Kesempatan Terakhir Pernikahanku

Kesempatan Terakhir Pernikahanku
Bab 109 Tidak ada Perubahan


__ADS_3

Harumi membungkuk lalu menyentuh pipi sang keponakan "Hi Alana...Hi Julie" sapa Harumi kepada kedua anak perempuan Ameera


Julie Hardy, Putri kedua Ameera dan Robert yang berusia 5 tahun. Gadis kecil yang manis dan sangat menyukai warna merah jambu itu selalu ceria selayaknya gadis seusianya.


Gadis kecil ini tidak begitu mengenali Harumi, itu wajar karena pertama kali ia bertemu dengannya disaat usianya masih sangat kecil, sewaktu menghadiri Pernikahan Harumi dan Anton.


"Kenapa kau semakin kurus ?" tanya Ameera melirik ke belakang Harumi, melihat adik laki-lakinya yang tengah fokus mengeluarkan koper dari mobil


Anton menyeringai "Kalau aku gemuk, kau akan terkejut"


Mata Ameera menyipit sementara dia membuka bibir "Sudahlah, aku tidak bisa membayangkanmu dengan perut membuncit" lalu wanita itu tertawa lepas


Harumi memperhatikan interaksi kedua kaka beradik tersebut, dan itu membuatnya sedikit terhibur mengingat apa yang sudah dihadapinya sebelumnya.


Mereka pun masuk ke dalam, disusul Anton sambil menarik dua koper miliknya dan Harumi.


***


Tiga hari berlalu


Ameera memperhatikan Harumi yang sedang membantunya di dapur untuk menyiapkan sarapan, lalu mengalihkan perhatiannya kepada Anton yang tengah duduk di Ruang Tamu sambil membaca koran.


Ada yang terasa mengganjal di dalam dirinya, ketika Ameera mengamati keduanya. Ia merasa mereka bersikap kaku dan seolah menyembunyikan sesuatu.


Wanita itu meletakkan pisau di meja, berhenti sejenak lalu mendekati Harumi yang sedang mengolesi selai stroberi pada roti.


Mengontrol volume suaranya nyaris seperti berbisik "Ada apa dengan kalian berdua ?"


Harumi berbalik dan itu mengejutkannya "W-what you mean ?" jawabnya dengan suara terbata-bata


Sudah tiga hari berlalu, sejak mereka tiba di kediaman Ameera. Harumi tidak menyadari, bahwa selama itu Ameera mengamati tingkah laku pasangan suami istri tersebut.


Dan itu membuat Ameera merasa ada sesuatu yang mencurigakan karena selama tiga hari ini. Harumi tidak banyak bicara, lebih banyak murung, dan terkadang Harumi tidak bisa mengontrol dirinya, Wanita itu selalu melihat ponselnya hampir setiap waktu. Tatapannya selalu kosong bahkan ketika ia sedang menemani Julie bermain di halaman.


Bahkan Harumi sering kali melupakan sesuatu hal yang tidak seharusnya ia bersikap ceroboh seperti memasak air yang lupa dimatikannya. Dan juga Wanita itu sering sekali melamun.

__ADS_1


Ameera merasa ada yang tidak wajar dalam diri Harumi, begitu halnya Anton yang hanya fokus dengan dirinya sendiri. Pria itu lebih sering keluar rumah dan hampir menghabiskan sebagian waktunya di luar tanpa mengajak Harumi bersamanya.


"Kau pasti mengerti apa yang kutanyakan padamu, aku tidak ingin mencampuri urusan rumah tangga kalian. Tapi, bukankah wajar jika aku merasa khawatir ?"


Rasa nyeri menusuk di dada Harumi "Kami baik-baik saja" Wanita itu berbohong. Mereka tidak dalam keadaan baik-baik saja, bahasa tubuh mereka tidak bisa menutupinya.


Ameera menghembuskan napas dengan cepat, ia sedikit kecewa dengan jawaban Harumi. Tapi ia meyakini, semakin banyak Ameera mengajukan pertanyaan, jawabannya akan tetap sama. Harumi tipe yang tertutup terutama mengenai kondisi rumah tangganya, karena wanita itu akan menyembunyikan semua permasalahannya dengan rapat-rapat demi kebaikan orang lain.


Wanita itu berusaha membalas dengan senyuman, walaupun itu merupakan senyuman kaku setidaknya bagi Ameera melihat Anton dan Harumi masih tetap bersama itu sudah lebih dari cukup "Aku hanya khawatir, tapi jika kenyataannya kalian baik-baik saja. Its Ok, Its Good."


Bibir Harumi melengkung dengan segala keraguan "Yuk, kita sarapan. Sepertinya sudah siap" Harumi meletakkan Roti terakhir ke piring.


