Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 102 Losing My Self Loving in You


__ADS_3

Liam mengusap puncak kepala Harumi yang kini terbaring di dadanya, dengan kelembutan dan penuh pemujaan "Tidurlah"


Wanita itu mengangkat kepalanya, lalu menatap wajah Liam dengan ekpresi cemas masih tergambar jelas di wajah polosnya "Kau belum menjawab pertanyaanku, apa tadi kau bermimpi buruk ?"


Liam hanya diam, lalu memejamkan matanya sejenak, dia mempertimbangkan untuk tidak ingin membahas hal ini dengan Harumi. Tetapi, dia menghembuskan napas dengan pelan lalu menyimpulkan senyuman "Its Ok, Its just a Dream"


Selama sesaat, Harumi tidak dapat bergerak atau berbicara sementara Liam membalas menatapnya dengan tenang "Tell me, kau bermimpi apa ? kenapa begitu membuatmu sangat gelisah ? d-dan begitu ketakutan seperti itu ?"


Harumi memang tahu, itu hanyalah sebuah mimpi buruk biasa yang terjadi kapanpun kepada seseorang. Tetapi, entah kenapa ada segumpal kecemasan yang memuncak di dadanya.


Masih tergambar jelas diingatannya, bagaimana tubuh Liam tadi begitu gemetar, gelisah dan sorot matanya yang begitu ketakutan. Ini pertama kali bagi Harumi melihat Liam seperti ini, karena selama yang diketahui olehnya Pria itu selalu bersikap tenang dan santai dalam segala hal.


Mata coklat Liam yang dingin terus menatap Harumi "Iam sorry, aku tidak ingin membuatmu cemas"


Mata Harumi menyipit sementara dia membuka bibir. Berani-beraninya Pria ini bisa bersikap santai seperti sekarang padahal sebelumnya tanpa dia sadari sudah membuat jantung Harumi ingin mencuat keluar melihat kondisi tidurnya seperti tadi.


"Kau berbohong, pasti ada yang kau sembunyikan dariku" bibir Harumi melengkung ke bawah lalu ia menghembuskan napas dengan cepat.


Mata Harumi membelalak saat Liam mendorong tubuhnya hingga membuatnya terlentang dan kini tubuh Pria itu berada di atas Harumi mengurungnya "Apa yang kaulakukan, Liam ?"


"Membuatmu diam" tatapan Liam yang tajam dan dingin seakan menyayat dada Harumi dengan sangat cepat, Jantungnya berdebar begitu kencang.


Sebelum Harumi membuka bibirnya kembali, bibir Liam melahap bibir Harumi, tetapi ciuman ini....


Demi Tuhan, Harumi merasa sangat melayang. Ini tidak seperti ciuman-ciuman sebelumnya, it's Different. Ciuman ini seperti mengantarkan Harumi pada sebuah kebebasan.


Pikiran tentang mimpi buruk apapun itu dan semua hal berbahaya yang sudah dialaminya menghilang dalam sekejap.


Rasanya seakan-akan Liam sedang mengklaim dirinya, menandainya sebagai milik Pria itu dengan bibir dan lidah. Tahu bahwa dia memang sudah dimiliki. Tak ada perlawanan dari dirinya ketika lidah Liam bergulir di lidahnya sementara tubuhnya ditarik dalam pelukan Pria itu. Dia dapat merasakan bukti gairah Liam terasa panas dari tiap hembusan napasnya yang sangat memburu.


Liam menghentikan ciuman panas yang mendalam itu, lalu menangkup wajahnya. Pria itu memberikan ciuman-ciuman selembut bulu di sepanjang pipi dan keningnya, membuat jantung Harumi bergemuruh. Tangan Liam bergerak turun di sisi tubuhnya, dan untuk sejenak, dia melupakan kecemasannya.


Denyut nadi Harumi berpacu sementara bibir Liam kembali menangkap bibirnya.


Seakan-akan berusaha membuatnya benar-benar kehilangan akal sehat, Pria itu meningkatkan serangan, menyusurkan tangan menuruni bagian luar pah*nya, melancarkan sengatan-sengatan rasa panas yang merayapi dirinya.

__ADS_1


"Kau selalu membuatku Haus dan lapar sekaligus, Rumi" Liam berbisik di bibir Harumi yang membengkak "Rumi ?"


"Yah ?" tampak bulumata lembut itu terangkat menatap Liam, sorot mata Harumi yang menghanyutkan membuat Liam berusaha keras menahan dirinya untuk sesaat.


"Do you Love Me ?"


Kedua mata Harumi melebar, bibir Harumi, bibir yang belum lama tadi diciumnya, membuka. Tetapi.....


