
Miracle Sunrise Resto, New York City
"Diantara semua Restoran Mewah di New York, and then this is your Choice ?" ucap Liam memandangi sekeliling tempat tersebut yang masih begitu asing baginya, guratan heran mewarnai wajah tampannya
Harumi yang duduk dihadapan pria itu, hanya memandanginya sambil tersenyum kecil "Ini tempat makan favoritku semasa kuliah, kau pasti akan menyukai makanan disini" dengan menaikkan kedua tangannya diatas meja, wajah manis Harumi berpangku sambil tetap tidak melepas sorotannya pada Liam
Sesekali Liam melirik lalu mengerutkan keningnya "What ?"
Suasana nyaman dan menyegarkan di Restoran dengan gaya semi outdoor tersebut membuat pengunjung selain bisa menikmati makanannya, juga pemandangan taman indah yang terbentang di sekitaran tempat tersebut.
Beberapa pepohonan hijau yang mewarnainya dan angin yang melambai sesekali meniup helaian-helaian rambut hitam Harumi.
Suasana tenang memang sangat terasa, karena sunyi tidak ada pengunjung lain selain mereka berdua. Dan ada beberapa pengawal pribadinya yang duduk berjarak cukup jauh dari mereka.
Yah, tentu saja. Liam memesan tempat makan itu hanya untuknya dengan Harumi. Bahkan ia membayar sangat mahal agar tidak ada pengunjung lain yang datang selama mereka makan disana.
Tempat itu masih begitu asing bagi Liam, karena bagi pria sesibuk dirinya sangat sulit bisa menemukan tempat restoran seperti itu.
"Liam " Harumi memanggil
"Hmmm"
Liam yang tengah meneguk segelas air mineral-nya, melirik Harumi. Dia tampak fokus menatap wanitanya tersebut.
"Sebenarnya, kita kemana ?"
"Our Home" singkatnya
Jawaban tegas dan lugas Liam, sedikit membuat Harumi terkejut. Walaupun ia memang sudah mengetahui rencana itu, tapi ia tidak menyangka kalau akan secepat ini.
"Apa tidak terlalu terburu-buru ? Bahkan, a-aku masih belum mempersiapkan apapun" pandangan Harumi rendah, arah pandangannya beralih kepada segelas air mineral yang tidak tersentuh olehnya sejak tadi.
"Aku tidak ingin menunggu terlalu lama lagi, apapun yang kau perlukan. Aku sudah menyiapkannya semua, pakaian, dan semua kebutuhanmu."
"Tapi..."
Mendengar respon yang tak terduga dari Harumi, Liam sigap berdiri dari duduknya dan itu sontak membuat Harumi kaget "Kau sudah menyetujui rencana ini, Rumi. Lalu apalagi yang harus ditunggu, apa kau akan mengubah niatmu ?!" suara serak Liam mulai terdengar emosi
"Bukan begitu, Liam. Dengarkan aku dulu. "
"Lalu apa ?" sela nya dengan cepat
"Aku harus memberitahu keluargaku lebih dulu, mereka akan terkejut jika mengetahui hal yang sebenarnya terjadi. Belum lagi, aku masih belum bisa membayangkan bagaimana dengan reaksi Keluarga Anton" Harumi menarik napas
Mendengar Harumi masih mengucapkan nama suaminya, Liam merasa geram. Ada percikan amarah tergambar di wajahnya "Seharusnya kau pikirkan itu lebih dulu sebelum memutuskannya. Jangan mengambil keputusan jika kau masih belum yakin. Aku tidak suka dengan keragu-raguan" Liam langsung memalingkan pandangannya dari Harumi. Tampak punggungnya menegang membelakangi wanita itu.
__ADS_1
Suasana berubah menjadi menegangkan, Harumi menyadari Liam berusaha menahan emosi.
Kemudian wanita itu berdiri menghampirinya, menyentuh pundak Liam dengan lembut lalu memeluk tubuh besar pria itu dari belakang.
Harumi menempelkan wajahnya di pundak belakang Liam dan ia merasakan kehangatan tubuh pria tersebut.
"Aku tidak akan mengubah keputusanku, hanya saja masih banyak yang harus aku selesaikan terlebih dahulu"
Liam diam, sikapnya masih dingin. Tapi, ia mendengarkan.
