumi membulatkan matanya ketika suaranya berubah menjadi teriakan yang pedih


"Rumi..." pria itu mendekati, tapi Harumi langsung melangkah mundur


"Pertanyaanku sekarang, kenapa Cathy ? Kenapa harus sahabatku ? Dalam kondisi ku yang sangat rapuh. Kalian bersikap seperti tidak pernah terjadi apapun, menyimpan rahasia sebesar itu dariku."


"Dia tidak salah apa-apa"


"Itu bukan jawaban yang seharusnya kudengar darimu." raung Harumi dengan mata menyala


"Apa kau sekarang sedang melemparkan kesalahanmu padaku, Rumi ?!" suara Anton sedikit tenang, meskipun begitu tenangnya Anton terasa mencekam bagi Harumi "Aku cuma memikirkan perasaanmu"


"Cukuuup, kenapa selalu aku yang dijadikan alasan. Aku sudah bersusah payah mencari sumber masalah pernikahan kita. Aku singkirkan semua harga diriku untuk memikirkan semuanya. Sikapmu yang berubah-ubah, aku masih tetap bertahan untukmu. Karena aku ingin menjaga perasaan keluargamu, keluargaku, pernikahan kita. Tapi, Kamu malah memikirkan perasaan perempuan itu."


"Kamu bukan satu-satunya orang yang menderita dalam Pernikahan kita, Rumi. Aku juga merasakan hal yang sama." tegasnya dan kali ini ketenangan yang sedikit itu pun memudar.


Harumi menyeringai miring "Mana buktinya ?! Sikapmu hanya menganggapku sebagai bayangan di rumah. Bahkan tanpa rasa bersalah kau selalu bersikap cuek dan pulang larut malam tanpa kabar"

__ADS_1


"AKU KERJA, Kerja untuk siapa ? untukmu. Kau benar-benar pandai menghakimi orang lain." hardik Anton dengan tawa sumbang di bibirnya.


"Kalau kamu tidak ingin merasa dihakimi, Jangan bersikap seperti itu. Bicaralah!!! Jangan Menghindar. Dulu apa yang kau lakukan ? Menjalin hubungan dengan Cathy, bukan ?!!! AKU STRESS MEMIKIRKAN INI SENDIRIAN"


"Selalu saja Kau merasa kau yang paling Stress memikirkan ini sendirian, selalu merasa lelah dengan semua yang seharusnya kau syukuri"


"AKU LELAH ! CUKUUUPPP ! Apa kau pernah sekalipun menanyakan apa yang kurasakan selama ini ?!!! PERNAH ????"


"Hentikan sikap berlebihanmu seperti ini !!!! Kamu mau pernikahan kita HANCUR ?!!!!"


Harumi menelan salivanya, mengatur napasnya "AKU ? KAMU YANG MEMBUAT PERNIKAHAN KITA HANCUR"


"STOP ! Apa pantas kau melimpahkan semua kesalahan padaku ?! Sedangkan kau sendiri..."


"Dulu aku berusaha mempertahankan Rumah Tangga Kita, tapi apa kau tidak sadar bagaimana yang terjadi, KAU SELALU MENGANGGAP DIRIMU PALING BENAR, SELALU MERENDAHKAN ISTRIMU SENDIRI. MASIH BELUM SADARKAH ?!!!"


Sorotan Anton makin memanas "Aku dan Cathy adalah masa lalu, setelah menikah Aku tidak melakukan apapun dengannya, kami berhubungan hanya sebatas untuk urusan Anak. Tidak ada yang lain"


Harumi mendekat "Kamu selalu Kabur dan selalu menghindar. Kamu tidak pernah bisa menghadapi masalah, kamu tidak pernah melakukan apapun !!"


"Stop...."


"Kamu tidak pernah menghadapi masalah, aku sendirian. Kamu dimana disaat aku membutuhkan suamiku, Kamu dimana ?!!!"


"Stoooooop!!!" menunjuk wajah Harumi "Sekali lagi kamu bilang hanya aku yang salah dalam situasi ini, seharusnya kau bercermin!!!!"


"Apa ?!!!! Aku adalah Perempuan Kotor itu kan yang ada di pikiranmu sekarang !!!!"


"Diaaaammm, sekali lagi...Aku akan ...." Anton mengangkat tangannya hampir mengarah ke wajah Harumi


Harumi shock saat arah tangan itu ke wajahnya "Ooh, Kau ingin menamparku lagi. TAMPAR SEKARANG !!! TAMPAR AKU" teriak Harumi dengan gemetar. "Apa Lagi yang kau tunggu, AYO LAKUKAN LAGI !!!" wajahnya merah oleh perasaan sakit yang membara oleh amarah, sorotannya menyala lalu dengan reaksi yang tidak terduga.


Harumi menampar wajahnya sendiri berulang kali dihadapan Anton. Tanpa berhenti "Lakukan!!! Bukankah itu sudah menjadi keahlianmu !!!!" ia tidak merasakan sedikit pun rasa sakit saat begitu kerasnya ia menyakiti dirinya sendiri. Tidak ada keraguan di matanya.


Harumi merasakan hatinya hancur berulang-ulang, tapi kali ini tidak ada setetes airmatapun yang keluar dari matanya selain hawa panas oleh amarah.


#Jangan Lupa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you 🥰

__ADS_1


__ADS_2