Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 183 Love Affair


__ADS_3

Harumi menundukkan kepala, mencoba menelaah dengan apapun yang sudah didengarnya barusan. Entah reaksi seperti apa yang harus di perlihatkan Harumi dihadapan sang Mertua ketika sesuatu Rahasia yang begitu besar ini harus di telannya dalam sesaat.


Elena kembali menimpali "Aku tidak ingin kedua Puteraku harus berseteru hanya untuk memperebutkan seorang wanita. Itu tidak akan terjadi...Kau HARUS SEGERA MENINGGALKAN LIAM DARI SISINYA DAN KEMBALI KEPADA ANTON. Kembalilah pada Pernikahanmu." dengan nada suara yang tegas wanita itu menatap penuh konfrontasi.


Harumi masih diam, ia tidak mengatakan sepatah katapun. Hanya keheningan yang menyelimutinya, walaupun ia masih bisa mendengar dengan sangat jelas semua perkataan mertuanya.


Tapi ia masih sibuk dengan pemikirannya sendiri, mencoba memberi ruang diantara sesaknya tekanan hidup yang tengah menghantamnya bertubi-tubi.


Bersikap tenang, bukanlah perkara yang mudah bagi Harumi. Karena semua masalah yang terus menimpanya dalam hidup terus memaksanya untuk bangkit diantara kekerasan dan pukulan yang mampu membuatnya tersungkur.


Menerima kenyataan, bahwa Liam merupakan adik Anton. Saudara laki-laki dan Ibu kandung yang selama ini didambakan oleh Liam. Semua sudah terungkap. Pencarian yang sudah dilakukannya cukup lama, ternyata jawaban itu ada di depan matanya. Menerima kebenaran, bahwa kini Elena terus mendesaknya melawan kata hatinya.


Harumi sekarang berada di persimpangan jalan, benar. Memang benar, apa yang dikatakan Elena. Persimpangan dengan berbagai pilihan yang bahkan tidak ada satupun yang menguntungkan.


Harumi membuka matanya perlahan dan kembali menatap Elena.


Tidak ada airmata lagi yang tampak membasahi wajahnya seperti sebelumnya. Baginya ini sudah cukup, harus berapa kali lagi Harumi menangis ? Apakah di sepanjang hidupnya ? Ia bukanlah wanita yang lemah, Tuhan memberikannya banyak teguran karena ingin Harumi berubah menjadi pribadi yang lebih baik.


Ketika ia salah melangkah, ketika ia salah memilih, ketika ia tidak lagi buta akan keadaan. Bukankah sudah waktunya kekuatan itu hadir dari dalam dirinya.


"Bagi orang lain, kebenaran yang terungkap ini mungkin bentuk hukuman untukku. Karena memilih jalan ini. Mencoreng sebuah pernikahan dalam bentuk Pengkhianatan. Mengatas namakan cinta dan berusaha mencari kebahagiaan tanpa mempertimbangkan dampak pada semua orang disekitarku. Semua keputusanku, bukan untuk meminta pembenaran dari semua orang. Tapi, ini Pilihan Hidupku. Aku tidak ingin semua wanita diluar sana membenarkan Jalan yang kupilih sekarang. Aku tidak berharap semua orang mengikuti keputusan yang sudah kujalani. Tapi, biarkan aku memilih Pilihan Hidupku. Biarkan aku menanggung semua konsekuensinya. Karena aku tidak ingin tersiksa dengan belenggu yang diciptakan Anton yang disebutnya sebagai sebuah Pernikahan Sempurna." reaksi Harumi sangat tenang, berbeda jauh saat beberapa menit yang lalu.


Harumi mulai bisa mengendalikan emosi dan getaran hebat yang berkecamuk di dadanya.


Harumi tidak ingin terjebak, itu saja. Hidupnya adalah miliknya. Semua keputusan memiliki konsekuensi yang menuntut tanggung jawab. Dan Harumi mengerti akan hal itu.


Elena cukup terkejut dengan reaksi menantunya tersebut, tidak ada keraguan dimata nya. Semua jawaban tu seolah sudah dipersiapkan Harumi sebelum ia bertemu Elena dengan kondisi sekarang.


Mata wanita paruh baya itu menyipit dan seringai miring kembali mewarnai wajahnya ketika sorot matanya teralihkan pada sebuah cincin yang melingkar di jari manis Harumi "Lalu...? Kau akan bercerai dengan Anton, dan memilih menikah dengan Liam. Begitu yang kau inginkan ?"


Bibir Harumi mengulas senyuman "Aku sangat menghormati dan menyayangimu seperti ibu kandungku sendiri. Mungkin ini keputusan yang sulit, tapi aku harus berpisah dari Anton. Aku tidak ingin kami hanya saling menyiksa satu sama lain lagi."


Elena menggeleng "Aku tidak akan membiarkan Anton menderita, dia sudah cukup menjalani hidup yang begitu sulit sejak ia dilahirkan. Anton benar-benar mencintaimu, hidupnya kembali berwarna ketika kau hadir dalam hidupnya."


"Pernikahan kami tidak bisa..."