"Tapi, aku akan tetap mengikutimu kemana pun kau akan membawaku. Jika, memang kau akan membawaku ke rumah itu, baiklah aku bisa melihat-lihat disana."
Sikap Liam yang awalnya dingin sedikit melunak, sebenarnya ia tidak bertengkar dengan Harumi. Dia mengalah lalu menggenggam kedua tangan Harumi yang melingkar di pinggangnya. Melepaskannya, dan berbalik.
Kedua pasang mata mereka saling bertemu, Tangan Liam menangkup wajah Harumi dan menarik kemudian memeluk tubuh wanita itu "Aku tidak ingin kau kembali padanya lagi. Itu tidak akan pernah terjadi" tegasnya sambil mempererat dekapannya pada tubuh wanita itu.
Harumi mendengarkan, terulas senyuman diwajahnya lalu mengangguk perlahan. "Yah"
Lalu, tidak lama seorang pelayan Restoran datang membawakan pesanan makanan mereka di sebuah nampan besar.
Hampir sejam berlalu, dan kini mereka sedang menyantap makanan penutup sebuah Puding Buah segar Tropical yang berwarna cerah.
Liam dan Harumi sangat menikmati makan siang mereka.
"Oh ya, sewaktu di ruang kerjamu. Aku melihat, ada sebuah Pesawat kecil yang terbuat dari kayu. Sepertinya itu adalah sebuah mainan anak kecil yang kau letakkan di Lemari Kaca dekat dengan Rak buku-buku. Itu cukup menarik perhatianku, apa itu mainanmu sewaktu kecil dulu ?" Harumi cukup penasaran, sambil ia meletakkan garpu kecil di sebelah piringnya. Ia telah selesai menghabiskan Makanan Penutupnya.
Kedua mata Harumi membesar "Your Brother ?"
"Yah, Pesawat kayu itu adalah pemberiannya."
Harumi semakin heran "seingatku bukankah kau sedang mencari ibu kandungmu dan juga saudara laki-lakimu selama ini. Jadi kau pernah bertemu dengannya ?'
Liam menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi dengan santai "Aku pernah bertemu dengannya sekali, ketika itu usiaku masih 4tahun. Ayahku pernah membawanya sekali ke rumah kami."
"Bagaimana kau bisa menyadari kalau dia adalah ..."
"Awalnya aku mengira dia adalah sepupuku atau anggota keluarga dari pamanku. Tapi, aku masih mengingat dengan jelas saat ia memanggil ayahku dengan panggilan yang sama "Ayah". Dari situlah aku perlahan-lahan dan membutuhkan waktu sampai akhirnya aku mulai paham bahwa Ayahku juga memiliki seorang anak dari wanita lain."
Cukup terkejut dengan pengakuan Liam, Harumi terus mendengarkan dengan sesekali melemparkan pandangan penuh selidik "Apa kau masih mengingat wajahnya atau namanya ?"
Liam menggeleng cepat "Aku tidak mengetahui namanya, karena pertemuan kami hanya sebentar. Seingatku usianya mungkin hanya selisih sekitar dua tahun, ia membawa sebuah pesawat mainan dan memberikannya padaku waktu itu. Itu adalah pertemuan pertama kami dan setelah itu Ayah tidak pernah membawanya lagi. Karena Anita tidak menyukai kehadirannya"
Ketika itu, Liam berusia 4tahun dan Anthony kurang lebih 6tahun. Pertemuan kedua Kakak Beradik itu hanya berlangsung sebentar bahkan Liam tidak sempat mengetahui nama Anthony.
Yang ia ingat hanyalah, sebuah Mainan pesawat yang diberikan anak laki-laki tersebut.
Harumi tersenyum "Pesawat kayu itu pasti sangat berharga untukmu hingga kau meletakkanya di tempat yang sangat privasi."
__ADS_1
"Of Course, sangat berharga dan kuharap dia memiliki kehidupan yang baik di luar sana. Sampai suatu hari nanti aku bisa menemukannya...and My Mother."
Harumi meraih tangan Liam "Mereka juga pasti ingin bertemu denganmu. Dan sudah berharap kehadiranmu di antara mereka. "
***
Ameera mengambil segelas air lagi untuk ibunya dari dapur setelah ia mengecek ke kamar bayi memastikan anak-anaknya masih tertidur lelap.
Ia kembali duduk di samping Elena "Mom, itu berarti Anita Seymour memiliki anak dari Roberto ?"
