
"aku bersama temanku, tidak mungkin aku meninggalkannya" jawab Harumi mengerutkan alisnya, menatap kedua mata Liam.
"Benarkah ? aku yakin Nona Jones tidak akan masalah kalau aku menculik sahabatnya." godanya menyeringai puas
Harumi heran, Liam menyebut Cathy dan mengetahui tentang sahabatnya itu.
"bagaimana kau mengenal Cathy ? tapi sudahlah wanita mana yang tidak kau ketahui di sini" pertanyaan itu membuat Liam tersenyum lagi menatap reaksi wanitanya.
Liam mengangkat tangannya, Jemari pria itu mengusap perlahan puncak kepala Harumi, tiap helaian rambut panjangnya masuk di sela-sela jarinya.
Mata tajam Liam tak teralihkan sedikitpun dari wajah wanita yang sudah sangat dirindukannya itu.
"Kau cemburu, sayang ?" salah satu sudut bibirnya terangkat.
Harumi langsung memalingkan wajahnya, merendahkan pandangannya "tidak...untuk apa aku cemburu"
Tangan Liam Langsung menarik wajahnya kembali ke hadapannya "Tinggallah bersamaku selama di New York"
Kelopak mata Harumi terbuka lebar, menarik nafasnya, dalam pikirannya kejutan apa lagi yang di rencanakan pria ini "Tidak mungkin, aku tidak bisa tinggal bersamamu. Tidak boleh"
Pria itu sedikit mengernyitkan alisnya,
"aku tidak suka penolakan, terutama darimu. Pak Will akan mengurus semua keperluannya, Jangan menolak lagi" Liam menarik pinggul Harumi lebih dekat dengannya agar tak ada jarak lagi diantara mereka. Karena Liam sudah cukup muak dengan jarak pemisah, lalu Kedua tangannya mencengkeram pinggul ramping wanitanya.
"tapi..." pipi harumi semakin hangat, nafasnya sudah tak beraturan lagi sejak ia bertemu dengannya.
Mata Nakal pria itu, bergerak dari bawah semakin naik menyusuri setiap lekuk tubuh Harumi yang tampak terekspos. Bahan rapuh gaun hitam yang senada dengan rambut panjang Harumi, seolah memberikan fantasi baru pada pikiran Liam malam ini.
"Kau sangat cantik, terlihat lebih berbeda" Liam menaikkan satu tangan menyusuri bagian atas punggung Harumi yang terbuka, bagaikan jemari yang sedang memainkan tuts piano.
Jemari Liam menjajaki setiap inci bagian kulit lembut Harumi melewati beberapa tali-tali tipis dibelakangnya.
Setiap sentuhan kulit pria itu, membuat pembuluh darahnya mengalir dengan sangat cepat.
Sentuhan demi sentuhan kecil yang mampu Menaikkan adrenalin Harumi semakin memuncak, Demi Tuhan, ia mampu membuatnya mabuk sekaligus melayang secara bersamaan melebihi Whisky dan drugs berdosis tinggi lainnya.
"aku harus segera kembali" Harumi berusaha menarik kembali pikirannya yang terlanjur melayang, dengan cepat menyadarkan dirinya.
Mata Liam masih tak bergerak sedikit pun dari wajah Harumi.
__ADS_1
Liam menarik tangannya dari tubuh Harumi, mengambil ponsel dari sakunya dan menghubungi Sekretaris Will "siapkan Mobil, aku ingin kau ke balkon lantai tiga."
"kenapa ?"
"Pak Will akan menjemputmu menuju mobil,"
"Liam, di luar banyak wartawan, tamu-tamu sedang menunggumu di dalam. Aku tidak mau jadi sorotan dan pembicaraan semua orang"
Liam menghembuskan nafasnya, tampak menyunggingkan kedua sudut bibirnya, ia sangat menikmati kecemasan Harumi "Pak Will akan membawa mu menuju mobil, aku akan segera menyusulmu."
"tapi Liam..."
"sepertinya kau ingin aku membungkam bibirmu sekali lagi, lebih lama daaan..." goda nakal pria ini menjadi-jadi ketika pipi Harumi semakin merona.
Ia merapatkan bibirnya, mengangkat kedua tangannya menutupi bibirnya lebih erat.
Liam tertawa lepas melihat tingkah wanita itu yang menurutnya menggemaskan "kenapa kau sangat manis. Itu yang membuatku kecanduan terhadapmu"
Tak berapa lama, Sekretaris Will menghampiri mereka berdua. Nampak sekilas, tanpa sepengetahuan mereka pria paruh baya itu tersenyum simpul menatap tuannya yang sedang tertawa. Seperti hal yang tak biasa dilihatnya, karena sejak tak bertemu Harumi, Liam memang jarang tersenyum apalagi tertawa.