Lalu, Ameera berbalik ke arah lain kembali ke posisinya di awal menyiapkan menu sarapan lainnya.


Setelah semua menu sarapan sudah siap, mereka berkumpul bersama di meja makan.


"Mommy, Kapan Granny datang ?" tanya Alana menatap Ameera


"besok lusa granny berangkat dari London, sayang."


Ameera melirik kepada Anton "Kau akan menjemputnya di bandara kan ?"


"Sebenarnya kau tidak perlu membawa mobil sewaan ke sini, pakai saja mobilku" ucap Robert sambil memotong daging ham di piringnya


Anton hanya diam, tidak merespon apapun.


Hubungan Anton dengan kaka iparnya tersebut tidak cukup baik. Menurut pandangan Anton, suami Ameera tersebut sering bersikap sombong dan tidak jarang merasa kedudukannya lebih unggul dari Anton. Terutama mengenai Karir dan Pekerjaan. Dan itu membuat Anton tidak nyaman dan sangat muak.


Apalagi mendengar semua cerita kesuksesan karirnya, yang dianggap Anton hanya sebuah keberuntungan saja. Mengingat Robert memiliki banyak koneksi dari orang tuanya.


Setelah selesai sarapan, Anton menggeser kursinya lalu lebih dulu meninggalkan meja makan menuju kamar tidur.


Ada suasana canggung saat itu yang membuat Ameera dan Harumi merasa tidak nyaman, akibat perkataan Robert dan respon Anton yang dingin.


Harumi pun tak lama menyusul Anton. Di dalam kamar ia melihat Anton sedang memainkan ponselnya di atas ranjang.

__ADS_1


"Seharusnya kau tidak bersikap seperti itu, tiap kali di meja makan kau selalu bersikap dingin" ucap Harumi sambil perlahan mendekati suaminya dan duduk di sampingnya


Anton masih bersikap dingin dan hanya memilih diam. Awalnya Ia masih menatap layar ponselnya dan tidak membalas.


"Cukup, Rumi. Aku tidak ingin membahasnya." jawab Anton tegas sekilas ia menatap Harumi dengan sedikit kesal.


Harumi hanya merasa khawatir "Setidaknya kita menghormati Ameera, walau bagaimana pun Robert suaminya. Kau bahkan sejak tiba di sini tidak pernah menegurnya."


Anton kembali mengeras "Sudah kukatakan. Cukup ! jangan bahas ini lagi. Aku tidak ingin berdebat denganmu"


Wanita itu menunduk "Tapi...Anton"


Anton mendongakkan kepalanya, lalu berbalik menatap Harumi cukup lama "Dia selalu meremehkanku ! Kau harus tahu, baji**** itu sejak dulu selalu merasa dirinya paling hebat dan menganggapku rendah"


Raut wajahnya berubah tegang, ada kobaran amarah terpancar di mata Anton saat itu.


"Setidaknya kau harus bisa lebih menahan diri, dan bersikap lebih tenang apalagi di hadapan anak-anaknya" Harumi berkata dengan menahan diri untuk tidak ikut terbawa emosi suaminya


Karena merasa tidak terima dengan perkataan Harumi, yang seolah-olah menganggap sikap Anton salah dan lebih membela Robert daripada dirinya. Kekesalannya pun memuncak, pria itu langsung berdiri dan melemparkan ponselnya di atas ranjang tepat di hadapan Harumi.


Ia mulai bersikap keras, dan secara tiba-tiba menghentakkan diri Harumi.


Harumi benar-benar terkejut dengan perubahan sikap Anton yang sama sekali tidak bisa terbaca.


Pria itu dengan marah menunjuk-nunjuk ke arah Harumi dan nyaris melemparkan nada ancaman "Jangan berkata omong kosong, jika kau tidak tahu apa-apa. Cukup Diam, dan berhenti berkomentar" pandangan Anton gelap


"Aku tidak suka jika ada seseorang meremehkanku. Aku tidak bisa menerimanya. Seharusnya, Kau sebagai istriku lebih membelaku bukan membelanya" sambung Anton dengan meninggikan nada bicaranya


Mata Harumi semakin melebar, Wanita itu seperti di tembak tepat di jantungnya. Dentaman keras begitu terasa dari perut hingga ke dadanya. Tatapan tajam Anton hingga perkataannya yang seperti ini. Seolah membuka kilatan Memory itu kembali dalam pikiran Harumi, tangannya bergetar. Ini memang dirinya. Anton tidak pernah berubah.


Sikapnya yang seperti ini tidak berbeda jauh dengan dirinya yang dulu.


Apa aku salah menilaimu ?


#Jangan Lupa Vote ya

__ADS_1


Dukung Author dengan Like, Koment dan Vote


Thank you ❤


__ADS_2