Elena menggangguk ragu "Seharusnya mereka memiliki bayi perempuan."
Keningnya berkerut "Seharusnya ?"
Wanita paruh baya itu mengelus tengkuk lehernya "Tapi, bayinya tidak berhasil bertahan setelah dilahirkan. Bayinya memiliki kelainan jantung yang cukup parah dan tidak akan mampu bertahan lebih lama lagi."
"Ya Tuhan" Ameera tanpa sadar membuka lebar bibirnya
Elena sempat diam sejenak, menarik napas dalam lalu akhirnya melanjutkan pembicaraan mereka "Kehamilan itu sangat berarti bagi Anita, karena berkat itulah, sikap Roberto perlahan-lahan berubah. Dia mulai memperhatikan Anita, sikap Roberto tampak lebih lembut dan penuh kasih sayang. Bahkan kedua orang tua Roberto mulai menerima keberadaan Anita dengan sangat baik. Keadaannya berangsur membaik setelah Anita mengandung. Aku yang melihat perubahan itu, mulai menyadari bahwa sebenarnya aku hanyalah orang lain diantara hubungan mereka. walaupun sikap Roberto tidak berubah terhadapku, tapi aku tetap tidak bisa mengabaikan Anita dan calon bayinya."
"Apa karena itulah Mom mulai berpikir untuk keluar dari rumah itu ?"
"Yah, diusia kehamilan ku yang semakin membesar. Aku memutuskan untuk pindah walaupun Roberto bersikeras melarangku. Tapi aku jauh lebih keras kepala. Sampai pada akhirnya Roberto mengalah dan membelikanku sebuah Apartemen di pusat kota yang sangat mewah untukku dan Anthony. Roberto berusaha membagi waktunya untuk tinggal bersamaku dan juga bersama Anita. Sampai tiba saat hari dimana kelahiran anak kami."
Sambil memberikan segelas air kepada Elena, bibir Ameera tidak berhenti untuk terus mengajukan pertanyaan "Jadi, kalian melahirkan di Hari yang sama ?"
Setelah meneguk sedikit air, Elena memberikan gelas itu kembali kepada Ameera "Yah, bayi perempuan Anita lahir bersamaan dengan hadirnya Anak Keduaku, Liam"
"Lalu, bagaimana keadaan Anita saat itu ?"
"Kau tidak akan bisa membayangkan, bagaimana hancurnya Anita ketika itu setelah ia mengetahui keadaan bayinya. Roberto bahkan tidak bisa menenangkannya, Anita mengamuk, menangis seperti orang yang tidak waras. Dia tidak memperdulikan keadaannya yang masih lemah setelah menjalani proses bersalin. Anita menggila, ia bahkan terus-terusan berteriak memaki maki semua orang disekitarnya. Aku mengetahuinya, karena kami berada di Rumah Sakit yang sama. Aku menyaksikannya sendiri. bagaimana menderitanya dan hidup terasa sudah tidak berarti lagi bagi Anita. Dia sampai berniat mengakhiri hidupnya. Bisa kaubayangkan, Anita Melihat jenazah bayinya yang dibawa dari Kamar Bayi. Bayi yang diharapkannya saat itu berada dipangkuannya dengan sehat, ternyata Tuhan memiliki rencana lain. Tubuh bayi perempuan itu kaku dan tidak bernyawa dibawa dihadapan Anita."
Elena berhenti, kedua matanya berkaca. Ia tidak sanggup melanjutkannya dan memilih menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia tidak mampu jika harus mengingat keadaan saat itu. Tetes demi tetes air mata mengalir dipipinya yang berkerut termakan usia. "Aku tidak...tidak bisa membayangkan apa yang dirasakan Anita, membayangkan seorang ibu yang kehilangan bayinya." suara Elena semakin gemetar
"Oh God, Mom" Ameera menarik tubuh ibunya ke dalam pelukannya dan berusaha menenangkan.
Dengan terbata-bata menahan isak tangis, Elena bicara sesuatu yang paling mengejutkan "Saat itulah, aku mengambil keputusan yang tidak seharusnya kulakukan. Seharusnya tidak pernah kulakukan sejak dulu."
"What's wrong, Mom ?"
Elena menarik diri dan mengangkat wajahnya yang pucat "A-aku...memutuskan memberikan bayiku kepada Anita. Memberikan Liam padanya."
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank You ❤
__ADS_1