"Tuan...?"
"iya Tuan, saya ikut senang mendengarnya"
Lalu Harumi menoleh dari balik punggung Liam, ia sedikit bergeser dan menyapa Sekretaris yang masih ia ingat wajahnya "Selamat Malam Pak Will"
"Selamat Malam Nona Harumi, bagaimana kabar anda ? saya senang bisa bertemu anda kembali" Sekretaris setia itu menundukkan pandangannya dan memberi hormat kepada Harumi dan Liam
"Baik" jawab nya dengan ramah, Harumi menghormati Sekretaris paruh baya itu, mengingatkan nya pada Ayah Harumi.
Melangkah lebih dekat, Liam mencoba memberi perintah kepadanya "temani Harumi menuju mobil, nanti aku akan segera menyusul"
"Baik Tuan, sebelumnya Nyonya Anita..." belum selesai Sekretaris Will menyelesaikan pembicaraanya.
Tiba-tiba Anita dan Oliva menemukan keberadaan mereka, Anita langsung menghampiri, berjalan bahkan menabrak bahu Sekretaris Will, ia sedikit kesal "Liam...kemana saja!! semua tamu menunggumu"
Tak ingin meladeni sesuatu yang menurutnya tidak penting, Liam hanya membuang wajahnya dari sang ibu. Ia sudah cukup muak dengan pesta ini, lalu tingkah sang ibu yang sering mengatur, tamu-tamu yang membosankan, di tambah sikap manja Olivia yang menjengkelkan. Sudah cukup membuat Pikirannya sesak malam ini.
"Mereka bukan tamu-tamuku, silahkan Mama temui dan temani mereka."
__ADS_1
Anita semakin kesal, "Kau harus menemani Mama sampai selesai, tidak ada alasan apapun. Kau dan Olivia akan mengumumkan pertunangan kalian malam ini juga !!"
Liam berbalik menatap ibunya, matanya seakan terbakar mendengar kata pertunangan yang sama sekali tidak diketahuinya. Apalagi telinga Liam makin memanas setelah nama wanita yang menurutnya paling memuakkan itu sebagai tunangannya.
Ia tak ingin menanggapi perkataan Anita, menurutnya sangat tidak penting untuk di perpanjang, Rencana yang sudah di duga Liam sebelumnya tapi ia tidak menyangka akan secepat ini.
"Tidak akan ada pertunangan malam ini" jawab tegasnya.
Sebenarnya bibir Anita mulai terbuka lalu terhenti, kedua matanya beralih menoleh ke sosok wanita yang berdiri di samping Liam.
Tapi sebelum Anita membuka kembali bibirnya, ternyata Olivia juga menatap arah yang sama dengannya "Bukannya kau ?"
Harumi sedikit tersentak, mendengar teguran Olivia. Tak kalah dengannya, Harumi membalas tatapan kedua wanita tersebut.
Sebelum ia ingin menjawab, Liam sudah membalasnya lebih dulu "Jangan ikut campur urusanku !"
Liam sudah tidak ingin berada lebih lama lagi di antara kedua wanita itu, ia menarik tangan Harumi ingin membawanya pergi dari tempat itu secepatnya.
"Liam, siapa wanita ini ?" Anita menghadang di hadapan Puteranya.
Olivia tak mau kalah, ia menyilangkan kedua tangannya di dada. Melemparkan pandangan sinis ke Harumi yang bahkan tak sedikit pun di balasnya.
"Kau yang sudah menumpahkan wine di gaunku kan, apa yang kau lakukan dengan Liam. Dasar Wanita Bar-Bar!!!"
Suara Olivia semakin melengking, seolah-olah ingin mengintimidasi Harumi dihadapan Liam.
"ooh jadi ini wanita yang sempat membuat keributan di pesta tadi, dasar Wanita tidak tahu malu. Sekarang apa yang kau inginkan dari anakku !!!!" bentak Anita nyaris ingin menampar Harumi lalu Liam menghalanginya.
Harumi tak bisa berucap sepatah kata pun, ia hanya bisa bersembunyi di balik punggung Liam. Tangannya bergetar, menahan sakit hatinya harus menerima hinaan lagi untuk kedua kalinya malam ini.
Tapi hangatnya genggaman Liam di tangan Harumi, membuatnya mendapatkan kekuatan untuk menopang tubuhnya yg hampir goyah.
Sungguh tak ingin memperpanjang perdebatannya dengan kedua wanita itu, Liam langsung memberi kode kepada Sekretarisnya.
#Jangan Lupa Vote ya
Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote
Thank you 😊
__ADS_1