"BOHONG !!! KAU EGOIS, RUMI. Anton begitu baik padamu, puteraku begitu mencintaimu bahkan disaat posisimu sedang terperuk akibat kecelakaan itu. Ia masih bertahan denganmu. Sekarang apa balasannya, KAU MENGKHIANATINYA !!!" Elena berdiri dan melemparkan tatapan menusuk


Harumi menarik napas berat "Anton bukan memilih BERTAHAN UNTUKKU. Setelah Kecelakaan itu terjadi, justru akulah yang memilih untuk bertahan dengannya. Bertahan dengan seseorang yang tidak lagi menghargai keberadaanku sebagai pasangan hidupnya. Seperti bayangan, itulah AKU DIMATA ANTON."

__ADS_1


Elena nampak beberapa kali menekan dadanya yang mulai terasa perih "Anton adalah Putera Kesayanganku. Aku tidak pernah mendidiknya seperti itu."


"Tapi, itulah yang terjadi padaku. Anton memang pandai menutupi segalanya, termasuk rahasia besar yang disembunyikannya selama ini."


Kening wanita paruh baya itu berkerut "Rahasia ? Apa maksudmu ?!"


...****************...


Sekretaris Will berjalan mengiringi Liam dari belakang menuju pintu keluar pesawat pribadinya.


Tampak tiga buah mobil mewah berwarna hitam sudah menunggu kehadirannya. Berdiri empat pengawal pribadi berseragam serba hitam menyambut Liam.


Liam segera memasuki mobil pribadinya dan Sekretaris Will pun tak lama menyusul.


"Kita akan kemana, Tuan ?" tanya Sekretaris Will yang sudah duduk tepat di samping sopir


Liam membuka kacamata hitamnya, menatap ke luar jendela "St. Thomas Hospital"


Sekretaris paruh baya itu mengangguk "Baik, Tuan"


Liam sudah tiba di Bristol, setelah melalui penerbangan cukup lama.


Ketiga mobil tersebut melintasi jalan raya kota Bristol menuju rumah sakit. Yah, tentu saja itu adalah Rumah Sakit tempat ayah Harumi dirawat.


Setengah jam perjalanan, pandangan Liam terhenti pada sebuah tempat yang dilihatnya diluar jendela.


Sebuah tempat yang sangat dirindukannya diantara semua tempat indah di Bristol.


Tempat pertama yang ingin dilihatnya setelah ia tiba di Bristol.


Itu adalah Kios Bunga milik Harumi yang berada tepat di Pinggiran kota.


"Apa Tuan ingin berhenti sejenak ?"sahut Sekretaris Will yang menanggapi cepat


'Its Ok. Maybe next time"


Ada seutas senyuman kecil dibibirnya ketika ia masih memandangi Kios kecil itu yang perlahan-lahan menjauh.


Tentu saja, itu membuat Liam makin merindukan Harumi. Walaupun, ia sudah mengatakannya lewat pesan singkat yang dikirimkannya ke ponsel Harumi. Tapi, tetap saja itu belum cukup mengobati.

__ADS_1


"Apa Tuan sudah merindukannya ?"


Liam menatap Sekretaris Will dengan lekat "Kau sudah mengetahui jawabannya."


Sekretaris Will membalas dengan senyuman "Nyonya Harumi pasti merasakan hal yang sama."


Menempuh perjalanan selama sejam dari airport, Liam pun tiba di Rumah Sakit.


Hanya Sekretaris Will dan Liam sajalah yang memasuki Rumah Sakit sesuai dengan perintah Liam.


Ia tidak ingin tampak mencolok dihadapan kedua orang tua Harumi.


Cukup mencuri perhatian para pengunjung dan beberapa staff Rumah Sakit tersebut setelah Liam memasuki pintu utama.


Pesona pria itu benar-benar menarik perhatian yang tampak sangat kentara. Tubuh tinggi dengan bahu yang bidang, kulitnya bersih, rambut coklatnya yang berkilau karena terpantul sinar matahari dan wajahnya menawan walaupun ia mengenakan kacamata hitam tapi tetap tidak bisa menutupi ketampanan yang dimiliki Liam.


Liam berjalan melewati lorong rumah sakit langsung menuju Ruang Perawatan, Sekretaris Will yang kini berjalan didepan memberikan arah jalan.


Ketika hampir tiba pada Ruangan yang dimaksud, Langkah Liam terhenti.


Ia membuka kacamatanya dan menatap sebuah ambang pintu yang bertuliskan Ruang VVIP 1706.


Membutuhkan waktu sejenak, Liam diam dan memilih hanya berdiri memandangi pintu tersebut. Dan belum memutuskan untuk memasuki ruangan itu.


Sekretaris Will menatap bingung "T-tuan ?"


Liam tetap tidak merespon, ia menarik napas dalam. Lalu, akhirnya ia mulai menarik gagang pintu itu.


Dan disaat yang bersamaan pula, seseorang menarik lebih dulu dari dalam.


Pintu terbuka.


Liam melihat sosok wanita paruh baya berdiri tepat dihadapannya.


Nami Tomoeda. Ibu Harumi.


Alis wanita itu bertautan saat dimana untuk pertama kalinya ia melihat Liam "Maaf anda siapa ?"


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you ❤


__ADS_2