***


Victoria Road, London


"Apa mama sudah menyiapkan semua keperluan yang akan di bawa nanti ?" ucap Ameera


"Of Course, bahkan oleh-oleh untuk cucuku pun sudah kusiapkan di dalam koper" jawab Elena dengan penuh semangat


Wanita paruh baya itu meletakkan ponselnya di atas meja makan, dan mengaktifkan loudspeaker. Lalu ia melanjutkan aktivitas membuat Apple Pie yang sudah menjadi kegemarannya beberapa bulan ini.


"Oh God, Mom. Don't do it. Mama selalu memberikan banyak mainan untuk mereka. Dan kau tahu betapa merepotkannya membereskan barang-barang mereka tiap harinya."


"Please Mom, I hate your Joke."


Elena meletakkan adonan Pie yang sudah rapi dengan isian Apel yang sangat banyak ke dalam Oven yang sudah siap, lalu menutupnya. "Hei, My Sweetheart, I always proud of you. You're Great Mother. Aku selalu bahagia memilikimu Ameera" senyum terpancar jelas di wajah wanita itu.


Elena Riandra adalah wanita yang sangat cantik walaupun usianya kini sudah menginjak 58tahun, tapi kerutan-kerutan yang sudah mewarnai wajahnya tidak membuat dirinya tampak menua sedikit pun.


Dia selalu menyayangi Ameera dan Anton tanpa membeda-bedakan keduanya. Ameera sangat dekat dengan Elena, bahkan persahabatan yang terjalin di antara ibu dan anak ini sangat akrab dan intens. Tiap harinya Elena tidak pernah lupa menghubungi Ameera, walaupun jarak yang jauh sangat terbentang luas di antara mereka. Begitu juga sebaliknya, Ameera tidak pernah melupakan untuk mengingatkan Elena agar menjaga kesehatannya. Karena ia tahu, bahwa Elena memiliki masalah dalam kesehatan jantungnya sehingga ia harus selalu rutin mengkonsumsi beberapa obat yang di berikan dokter selama dua tahun terakhir ini.


Elena tidak pernah merasa kesepian walaupun Wanita itu jauh dari kedua anaknya dan memilih hidup seorang diri. Karena Ia merasa begitu dekat dengan mereka.


"Mom, dont make me Cry"


"Hei, i know you laughing Now"


"Ternyata aku sulit membohongimu sekarang. But Nice Try, Mom"

__ADS_1


Dan akhirnya mereka tertawa bersama.


"Mom, apa kau tahu keberangkatan Anton ke New York ?"


Ketika akan menuangkan kopi ke dalam cangkir kecil, Elena berhenti dan diam sejenak.


"What you mean ? Anton ke New York ? bukannya dia mengatakan tidak ikut"


Ameera terdengar menghembuskan napas dengan keras "Anton menghubungiku sejam sebelum keberangkatannya, apa dia tidak menghubungi mu ?"


"Dasar Anak itu, tidak pernah berubah. Selalu melakukan sesuka hatinya. Bahkan tidak memberitahuku lebih dulu"


"Waktu aku menanyakan kenapa ia berangkat begitu mendadak dan tiba-tiba ia menanyakan soal Harumi padaku"


Elena meletakkan teko, menunda menuangkan kopinya, lalu bergerak mendekati kursi makan dan duduk mengambil ponselnya, meletakkannya lebih dekat.


"Harumi ? memang seminggu lalu, Rumi menghubungiku kalau ia akan pergi ke New York lebih dulu karena ia ingin berlibur sebentar dengan seorang teman semasa kuliahnya"


"Dari suara Anton, ia tampak menutupi sesuatu. Bukankah sangat aneh jika ia menanyakan keberadaan Harumi ?"


Dada Elena terangkat saat dia menarik napas panjang dan alisnya berkerut lebih dalam "Lalu apa lagi yang dikatakannya ?"


"Hanya itu, apa benar dia tidak ada menghubungi mu ?"


"No, bahkan aku baru mengetahuinya darimu."


"Apa menurutmu mereka baik-baik saja ?"


Wajah Elena terangkat, ia menutup bibirnya rapat-rapat lalu kedua sorot matanya bergerak menyusuri sisi-sisi ruangan itu sampai pada satu titik dimana dia berhenti dan menatap sebuah pigura besar terpajang di dinding yang menggambarkan moment dimana Hari Pernikahan Anton dan Harumi saat itu mereka mengambil gambar bersama dengannya dan Ameera.


"Kau tahu tidak ada Pernikahan yang mudah"


#Jangan LUpa Vote ya


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote

__ADS_1


Thank you 🙏


__ADS_2